
...Nightfall by VizcaVida...
...|42 (END)|...
...Happy reading...
...[•]...
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mendekam di penjara. Tapi entah mengapa waktu selama itu terasa begitu cepat berlalu. Dan sekarang, aku akan kembali menghirup udara segar.
Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah hampir menyentuh kepala empat, dan aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar berita dari sosok perempuan yang selama ini ku nanti-nanti.
Aku berjalan dengan pakaian santai, melewati lorong tempat ini dengan perasaan bebas.
Ya. Hari ini aku bebas. Pengadilan hanya menuntut ku dengan hukuman sepuluh tahun penjara tanpa pemberatan apapun karena dinilai sempat membantu pihak kepolisian untuk menguak sindikat pembobolan uang nasabah Bank yang digerakkan dan dipimpin oleh Yoseph.
Ah, pria itu benar-benar akan membusuk dipenjara bersama yang lainnya. Semua aset miliknya disita, termasuk gudang persenjataan dan juga rumah di beberapa tempat yang sengaja disebar sebagai kamuflase.
“Keluar, Ken?”
Aku menoleh, lalu tersenyum hangat melihat presensi orang tersebut. Dia adalah kakek Sutoyo, atau yang kerap kami sapa kakek Suto, pria tua berusia hampir delapan puluh tahun yang dijatuhi vonis seumur hidup karena dugaan kasus penipuan serta pencurian yang tidak pernah ia lakukan, tapi teriakan kebenarannya tidak pernah didengar hingga lelah dan menyerah untuk menjalani masa tahanan. Pria itu berperan sebagai teman yang selalu mengarahkan aku untuk melakukan kebaikan saat di lapas. Kakek Suto sudah ku anggap seperti paman yang baik hati, suka menolong siapapun. Beliau juga termasuk orang yang pandai memberikan motifasi hidup, juga menjadi pembimbing banyak narapidana, sehingga disegani oleh seisi lapas bahkan dari pihak polisi sendiri.
Aku memutar tumit dan berjalan mendekatinya, memeluknya lembut penuh kasih. “Iya, kek. Kakek jaga diri dan kesehatan kakek ya.” kataku sedikit berbisik. Berpisah seperti ini cukup berat, tapi hidupku masih berlanjut. Aku harus menapaki kembali takdir yang sudah ditulis untukku. Entah seperti apa kedepannya nanti, semoga saja tidak seburuk sebelumnya.
“Kamu juga. Jangan jadi anak bandel lagi.”
Sudah kubilang bukan? Dia ini pria baik yang memang baiknya itu terlampau tulus.
Mendengar nasihatnya, mataku berkabut hp ngga memburam. “Tentu saja, Kek. Ada sesuatu yang ingin Ken gapai.”
Pria tua itu tersenyum hangat kepadaku. “Apa gadis itu?”
Ah ini cukup memalukan, tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan hal itu. Dulu, saat pertama aku bertemu kakek Suto dan beliau bertanya, ‘Apa yang akan menjadi tujuanmu setelah bebas nanti?’. Dan saat itu aku menjawab ‘Aku ingin melanjutkan hidup sebagai orang berbudi baik, dan ... menemui seorang gadis’. Ternyata, ingatan kakek Suto masih setajam pedang. Ia masih betul-betul ingat ucapanku sepuluh tahun yang lalu.
“Eummm, kalau itu sih, Ken tidak berharap banyak, Kek. Hidup kami jauh berbeda. Dia perempuan baik yang berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada seorang mantan narapidana seperti saya.”
Kakek Suto tersenyum, ia bahkan meraih satu lenganku dan dia usap seperti mencurahkan kasih sayangnya kepada putranya sendiri. “Jangan berkecil hati. Jodoh itu Tuhan yang menentukan. Kalau kalian memang jodoh untuk bertemu, pasti akan bertemu.”
Hatiku lega mendengar tutur kata dan bahasa yang disampaikan kakek Suto. “Ken akan optimis.”
“Nah, begitu dong. Sudah, cepat pulang. Papa mu pasti sudah menunggumu dirumah.”
Aku tertawa dan memeluk tubuh ringkih pria itu sekali lagi. “Terima kasih untuk kebaikan kakek selama ini kepada Ken, ya kek?! Kalau ada waktu, Ken pasti akan datang mengunjungi kakek kesini.”
Pria itu menganggukkan kepala. Dan aku pun bergegas pergi dari lapas ini, dan tentu saja untuk mengunjungi sebuah tempat.
Para teman di lapas menyapa dan memberiku ucapan selamat atas bebasnya aku dari sini. Mereka semua orang baik, hanya saja masa lalu buruk yang melebeli mereka sebagai orang jahat—ya meskipun memang ada juga yang benar-benar jahat dan tidak kapok.
Ku hentikan sejenak langkah kaki ku ketika sepasang sepatu lusuh yang ku kenakan ini berhasil melewati pintu baja rumah tahanan. Ku hirup udara kebebasan yang sudah lama ku rindukan. Ku pejamkan mata agar rasa rindu itu kembali memenuhi dada.
Wendy, apa kamu juga merindukanku seperti ini?
Sorot mataku yang kembali terbuka, mendapati papa menunggu didepan mobil hitam jaman dahulu yang masih papa fungsikan meskipun usianya sudah tua. Langkahku terayun percaya diri mendekat. Senyuman terbit di bibirku karena tidak ada lagi benci dalam hati.
Kami bersalaman dan melakukan toss seperti yang dulu selalu kami lakukan saat bertemu. Lantas, aku memeluk tubuhnya yang terlihat sudah lebih menua dari terakhir yang kulihat.
“Hey nak? Sudah siap menjalani kejamnya dunia, lagi?”
Aku terkekeh mendengar ucapan papa. Ini sama saja mengingatkan aku pada masa lalu suram yang aku lalui dulu.
“Siap dong, pa. Bagaimana kabar papa hari ini? Apa meeting penting papa lancar?”
Kalian tau tidak, papa ini seorang politikus yang cukup ternama. Papa juga seorang yang berkedudukan tinggi di negara.
“Yah seperti yang kamu lihat, papa terlihat senang itu artinya, hari ini menyenangkan.”
Kami tertawa bersama di saat matahari berada tepat di atas kepala.
“Sini kunci mobilnya, biar Ken yang nyetir.”
“Oke. Kita harus makan siang yang enak terlebih dahulu.”
“Aku juga butuh ke barber shop untuk potong rambut, setelah itu aku juga harus cukuran dulu, Pa.”
Kami tertawa bersama. Papa menepuk lenganku. “Baiklah. Lakukan. Waktu kita masih banyak.”
***
Aku tersenyum ketika menatap bentangan samudera yang mengingatkan aku pada pertemuanku bersama dia. Kami pernah bergandengan tangan disini, kami pernah saling mengasihi disini. Tapi hari ini tidak ada siapapun. Hanya aku seorang diri yang mencoba berharap jika senja hari ini akan berakhir indah.
Aku berharap seseorang akan tiba-tiba hadir tanpa memberitahu, lantas menggenggam tanganku untuk menyaksikan betapa indahnya cahaya oranye di balik langit sore yang hampir direngkuh malam.
Terlalu muluk-muluk kah? Oh yeah. Tentu. Hal itu hanya sebuah imajinasi yang akan terus menjadi imajinasi untukku. Wendy tentu tidak akan pernah mau lagi bertemu denganku yang membawa siap untuk hidup—
Astaga. Apa ini?
Aku membatin suaraku dalam hati. Apa ini hanya delusi? Atau imajinasi? Astaga. Tapi mengapa terasa sangat nyata?
Aku menurunkan pandangan pada telapak tangan yang digenggam. Ya, digenggam. Seseorang menggenggam tanganku saat ini. Namun, aku tidak berani menatap siapa orang yang melakukannya. Takut akan menghilang ketika aku menemukan wajah yang ku harapkan.
Satu ketukan mendarat di pundakku. Jari telunjuknya menekan pundak sebagai tanda agar aku melihat kepadanya.
Dan, tubuhku seperti akan luruh diatas pasir pantai saat mendapati senyuman indah di wajah ayunya. Matanya yang berbinar menatapku lembut. Rambutnya yang diikat memperlihatkan leher mulusnya, dan poni yang jatuh didepan wajah karena tertiup angin, membawaku untuk tenggelam dalam rasa kagum.
Telapak tangan kami saling menjauh. Dia mengeluarkan buku catatan baru dan menulis sesuatu.
Maaf, buku yang kamu beri, hilang. Jadi aku membeli yang baru.
Aku mengerjap cepat. Dia benar-benar Wendy 'kan?
Lalu, dia menulis lagi.
Maaf juga tidak menemuimu selama ini. Karena aku harus tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama.
Aku masih tidak bersuara, hingga dia tertawa sedikit lepas hingga suara kekehan terdengar ditelingaku. Lalu, dia menulis lagi.
Aku bukan hantu laut, Ale. Bicaralah.
Aku kembali mengerjap mengumpulkan kesadaran. Kemudian Ki harus ujung alisku karena gugup. Jantungku berdegup tidak biasa.
“Hai, Wen. Gimana kabarmu?”
Baik.
Kami diam kembali. Suasananya Begitu canggung. Aku yang membuat atmosfer kecanggungan diantara kami berdua. Kepalaku kembali tertunduk, aku malu.
“Maaf.”
Kataku, memecah keheningan diantara debur ombak yang terus menggaung di telinga.
“Maaf karena tidak bisa melindungi mu.”
Dia meraih telapak tanganku lagi, menggenggamnya lagi. Lalu meletakkan telunjuk lentiknya di bibirnya sendiri.
Aku baik-baik saja.
Mungkin seperti itu lah yang tergambar dari sorot di matanya. Dia menatapku lembut hingga aku terlena. Hingga ada satu keinginan lain dalam hati yang ingin ku ucapkan. Tentang sebuah perasaan.
“Wen, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
Dia mengerutkan kening, sepertinya dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan. “Aku, ingin bicara denganmu.”
Dia mengangguk.
Aku menatap wajahnya yang begitu cantik. Lalu secara refleks telapak tangan milikku meraih rambutnya yang terjuntai menghalangi pemandangan indah yang masih ingin ku kagumi.
Ku lepaskan genggaman tangan kami, lalu ku buat gerakan isyarat dengan menunjuk diriku sendiri, menyilangkan tangan didepan dada, lalu ku tunjuk dirinya.
Wendy terbelalak. Senyuman di bibir indahnya memudar. Kuraih lagi tangannya, ku genggam erat, lalu ku ulangi dengan kata-kata.
“Aku, cinta, kamu.”
Wajahnya merona, lalu ku lanjutkan berkata.
“Mungkin tidak sepantasnya aku mengatakan ini setelah apa yang terjadi sama kamu. Tapi aku tidak ingin memendam perasaan ini semakin lama. Semakin jauh, dan menyakitkan untukku.”
Dia tetap memperhatikan aku dengan gestur membeku.
“Tidak apa-apa jika kamu tidak merasakan apapun selain hanya mengangguk sebagai teman. Aku juga tidak akan memaksa, dan semua keputusan ada padamu, Wen. Entah kamu masih ingin berteman denganku, atau kita sudahi saja semuanya karena aku gagal membuatmu merasa aman dan dilindungi.”
Wendy meremat jemariku kuat. Apa dia merasa kesal dengan ucapanku?
Sepertinya begitu karena setelah itu, dia menjauhkan telapak tangan kami, dan menulis pada buku catatan barunya.
Kamu nggak boleh ngomong begitu. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan dirimu atas kejadian waktu itu.
Aku tersenyum masam. “Tapi, jika bukan karena aku, kamu—”
Dia menahan suaraku dengan tangan mengapung di udara.
Aku juga mencintaimu.
Begitu bahagia perasaanku saat rasa itu berbalas. Dan hal yang semakin membuatku terlonjak kaget adalah, kecupan yang mendarat di bibirku. Mata kami bertemu sesaat sebelum kami memutuskan untuk memejamkan mata. Ku raih tengkuknya, menahannya agar ciuman kami tidak berhenti begitu saja. Manis bibirnya membuatku semakin terlena, lantas ciuman itu berubah menjadi ciuman basah.
Hingga akhirnya ciuman tersebut berakhir. Kening kami bertemu dengan nafas saling memburu.
Aku membawa Wendy kedalam pelukan, mengecup puncak kepalanya sembari menatap senja dan bergandengan tangan. Mimpi ini terwujud nyata. Aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakannya lagi untuk kedua kali.
“You're beautiful like a Nighfall, Wen. And I love you forever.” []
...—End—...
###
Halo pembaca setia Nightfall sekalian yang author sayangi. Nightfall sudah tamat ya ...
Author mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas dukungan dan juga kesabaran pembaca menunggu kelanjutan cerita yang sering molor ini update. Tanpa semangat dari kalian, author bukan siapa-siapa.
Mohon maaf untuk cerita ini memang tidak author beri extra part. 🙏🙏🙏
Sekali lagi, author ucapkan terima kasih ya ☺️
Jangan lupa untuk mampir ke cerita baru author yang akan rilis hari ini—jika tidak ada kendala teknis. 🤭
See you