
Sudah siap dengan inti konfliknya?
Kencangkan sabuk pengaman anda saudara-saudara. Karena mulai bab ini, seluruh kesabaran anda dipertaruhkan dan diuji secara klinis oleh pusat dermatologi agar tetap terjaga kehigienisannya. *heleh banyak kicot. Author lebay lu. Wkwkwk
Intinya, siapkan hati.
...Nightfall by VizcaVida...
...|30|...
...Happy reading...
...[•]...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wendy's side.
Aku ingin pergi ke panti seperti biasa, saat akhir pekan tiba. Aku suka ke sana karena disana aku punya banyak teman. Bahkan ada beberapa yang juga menggunakan bahasa isyarat seperti aku ketika berkomunikasi. Aku seperti diterima, seperti berharga, dan seperti orang lain yang mempunyai tempat untuk bercerita. Meskipun ... aku juga sudah menemukannya. Namanya Kennedy Harris, tapi dia lebih suka dipanggil Ale, nama kedua yang ia terima dari orang yang menyelamatkan hidupnya.
Aku mungkin tergolong orang yang hidup jauh lebih baik dari pria itu, karena aku merasakan kasih sayang kedua orang tuaku, meski pada akhirnya bunda memilih pergi lebih cepat meninggalkan aku dan ayah.
Dulu, keluarga ku sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan keluarga Ale yang katanya lebih menginginkan dia mati.
Ah, ku tebak, itu hanya salah sangka. Mungkin Ale hanya salah menafsirkan maksud dari ‘keinginan untuk menghabisi’ karena saat itu, dia masih sangat kecil.
Tidak ada orang tua yang membenci anaknya secara berlebihan, apalagi sampai ingin mengakhiri hidup buah hatinya sendiri. Kecuali orang tersebut memang tidak punya hati nurani.
Ngomong-ngomong tentang hati nurani, Ale pernah mengakui pekerjannya yang menurutku cukup mengerikan. Biasanya, orang seperti itu tidak memiliki hati nurani dan lebih mengutamakan ego. Tapi Ale? Dia justru dekat denganku dan bersedia menjadi temanku, ya meskipun pada kenyataannya diawal dia memang hanya ingin memanfaatkan aku sebagai jembatan agar bisa dekat dengan ayah dan juga paman Joni.
“Sudah sampai, neng.” teriak sopir taksi online yang ku gunakan sebagai alat transportasi menuju panti. Sebelum berangkat tadi, aku sempat menulis sesuatu di buku catatan ku, lalu menyodorkan pada pak supir. Dia mengangguk paham dan merealisasikannya sekarang. Dia berteriak agak keras saat berbicara, agar aku dapat mendengar suaranya.
Aku mengangguk, lantas menyerahkan selembar uang ratusan ribu, lantas memberikan uang kembalian pada beliau sebagai reward karena sudah bersedia mengantarku sampai di tujuan dengan selamat.
Aku menyentuh dagu lalu melepas bebas di udara, tepat didepan dada. Terima kasih, ku ucapkan dengan bahasa isyarat. Pria paruh baya itu tersenyum lantas berkata, “Sama-sama, neng. Hati-hati.”
Kubaca bahasa bibirnya dengan sangat baik. Aku paham benar apa yang dia katakan, lalu ku anggukkan kepala bersama sebuah senyuman. Aku menulis cepat pada buku catatan hadiah pertemanan dari Ale, yang semakin hari semakin habis lembaran kosongnya.
Bapak juga hati-hati dijalan. Keluarga menanti kedatangan bapak.
Dia tersenyum hangat, khas seorang ayah. Lalu ku lambaikan tangan sebagai salam perpisahan kami.
Aku tidak bergegas memasuki kawasan panti, karena ingin memperhatikan mobil bapak itu sampai menghilang di pertigaan jalan yang ada di ujung sana. Ku hela nafas, lagi-lagi aku merasa sangat beruntung karena menjadi putri ayah. Beliau selalu melindungi dan mencukupi semua kebutuhan hidupku tanpa celah. Beliau juga selalu menyayangi aku tanpa pamrih.
Baiklah, mobil pak sopir baik hati tadi sudah menghilang. Aku pun memutar tumit dan mengambil beberapa langkah hendak memasuki area panti. Tapi, langkahku terhenti karena seseorang menahan pergelangan tanganku dengan cengkeraman yang cukup kuat.
Aku menoleh, kemudian sebuah benda asing menempel di antara hidung dan mulutku. Aromanya begitu aneh hingga membuatku pusing, dan semuanya berubah gelap.
Aku tidak ingat apapun, sampai aku terbangun disebuah ruangan yang begitu asing dengan kondisi tubuh terikat, dan mulut tertutup lakban. Kondisi kepala yang masih terasa berputar membuatku tidak dapat menatap dan fokus pada presensi beberapa orang yang berdiri tak jauh dariku.
Ku tegakkan kepala, berusaha mengumpulkan kesadaran, dan ... aku tau jika sekarang, aku sedang di culik. Di jadikan sandera.
Tapi oleh siapa?
Untuk siapa?
Siapa mereka?
Apa mereka musuh ayah?
Apa mereka membalas dendam pada ayah dengan menculikku dan meminta tebusan?
Karena berteriak pun aku tidak bisa, aku hanya berusaha melepaskan diri dari ikatan di tubuhku, meskipun percuma.
Mataku perlahan melihat jelas, jika mereka sedang menertawakan aku. Mereka sengaja menjadikanku tontonan dan hiburan lucu yang membuat mereka bertepuk tangan atas kegagalanku melepaskan diri. Sialnya, kursi yang menjadi penopang tubuhku, justru tidak seimbang dan membuatku jatuh diatas lantai dengan kondisi yang menyedihkan.
Mereka membantuku bangkit? Tidak. Mereka justru tertawa keras hingga rasanya berdenging menyakitkan ditelingaku yang notabenenya deaf. Tuna rungu.
Aku tidak boleh menangis. Air mataku terlalu berharga untuk menangisi mereka. Orang-orang seperti mereka tidak pantas melihat sisi lemahku. Lantas, satu orang berjalan mendekati aku. Wajahnya akan terekam jelas dalam ingatan. Aku tidak akan bisa melupakan orang ini dengan mudah.
Apalagi perkataan menghinanya yang tidak bisa menghargai diriku sebagai ciptaan Tuhan.
“Kamu tidak bisa mendengarkan aku kan?”
“Tidak. Kamu bersuara terlalu keras, tuan. Aku bisa mendengar suaramu dengan jelas.”
Mungkin dia tidak tau, jika selain bisa mendengarkan suara samar, aku juga bisa membaca bahasa bibir seseorang dengan amat sangat baik. Bodoh kalau dia menganggap aku hanya seorang perempuan tidak berguna.
“Kamu pasti bingung kenapa kami menyekapmu disini!”
Aku menatapnya tajam.
“Ternyata, kamu cantik jika dilihat dekat seperti ini.”
Aku mencoba mengalihkan wajah saat telunjuknya hendak menyentuh pipiku. Lantas dia tersenyum sarkas, dan mendorong kepalaku hingga terantuk pada lantai kotor yang menjadi alas tubuhku.
“Sok jual mahal. Nanti juga kamu akan kehilangan martabatmu sebagai seorang perempuan ditangan bos kami! Perempuan sialan!!”
“Apa maksudnya?”
“Bos? Siapa bos mereka?”
“Tuhan, tolong bantu aku lepas dari jerat manusia bia*dab ini.”
“Kesalahanmu, karena kamu sudah menggoda Ale!”
Apa maksud mereka? Siapa yang menggoda Ale?
“Lili bersedih. Dia merengek pada bos, dan kami lah yang mendapat getahnya! Sekarang, atau sebentar lagi, kamu yang akan menebus kesalahanmu itu.”
Mataku membola sempurna. “Sebenarnya, apa tujuan mereka melakukan ini? Apa bukan karena mereka musuh ayah? Tapi, hanya karena sebuah kecemburuan seseorang? Astaga, bagaimana aku bisa pergi dari tempat ini sebelum benar-benar terlambat?”
Aku kembali menggeliat, berharap ada sesuatu yang bisa kugunakan hanya untuk sekedar bangkit. Tangan kananku tertimpa bobot tubuhku sendiri, dan juga tertindih kayu. Rasanya mulai kebas dan sakit.
Merasa sia-sia, aku memejamkan mata. Aku bahkan merapal do'a dalam diam, agar seseorang datang dan membawaku pergi dari sini. Ketakutan semakin memenuhi diriku saat aku juga sadar bahwa apa yang kulakukan ini, tidak akan berhasil.
Siapapun, tolong aku.
“Kenapa? Mau kabur? Jangan bodoh anak lemah! Kamu tidak akan bisa bebas dari sini, sebelum bos mendapatkan tubuhmu itu sebagai bentuk pembalasan karena kamu sudah membuat putrinya bersedih.”
Aku menatap pria itu lagi.
“Kamu tau siapa Ale?”
Aku tetap diam memperhatikan. Seseorang lainnya muncul disamping pria pertama, dan tersenyum tak kalah mengerikan.
“Dia sama seperti kami, nona. Jangan tertipu dengan tampangnya.”
Aku tidak peduli. Ale hanya orang baik yang sedang salah langkah. Dia tetap orang baik di mataku. Dia adalah temanku. Kami sudah berjabat tangan yang artinya, kami akan tetap bersama dalam situasi apapun. Aku tidak akan membencinya meskipun aku tau siapa dia sebenarnya. Aku ... aku ... aku, mencintainya.
“Dia juga akan mati di tangan kami, nanti. Jadi, jangan berharap dia yang akan menjadi penyelamatmu. Oke?”
Mengapa dunia begitu tidak adil untuk pria baik seperti Ale? Dia juga pantas bahagia.
Tuhan, setidaknya, berikan kebahagiaan untuk orang yang kusayangi itu, meskipun hanya secuil. Aku rela menukarnya dengan nyawaku. []
...To be continue...
###
Bab ini ditulis menggunakan sudut pandang protagonis wanita a. k. a. Wendy.
Lalu, apakah do'a Wendy untuk Ale terkabul?
Ikuti terus kelanjutan cerita Nightfall yang pastinya akan semakin seru. Terima kasih juga untuk pembaca yang selalu memberikan dukungan kepada Ale-Wendy ya... ☺️
See you.