
...Nightfall by VizcaVida...
...|40|...
...Happy reading...
...[•]...
“Wendy?”
Celaka. Sepertinya Joni tidak tau dan tidak bertemu dengan Wendy saat berjalan kesini. Tanpa berfikir dua kali, aku berlari ke arah Wendy pergi, lantas Joni mengikutiku bersama beberapa anak buahnya untuk mencari Wendy. Sedangkan disana, Yoseph dan orang-orangnya yang masih hidup berhasil dilumpuhkan dan diringkus oleh anggota kepolisian yang datang bersama Joni tadi.
Sekarang, yang jadi beban pikiran di kepalaku adalah keselamatan Wendy.
Aku berlari mengabaikan rasa sakit di tubuhku, terutama, kepalaku. Aku terus berjalan menyusuri belukar dan pohon pinus yang semakin ditelan kabut karena jari semakin berubah, hendak petang.
“Kamu yakin dia pergi kesini?”
”Ya. Tadi, aku melihatnya berjalan ke sini.”
Aku, Joni dan beberapa orang lainnya mulai menyisir tempat, mencari jejak keberadaan Wendy yang ku yakini beberapa saat yang lalu, melewati jalan ini.
“Berapa orang yang mengejarnya?”
“Dua.” kataku semakin gusar. Aku takut sekali terjadi sesuatu mengingat keadaan Wendy yang sedang tidak baik-baik saja. Kakinya bengkak karena terkilir saat mobil menabrak pohon tadi.
Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak ada satu tanda yang menunjukkan keberadaan Wendy disini.
Ku usap wajah dengan rasa gelisah yang menyergap seluruh inci isi kepala. Aku hanya bisa berharap semua baik-baik saja. Aku berangan jika aku ... dapat menggenggam kembali tangan Wendy untuk yang kedua kalinya.
“Papamu juga mengirim orang untuk mencarimu, Ken.”
Aku terperanjat. Papa, melibatkan orang untuk mencari keberadaan ku? Apa dia tau tentang dunia baru ku setelah pergi dari rumah? Lalu, apakah papa akan menghukum ku jika kembali pulang nanti?
Satu hal lagi yang membuatku cukup bertanya-tanya, apa Joni adalah orang suruhan papa? Kalau tidak, darimana dia tau nama asliku?
Banyak sekali pertanyaan muncul di kepala.
“Untuk apa?” tanyaku datar. Mencoba mencari jawaban agar tidak ada salah paham.
“Entahlah. Aku hanya menerima berita itu sekilas dari teman satu kerjaan. Dan kabar seperti itu adalah misi, jadi tidak akan disampaikan sembarangan meskipun memiliki sesama profesi.”
Jadi, dia hanya menerima berita itu dari rekannya. Syukurlah untuk sementara.
Sekarang, otakku jadi bercabang. Memikirkan keberadaan Wendy, dan tentu saja tujuan papa mencariku setelah sekian tahun.
Aku berjalan berlawanan arah dengan Joni. Kami berpencar agar segera tau keberadaan Wendy, agar Wendy segera ketemu.
“Wen, dimana kamu.” gumamku diantara berbagai macam pikiran buruk yang berebut tempat untuk menguasai.
“Kesini, Ken!!” panggil Joni mengejutkan. Aku segera berlari menghampiri, lantas berdiri disisi pria itu. Ada sobekan kecil kain baju yang aku tau, itu milik Wendy.
Jantungku berhenti berdegup karena tepat di sisi sobekan kain tersebut, adalah kurang yang cukup terjal. Aku sampai mual saat membayangkan hal buruk terjadi pada Wendy.
“Nggak mungkin,”
“Kirim bantuan ke titik koordinat ke tempatku berada sekarang. Cepat!”
Setelah itu, Joni mengumpat lagi. Selanjutnya, dia berdiri sekali lagi di sampingku. Melongok ke arah bawah untuk memastikan dugaan terburuk yang terjadi kepada Wendy. Sedangkan aku, mencoba menenangkan diri, meyakinkan jika tidak mungkin Wendy terperosok jatuh kesana.
Tidak. Tidak boleh terjadi ke Wendy, atau aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.
Hingga tak lama berselang, tim bantuan datang. Mereka membawa peralatan keselamatan dan pertolongan lengkap. Lantas turun menyusuri jurang yang diduga, ada Wendyta disana.
Tak tinggal diam, aku memaksa ikut turun bersama tim. Aku merasa, akulah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Wendy. Aku harus mencarinya, memastikan jika dia selamat dan tetap hidup agar aku tidak membawa beban luka dan rasa bersalah sampai aku mati.
Di bawah, aku dan tim melakukan penyisiran tempat dengan hati-hati. Jalanan terjal dan sedikit licin di bawah sini. Beberapa jalan berlumut karena tak jauh dari sini, ada sungai yang mengalir cukup tenang. Air mengalir yang entah dimana ujungnya itu, tidak begitu berbahaya. Hanya saja, bebatuan yang didominasi oleh ukuran besar cukup banyak dan mengancam nyawa jika, sampai jatuh terjun bebas ke sana.
“Ya Tuhan, aku mohon sekali lagi pada-Mu, selamatkan Wendy.” pintaku dalam hati. Sumpah demi apapun, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Wendy.
Kutapaki setiap fitur becek dan licin itu hingga sampai di suatu sudut yang menurutku, harus ku datangi. Naluriku berkata demikian, yang lantas menuntunku untuk datang kesana.
Beberapa pepohonan yang menjulurkan rantingnya cukup menyulitkan ku ketika hendak sampai. Tapi, apa yang kulihat setelahnya membuat mataku terbelalak lebar. Tak ku pedulikan rasa sakit yang sejak tadi berusaha membuatku mati terkapar. Aku bergegas dengan cepat kesana, dan benar!
“Ya Tuhan!” pekikku teredam suara desir air di bawah sana. “Tolong!!!” teriakku kencang untuk mencari bantuan. Aku tidak akan sanggup membawa Wendy seorang diri karena jujur, membawa diriku sendiri saat ini, begitu berat seolah bertaruh nyawa. “Tolong kesini!” teriakku lagi meminta pertolongan.
“Wen.” panggilku saat berhasil membawa diriku untuk duduk disampingnya dan membawa kepalanya untuk ku papah. “Wen, bangun.” panggilku sambil menepuk pipinya beberapa kali.
Kondisi Wendy tidak baik-baik saja.. Tubuhnya lemas, kulit putihnya penuh goresan dan berdarah. Luka di wajah pucatnya juga cukup membuat hati pilu.
“Wen, please, bangun.” panggilku berusaha mengembalikan kesadarannya yang sudah menghilang entah sejak kapan.
Aku takut.
Hingga akhirnya dua orang datang mendekat. “Tolong selamatkan dia.” pintaku dengan suara terbata dan bergetar. Aku ada diujung rasa takut yang hendak mendorongku ke dalam jurang keputus-asaan.
Dua orang itupun bergegas karena mereka tau kondisiku yang tidak mungkin untuk membawa Wendy. Mereka datang lebih banyak dan akhirnya Wendy berhasil dievakuasi.
Lalu, samar-samar aku mendengar laporan salah seorang anggota tim kepada ayah Wendy yang ternyata juga sudah berada di lokasi—dimana kami berada—jika mereka juga menemukan dua jasad yang sudah bisa kutebak siapa. Mereka pasti dua orang yang mengejar Wendy tadi.
Medis melakukan upaya sebisa dan semampu mereka. Tak lupa, beberapa tenaga medis juga mengobatiku. Beberapa petugas melakukan CPR, dan petugas lain sibuk memasang infus, alat detektor jantung, dan entahlah apa namanya, aku tidak tau. Tapi yang aku bisa simpulkan dari semua itu, mereka sedang berusaha menyelamatkan Wendy.
Aku sendiri, tidak dalam keadaan yang cukup baik. Mataku terasa begitu berat dan berkunang. Mungkin aku berada diujung kesadaran. Tapi aku terus berusaha memperhatikan di sisi sana, dimana Wendy berada
Namun,
Semuanya berubah gelap.
Waktunya cukup lama. Melewati lorong-lorong seolah nyata, dingin, aku berjalan menapak entah kemana. Tidak ada rasa sakit, isi kepalaku seperti tidak membuatku mengingat apapun. Bahkan namaku sendiri.
Lalu, sebuah cahaya putih bersinar menerpa wajahku hingga sulit membuka mata. Sosok perempuan muncul dengan gaun putih, sedang tersenyum kepadaku dan memanggil namaku lembut,
“Ken,” []
...To be continue...
###
Wendy sudah ketemu. Lalu bagaimana keadaan selanjutnya?