Nightfall

Nightfall
Nightfall 11



...Sebelum mulai membaca, luangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan ☺️...


...Terima kasih...


...❣️❣️❣️...



...Nightfall by VizcaVida...


...|11|...


...Happy reading...


...[•]...


Ini masalah nyawa brodie, aku nggak bisa ambil keputusan tanpa pertimbangan.


Oke, mari rahasiakan dulu keberadaan Joni sekeluarga yang ada satu apartemen denganku. Dia sebagai kepala keluarga dan seorang ayah, pasti ingin melindungi keluarga kecilnya tersebut dari orang jahat seperti diriku. Mengingat pekerjaannya yang memang beresiko tinggi menjadi incaran para pembenci dirinya, maka keputusan untuk menyembunyikan keluarganya di tempat aman seperti ini, menurutku sebuah keputusan yang tepat.


Hari ini aku kembali datang ke markas karena merasa berstatus menjadi seseorang yang ‘wajib lapor’ tentang perkembangan misi-misi crazy yang sedang ku jalani.


Seperti biasa pula, aku disambut para hewan berbulu di pintu gerbang, kemudian di sapa para pekerja rumah tangga di pintu rumah. Setelah itu, aku menaiki tangga bangunan megah bertingkat ini untuk bertemu si bos. Bos yang pernah berbaik budi memungutku dari jalanan, dan menghidupiku dengan layak selama ini. Ya meskipun uangnya bisa dikatakan sebagai uang panas, tapi mau bagaimana lagi? Memang begini sirkle kehidupan kami yang menyedihkan.


Ku ketuk daun pintu sebanyak tiga kali, kemudian kutarik turun handle pintu dan masuk begitu saja ke dalam seperti yang biasa aku lakukan.


Disana, kulihat si bos bersama seorang wanita yang beberapa hari lalu sempat kulihat saat aku meninggalkan markas. Kami berpapasan di pintu gerbang didalam mobil masing-masing. Aku ingat betul wajahnya, karena aku memang tipikal orang yang jeli jika menyangkut tentang si bos.


Wanita itu, mungkin simpanan si bos dibelakang Lili, karena putri semata wayang pria tersebut tidak suka jika ada wanita asing dirumahnya. Aku menatapnya lurus, hingga dia segan dan turun dari pangkuan bos Yoseph.


“Lili, dimana?” tanyaku, berharap si bos peka dan menghentikan kegilaan dibelakang anak gadisnya sendiri. Dia pasti tau risiko melakukan ini, tapi dia memang laki-laki normal dengan hormon testosteron yang masih aktif. Ya wajar saja kalau dia melakukan ini. Menginginkan sentuhan wanita.


“Lili kuliah.”


Memang, Lili itu anaknya sedikit bandel dan bebal. Kuliah saja nggak selesai-selesai meskipun sudah menyusun skripsi lebih dari setahun yang lalu. Aku juga sudah berusaha membantu dan mengingatkan dia agar lebih bersungguh-sungguh dan menerima ijazah kelulusan secepatnya. Tapi lupakan, karena dia tidak akan mendengar apalagi menuruti nasehat orang.


Aku mengangguk paham untuk jawaban bos Yoseph, berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan bos, dan ada tepat didepan meja.


“Ada perlu apa?” tanyanya mungkin lupa, karena otaknya sedang dipenuhi pikiran kotor tentang anatomi tubuh si wanita yang sedang menggodanya. Aku mengaku, jika wanita ini memang cantik, masih muda dan tubuhnya juga seksih. Tapi, jangan harap kamu akan lepas dan bisa hidup bebas setelah berurusan dengan kami, sistah.


Aku tersentak dari lamunan, lalu kembali menguasai diri dengan topik. “Cuma mau kasih laporan tentang misi pertama.”


Perlu diingat, aku memang wajib memberitahukan apapun yang sedang berjalan tentang misi yang ku terima.


“Menyenangkan untuk didengar kah?”


Aku mengangguk ragu. “Bisa jadi.” jawabku tidak yakin. Mungkin berita ini hanya akan menjadi hal biasa untuk dia yang ingin segera mengeksekusi lawan mainnya.


“Katakan.”


Aku tidak bodoh. Dia bicara seperti itu agar aku cepat pergi dari sini dan membiarkannya berduaan bersama wanita ini. Aku tau yang ada dalam otakmu sekarang, bos!


“Aku dan putrinya sudah berteman.”


Dia menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat datar saja dan tidak menunjukkan rasa puas sedikitpun. See, apa kataku.


“Apalagi? Cuma itu? Lalu dia sendiri, apa sudah ketemu sama kamu?”


Aku menggeleng. “Masuk markas kepolisian itu tidak gampang, pa. Aku butuh akses untuk memudahkan hal itu. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Aku sudah berhasil membuat sebuah hubungan spesial dengan putrinya.”


“Putrinya yang bi-su itu kan?”


“Dia gadis yang cerdas, pa. Jangan berharap banyak aku bisa lolos dari misi kali ini. Siap-siap kehilangan aku, ya.” kataku mencoba menggertaknya. Enak saja main bicara dan menyebut status orang dengan kasar seperti itu. Dia bisa menyebutnya dengan tunawicara, kan? Kenapa harus bi-su?


“Kamu nggak akan kenapa-kenapa, Le. Misi ini gampang.”


Gampang? Coba bos saja yang kerjain, deh. Ah, tidak-tidak. Aku harus tetap menjaga integritas seorang pimpinan disini.


“Ya, ya. Boleh sih percaya diri. Tapi papa harus siap menerima risiko apapun yang nanti terjadi padaku.”


Coba, dia mau jawab apa sekarang?


“Yang paling penting, jangan pernah menyebut apapun tentang aku atau semua orang yang berhubungan denganku, jika kamu tertangkap.”


Oh wow. Luar biasa. Aku benar-benar berubah menjadi Shield-nya dalam waktu sekejap. Hidup cuma sekali, tidak akan bisa terulang lagi, yang ternyata sialnya sekarang justru ku pertaruhkan untuk melindungi nyawa orang lain. Semua tidak akan bisa terulang lagi kalau sudah berakhir, teman. Miris sekali bukan?


Aku menganggukkan lagi kepalaku sebagai respon mengerti. Akan aku lakukan meskipun berat hati.


“Ada yang lain, yang mau kamu bicarakan? Jika tidak, silahkan keluar. Aku masih ada urusan.”


Diusir seperti hewan, ini sangat menyakiti harga diriku. Selama tinggal dan hidup disini, ini adalah pertama kalinya dia mengusirku hanya karena seorang wanita yang ia bayar untuk memuaskan hasrat binatangnya itu.


Sialan!


***


Aku sampai dirumah saat matahari sudah tergelincir.


Oh ya, saat bertemu dengan Wendy tempo hari, kami juga sempat bertukar nomor telepon. Dia menulis nomor ku di buku agenda yang aku berikan. Tapi, sampai hari ini dia belum menghubungiku sama sekali. Aku meletakkan ponsel diatas nakas dan berjalan menuju kamar mandi.


Rasa lelah yang kurasakan saat ini, membuatku ingin berendam air hangat di dalam bathtub.


Ku lepas satu persatu atribut yang ku pakai lalu meletakkannya di dalam keranjang baju kotor yang sudah terisi separuhnya. Lalu kembali berjalan masuk ke dalam ruangan yang dikelilingi oleh bentangan kaca dengan shower yang memiliki dua pilihan air yang bisa digunakan. Aku membasahi diri disana, lalu keluar dan berjalan hendak menuju bathtub untuk mulai berendam. Akan tetapi, aku mendengar bel rumah berbunyi. Bunyinya beruntun, dan aku tau betul siapa pelakunya. Lili. Memangnya siapa lagi?


“Ck! Dia mau ngapain?” tanyaku bergumam dengan nada malas. Ingin ku abaikan, tapi aku tau peringai Lili. Dia akan terus berusaha mendesakku keluar dan membuka pintu untuknya alih-alih pergi karena tidak di gubris dan di acuhkan. Mau mengelak dengan kelitan panjang lebar juga dia tidak akan percaya. Dia pasti melihat mobilku di parkiran. Jadi, terpaksa aku meraih bathrob dan memakainya untuk menuruti kemauan Lili yang entahlah apa motifnya bertamu malam-malam.


Saat alas kaki ku menapak pada lantai kamar, ponselku bergetar. Bisa ku pastikan itu adalah dia yang sudah tidak sabaran.


Bibirku kembali berdecak. Lelah juga menanggapi gadis posesif dan agresif seperti Lili ini.


Aku berjalan menuju nakas terlebih dahulu untuk memeriksa apa benar dugaanku. Tapi, aku mengerutkan kening karena nomor yang muncul di layar ponselku, adalah nomor tanpa nama.


Biasanya memang, nomor kami semua akan diganti oleh bos secara sengaja setiap dua sampai tiga bulan sekali sebagai antisipasi. Takutnya ada oknum yang bisa melacak keberadaan kami.


Well, anggap saja ini Vino.


Kuraih ponsel, dan ku geser tombol telepon ke arah atas. Ku alihkan ke arah telinga, lalu menyapa,


“Halo.”


Jika ini Vino, dia akan berteriak ‘Hey Bro’ sebagai kalimat pembuka. Lalu jika ini Lili, pasti aku sudah menerima caci-maki yang beruntun seperti petasan gantung. Tapi, kali ini tidak ada suara apapun. Diam, tenang, senyap.


“Halo? Siapa?” tanyaku mengulang. Aku tidak suka diteror, apalagi oleh nomor kontak baru. “Jangan main-main sama gue, ya?!” ancamku agar si penelpon takut. Tapi, setelah beberapa detik lewat, panggilan itu tetap tidak ada suara. Hanya sesekali terdengar nafas seseorang diseberang, yang menandakan ada kehidupan disana.


Geram, aku pun hendak mengakhiri panggilan tersebut dan membuka pintu untuk Lili yang terus saja membuat gaduh dan tidak berhenti menekan tombol bel apartemen.


Dan, disela kekesalanku yang bertumpuk, aku mengingat sesuatu. Mataku melebar, ku dekatkan sekali lagi gawai ke telinga. Lalu aku bertanya,


“Kamu ... Wendy?” []


...To be continue...