Nightfall

Nightfall
Nightfall 26




...Nightfall by VizcaVida...


...|26|...


...Happy reading...


...[•]...


Mama,


Aku ingat memanggil mama sebelum kesadaranku benar-benar menghilang. Aku terbangun pagi ini, tepat ketika jarum jam menunjuk angka tujuh pagi dengan leher kaku dan punggung ngilu. Aku tertidur semalaman di kursi meja makan, dan sekarang aku bangun dengan kondisi kepala yang lebih baik dari semalam.


Perlahan aku bangkit, lalu mengambil langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum kembali bergelut dengan hari. Tentu saja hari yang membuat emosi campur aduk, hari yang menguras tenaga juga pikiran, dan ... menyebalkan.


Ku basuh wajahku dengan air, lalu ku tatap pantulan wajahku pada kaca diatas westafel. Terpantau sangat me-nye-dih-kan.


“Ciiiih ... ” tawa miris ku mengudara, menertawakan diriku sendiri yang begitu menyedihkan dengan semua markah dosa yang terpampang jelas didepan mata. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari semua yang kumiliki saat ini. Uang berlimpah, wajah rupawan, otak yang gemilang, semua itu tidak ada gunanya jika di bandingkan dengan dosa yang sedang ku tanggung dan coba ku tebus.


Ngomong-ngomong soal dosa, tidak ada manusia yang sempurna, suci bak bayi baru lahir. Semua manusia hidup pasti punya dosa, entah itu di sengaja atau tidak. Akan tetapi dosa yang tersemat dalam hidup semua orang itu berbeda-beda, dan dosa yang ada pada diriku ini amat sangat besar hingga Tuhan menghukum ku sedemikian rupa—nyaris terlihat tak ada ampunan—membuatku tidak ada pilihan lain selain melakukan dosa-dosa lain yang tentu saja menggiringku untuk terjun bebas ke jalur neraka tanpa perlu menimbang amal.


Andai saja dosa itu bisa gugur seperti air yang menetes dari wajahku, pasti aku akan sedikit merasa lega.


Ku raih sikat gigi dan memberinya pasta gigi, lalu ku gosok tanpa berhenti menatap wajah pada pantulan cermin. Apa hidupku akan lebih buruk dari ini jika bertahan dengan mama dan papa? Atau justru sebaliknya? Pertanyaan itu yang muncul dan berputar-putar di kepala. Sungguh sulit di tebak.


Ku sudahi menggosok gigi juga pikiran yang mulai memicu kinerja otak. Kuraih gelas dan ku isi air untuk berkumur. Lanjut melepas pakaian untuk membersihkan diri. Namun apa yang ku lakukan itu terhenti saat aku mendengar suara ponsel berdering.


“Ck!!” decakku sebal. Siapa juga sih yang menelepon sepagi ini?


Meskipun mendumal tidak suka, aku tetap berjalan keluar dari ruangan yang terbuat dari kaca itu, memakai kembali T-shirt yang sebelumnya sudah kutanggalkan, lantas keluar kamar mandi dan menghampiri ponsel yang tergeletak di atas nakas.


Bos Yoseph.


Nama yang ingin sekali ku hindari. Karena setelah bertemu dan bicara dengannya, pusing di kepalaku selalu kambuh. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kebaikan harus dibayar lunas, tidak untuk di hutang. Aku akan menghadapi dia, apapun risikonya, kecuali Wendy. Jika sampai mereka berani menyentuh atau menggores seinci saja kulit gadis itu, aku sendiri yang akan membuat mereka jera dan bertekuk lutut meminta ampun didepan kedua kaki Wendy. Aku bersumpah untuk itu.


“Halo.”


“Datang kerumah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Ingin sekali aku mendengus terang-terangan agar di dengar olehnya. Tapi, lagi-lagi rasa tidak enak menjadi alasan aku meng-iyakan keinginannya.


Panggilan berakhir setelah mendapat persetujuan dariku. Tak membuang waktu lebih banyak, aku meraih jaket dan kunci mobil. Untuk urusan mandi, nanti saja, sekalian sepulangnya dari rumah bos.


***


Tidak ada yang berbeda dari yang sudah-sudah. Rumah mewah ini masih di jaga para algojo bertubuh kekar, tunduk dan patuh pada si bos yang memberi mereka sesuap nasi.


Hatiku tertawa miris sekali melihat kami semua seperti sesuatu yang sangat membutuhkan, dan rela menjadi peliharaan orang kaya yang memiliki otak penghianat.


Tak berbeda jauh dari mereka, aku pun demikian. Ku kesampingkan semua ego untuk menolak, lalu memilih bertemu pria yang sudah merawat dan menghidupiku selama lebih dari lima belas tahun itu, lalu mencoba memberikan apa yang dia inginkan—meskipun pada kenyataannya aku sudah mengkhianatinya dengan membuka sebuah kotak pandora yang selama ini coba di pecahkan oleh tim kepolisian.


Aku sudah sampai di ruangan yang biasa kami gunakan untuk berbicara personal, bahkan tempat ini juga yang menjadi saksi bisu bagaimana rencana ini berjalan.


Ada sesuatu yang cukup membuatku terkejut hingga menahan nafas. Yakni,Vino ada bersama bos Yoseph. Tidak biasanya mereka ada di sini ketika bicara sesuatu. Apa mereka sengaja bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan dariku?


“Bos pingin ngasih tau sesuatu. Oke, berhubung Lo udah dateng, gue cabut dulu.” jawabnya sembari menepuk pundak ku, aku mengangguk.


Tidak sama. Firasatku mengatakan jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan dariku. Begitu juga dengan tatapan mata Vino yang berubah. Entah yang kulihat selanjutnya itu benar atau tidak. Ada satu tatapan Vino yang terlihat berbeda dari biasanya. Tatapan tidak ramah yang tertangkap secara tidak sengaja olehku. Lalu membuat asumsi yang semula coba ku tepis, semakin kuat.


Ada sesuatu yang mereka bicarakan, dan aku tidak diperbolehkan untuk tau.


“Duduklah.”


Sontak aku terperanjat mendengar suara bos Yoseph menginterupsi lamunan. Aku bergegas duduk tanpa memberikan jawaban. Ku tarik kursi, lalu duduk di arah berseberangan dengan keberadaan bos Yoseph. Tatapan kami beradu sebentar, lantas kembali berbicara.


“Ada apa anda memintaku datang pagi-pagi buta begini, pa?”


Dia tersenyum simetris. Namun justru senyuman yang seperti ini, yang menakutkan.


“Tentang Joni, apa kamu sudah mencicil laporan untukku?”


Mencicil berarti membayar sedikit demi sedikit tanggungan yang harus dibayar, dengan kata lain, berhutang.


Ah, sialan sekali.


“Bukankah papa memintaku untuk fokus terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi dan mengekse-kusi kepala polisi itu?”


“Kamu nggak salah. Tapi kamu terlalu lama.” sahutnya cepat tanpa memberi jeda.


Aku menyembunyikan telapak tangan ku yang kini meremat tepian baju yang kugunakan. Baju yang semalam, juga ku remat saat menahan sakit kepala yang datang tanpa ku minta itu, semakin terlihat kusut.


“Untuk itu, aku meminta Vino saja yang mengerjakan misi tentang Joni.”


Astaga. Dunia bermain semakin kejam saja. Tidakkah ingin memberiku istirahat barang sejenak? Aku ingin menyusun sesuatu secara rapih. Jika Vino terlibat, semua akan berantakan.


Jalan satu-satunya adalah memberitahu Joni agar polisi dan timnya waspada. Terlebih, agar dia bisa melindungi keluarganya.


“Aku melihat, kamu kesulitan menjalankan dua misi secara bersamaan.” lanjutnya semakin membuatku jengah. Apa dia tidak ingin berbuat baik dengan cara bertobat? Mengapa suka sekali membuat orang lain menderita? Semoga saja, hati si bos segera dibukakan pintu agar otaknya kembali berfikir waras.


“Aku bisa melakukan dua-duanya. Tapi aku butuh waktu.”


“Dan waktu yang kuberikan, sudah hampir habis.” sahutnya lagi. Aku mencoba menyamarkan eratan rahangku agar tidak terbaca gerak-gerik mencurigakan di matanya. Ku tatap datar wajah pria itu, lantas mengangguk kecil. “Kamu tidak bisa. Kamu nggak sanggup memenuhi misi dalam jangka waktu singkat yang aku berikan.”


Sadar diri, aku mengangguk patuh. “Baiklah.” jawabku pada akhirnya. “Ada yang lain?” lanjutku memastikan. Aku tidak ingin mencampuri keinginannya jika di ingatkan, akan semakin menjadi.


“Ku peringatkan sekali lagi, jangan dekat dengan anak kepala polisi itu. Atau kamu akan tanggung sendiri akibatnya.”


Nafasku tercekat. Saliva sulit di telan. Dan sialnya, pusing itu kembali datang. []


...To be continue...


###


Hai beb, maaf baru muncul hari ini karena sibuk kesana dan kemari berkunjung ke saudara dan mertua 🤭


Konflik besar akan segera hadir, jadi jangan lupa untuk terus mengikuti cerita Ale-Wendy ya ... ☺️


Untuk kalian yang setia memberi dukungan kepada Nightfall, terima kasih banyak. Semoga kebaikan selalu di limpahkan kepada orang baik seperti kalian. Amiiiin ...