Nightfall

Nightfall
Nightfall 24




...Nightfall by VizcaVida...


...|24|...


...Happy reading...


...[•]...


Sengaja aku berdiri di lobby apartemen sejak jam tujuh pagi. Tujuanku adalah untuk menemui Joni.


Semalam, saat aku ngobrol dengan Wendy melalui panggilan video dan mengajukan pertanyaan padanya, dia memberikan jawaban yang membuatku berani mengambil satu keputusan besar dalam hidupku.


Aku memilih Joni. Ya, dia yang akan kuberitahu kebusukan kami selama ini. Aku akan menjadi orang yang membongkar rahasia besar, yang sudah kami simpan rapat selama bertahun-tahun lamanya.


Alhasil, disinilah aku sekarang.


Tak berselang lama, aku melihat Joni keluar dari unit miliknya. Ia berjalan melewati koridor hendak menuju lift yang letaknya ada di bagian tengah bangunan, tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.


Aku menyapanya, kami berada satu lift kosong menuju basement dimana mobil kami masing-masing terparkir. Sampai di lantai sembilan, tidak ada orang lain dan lift terus bergerak turun.


Aku memulai topik pembicaraan. “Aku ingin langsung bicara on poin saja,” celetukku mengundang perhatian Joni yang sejak tadi hanya diam dan berdiri di sudut berlawanan dengan tempat ku berdiri. Kepalanya menoleh memperhatikan aku, aku bisa melihat dari ekor mata.


“Bicara apa?” tanyanya memastikan, nadanya datar dan dingin. Pasti dia akan terkejut mendengar apa yang nanti keluar dari mulutku, tapi hanya ini kesempatan ku untuk memberitahunya. Tidak ada kesempatan lainnya.


“Temui aku di Katsu cafe jam delapan malam. Aku tunggu.” kataku bersamaan pintu lift yang terbuka dan dua orang terlihat menunggu diluar. Aku yang merasa sudah tidak ada pembahasan lain, memutuskan mengambil langkah untuk keluar dari kabin lift untuk menunggu lift pada putaran selanjutnya nanti.


Namun, sebelum benar-benar ku ayunkan langkah keluar, aku kembali mengingatkan Joni dengan suara pelan. “Jangan lupa datang. Aku memiliki informasi yang menarik untuk kamu selidiki.” kataku, lalu berlalu begitu saja. Aku juga menyempatkan diri berbalik dan menatap Joni yang sekarang sedang melihatku dengan raut datar. Aku yakin, pasti banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala dan otak cerdasnya sekarang. Tapi tunggu dan datang nanti malam jika penasaran.


Pintu lift perlahan tertutup dan Joni menghilang dari pandangan. Kutatap layar hall button yang sedang memberitahukan posisi lift berada dengan perasaan campur aduk. Apa ini keputusan yang kuambil ini benar? Ah, semoga saja benar.


Ku alihkan tatapan pada sepatu boots kulit berwarna hitam yang ku pakai, ku selipkan kedua telapak tangan di saku celana, lantas memutar lidah di dalam mulut. “Semuanya pasti memiliki jalan untuk dihentikan. Dan semoga saja Joni dan polisi bisa menghentikan semua kejahatan yang sedang mereka ... dan aku lakukan.”


***


Aku memutuskan untuk menuju salah satu cafe yang sudah ku sebut kepada Joni tadi pagi. Jam menunjuk angka delapan tepat, dan belum ku lihat tanda-tanda kedatangan Joni di cafe ala jepang ini.


Sengaja ku pilih disini, karena aku bisa memesan ruang privat yang tertutup dan jauh dari keramaian. Aku juga sudah menitipkan pesan kepada resepsionis untuk memberitahukan kepada orang bernama Joni, agar langsung saja menuju ke tempat ini.


“Apa aku terlalu percaya diri dia akan datang?” gumamku sedikit putus asa, lalu ku tengok kembali jam tangan Ferrari Richard Mille RM-UP01 yang melilit pergelangan tangan kiri ku, lalu ke hembuskan nafas kecil untuk menetralkan rasa cemas dan rasa sakit di kepalaku yang sejak semalam ku abaikan.


Dan tepat saat aku mengalihkan pandangan mata, pintu ruangan di geser oleh pegawai cafe, dan sosok Joni berada di balik perempuan berseragam merah bata itu. Hatiku terasa lega melihat kedatangannya, dengan begitu aku akan merasa sedikit ... tenang.


Kusuguhkan senyuman sebagai sambutan, lantas dia duduk berseberangan dariku.


“Maaf mengganggu anda, tuan Joni.” kataku menyapa. “Syukurlah anda bersedia datang.”


Aku memilih diam lagi karena pramusaji datang membawa pesanan yang tadi sempat ku hold dengan alasan tamu belum sampai. Setelah pramusaji itu beres menghidangkan pesanan dan pintu kembali di tutup, aku kembali membuka topik sembari menuang teh hijau hangat ala Jepang.


“Silahkan diminum, tuan. Anggap saja perjamuan teh dari tetangga baru yang ingin mengakrabkan diri.” ucapku berkelakar mempersilahkan. Nge-teh sambil ngobrol itu wajib—menurutku.


“Mau memberi informasi apa?” jawabnya cepat, seperti sedang menitahkan agar aku tidak banyak bicara. Tanpa basa-basi. To the point.


Aku tau, tipikal orang seperti Joni ini memang tidak suka berbelit-belit, apalagi sampai membicarakan hal diluar topik. Dan aku tau, apa yang harus aku lakukan sekarang.


“Tidak mau mencicipi tehnya terlebih dahulu? Enak lho.” kelakarku di bumbui raut wajah yang ku pasang serius sembari menyesap teh hijau yang terasa menghangatkan tubuh.


“Aku harus segera pulang.”


Ah ya. Aku hampir lupa jika dia seorang ayah, memiliki istri yang sedang hamil pula.


“Oh,” sahutku yang ku lanjut dengan meletakkan cangkir teh hijau diatas meja pendek—khas dari negri jepang—yang hampir menyentuh lantai.


Ku selami pupil matanya yang tajam. Lalu ku dapati sebuah rasa ingin tau yang begitu besar terpancar dari sorot mata se-awas elang itu.


Aku memiringkan sedikit kepala untuk mencari jawaban kesepakatan yang belum ia ucapkan. “Bagaimana?” tanyaku lagi, memastikan. Yang pasti, sekarang Joni terlihat menaruh curiga padaku.


“Katakan saja—”


“Jawab dulu kalimatku.” sahutku cepat.


Akhirnya, dia mengangguk setuju dan aku membalasnya dengan anggukan kepala yang sama.


“Oke. Karena sudah sepakat, aku akan mulai bicara.”


Mata kami kembali bertemu, dan aku mengulas senyum getir disudut bibir. “Yoseph.” kataku tiba-tiba, berhasil membuatnya melebarkan mata dengan wajah menegang dan rahang mengerat.


“Yoseph?”


“Ya. Dia.” jawabku cepat.


“Ada apa? Tolong jangan berbelit.”


“Aku sedang mencoba menyusun kalimat, tuan Joni. Tolong jangan buat aku melupakan kata-kata yang sudah ku tata di dalam otakku.” kelakarku dengan tawa kecil agar suasana tidak terlalu tegang. Orang ini, mahir mengintimidasi dan juga mendominasi. Buktinya, dia tidak segan mengultimatum diriku secara terang-terangan. Apa ini efek dari pekerjaan yang ia tekuni?


“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?” celetuknya curiga. Mana mungkin aku mempermainkan anda dengan nyawa sendiri sebagai taruhannya, pak? Tolong diam sebentar saja agar aku bisa berkata dengan benar. Astaga ...


Ku hela nafas sedikit keras agar dia peka. Lalu, aku kembali membuka mulut untuk berkata, “Kalian sedang mencari informasi tentang pria itu, atau tidak?”


Dia mengerutkan kening. Kali ini aku hanya menebak, tapi jawaban yang dia katakan membuatku cukup tercengang.


“Darimana kamu tau?”


Jadi benar? Jadi, apa yang dia bicarakan dengan pak Wandi semalam itu, tentang bos Yoseph? Lucky me.


“Aku hanya mencoba menebak apa yang aku duga. Ternyata benar?” tanyaku dengan manik mata membulat sempurna. Lantas bertepuk tangan kecil sebagai applaus meriah karena tebakanku yang tidak meleset.“Wah, aku hebat.” lanjutku bercanda. “Aku akan bicara sesuatu tanpa mengulang. Jadi, aku harap anda mendengarnya dengan baik.”


Kulihat raut wajahnya berubah waspada. Aku dapat menangkap gerakan tangannya memasuki area di balik jaket kulit yang ia pakai, meskipun samar. Dia mungkin sedang berusaha mencari sesuatu di sana. Senjata api untuk membela diri, misalnya?


“Aku, adalah bagian dari mereka.”


Seketika itu juga, sebuah revolver berada tepat didepan wajahku. Aku tau ini akan terjadi. Semua sudah ku perhitungkan, dengan benar.


“Wow, wow, anda tidak lupa kesepakatan yang kita buat di awal bukan?”


“Ya. Tapi aku tidak peduli hal itu. Sejak bertemu dan melihatmu, aku sudah menduga jika kamu bukan orang baik!” tegasnya dengan nada rendah dan datar. Aku pun memutuskan untuk mengangkat kedua lenganku ke udara sebagai tanda ‘menyerah’.


“Aku tidak membawa senjata, tuan. Aku membawa sebuah kabar. Sebuah informasi yang mungkin akan berguna untuk penyelidikan yang anda lakukan bersama tim polisi.” kataku menyerah tanpa menunjukkan wajah panik sedikitpun.


“Katakan!”


Aku tertawa kecil bak orang sinting. “Aku, sedang dalam misi besar darinya, saat ini. Anda, dan pak Wandi adalah targetnya.” []


...To be continue...


###


Kira-kira, Joni percaya nggak sama Ale?


Lalu, langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?


Jangan lupa terus ikuti kelanjutan cerita Nightfall ya,


BTW, terima kasih untuk dukungan kalian untuk cerita Nightfall. See you next chapter.


❤️❤️❤️