
Maaf lama ngilang, huhu ð¥º
Nighfall sudah bisa kembali di baca ya man-teman sekalian. Mohon jangan bosan untuk mendukung author agar tetap berkarya, terima kasih.
â¢
â¢
Warning!!
Bab ini berisi adegan baku tembak, kata kasar, ke-ke-r4-s4n, dan beberapa hal lain yang perlu disikapi dengan bijak. Bagi yang tidak nyaman terhadap adegan yang telah di sebutkan di atas, dimohon untuk men-skip bagian ini.
Terima kasih.
...Nightfall by VizcaVida...
...|36|...
...Happy reading...
...[â¢]...
Aku berlari, sedikit mengendap-endap mencoba menghindari musuh yang mungkin juga sedang mengincar ku. Seperginya Vino, Aku memungut kembali senjataku, lantas melanjutkan perjalanan menyusul Wendy yang mungkin sudah sangat jauh.
Sesekali aku menengok ke belakang demi mendapati apa yang ada dibelakangku. Aman, tidak ada siapapun. Namun aku kembali siaga bersama senjata yang terangkat, lalu membidik melalui pejeraâbidikan besiâsaat ku dengar suara pergerakan dan letusan senjata api yang beruntungnya, meleset di sisi kiri lenganku yang meninggalkan bekas sobekan akibat peluru yang melesat.
Ada satu orang yang sedang bersembunyi di balik sebuah pohon. Aku melihatnya sekelebat. Aku pun bergegas mengambil langkah cepat guna mencari tempat yang aman untuk berlindung. Perjalanan masih jauh, friend. Aku masih belum mau mati.
Sasaran terkunci, kutarik pelatuk, dan ...
âShiiiiiiit!!!â umpatku keras saat peluru meleset dan terbuang sia-sia. Aku tidak punya waktu dan persediaan peluru yang cukup jika harus baku tembak dan meladeni mereka. Otak kembali ku putar. Aku harus lari menjauh, atau diam-diam menghabisi mereka.
Ah, tidak! Opsi kedua terlalu berisiko. Posisiku tidak akan diuntungkan. Dan tentu saja, posisi keberadaan ku yang sendirian, adalah alasan kuat mengapa aku harus memilih opsi pertama.
Terkadang, hidup memang terasa sangat kejam. Kita di berikan dua pilihan sulit yang tentu tidak akan berhasil kita lalui secara bersamaan. Lalu berakhir memilih untuk lari. Lari sekencang mungkin agar selamat terlebih dahulu, untuk berfikir kedepannya apa yang hendak kita pilih selanjutnya. Meskipun mungkin, akhirnya tidak berakhir sesuai keinginan.
Ya, tentu saja kita harus tetap membuat keputusan, memilih satu diantara dua pilihan yang ada.
âSial!! Aku harus lari kemana?â gumamku sambil memperhatikan sekitar, menelisik medan kebun yang ternyata diluar dugaan.
Aku terpojok. Dibelakangku adalah tebing yang kemungkinan akan mengarah ke jurang. Sangat berbahaya. Tidak ku sangka kebun ini justru sebuah kamuflase dari hutan. Dan didepan sana, orang-orang Yoseph menungguku untuk di eksekusi tanpa alasan yang jelas. Ya, aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba aku turut menjadi target mereka hanya karena ingin melindungi seseorang.
Lalu, bagaimana nasib Wendy? Semoga dia baik-baik saja. Atau, semoga dia sudah mendapatkan perlindungan karena waktu sudah berlalu terlalu lama. Semoga Wendy sudah bertemu dengan ayahnya.
Aku mengambil langkah senyap, menyusuri arah sembari mengendap-endap di balik pohon. Peluru akan ku gunakan hanya dalam situasi terdesak. Itu rencanaku, tapi aku tidak tau apa kehendak Tuhan.
Punggungku kembali bersandar ke sebuah pohon, nafas ku atur dengan sempurna, lalu kembali ku bidikkan senjata untuk mengetahui keberadaan anak buah Yoseph.
Akan tetapi, tepat saat seseorang terlihat di mataku, suara letusan senjata api menginterupsi konsentrasi yang susah payah ku bangun. Musuh sekarat, lantas ku arahkan pejera ke arah lain, lebih tepatnya tempat letusan senjata itu berasal. Kulihat Vino disana, menunjukkan jari tengahnya kepadaku. Sial! Teman rasa musuh itu memang nyata adanya. Vino adalah wujudnya.
Aku menurunkan senjata api, menghela nafas cukup besar hingga kedua bahuku bergerak naik, tersenyum disudut bibir, lalu mengacungkan ibu jari ke arahnya. âMakasih, Vin.â
Dia tersenyum tak kalah sarkas dariku, kemudian menghilang begitu saja, dan aku pun lanjut berlari tanpa mengurangi tingkat kewaspadaan. Vino menjadi Shield untukku, dan aku juga harus menjadi Shield untuknya. Nyawa Vino juga menjadi taruhan saat memutuskan untuk berkhianat pada bos besar. Itu terjadi karena aku, jadi aku harus bertanggung jawab penuh untuk nyawa sohib ku itu.
Ah, pria itu pasti marah besar kalau tau Vino juga mengkhianatinya.
âAku bersumpah, kebusukanmu akan berakhir kali ini, bos.â[]
...To be continue...
###
Maaf sedikit dulu, tapi semoga suka dengan persahabatan mereka yang solid, dan juga fungsi Vino disini
See you