
...Nightfall by VizcaVida...
...|18|...
...Happy reading...
...[•]...
Anggap saja, apa yang dikatakan Wendy lah, arti yang sebenarnya. Intinya, jangan sampai aku terbawa suasana, kemudian besar kepala dan patah hati sendirian. Apalagi sampai menimbulkan dendam. Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Tujuanku bukan untuk menyakiti dan membuat Wendy terluka dan kecewa. Tidak, tujuan ku bukan itu.
Setelah makan malam berakhir, aku mengajak Wendy ke sebuah taman yang letaknya nggak jauh-jauh amat dari tempat tinggal kami. Aku melihatnya tertawa, menikmati momentnya bersenang-senang sebagai diri sendiri. Jujur aku rindu suasana seperti ini, suasana hidup seperti diri sendiri yang sudah lama sekali aku tinggalkan dan hidup menjadi orang lain.
Aku menatapnya lama, dan berakhir dengan mata kami yang bertemu hingga membuatnya menunduk sembari menyelipkan rambutnya di balik telinga. Pertanda apa? Hahaha, kalian tebak sendiri saja.
Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah di wajahku?
Dia tanya seperti itu. Aku menggeleng dan meraih buku yang disodorkan padaku, untuk menulis jawaban. Boleh aku tanya sesuatu? Aku penasaran sejak pertama kali bertemu dengan mu.
Baiklah, mungkin akan sedikit berlebihan, tapi aku juga ingin mendengar sesuatu tentang dia.
Silahkan.
Apa kamu tidak bisa bicara sejak lahir?
Dia menatapku lagi. Kali ini sorotnya penuh kejut, lalu berubah redup. Sepertinya sesuatu pernah terjadi dan menciptakan kenang-kenangan buruk di ingatannya. Kenangan yang membekas yang biasa di sebut ... trauma.
Dia mengangguk.
Aduh, apa aku salah tebak? Memalukan.
Melihatnya memberikan refleks singkat, aku pun ikut mengangguk sebagai reaksi paham. Aku sadar jika pertanyaan itu terlalu sensitif, tapi entah mengapa aku justru penasaran dan ingin tau lebih jauh tentang sosok Wendyta yang sudah menjadi temanku hampir sebulan lebih.
Aku mengembuskan nafas kecil, lantas menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang kami duduki, menatap langit malam yang saat ini dipenuhi oleh rasi bintang yang begitu indah di galaxy. Jika sudah seperti ini, aku jadi ingat mama, papa, dan kenangan kami dulu saat semuanya masih baik-baik saja.
Astaga, Apa yang aku lakukan? Kenapa aku harus mengingat dia orang yang membuatku hampir mati? Tidak! Aku harus segera mengalihkan isi kepala yang terasa menyakitkan ini.
Aku pun kembali menegakkan punggung, mengatur nafas karena tanpa sadar, aku terengah sebab seolah kembali ditarik kemasa kelam, malam itu.
Kembali kutatap Wendy yang saat ini terlihat khawatir dengan keadaanku. Inilah yang tidak aku suka ketika aku mengingat masalalu ku sendiri. Terasa menyakitkan, dan menyedihkan hingga membuatku terlihat lemah Dimata orang lain.
Ia pun bergegas mengambil buku catatan dan menulis dengan sangat cepat, lantas menunjukkan padaku.
Kamu baik-baik saja?
Oh Ya Tuhan, dia memang sedang khawatir padaku. Aku tersenyum dan mulai menata ulang ekspresi di wajahku, mengendalikan emosi dan rasa takut yang sedang bergelut di otak dan ragaku.
Sakit, ini sangat menyakitkan.
“Ya. Aku baik-baik saja.” jawabku, lalu menunduk dan mengembuskan nafas dengan sangat kasar.
Dia menulis lagi. Tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja
Aku menggeleng dan tersenyum padanya. Tidak, aku baik kok. Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Wen.”
Mungkin jawaban itu terkesan besar kepala, tapi ekspresinya membuatku yakin jika dia memang sedang khawatir padaku. “Aku hanya teringat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ku ingat.”
Tiba-tiba, aku merasakan telapak tanganku menghangat dalam sebuah rengkuhan dan genggaman. Dia meraihku, menyentuh hatiku yang sudah lama mati dari sebuah rasa. Dia membuatku kembali merasakan apa itu sebuah perhatian dan ... kasih sayang.
Punggung tangan kecilnya yang halus itu, menepuk punggung tangan milikku sebanyak dua kali. Tatapannya lembut, tidak lagi terlihat panik dan khawatir seperti tadi.
Aku disini. Kamu bisa menceritakan masalahmu, padaku. Karena kita adalah teman. Katanya, dan entah mengapa itu terasa sedikit mengganggu dan mengusik ego ku. Berteman? Tidak bisakah lebih dari itu, Wen? Aku sedang membutuhkan seseorang yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang, seperti yang sedang kamu lakukan saat ini.
Oh, Shiii-iiiiit! Come on, dude. Jangan rusak tali pertemanan yang sudah terjalin hanya karena keegoisan mu! Jangan berharap banyak karena setelah ini, kalian bukan apa-apa lagi!
Satu sisi diriku berbisik, mencoba mengingatkan agar aku tidak berlebihan. Karena ya, memang tidak seharusnya aku berharap apapun dari hubungan kami. Karena setelah ini, kami berpisah. Tidak akan bertemu kembali. Entah untuk sekedar melewati waktu, atau ... selamanya. []
...To be continue...
###
Curcol dikit ya man-teman, biar isi otaknya longgar dikit. 🤭
Kadang berfikir gini: sebenarnya ceritaku ini layak dibaca nggak sih? Nething mulu akhir-akhir ini, jadi imbasnya mau up date pun mikirnya: ‘Aduh, nggak ada yang baca lah, percuma.’ gitu. Down, istilahnya.
Dan untuk yang setia baca di lapak ini, terima kasih banyak atas dukungan kalian.
See you episode selanjutnya.