Nightfall

Nightfall
Nightfall 36



Warning!!


Bab ini berisi adegan baku tembak, kata kasar, ke-ke-r4-s4n, dan beberapa hal lain yang perlu disikapi dengan bijak. Bagi yang tidak nyaman terhadap adegan yang telah di sebutkan di atas, dimohon untuk men-skip bagian ini.


Terima kasih.



...Nightfall by VizcaVida...


...|36|...


...Happy reading...


...[•]...


“Masih ingin lanjut bermain?”


Aku tau betul suara milik siapa ini. Vino. Dan ya, ini hanya jebakan dan bodohnya aku, termakan begitu saja.


See, mereka rela mengorbankan orang lain demi tujuan satu orang. Kalian bisa tebak sendiri siapa orangnya dan seperti apa dunia yang mereka jalani. Mereka tidak punya rasa kemanusiaan sekalipun, sudah banyak yang berkorban—tanpa diminta atau diberitahu.


Ku letakkan senjata api ku begitu saja hingga jatuh ke tanah, ini demi pertahanan diri ketika di tawan oleh seseorang yang terlihat berusaha bernegosiasi dengan kita. Vino mengarahkan pistol itu ke tengkuk leher ku, lalu aku kembali mendengar suaranya.


“Kenapa kamu berkhianat, Le? Padahal bos sudah memberimu banyak sekali kebaikan buat kamu selama tinggal disana.”


Kebaikan bullshi-iiit!


“Semuanya tidak ada yang gratis, Vin.” kataku mencoba meyakinkan agar dia melepas senjatanya dariku. “Kamu juga pasti akan membayar semua kebaikannya, suatu hari nanti.”


“Ya, setidaknya aku tidak akan berkhianat sepertimu. Padahal, kukira kita akan terus menjadi partner.”


“Tidak akan Vin. Setidaknya, aku ingin berbuat kebaikan satu kali sebelum aku mati.” sahutku lagi, mencoba menarik Vino untuk keluar dari lingkaran hitam kehidupan buatan Yoseph.


“Jadi, kamu juga berniat untuk membunuhku jika ada kesempatan.”


“Aku ingin menyelamatkan kamu, Vin. Apa yang kita lakukan selama ini salah. Aku hanya ingin kita, menjadi orang baik yang—”


Vino menekan keras ujung senapan di tengkuk leherku. Ia memperingatkan agar aku berhenti. Tapi tidak, aku akan tetap berusaha membuatnya berubah, jika berhasil.


“Persetan dengan orang baik. Berbuat baikpun, aku tidak akan pernah terlihat dimata mereka.” serunya tajam. Vino memang keras kepala dan sulit sekali di kendalikan.


Konon katanya, orang jahat itu wujud dari orang baik yang terlalu sering di sakiti. Aku melihat dan merasakan sendiri menjadi seperti ini, melewati proses menyakitkan dan tentu saja membuat isi kepala hampir gila.


“Aku melakukan ini, demi orang yang aku sayangi, Vin.” sahutku tak kalah cepat. “Aku ingin melindunginya.”


Tekanan senjata api di tengkukku perlahan melemah, dan aku bisa sedikit bernafas lega karena Vino masih mau mendengarkan aku meskipun mungkin hanya sebentar.


“Aku memang bukan orang baik, tapi aku mencintai orang yang benar-benar baik hingga membuatku mengerti apa makna sebuah kebaikan.”


Vino menjauhkan revolver miliknya, dan membiarkan aku menjatuhkan kedua lenganku disisi tubuh. Aku harap dia tidak cepat berubah pikiran dan berbalik menyerang ku lagi.


“Le, jangan berusaha mengubah arah pikirku. Kita terlahir untuk seperti ini. Tidak ada orang yang mau menerima kita jika kita berubah menjadi baik.”


“Siapa bilang? Kamu melihatku? Aku seperti ini, karena ada orang yang menerimaku, menerima semua keburukan ku yang coba ku ubah. Ternyata, diluar sana banyak orang baik yang mau menerima kita, Vin.” kataku, memutar tubuh menghadapnya sembari menatap manik matanya agar dia percaya bahwa ucapanku ini benar. “Percayalah padaku, tidak sedikit orang yang mau menerima masa lalu kelam kita, bahkan mencintai kita dengan hatinya yang tulus tanpa pamrih.”


“Benarkah?”


Aku mengangguk. Semoga ini bukan bagian dari rencana jahat Yoseph dengan menyodorkan Vino didepanku. “Jika kamu tidak percaya, ikuti aku. Kita belajar memperbaiki diri bersama-sama meskipun harus menanggung risiko yang tak terhitung besarnya.”


Vino tertawa getir, lantas mendongak menatap wajahku. Dia tersenyum sarkas dan kembali mengangkat senjata api yang masih digenggamnya ke arah wajahku. Kepanikan menyerang begitu saja di wajahku.


“Kamu nggak percaya?” desakku berusaha tenang dengan kedua lengan ku angkat setinggi dua sisi bahu, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan perlawanan.


“Tentu ... ”


Ia bersiap menarik pelatuk dengan gerakan perlahan yang membuatku memejamkan mata sembari menarik nafas cukup dalam. Dalam hati aku berhitung untuk menepis senjata itu dari depan wajahku. Oke.


Satu,


Du—


Letusan dan aroma bubuk mesiu kembali menyapa penghidu. Tepat didepan wajahku, suara itu terdengar bergeming begitu nyaring. Namun tak kurasakan sakit di manapun. Aku membuka perlahan kedua mataku, dan mendapati Vino tertawa sumbang. Aku masih hidup, tanpa luka sedikitpun ditubuhku. Hanya kaki terkilir yang sejak tadi ku abaikan rasa sakitnya.


“Bodoh! Kalau takut mati, jangan jadi mafia.” cibirnya tajam lalu berbalik hendak meninggalkan aku.


Seketika itu juga aku menoleh kebelakang dan kudapati satu orang tergeletak di atas tanah menegang nyawa. Dia menyelamatkan nyawaku.


“Hey! Mau kemana kamu?” tanya ku berusaha mengejar, namun terhenti ketika revolver itu kembali terarah padaku.


“Jangan ikuti aku jika kamu ingin tetap hidup.”


Aku mengerutkan kening. Apa dia bermaksud kembali pada Yoseph?


“Lo mau kemana, Vin?” tanya ku kembali akrab.


Dia tersenyum dan menurunkan senjata api itu lagi.


“Kembali.”


“Kembali kemana? Ikutlah bersamaku—” kataku sembari mengangkat kedua tangan ke udara bebas.


“Aku bisa berbuat baik dengan caraku sendiri.” katanya tegas, membuat kedua lenganku kembali jatuh lemas di kedua sisi. “Lindungi gadis itu. Akan ku bantu sebisaku.”


Kutatap punggung lebar Vino yang menjauh, lalu aku berkata padanya,


“Thanks, friend.”[]


...To be continue...


###


Vino ini tipikal bestie yang jaim dan gak mau blak-blakan soal perhatian. Dia itu sebenarnya baik kok. ☺️


Jadi, apakah Vino benar-benar akan membantu Ale?


Ikuti terus kelanjutan Nightfall ya ...


Thank you