Nightfall

Nightfall
Nightfall 23




...Nightfall by VizcaVida...


...|23|...


...Happy reading...


...[•]...


Kutatap pagar rumah mewah di kejauhan. Rumah yang menampungku sejak aku lari dari rumah sakit malam itu, rumah yang kurasakan seperti rumah sendiri waktu itu, entah mengapa akhir-akhir ini membuatku merasa tidak nyaman ketika datang dan menjadi bagian dari mereka semua.


Bos Yoseph salah langkah jika menyerahkan tugas seperti ini kepada orang seperti aku. Karena aku, tidak mempunyai niat untuk melakukan kejahatan lebih dari yang kulakukan di depan monitor komputer.


Untuk itu, kuputuskan untuk datang kesini dan mencoba merundingkan lagi dengan bos Yoseph. Aku ingin mundur saja.


Tapi,


“Mundur? Jangan bercanda kamu Le. Sudah banyak waktu yang terbuang jika kamu mundur sekarang.” kesal bos Yoseph padaku. Wajahnya sudah tidak terlihat ramah. Dia marah.


“Aku tidak bisa melakukan ini, pa. Aku—”


“Berusahalah dengan keras. Jangan sekali-kali menggunakan perasaan!” tekannya masih tidak membiarkan aku mundur. “Dan tentu saja, jangan pernah lagi berkata ingin mundur di depanku. Karena itu ... sangat beresiko untuk dirimu sendiri dan juga, dia.” tegasnya mengintimidasi. Sedangkan aku, masih berusaha mencari alasan yang mungkin bisa membuat bos berubah pikiran.


Namun rasa kejutku belum berhenti sampai disitu. Bos Yoseph kembali berkata, “Perlu kamu tau juga mulai sekarang. Jika sampai aku tau kamu dan gadis itu memiliki hubungan khusus, lalu Lili tau dan bersedih karena hal itu, aku tidak akan tinggal diam. Kamu tau apa yang ku maksud bukan?”


Dunia ini tidak sebaik yang kalian pikirkan, kawan.


Sial!!!


Aku mengumpat keras dalam hati. Mengapa seluruh kebaikan yang pernah aku terima, sekarang justru menjadi boomerang untukku? Aku merasa tidak lagi menjadi salah satu bagian terpenting disini. Tidak sama sekali. Aku sadar dan sudah memikirkan kemungkinan terburuk seperti ini sejak lama. Tapi, aku tidak menduga jika semuanya datang terlalu cepat.


Dan puncaknya yang miris, aku harus menuruti semua kemauannya tanpa bisa melakukan perlawanan. Isi otakku sudah kacau dan tidak lagi bisa di kontrol. Amarah yang semula masih coba ku pendam, ingin meledak hari ini juga. Akan tetapi semuanya kembali pada titik dimana poin awal berada, yakni aku harus menahan lagi semua perasaan mengerikan itu untuk diriku sendiri, mengesampingkan semua sifat manusiawi yang seharusnya tersisa dalam diriku. Aku diam, menatap pria itu dengan sorot kosong. Timbal balik, balas budi, adalah hal yang masih ku pegang teguh hingga saat ini. Dengan dalih tersebut, sistem tubuhku seperti memaksaku untuk tunduk. But,


Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memberi tahu seseorang. Tapi, siapa? Tidak mungkin aku bicara kepada Wendy.


Otakku bekerja lebih keras hingga pusing itu datang. Sangat sakit, begitu menyiksa hingga membuatku terhuyung hampir jatuh pingsan jika tidak bisa menguasai diri. Rasa sakit yang sempat hilang beberapa tahun lalu, sekarang datang lagi. Aku harus siap menerima risiko buruk lain, yang merujuk pada ragaku sendiri.


“Kami tidak akan memiliki hubungan apapun, bos.” ‘karena aku tidak ingin membuat Wendy terlibat dalam hal besar yang kalian ciptakan’ imbuhku dalam hati. Perlu diketahui, ini adalah kali pertama aku memanggilnya bos. Panggilan papa untuknya, sepertinya terlalu spesial. Dia bukan ayah biologis ku, kami orang lain yang hanya saling berbalas budi. Dan sekarang, adalah waktunya. Aku adalah Shield mereka.


***


Ku banting tubuhku diatas tempat tidur empuk yang beberapa bulan ku tempati. Tatapan ku tertuju pada langit-langit kamar yang berwarna putih bersih dengan lampu gantung yang terlihat mahal. Ya, mahal. Semua yang menjadi atribut pada diriku, harganya mahal, sangat mahal. Bahkan aku harus rela menukarnya dengan hidupku yang jika dilenyapkan, tidak akan bisa kembali lagi.


Semua kata-kata yang dilontarkan Yoseph padaku tadi, terputar satu persatu diantara sunyi dan suara desir mesin pendingin ruangan. Semua memori yang ku lewati bersama orang-orang yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri ini, berhambur keluar dari laci memori yang sudah lama tersusun rapi dan siap menjadi kenangan manis di jari nanti. Tapi apa? Semua berbanding terbalik dengan harapan. Semua berubah menjadi omong kosong belaka. Aku hidup untuk satu tujuan, yakni menjadi pelindung dari orang yang haus akan materi.


Tiba-tiba ponsel di atas nakas bergetar. Aku meliriknya sekilas, lantas menghela nafas. Aku harap bukan Lili atau Yoseph yang sedang mencoba menghubungiku.


Ku bawa tubuh lelah dan rasa sakit di kepala ku untuk bangkit dan meraih ponsel, kemudian dapat kulihat nama orang yang sedang berusaha melakukan panggilan video dengan ku. Wendy.


Senyumku mengembang. Seluruh beban dan masalah yang mendera seolah menguar begitu saja ketika melihat namanya. Aku berdehem dua kali untuk menetralkan suara, kemudian ku geser tombol ke atas, dan wajah Wendy muncul pada display ponsel yang ku pegang.


“Hai,” sapaku sambil melambaikan tangan. Dia tersenyum dan balas melambai. “Belum tidur?” lanjutku sambil membuat gerakan menopang kepala seolah sedang tidur.


Dia menunduk tanpa menghapus senyuman di wajahnya. Sepertinya ... dia sedang menulis sesuatu. Dan benar saja dugaanku ketika dia mengangkat buku kecil didepan kamera.


Apa aku mengganggu mu?


Dia kembali memperlihatkan wajahnya, lantas ku jawab dengan gelengan kepala. Kemudian dia kembali menunduk, dia sedang menulis diatas meja yang ku yakini sebagai meja belajar.


Ayah sedang bertemu dengan paman Joni, dan aku sedang bosan sendirian.


Pak Wandi, bertemu dengan Joni? Kira-kira apa yang mereka bicarakan?


Raut wajahku seketika itu berubah. Tidak sepenuhnya, tapi Wendy pasti bisa membaca gestur yang sedang ku tunjukkan padanya.


Kamu kenapa?


Aku memintanya untuk menungguku sebentar ketika aku mencari media untuk berkomunikasi dengannya. Pertemuan seorang detektif, dan seorang kepala polisi, aku harus tau apa yang sedang mereka bicarakan.


Setelah mendapatkan buku catatan yang biasa digunakan untuk merangkum kode rahasia dari beberapa file yang hendak ku bobol, aku mulai menulis sesuatu agar bisa bicara dengan Wendy. Aku menulis,


Ayah kamu tetap bekerja meskipun malam begini? Waaah, respect! tulisku, kemudian bertepuk tangan kecil.


Wendy membalasnya,


Sepertinya sedang ada kasus yang sedang mereka berdua selidiki. Kamu pasti tau siapa om Joni karena dia tetangga kamu.


Aku ingin jujur saja kali ini, tapi tunggu sebentar, sampai aku berhasil menemukan jalan untuk membongkar semua. Aku harus mendapat celah jika aku memutuskan untuk ikut memberikan informasi yang mungkin saja mereka butuhkan.


Sebuah kasus? tanyaku ingin tau.


Wendy membalas,


Ya. Sepertinya sedang membahas sesuatu yang rumit. Wajah ayah dan om Joni terlihat serius. Tapi aku sedih karena tidak bisa mendengar percakapan mereka dari tempatku.


Memang, Wendy tidak sepenuhnya tidak bisa mendengar. Dia mampu menangkap pembicaraan jika jaraknya dengan teman bicaranya tidak terlalu jauh. Daya tangkap pendengarannya lemah, dan itu yang membuat Wendy memutuskan untuk bicara dengan bahasa Isyarat meskipun sebenarnya, dia masih memiliki kesempatan untuk bisa bicara secara normal seperti orang lain. Aku baru mengetahui informasi tersebut setelah Wendy bercerita di pertemuan terakhir kami.


Aku takut jika ayah sudah menangani kasus besar yang mengancam nyawanya. Tambah Wendy, lantas raut wajahnya berubah sedih. Aku yang melihat itu, tidak akan diam saja. Sebisa mungkin akan ku hibur dia agar tidak merasa sendirian. Ada aku.


Aku melambaikan tangan didepan kamera untuk memancing perhatiannya. Dan dia kini kembali menatapku. Aku tersenyum lembut dan sehangat yang aku bisa, seperti yang kulakukan saat kami dihadang dua orang suruhan Yoseph, waktu itu.


Percaya sama ayahmu. Pasti dia bisa melewati semuanya. Oke?


Dia mengangguk setelah membaca tulisanku. Lalu aku memutuskan untuk menulis lagi dan memperlihatkannya pada Wendy. Aku ingin dia memberi tanggapan sebelum aku benar-benar mengambil keputusan besar yang akan mempertaruhkan hidup dan matiku.


Apa kamu masih mau berteman denganku, seandainya kamu tau jika aku bukan orang baik seperti yang kamu kira? []


...To be continue...