
...Nightfall by VizcaVida...
...|15|...
...Happy reading...
...[•]...
Ku beri waktu sebulan. Bereskan segera!
Sebulan? Ngelawak tuh bos. Dia mungkin bisa melihat jika aku merasa keberatan dengan ide itu. Mungkin wajahku terlalu jelas menggambarkan penolakan hingga dia memberi tenggat waktu yang cukup berat untuk diterima akal sehat.
Untuk Joni, aku akan memberimu sedikit kelonggaran.
Tidak ada yang menguntungkan. Pilihan apa lagi yang akan ia tawarkan? Astaga ...
Aku ingin meluapkan segala kemarahan. Entah itu berteriak, mengumpat, atau hal-hal lain yang bisa membuatku merasa sedikit lega. Tapi apa? Aku tidak bisa. Ada sesuatu yang menahanku, tak memberiku cara bahkan hanya untuk memikirkan jalan keluar terbaik yang harus ku ambil.
Jam sudah lewat tengah hari, dan aku memutuskan untuk pulang saja. Namun sebelum itu aku ingin pergi ke minimarket yang biasa aku datangi.
Sesampainya di lahan parkir, aku bergegas masuk dengan berlari karena tiba-tiba hujan mengguyur, pas sekali. Kalau ada sesi pengakuan dosa dan nggak dapat sangsi sosial, aku ingin teriak disini agar hidupku lebih tenang. Aku ingin mengakui apa saja yang sudah aku lakukan selama ini. Aku ingin memberitahu seluruh isi bumi jika aku bukan orang baik seperti yang mereka lihat.
Tersenyum miris, aku memutuskan berhenti sejenak untuk mengibaskan jaket jeans yang aku kenakan karena sempat terkena tetesan air hujan.
“Ya Tuhan ... ” de-sahku lelah. Aku tidak bohong, aku memang lelah. Rasanya ingin sekali mengambil istirahat sejenak untuk bernafas.
Pintu ku dorong setelah selesai dengan urusanku bersama jeans dan air hujan. Tapi, pemandangan tak terduga menyapa indra penglihatan milikku. Disana, Wendy sedang mengantre di depan kasir. Dia menatapku dengan senyuman kecil yang amat sangat manis.
Aku berjalan mendekat, lalu menyapa. “Wendy?”
Dia mengangguk sembari menyelipkan anakan rambutnya yang rapi, dibalik telinga. Semua itu terlihat seperti adegan slow motion, karena ... eum ... entahlah.
Selanjutnya, aku melihat dia meletakkan keranjang belanjanya yang penuh ke lantai, kemudian merogoh saku jaket yang ukurannya sangat besar di badannya, lantas mengeluarkan buku catatan pemberian dariku.
Ah, senangnya barang itu berguna bagi Wendy. Tidak sia-sia aku memberikannya sebagai hadiah pertemanan.
Dia menulis, Mau beli apa?
Aku menunjuk sebuah rak yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. “Mie instant. Dirumah sudah habis.”
Dia hendak menulis, namun terhenti karena orang didepannya sudah selesai. Aku pun dengan sigap meraih pegangan keranjang dan membawakan belanjaan itu ke atas meja kasir. Sedangkan dia, menyentuh dagu dengan tiga jarinya sebanyak dua kali sambil menatapku. Aku mulai familiar dan sedikit hafal dengan gerakan ini. Dia sedang mengucapkan terima kasih.
“Aku ambil barang belanja sebentar ya?”
Dia mengangguk dan mempersilahkan, dan tanpa banyak bicara aku langsung saja mengambil satu keranjang belanja dan berjalan cepat menuju rak dimana banyak sekali pilihan mie instan berjejer rapi di sana. Aku tak ingin membuang waktu dan tentu saja membiarkan Wendy pergi begitu saja. Yup! Aku tidak ingin dia pulang tanpa aku, karena dengan mengantarnya pulang dalam situasi seperti ini, aku bisa mendapatkan akses masuk ke daerah tempat tinggal para polisi yang dijaga ketat, tanpa pemeriksaan detail. Disamping itu, aku juga akan mencoba menyapa para penjaga untuk mendekatkan diri. Waktu yang diberikan bos Yoseph tidak banyak, karena akan ada misi besar lainnya yang belum di spill oleh si bos, kepadaku. Aku hanya mendengar sedikit dari Vino.
Ketika kembali ke meja kasir, Wendy sudah selesai membayar dan siap untuk pulang. Tapi aku menghentikan langkahnya secara paksa. “Diluar hujan, pulang bareng sama aku saja.” kataku, memaksa. Lalu aku mengeluarkan dompet dan menarik satu lebar uang pecahan seratus ribu dan kuberikan ke arah kasir agar transaksi ini cepat selesai.
Dan,
“Mau ke tempat lain?” tanyaku basa-basi, lalu menyalakan mesin mobil setelah mengencangkan sabuk pengaman. Sedangkan Wendy, menggeleng dengan mantap. Dia kembali mengeluarkan buku catatan dan menulis, Aku ingin segera sampai rumah. Ayah pasti khawatir.
Oke, aku paham. Aku pun segera mengarahkan kemudi menuju komplek perumahan polisi yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, dan tentu saja dari tempat tinggalku.
“Eumm, bolehkah aku mengantarmu sampai dirumah?”
Wendy menoleh ke arahku.
Kamu akan melewati pemeriksaan ketat jika ikut masuk. Dia menyodorkan tulisan ini yang dengan mudah kubaca dan cerna. Aku tau, karena aku sudah pernah mencobanya, Wen.
“Tidak masalah. Kalau kamu turun di pintu masuk, sama saja dong nanti basah semua.”
Aku akan menghubungi ayah.
Kepalaku sontak menggeleng. Kali ini tekadku sudah bulat, aku akan mengantarnya sampai didepan rumahnya. Apapun yang terjadi.
“Biarkan saja ayahmu istirahat. Biar aku yang antar. Tidak apa-apa kok, meskipun aku harus diperiksa terlebih dahulu. Yang penting kamu nggak nunggu sambil kehujanan.”
Ku lihat dia kembali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Wajahnya terlihat merona. Dia kembali membuat coretan di buku catatan, Kalau begitu, terima kasih. Maaf merepotkan.
“Nggak masalah.” kataku sambil memberikan senyuman yang timbul dari dalam hati.
Dan seperti yang sudah di tebak oleh kami berdua, mobil dan identitasku diperiksa secara detail dan menyeluruh sebelum berhasil memasuki pintu masuk markas dan kompleks perumahan anggota kepolisian itu.
Aku bahkan sempat merasakan jantungku berhenti sejenak ketika kartu identitasku mengalami trouble dan dua penjaga menatap curiga padaku. Namun karena Wendy, semua berjalan lancar. Dua penjaga itu melepas kami dan disinilah kami berada saat ini.
Rumah yang ada didepan mataku, tidak cukup mewah. Rumah tersebut cukup sederhana, dan tidak ada sama sekali kesan pengecualian. Ya meskipun rumah yang ditempati Wendy ini adalah satu-satunya yang berpagar, tapi dari design bangunan, semua sama rata.
Aku melepas seatbelt dan memutar badan untuk mengambil payung yang ada di jok belakang mobil, lantas ku serahkan kepada Wendy. Lagi-lagi dia mengucap terima kasih. Lalu dengan gerakan canggung yang sudah kupelajari melalui internet, ku praktikkan didepannya.
Kutekuk tiga jari bagian tengah, lalu bagian ibujari ku tunjuk ke arah dada sebanyak dua kali. Sama-sama.
Dia tersenyum. Lembut, manis, dan juga ... begitu cantik.
“Benarkah?” tanyaku dengan suara ragu, dan dia mengangguk, kemudian mengacungkan ibu jarinya didepan dada. Lalu ia mengibaskan tangan sebagai salam perpisahan kami.
“Wen,”
Dia menoleh dengan ekspresi terkejut yang menggemaskan, karena aku menahan bahunya. “A-ah, maaf.”
Suasana berubah canggung sejenak, tapi buru-buru ku alihkan. “Aku ingin bercerita sesuatu, di pertemuan kita selanjutnya.”
Dia mengangguk setuju. []
...To be continue...
###
Hayo, apa yang mau di ceritakan Ale?