Nightfall

Nightfall
Nightfall 34




...Nightfall by VizcaVida...


...|34|...


...Happy reading...


...[•]...


Kulihat Wendy telah menjauh. Punggungnya tak tertangkap lagi oleh pandangan mataku. Kuharap dia sampai di tujuan dengan selamat. Aku harap tidak ada yang mengejarnya. Dan aku juga berharap, jika aku bisa menyusulnya kesana.


Aku memutar tumit. Ku tepis semua ragu yang sempat membuat bimbang dan bingung. Lalu aku bergerak sedikit demi sedikit untuk mencari perlindungan. Aku harus menghambat pergerakan Yoseph dan yang lainnya agar Wendy bisa sampai terlebih dahulu.


Meskipun aku sudah cukup pesimis dengan keselamatanku sendiri, aku akan terus berusaha agar semua berjalan sesuai rencana.


Ku pastikan peluru didalam revolverku cukup untuk melakukan perlawanan. Ku pastikan sekali lagi, tidak ada pergerakan di dekatku karena aku butuh waktu untuk berlari menjauh jika memang terdesak. Aku harus menjaga jarak aman dari mereka yang jumlahnya lebih banyak dariku.


Kubidik melalui ujung bagian atas revolver. Aku memang bukan penembak jitu, tapi aku berharap tembakan ku tidak melesat dan berakhir mengecewakan diriku sendiri. Ya, aku akan terus berusaha.


“Ah, itu dia.”


Aku melihat satu orang berjalan di kejauhan.


“Sial!” umpatku saat tau orang itu memakai rompi anti peluru. Bodohnya aku sempat lengah dan tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Mereka perkumpulan manusia baji-ngan dalam skala dan jaringan besar, jadi tidak mungkin mereka mengumpankan diri mereka sendiri untuk menjadi korban sia-sia, kecuali dalam waktu atau situasi yang benar-benar mendesak.


Ku bidik satu orang lagi yang muncul. Itu Vino, dan aku menahan nafas ku. Temanku, sekarang menjadi salah satu musuh yang harus ku lenyapkan juga? Ini tidak masuk akal. Mustahil aku menyakiti Vino yang merupakan teman terbaik selama aku hidup disana.


Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri agar teguh dalam tujuan akhir yang akan ku tempuh.


“Ale. Keluar, nak. Papa ingin bicara denganmu.”


Aku mendengarnya, dengan sangat jelas. Dia masih menyebut dirinya sebagai ayah untukku, padahal, beberapa menit yang lalu dia ingin aku lenyap. Sialan sekali kan?


Kesalahpahaman? Benarkah hanya sebatas itu? Maaf tuan Yoseph, anda mencoba bernegosiasi dengan orang yang salah.


“Kalau kamu tidak mau mendengar permintaan papa, terpaksa papa akan menggunakan cara kasar untuk memaksamu keluar.” teriaknya lagi, dan berhasil membuatku jengah setengah mati. Semuanya hanya kamuflase untuk mengelabui ku, agar aku bersedia menyerahkan diri secara cuma-cuma tanpa perlawanan.


Kemudian, aku melihat Yoseph muncul, tiga orang di mengelilinginya dengan persenjataan lengkap. Dan hal itu mempersulit ku untuk melakukan banyak hal. Senjata dan amunisi yang ku bawa sangat terbatas pemakaiannya. Sedangkan mereka? Ada beberapa senjata api mematikan yang bisa membuatku meregang nyawa hanya dengan sekali tembak.


Tidak. Aku harus punya strategi untuk mengelabui mereka. Agar waktu mereka habis bersamaku saja.


“Tentu saja aku akan keluar, jika kalian fair.” teriakku keras agar mereka mencoba mencariku. “Aku hanya berdua dan tidak bersenjata.” lanjutku, memancing mereka agar percaya jika aku tidak sendirian.


Dari tempatku membidik, aku melihat Yoseph memberikan instruksi kepada beberapa orang yang kukenal itu untuk menanggalkan senjata. Ternyata pria itu percaya, atau ini bagian dari permainan mereka? Aku harap tebakan kedua ku salah.


“Aku sudah menyuruh mereka semua melepaskan senjata. Sekarang keluar lah, Ale.”


Aku tidak serta Merta melangkah menampakkan diri. Aku mengintai dari loop senjata yang ku pegang untuk menyisir sekitar Yoseph, sekedar memastikan dan mengulur waktu.


“Sial! Apa Yoseph sedang menyusun rencana? Kenapa natural sekali?”


Tidak menutup kemungkinan jika ada beberapa orang yang sengaja tidak ikut dan bersembunyi diantara semak dan pohon besar yang menjulang. Jangan sampai gegabah.


Ku putar arah dengan sudut berbeda-beda beberapa kali. Dan ...


“Kamu pikir aku bodoh?” gumamku ketika mendapatkan satu orang yang bersembunyi tak jauh dari Yoseph.


Jadi benar dugaanku?


Baiklah jika memang ini maunya, kita mulai permainannya. []


...To be continue ...