Nightfall

Nightfall
Nightfall 06




...Nightfall by VizcaVida...


...|06|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Aku harus kembali ke markas untuk bertemu dengan boss Yoseph hari ini. Bersama hati yang merasa begitu dipaksa, akhirnya aku sampai dirumah mewah yang sudah hampir seminggu ini ku tinggalkan.


Seperti biasa, dibalik gerbang rumah setinggi hampir dua meter itu, ada beberapa penjaga bertubuh tegap dan tinggi. Ada juga lima ekor anjing terlatih untuk menjaga keamanan rumah dengan jenis berbeda, diantaranya dua American Pit Bull Terrier, satu Rottweiler, satu Bullmastiff, dan satu anjing kesayangan boss Yoseph yang memang begitu bagus, Siberian Husky jantan berwarna hitam putih.


Aku menyapa mereka dan mereka hanya menatapku karena kelimanya sudah mengenalku. Ah, sial, kenapa aku justru terkenal di kalangan per-anjingan, alih-alih perempuan. Apalagi perempuan yang sekarang menjadi target misiku, begitu sulit didekati.


Aku tidak bisa menampik pesona si Hero, anjing Siberian itu memang begitu sayang untuk dilewatkan. Bentuknya yang seperti serigala, namun tetap dalam spesies anjing itu sangat jinak. Ku usap bulu di kepala dan punggungnya yang terasa begitu halus—Sepertinya dia baru mendapat perawatan mahal oleh salon langganan si boss—kemudian berbisik untuk mengajaknya bicara.


“Papamu ada didalam ya, njing?”


Tidak ada yang mendengarnya, ini rahasiaku dan Hero. Anjing itu menjulurkan lidah dan memasang wajah seperti tersenyum.


“Oh, good boy. You know what I mean, right?”


Aku berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju teras rumah yang menyerupai istana itu dengan langkah riang. Itung-itung ketemu orang yang sudah menampungku disini, dan anggap saja ketemu orang tua sendiri.


Setelah pintu terbuka, aku melihat ada beberapa pembantu yang sedang bebersih rumah. Aku mengernyitkan dahi mencoba menelisik. Apa rumah ini akan kedatangan tamu? Biasanya, boss Yoseph atau yang biasa dipanggil papa ini, akan melakukan hal seperti ini jika hendak bertemu orang penting yang biasa dia sebut klien.


Aku mendekati salah satu pembantu yang ku tau memiliki usia paling muda, namanya Tini.


“Mau ada tamu, tin?” tanyaku memaksanya berhenti beraktifitas. Dia menoleh sambil menegakkan punggung tanpa mematikan mesin penyedot debu yang dia operasikan. Aku tak putus menatap perempuan yang seusia denganku itu.


“Kayaknya sih, iya den. Pak Yoseph nggak ngomong apa-apa. Kita cuma disuruh bersih-bersih ruang tamu, begitu.” jawabnya dengan logat medok jawa yang khas.


“Ah, terima kasih.” kataku lantas melanjutkan langkah. Orang yang perlu ku temui terlebih dahulu sebelum bertemu boss Yoseph adalah, Lili. Mungkin perempuan yang mendeklarasikan dirinya sebagai adik padaku itu mungkin saja tau satu atau dua hal yang membuat ruang tamu harus disterilkan begitu.


Sesampainya didepan kamar Lili, aku berniat mengetuk pintu, namun urung lantaran boss Yoseph sendiri yang menyapaku.


“Oh, kamu sudah sampai?” katanya sedikit keras dan berhasil mengejutkanku hingga tubuhku terlonjak. Sialan betul orang ini. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Kalian tau slogan itu kan? Nah, sebut saja orang yang kini berdiri di depanku ini, adalah makhluk itu.


“Papa. Baru saja, kok.”


Dia mengerutkan kedua alisnya hingga hampir menyatu. “Kenapa tidak ke ruanganku saja?”


Aku mengedikkan bahu tanda acuh yang sesungguhnya. Jujur aku sedikit malas bertemu dan memikirkan sesuatu yang berat, hari ini. Wendy saja belum berhasil ku takhlukkan, lalu apalagi yang akan diminta pria kaya raya ini? Eh, tapi jangan lupa Asala kekayaan pria ini dari mana. Ingat itu sampai semuanya selesai, oke?


“Aku cuma ingin melihat keadaan dan say hay sama Lili. Seminggu tidak bertemu, seperti kangen.”


Aku dengar-dengar dari beberapa orang yang bicara diam-diam dibelakangku, boss Yoseph ini kurang suka aku dekat dengan Lili. Padahal sebenarnya, bukan aku yang mendekati, tapi Lili yang selalu menempel padaku. Jika di telaah lebih jauh, aku sebenarnya ... muak.


“Lili sedang keluar.”


Aku mengangguk menanggapi informasi yang dia bagi padaku. Sepertinya sehari ini akan menyenangkan tanpa Lili. Tapi mengapa aku justru kelimpungan memikirkan cara untuk mendapatkan nama Wendy dari Wendy sendiri, ya? Astaga, aku tidak mau terjebak oleh buruanku sendiri. Aku harus memasang tameng anti panah cupid di garda depan pertahanan hatiku. Tidak lucu jika aku jatuh cinta padanya, lantas ketahuan, dan aku mendapat hukuman ditembak mati ditempat karena identitasku yang terbongkar, juga karena mencintai anak seorang kepala polisi.


Yang ada nanti judul di platform berita akan sangat lucu. SEORANG KRIMANAL YANG SELALU BERHASIL MEMBOBOL UANG NASABAH DI BANK DAN SELALU BERHASIL LOLOS, AKHIRNYA MATI DITANGAN KEPALA POLISI YANG TIDAK LAIN ADALAH AYAH DARI KEKASIHNYA. Atau, KRIMINAL YANG SEDANG KASMARAN, AKHIRNYA MATI DITANGAN KEPALA POLISI KARENA KETAHUAN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN PUTRI TUNGGALNYA. Aduh, membayangkannya saja sudah membuat perut mulas. Memalukan, bukan? Apalagi wajahku akan di pajang di berbagai media dan dilihat banyak orang. Bukannya memberi kesan mengharumkan nama bangsa karena prestasi, malah mendapat makian tajam dan sumpah serapah masuk neraka. Miris sekali.


“Ah ya sudahlah. Kalau begitu, ada apa anda memanggil saya, boss?”


Ya, aku ingin mempertegas status kami. Dia hanya atasanku yang sudah memberikan biaya hidup dan sekolahku, sedangkan aku adalah anak buahnya yang dia banggakan. Itu sudah cukup. Well, itu saja. Jangan lebih.


“Ayo bicara sebentar di ruangan ku sebelum tamu ku datang.” katanya sambil memutar tungkai dan berjalan menuju ruang kerjanya.


“Tamu ... siapa, pa?” tanyaku penasaran, dan dia tersenyum disudut bibir.


“Ada. Nanti juga kamu tau.”


Aku mengangguk. Kita tunggu saja nanti, seperti yang bos inginkan. Toh waktu juga masih panjang dan banyak.


“Papa sudah sarapan?” tanyaku basa-basi. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian aku duduk di kursi yang berseberangan dengan bos.


“Kamu?”


Aku menggeleng. “Apa perlu kita sarapan dulu?” tawarnya, dan aku terkekeh mendengarnya. Aku memang lapar, tapi makan semeja dengan bos, sangat tidak nyaman.


“Aku sih gampang, papa saja yang sarapan dulu. Ingat jaga kesehatan, atau Lili akan memarahi papa habis-habisan kalau sampai sakit.” kelakarku yang ditanggapi langsung oleh tawa menggelegarnya yang memenuhi ruangan.


Dia membuka laci, dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari sana. Dengan gerakan cepat dia mendorongnya untuk sampai didepanku. Aku menatapnya sejenak sebelum mengulurkan tangan untuk meraihnya.


“Itu, informasi lain tentang Joni.”


Siapa Joni? Kalian akan tau sebentar lagi.


“Laki-laki brengsek itu sudah tau posisi kita. Dia bahkan sudah menyuruh anak buahnya untuk mempersulit gerak kita.”


Nah, tau kan sekarang?


Yap! Dia adalah musuh bos Yoseph. Joni itu seorang detektif dengan dua orang cerdik seperti aku dan Vino yang bisa melacak, membobol, atau bahkan mengetahui identitas orang lain melalui sistem perangkat lunak komputer.


“Alamat rumah dan informasi tentang keluarganya semua ada didalam sana. Pelajari. Aku tidak ingin dia menjadi penjegal langkah kita.”


Aku menatap datar amplop itu. Apa sekarang pekerjaanku berubah? Apa aku di alih tugaskan menjadi eksekutor? Seorang penja-hat?


“Kamu tau maksudku, kan?”


Dengan berat hati aku menganggukkan kepala. Benar-benar sial!


“Papa ingin aku membuatnya bungkam, atau ... diam untuk selamanya?” tanyaku brutal. Aku sudah hampir meloloskan umpatan, tadi. Tapi berhasil ku tahan dengan mengalihkan isi kepala dan bicara asal.


Tapi, bos memberikan respon yang memang sudah ku duga. Dia mengangguk.


“Aku pilih opsi yang kedua.”


Jantungku seperti dipaksa berhenti. Aku memang ahli dalam perangkat lunak. Tapi untuk aksi, nihil. Aku tidak memiliki pengalaman sedikitpun. Vino yang lebih berpengalaman.


“Buat dia diam selamanya. Kalau perlu hilangkan jejaknya. Manipulasi orang dengan blog yang mengarahkan asumsi buruk tentang dia.”


Sialan! Itu sulit. Aku pasti tertangkap dan pekerjaan ini tidak akan rapi di tanganku! Fuu-ckk!!


“Aku, tidak pengalaman dalam bidang ini, pa.” kataku yang langsung disorot tajam oleh dua matanya. “Pasti akan terbongkar—”


“Jadi kamu mau menolak perintahku?”


Ya. Tentu. Aku tidak setega itu menghabisi nyawa seseorang, sialan!


“Aku—”


Dia tersenyum sarkas dan mengerikan. Lalu mengancamku, “Lakukan seperti yang aku katakan. Jika tidak, kamu tidak akan bertemu Vino lagi.”[]


...To be continue...