
...Sebelum mulai membaca, luangkan waktu untuk memberi Like, komentar, serta subscribe, vote dan beri hadiah jika berkenan ☺️...
...Terima kasih...
...❣️❣️❣️...
...Nightfall by VizcaVida...
...|09|...
...Happy reading...
...[•]...
Skip adegan malam itu. Tidak harus juga diceritakan pada semua orang tentang apa yang terjadi setelah Lili mencium pipiku. Ya, meskipun tidak sampai tidur bersama, tapi lili tetap ngotot ingin menginap di sini.
Dan pagi ini, sudah ada sekitar sepuluh panggilan tidak terjawab, dan tiga pesan dari si bos yang mungkin sedang kebingungan mencari putri kesayangannya yang tidak pulang. Sedangkan Lili—pihak yang bikin onar, masih nyaman di dalam kamar.
Aku mengerjap diantara ruangan yang masih belum ditembus sinar matahari pagi. Belum juga nyawa terkumpul, ponsel kembali berbunyi. Kali ini si Vino yang ikut-ikutan merecoki pagi ku yang seharusnya menjadi pagi menyenangkan.
“Apa?” tanyaku. Suaraku saja masih serak karena benar-benar baru bangun tidur. Dan entah mengapa orang-orang ini suka sekali mengganggu ketenangan orang lain, sedangkan aku sendiri, sudah mulai bosan.
“Muke gile.” katanya menjawab sapaan ku. “Lili di tempat Lo nggak? Bos marah-marah sama gue gara-gara Lili nggak bisa dihubungi, dan Lo nggak jawab telepon dia.”
Kenapa ini jadi salahku sih?
“Ada. Dia lagi tidur.”
“Jadi dia memang ditempat Lo?”
Aku mengangguk dan menghela nafas lelah. “Iya. Semalem udah aku paksa pulang, tapi dia nolak. Nggak mau, malah masuk kamar dan di kunci.”
Mau gimana lagi? Ya aku biarin aja. Percuma berdebat panjang lebar sama orang keras kepala, yang ujung-ujungnya juga pasti aku yang ngalah.
“Ya udah. Bangunin dia, suruh pulang.”
“Iya, iya. Ini juga aku baru bangun, Vin.”
“Kalian nggak ngapa-ngapain kan?”
Aku menjeda gerakanku yang hendak menuruni ranjang. Kata ‘ngapa-ngapain’ disini kesannya nggak mengenakkan. Mengapa Vino ini selalu berfikir jika cewek dan cowok bersama itu, selalu ‘ngapa-ngapain’ sih?
“Memangnya kamu pikir aku ngapain? Lili itu adik aku, Vin. Nggak mungkin aku nekad niduri dia.” sungutku tidak terima. Menyebalkan sekali dituduh yang tidak-tidak pagi-pagi begini. Dan si Vino malah tertawa diseberang telepon mendengar kekesalanku. Dia memang rajanya penghancur mood. “Aku bukan kamu yang ‘ayo’ aja pas diajak ngamar.” nah, kena nggak Lo.
“Sialan!!” umpatnya keras yang membuatku senang. Aku berhasil menyerang telak dia dengan kenyataan. “Udah, cepetan anterin Lili pulang. Papanya ngamuk.”
Panggilan berakhir begitu saja dan aku semakin berusaha menenangkan diri. Sirkle ini, aku sudah bosan. Aku ingin hidup tenang seperti saat bersama Wendy.
Ah, aku jadi ingat nama gadis itu lagi. Dan seketika, morning wood-ku makin parah. Aku harus bergegas membereskannya di kamar mandi sebelum Lili tiba-tiba masuk ke kamar ini dan melihat sesuatu yang sekarang sedang berdiri tegak bak tower sutet di belakang kompleks polisi.
***
Aku mengantar Lili pulang meskipun harus melewati drama yang memang nggak masuk akal.
Dipikir-pikir, apa sebenarnya motif Lili nolak di antar pulang dan bilang kalau betah tinggal disini. Apa karena semalam? Tapi, aku berhasil maksanya untuk kembali ke habitatnya sebelum bos Yoseph memengga-l kepalaku dengan alasan membawa kabur anak gadisnya.
Jujur, aku kurang suka dengan perempuan yang memiliki pikiran terlalu bebas seperti Lili, ini. Aku hanya sebatas menghargai, menyayangi, dan menganggapnya seperti seorang adik, alih-alih sebagai seorang wanita yang nanti akan ku jadikan masa depan.
Aku lebih suka perempuan yang ... eumm ... bagaimana menjelaskannya ya? Bisa dibilang malu-malu kucing dan butuh dilindungi, begitu lah. Atau paling tidak, seorang perempuan yang tau cara meletakkan dirinya diantara orang lain, khususnya seorang pria.
Sesampainya didepan rumah boss Yoseph, Lili menolak untuk turun dari mobilku, dia tetap tak bergerak dari jok mobil dengan kedua tangan dilipat didepan dada, dan bibir manyun seperti bebek.
“Papa nyari kamu sejak semalam karena kamu nggak kasih kabar kalau ada di tempatku.” kataku, mencoba merayunya agar dia berubah pikiran dan turun dari sini sebelum bos Yoseph menyadari kedatangan kami dan menyeret turun Lili dengan cara paksa dari mobil.
“Kamu udah deket sama tuh cewek?” tanyanya mengalihkan topik.
Ternyata pembahasan ini lagi.
“Ya memang itu tujuannya. Papa ingin aku mendekati—”
“Jauhi dia.” tegasnya tidak ingin dibantah.
“Li—”
“Kamu nggak boleh suka sama dia.”
Siapa juga sih yang suka? Ya meskipun nggak aku pungkiri, kadang terasa aneh saat dekat sama dia. Deg-deg-an.
“Li, dia itu anak polisi. Sedangkan aku, kriminal yang nggak bakal dapat ampun kalau ketangkep.” selaku mencoba meyakinkan dia. Lelah juga berdebat dengan topik yang nggak masuk akal begini. Bos ingin aku jadi yang dia inginkan, sedangkan Lili punya keinginan yang bertolak belakang dengan papanya sendiri. Mungkin tujuannya baik, tapi ya kembali lagi. Aku bisa apa?
“Jadi kamu nggak perlu khawatir. Itu nggak akan terjadi. Nggak usah mikir aneh-aneh.” lanjutkan masih berupaya membuatnya percaya pada ucapanku, jika aku tidak akan kenapa-kenapa.
“Aku takut kamu lupa sama aku gara-gara dia!”
Memang, semalam kami sempat saling ngobrol tentang hari-hari yang kami lewati. Dia menceritakan banyak sekali kejadian yang dia lalui saat aku nggak ada di markas. Dan aku, hanya menceritakan sebagian tentang misi ku ini, termasuk sudah menemukan Wendy, menceritakan bagaimana fisik dan aku juga memberitahunya jika kami sudah saling bisa nyambung dalam komunikasi dengan gadis itu pada Lili yang justru, sekarang menjadikan dia posesif.
Posesif yang aku maksud diucapanku sebelumnya adalah, Lili yang sudah aku anggap seperti seorang adik sejak kami pertama kali bertemu, bukan sebagai sepasang kekasih yang saling ingin mendominasi. Tapi, entahlah untuk Lili.
Aku mengulurkan lengan, mengusap kepalanya lembut, lagi-lagi agar dia percaya.
“Percaya sama aku,” kataku pelan, menyematkan senyuman agar dia luluh. “Aku nggak akan melupakan kamu yang sudah bersamaku lebih dari sepuluh tahun lamanya, hanya demi seorang wanita yang baru saja ku kenal.”
Shiii-iiiiit!!! Ngomong apa sih aku?!
Bibirnya sudah tidak lagi manyun, wajahnya yang terlihat kesal sudah sedikit berubah ekspresi menjadi tenang, namun masih saja berusaha jual mahal.
“Beneran?”
Aku mengangguk, kemudian dia meraih telapak tanganku secepat kilat dan mengecupnya. Sumpah demi apapun, aku tidak menaruh hati pada Lili, pak bos! Jangan salah paham dengan drama yang diciptakan putrimu sendiri ini.
Aku benar-benar tidak ingin membuat hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin puluhan tahun lamanya, akan berakhir tidak karuan hanya karena kesalahpahaman yang timbul akibat sikap agresif Lili padaku. Aku tidak ingin di cap sebagai lelaki tidak bermoral dan tidak tau balas budi.
Intinya, hidup itu butuh pertimbangan. Butuh yang namanya effort agar tidak jadi boomerang, dan berakhir penyesalan. Dan hal ini yang sedang ku tata. Aku tidak ingin semua hidup yang kujalani selama ini sia-sia.
Meskipun bisa dibilang bukan salah satu anak yang beruntung mendapatkan kasih sayang keluarga utuh—dalam artian ibu dan ayah kandungku sendiri, aku tetap bersyukur karena sampai detik ini aku masih diberi nafas, diberi makan, dan diberi sebuah kasih sayang yang bahkan aku sendiri tidak tau itu tulus atau tidak. Yang mana semua itu datang dari orang bernama Yoseph, yang sekarang seperti sedang ingin melenyapkan aku.
Entah, ini hanya terkaanku saja. Atau memang begini adanya. Kita lihat saja nanti, ketika semua sudah berjalan seperti rencana yang sudah disusun secara sistematis dan penuh kehati-hatian olehku sendiri.
Berharap tidak celaka untuk orang sekelas criminal person sepertiku, bolehkan?[]
...To be continue ...