
Warning!!
Bab ini berisi adegan baku tembak, kata kasar, ke-ke-r4-s4n, dan beberapa hal lain yang perlu disikapi dengan bijak. Bagi yang tidak nyaman terhadap adegan yang telah di sebutkan di atas, dimohon untuk men-skip bagian ini.
Terima kasih.
...Nightfall by VizcaVida...
...|39|...
...Happy reading...
...[•]...
Setelah sempat putus asa melihat Vino yang sudah tidak lagi bergerak disana, aku bangkit dengan tatapan hampa untuk sesaat. Kehilangan Vino, seperti kehilangan sesuatu berharga yang ku milik. Vino adalah teman seperjuangan, dan sahabat yang kumiliki saat aku terpuruk. Itulah sebabnya, aku menganggapnya seperti saudara sendiri meskipun kami juga tak luput dari pertengkaran.
“Bagaimana aku bisa hidup dengan manusia kejam itu selama ini?” gumamku merutuki kebodohan ku sendiri yang selama ini tidak ku sadari.
Astaga. Aku sampai lupa jika butuh penunjuk arah. Aku butuh ponsel Vino.
Mengesampingkan keadaan teman baikku, aku berencana mengambil ponsel Vino yang sempat ku tau tadi, ada di saku celananya. Aku memejam sembari menggigit bibir bawah menahan sesak dan rasa sakit hati melihat keadaan Vino. Lalu, ku amati sekitar dengan pejera. Membidik untuk menilai keadaan aman, atau justru sebaliknya.
“Kenapa tidak ada pergerakan sama sekali?” tanyaku pada diriku sendiri. Hal ini justru patut dicurigai. Tapi persetan. Aku harus mencari penunjuk arah, dan satu-satunya yang bisa kugunakan adalah, ponsel Vino.
“Sssh ... ”desisku menahan perih di lengan yang masih basah oleh darah. Lalu, aku melangkah mengendap-endap dari satu batang pohon ke pohon lain, hingga sampai dimana Vino berada.
“Sorry, Vin. Maafin gue.” kataku yang sekarang sedang membalik badan Vino yang sudah dingin. Benar, ponselnya ada. Aku buru-buru mengambil dan mengeceknya.
Syukurlah masih berfungsi.
Aku menoleh kanan dan kiri, bersiap kembali mencari tempat untuk berlindung dan mengecek lokasi map dimana tempatku saat ini berada, dan tempat yang menjadi tujuan Wendy.
Tapi ...
Tepukan tangan mengejutkan aku, membuat tubuhku membeku demi mendengarkan suara orang yang sudah bisa ku tebak, siapa.
“Wah, hebat ya? Ternyata kalian ini teman sejati.”
Yoseph. Memangnya, siapa lagi?
“Sama-sama anak tidak tau diri dan tidak tau rasa terima kasih.” lanjut Yoseph mengatai kami. Aku dan Raga tak bernyawa Vino.
Setelah itu, beberapa orang membentuk barikade melingkariku, yang tentu saja membuatku harus mengangkat kedua tangan ke udara sembari melepas senjata api yang sedang ku bawa.
SIAL!! SIALAN SEKALI PRIA INI!
Aku menoleh, memperhatikan wajahnya yang sumpah demi Tuhan, ingin sekali kulesatkan satu atau dua peluru di kening atau dimanapun itu, agar dia mati.
“Coba kita dengar, apa alasan pria kecil ini berkhianat pada orang yang sudah membesarkannya.”
Aku menatapnya tajam.
“Ah, aku tau. Pasti karena perempuan bisu itu kan?”
Dijebak begini tidak masuk akal jika aku mengelak. Meskipun aku tau kemungkinan bisa lari sangat tipis, tapi apa salahnya mencoba.
“Lalu kenapa?” jawabku tanpa membuang waktu. Dia, pria itu, tertawa.
“Jadi benar? Ah kebetulan sekali.”
Kebetulan? Apa maksudnya?
Aku mengerutkan kening dan memutar tubuh untuk menghadap ke arahnya. Suara gemetar senjata api bersiaga terdengar kompak. Aku tersenyum di sudut bibir. Miris sekali hidupku.
“Kamu penasaran dengan apa yang baru saja aku katakan, bukan?”
Orang ini bicaranya semakin membingungkan.
Mataku mengikuti gerakan tangannya yang mengapung di udara setinggi bahu Yoseph. Lalu sebuah tepukan yang tidak terlalu keras kembali ia gemakan didepanku.
Dan tak lama kemudian, pemandangan yang membuat darahku mendidih sekaligus panik dan takut yang menjadi satu dalam benakku, muncul. Dua orang tidak jauh disana membawa Wendy dalam keadaan terikat dan mulut di lakban, berjalan mendekat.
Rahangku mengerat, mataku membulat, kepalan tanganku menguat. Kutatap sengit presensi Yoseph yang tanpa perasaan menarik keras surai Wendy hingga kepala perempuan itu mendongak menatap langit dengan ekspresi menahan sakit.
“Lepaskan dia, atau kalian semua dalam masalah.” pintaku dengan nada dingin melebihi suhu balok es di samudera Atlantik. Aku tidak akan tinggal diam melihat perempuan yang ku sayangi, kesakitan di tangan manusia biadab macam si Yoseph ini.
Ku lirik senjata api yang tadi ku jatuhkan. Membidik Yoseph adalah tujuan utamaku agar barikade ini melemah.
“Jangan macam-macam, Le. Usahamu akan sia-sia.” katanya memprovokasi. “Kalau kamu nekat mengambil senjata apimu itu, dua kemungkinan yang akan terjadi.”
Aku menatapnya tanpa ampun. Sumpah demi Tuhan, ke neraka pun, akan ku kejar pria jahat ini.
“Pertama, kamu mati. Kedua, dia yang mati.”
Sialan! Kenapa tidak ada satu orangpun yang bisa ku mintai pertolongan? Seharusnya, aku tidak membiarkan Wendy pergi sendirian dengan kondisi kaki terluka seperti itu.
Ku lihat lamat kaki Leona yang ternyata membengkak besar. Bodoh. Seharusnya aku tetap bersamanya saja tadi! Jika sudah seperti ini, siapa yang bisa aku salahkan selain diriku sendiri?
“Apa yang harus ku lakukan agar kamu melepasnya?” tawarku, membuat presensi Wendy memaksa kepalanya untuk lepas dari cekalan Yoseph, dan menggeleng.
Yoseph tertawa seperti orang gila. Dia bahkan menatap Wendy dengan sorot menjijikkan.
“Kamu tidak perlu melakukan apapun, karena kamu ujung-ujungnya nanti juga mati.”
“Berengsek!” umpatku tajam dan lugas. Tidak ada lagi sisa hormat untuknya. “Lepaskan dia. Dia tidak bersalah—”
Astaga. Alasan tidak masuk akal apalagi yang harus ku dengar setelah ini? Permintaan Lili agar Wendy mati? Tidak. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi.
Siapapun, tolong kami.
Aku kembali menjatuhkan tatapanku pada senjata revolver yang tergeletak. Ku susun sebuah strategi pengalihan agar Yoseph dan siapapun tidak menyadari saat aku mengambilnya. Oke, mari buat dia banyak bicara saja terlebih dahulu. Semoga saja berhasil.
“Apa maksudmu?”
Yoseph melepas cekalan di kepala Wendy, dan meludah ke sisi kanan setelah mendengar pertanyaan konyolku.
“Kamu sadar tidak, kalau Lili sakit hati karena kamu dekat dengan dia. Dan putriku, berani mengancam akan melaporkan papanya sendiri ke polisi agar semuanya hancur.”
Niat Lili seratus persen benar. Tapi tidak seharusnya dia melibatkan Wendy.
“Kamu yang sudah ku curigai akan jatuh hati pada wanita itu, terpaksa harus ku ubah rencana menjadi seperti ini.” kata Yoseph sembari berjalan mendekat padaku, lantas mendaratkan satu bogeman kuat di area perut atasku.
Fu*****ck!!!
“Kamu adalah target pertama yang harus dimusnahkan. Setelah itu, aku akan mengutus orang lain untuk menggantikan dirimu.”
Beberapa orang berjalan mendekat ingin menawanku. Tapi nahas bagi mereka karena aku tidak akan tinggal diam. Setidaknya, sampai nyawaku masih melekat di ragaku.
Dua lenganku hampir berhasil mereka tangkap. Namun, dengan gerakan kilat, ku raih revolver milikku dari bawah, dan menembakkan amunisi tepat di dada dan kepala keduanya. Lalu, ku arahkan ujung senjata tepat didepan sumber kehidupan Yoseph, jantung.
Tenang saja. Sebentar lagi permainan ini akan berakhir, Wen.
“Wow, mau bermain-main rupanya.” tegurnya sambil tertawa dengan kedua tangan mengapung di udara. Sedangkan semua anak buahnya yang membawa senjata api, membidikku. Mereka tidak akan berani melakukan apapun. Lihat saja, atau aku akan benar-benar menembakkan peluru pada bos mereka.
“Lepaskan dia.” kataku tegas dengan suara keras. Dan seketika itu juga, Wendy terbebas.
Aku berjalan langkah demi langkah mendekati Wendy, kemudian membiarkannya bersembunyi dibalik punggungku. Aku berhasil melindunginya untuk saat ini.
Tanpa membuang waktu, aku berjalan mundur, memberi instruksi agar Wendy berjalan terlebih dahulu didepanku agar aku bisa melihatnya dengan jelas untuk menjauh menyelamatkan diri. “Lari, jangan pernah menoleh kebelakang. Lari sekencang mungkin.” kataku dengan suara keras agar dia mendengarnya. Dan untuk aku, tidak peduli setelah ini. Tidak peduli jika mereka menghabisi nyawaku tanpa ampun.
Aku tersenyum saat dia melihatku sebelum pergi.
“Lari. Selamatkan dirimu.” ucapku tanpa suara, hanya menggerakkan bibirku, dan dia meneteskan airmata disela anggukan kepala yang ia berikan untukku.
Dunia penuh tipu daya ini seolah tunduk padaku dan berhenti berputar untuk beberapa saat, saat ujung senjata masih tertuju didepan wajah Yoseph.
Disana, Wendy sudah menghilang dan nafas lega mengudara dari hidungku. Kutatap dan kuberikan senyuman sarkas kepada Yoseph, lalu kutarik pelatuk dan bersiap menembaknya.
“Kamu benar-benar ingin membunuh orang yang sudah menyelamatkan dan membesarkanmu, selama ini, Le?”
“Untuk sekarang dan selamanya, jangan panggil aku dengan nama itu!” tukasku memberinya peringatan sekaligus memberitahukan kepadanya agar sadar, jika aku terlahir bukan dari rahim istrinya. “Namaku Kennedy Harris.”
Dia tertawa sumbang setelah wajahnya terkejut. Apa dia lupa aku anak siapa?
“Oh hhahah ... Hahahaha ... jadi, kamu ingin mengingatkanku tentang asal-usul menyedihkanmu?”
Shiii-iiiiit!! Sial!!!
“Hei anak muda. Di dunia ini, siapa yang kuat, dia yang selamat.” katanya tak bersahabat. Pria itu bahkan berani mengangkat dagunya tinggi-tinggi, lantas menurunkan kedua tangannya untuk diselipkan telapaknya di saku celana.
Lalu detik selanjutnya, aku tersungkur di atas dedaunan Pinus yang menutup tanah. Kepalaku diinjak, dan aku bisa merasakan jika kedua tanganku kini sedang diikat kuat. Sialan! Aku lengah dan tidak memperhatikan situasi karena terlalu fokus dengan Yoseph. Aku lupa jika jumlah mereka jauh lebih banyak dariku.
“Lihat, benarkan ucapanku?! Siapa yang kuat, dia yang selamat!”
Aku mendengus dengan nafas tertahan karena menahan rasa sakit di area tengkuk leher hingga kepala bagian belakangku. PDL ternyata cukup kuat untuk meremukkan tengkorak manusia.
Yoseph memberi instruksi anak buahnya agar membawaku pada posisi berdiri, setelah diikat. Lantas, dia menunjuk dua orang lainnya agar mengejar Wendy. Hal itu membuatku berontak dan semakin disiksa. Pukulan demi pukulan ku terima. Tak peduli remuk dan sakit yang menjalar, aku melata diatas tanah, berharap dapat menyusul dan menyelamatkan Wendy.
Tapi nahas, kepalaku kembali diinjak kuat hingga nafasku seperti tertahan di kerongkongan. Bibirku pun tak berhenti mengeluarkan liur yang bercampur darah, namun tak membuat mereka iba.
“Sialan! Lepaskan aku!” teriakku di sisa kesadaran dan tenaga yang ku punya. Tapi, mereka tertawa bersama dan injakan di kepalaku semakin menyakitkan. Aku memejamkan mata menahan kepalaku yang rasanya seperti remuk. Aku menggeram dalam diam. Ku sebut nama Tuhan agar setidaknya, Dia memberikan belas kasihnya disisa usiaku yang sepertinya hendak berakhir ditangan manusia biadab ini.
Aku memejam semakin erat saat rasa sakit itu semakin membuat mati rasa. Tapi, disaat kesadaranku hampir terenggut, aku mendengar suara tembakan yang begitu berisik. Injakan itu terlepas dan kini aku bisa melihat wajah siapa yang hampir menjadi malaikat maut untukku.
Aku tertawa saat melihat darahnya mengalir membanjiri tubuhnya sendiri. Lalu, dengan perasaan lega luar biasa, aku menyumpahinya. “Mampus!!”
Seseorang meraih tubuhku lalu bertanya padaku, “Kamu baik-baik saja?”
Apa dia bodoh? Atau dia berubah menjadi tuna netra? Mengapa bertanya seperti itu saat melihatku hampir mati?
“Menurutmu?” tanyaku sinis saat merasakan ikatan erat di pergelangan tanganku dibuka. “Mengapa lama sekali? Aku hampir mati karena tengkorak kepalaku pecah.”
Dia tertawa. “Kamu pikir, kami semua punya kekuatan teleportasi? Bisa datang secepat kilat?”
Aku ikut tertawa.
Thank God. Akhirnya aku masih bisa bernafas karena kebaikan-Mu.
“Apa kalian bertemu dengan Wendy?” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
Kira-kira, bagaimana nasib Wendy?
Terima kasih atas dukungan kalian untuk Ale-Wendy
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤩🤩🤩