
...Nightfall by VizcaVida...
...|19|...
...Happy reading...
...[•]...
Aku mengantarnya pulang. Tidak ada lagi kesulitan untuk ku melewati pintu masuk yang di jaga itu, semuanya berkat Wendy.
Berhubung ini adalah pertama kalinya aku berada didalam kawasan steril yang seluruh penghuninya adalah salah satu kesatuan aparatur keadilan negara, aku sedikit merasa bersalah dan juga merasa hina karena sudah berbuat jahat, alih-alih menjadi warga negara yang baik dan patriotisme. Namun kembali lagi, ini semua sengaja aku lakukan hanya semata-mata untuk membalas budi baik seseorang.
Ah oke. Mari kesampingkan saja perasaan itu. Mari hindari sejenak rasa tidak nyaman tersebut.
Setelah melewati dua blok, kami sampai di depan kediaman yang ditempati oleh Wendy dan ayahnya yang ternyata, sudah menunggu Wendy di teras depan rumah.
Ada dua keinginan muncul dalam benak. Yang pertama, pergi dan tinggalkan Wendy begitu saja setelah gadis itu turun dari mobil. Atau yang kedua? Berhenti, turun, menyapa penuh kesopanan layaknya pria gentle dan baik-baik.
Apakah opsi kedua lebih bijak?
Baiklah, pilih yang kedua saja. Anggap saja diri sendiri ini adalah pria lurus dengan kepribadian baik. Bukan seorang baji-ngan kelas kakap yang suka membuat orang lain dalam bencana.
Wendy sudah menyodorkan buku catatannya ketika aku sibuk dengan isi kepalaku sendiri.
Kamu mau mampir sebentar?
Itu yang dia tulis. Ku beri senyuman kecil sebagai tanggapan, lantas ku tulis jawaban. Iya.
Seperti yang sudah-sudah, dia selalu menyelipkan anakan rambutnya yang ada di sekitar garis wajahnya di balik telinga. Ia melanjutkan dengan melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Ku susul dengan hati harap-harap cemas. Bukan tentang di tembak di tempat atau apapun yang berhubungan dengan sebuah kema-tian, tapi khawatir jika pria tua itu tidak suka dengan kehadiranku yang ada di dekat putrinya.
Waw, sejak kapan aku mengkhawatirkan hal seperti ini? Gila.
Sesampainya didepan teras rumah, Wendy menyapa ayahnya dengan sebuah pelukan. Dan aku? Mendapat tatapan tajam tanpa senyuman, dan itu sedikit membuat adrenalin ku terpacu untuk menaklukkan sikap pria itu agar mau menerimaku.
Tak lama setelah melepaskan pelukannya, Wendy bicara bersama sang ayah dengan bahasa isyarat yang sama sekali tidak kupahami. Mereka bergerak dengan lugas dan cepat. Disini, aku merasa kecil dan merasa jika aku memang ... tidak berguna.
Pada akhirnya, Wendy tersenyum ke arahku dan pria tua itu menyapa dan mempersilahkan aku duduk di kursi kayu santai yang terdapat di teras rumah ini.
“Siapa namamu, dan sejak kapan kenal Wendy?” tanyanya ketika Wendy sudah menghilang di balik pintu rumah. Apa mungkin sikap inilah yang selalu di perlihatkan oleh sang ayah ketika melihat teman pria anak putrinya untuk pertama kalinya? Mungkin saja, ya.
“Panggil saja saya Ale, om. Saya kenal, lalu berteman dengan putri om hampir dua bulan lalu.”
“Duduk.” perintahnya seperti tak ingin di bantah.
Pria yang tegas untuk ukuran seusianya. Tapi aku bisa merasakan kelembutan juga kehangatan hati seorang ayah darinya. Aku pun duduk.
Pertanyaan template, dan aku wajib menjawabnya. “Saya tinggal di gedung yang ada tidak jauh dari sini, Om.” jawabku apa adanya, karena aku memang tidak ingin membual.
“Maksud kamu gedung apartemen yang ada di depan sana?” katanya sambil menunjuk arah gedung bertingkat yang saat ini sedang terlihat megah karena lampu-lampu yang menyala pada setiap kubikel. Aku mengangguk. “Lalu, kenapa kamu mau berteman dengan Wendy?”
Aku meragukan jawaban yang akan aku berikan, tapi aku harus tetap memberikan jawaban agar pria ini percaya padaku. “Saya, tertarik dengannya, om.”
***
Setelah pengakuan jujur di depan ayah Wendy hari itu, kami ngobrol lama ditemani satu toples kue kering dan secangkir teh panas buatan Wendy. Seperti dugaan ku, pria itu memang baik. Dia tidak lagi melihatku seperti saat pertama kali aku hadir di depannya, pria itu termasuk orang yang hangat ketika bercengkrama dan membuatku merasa diterima. Obrolan kami tak jauh dari pekerjaan dan juga pengalaman pria itu menjadi petinggi kepolisian, namun aku bersyukur karena tau banyak hal yang artinya, aku bisa memberikan banyak informasi kepada bos. Tapi disisi lain, aku tidak ingin bicara apapun tentang apa yang sudah aku ketahui. Benar-benar pilihan sulit.
Dan sekarang adalah hari dimana aku harus memberikan informasi lain terkait keluarga petinggi kepolisian itu kepada ... orang yang sudah menghidupiku selama aku sebatang kara.
“Bagaimana? Kabar apa yang kamu bawa hari ini?”
Aku menatapnya dengan sorot biasa, agar dia tidak terlalu curiga. “Aku sudah bisa masuk ke dalam markas, juga bertemu dan bicara bersama Wandi.”
“Hanya itu? Ayolah, kenapa kamu lamban sekali?” celetuknya yang berhasil membuat mulutku hampir saja menganga tanpa alasan yang jelas. Apa dia pikir segampang itu jika berurusan dengan aparatur keamanan negara? Astaga, aku baru tau jika otak pria ini sangat dangkal.
“Aku sudah berusaha sebisaku, dan aku butuh waktu yang—”
“Ada banyak sekali informan atau orang yang aku kenal untuk melakukan ini. Tapi aku tetap memilihmu karena aku yakin, kamu jauh lebih baik dari mereka.”
God. Please ...
“Tujuanmu adalah mencari informasi dan membuat mereka berada di bawah kaki kita, bukan untuk menjadi bagian dari mereka.”
Apa maksudnya? Bicara apa dia?
Keningku seketika berkerut tajam. Alibi apalagi yang harus aku gunakan sekarang?
“Aku ... tidak ingin gegabah dan melakukan sesuatu yang akan berakibat fatal untuk kita semua—”
“Tau seperti ini, aku suruh Vino saja yang bekerja!” katanya dengan nada geram dan sepertinya kecewa. “Atau jangan-jangan ... benar yang dikatakan Lili.”
Lili? Bicara apa dia tentang aku?
“Maksud bos?” tanyaku menyelidik.
Pria bernama Yoseph itu tersenyum disudut bibir, menyeringai seakan-akan sedang memberikan olokan padaku. “Kamu suka dengan gadis itu, benarkah?”
Sontak, mataku membelalak lebar. Sedetik kemudian, tatapan kami beradu, dan ini pertama kalinya bos Yoseph menyorotku dengan tatapan benci.
Kaki berbalut sepatu kulit mahal itu bergerak mendekat, kemudian berhenti tepat disisi ku berdiri. Telapak tangannya menepuk bahuku sebanyak dua kali, lantas berbisik, “Waktumu tidak banyak, Kennedy Harris.” []
...To be continue...