Nightfall

Nightfall
Nightfall 04




...Nightfall by VizcaVida...


...Selamat membaca...


...[•]...


Oke, mari kita mulai dari lari pagi.


Aku sudah menyiapkan beberapa rencana untuk membuat pertemuan dengan gadis bernama Wendy itu seolah tidak sengaja. Pertama-tama, mari kita membiasakan diri berlari di depan rumahnya.


Ngomong-ngomong soal jarak, apartemen tempat tinggalku dengan pemukiman warga yang ditempati kepala polisi dan putrinya itu tidak terlalu jauh kok. Cukup berlari memutar ke arah belakang gedung apartemen, kemudian melewati jalan beraspal pesisir pantai, berlari lagi hingga eummm ... katakan saja dua kilometer, nanti akan sampai di perbatasan perkampungan warga yang tidak terlalu padat penduduk.


Aku bahkan sudah menyiapkan juga plan kedua, yakni mendatangi toko ritel yang sempat membuat aku dan Wendy bertemu, jika trik menguntit ini tidak berhasil. Kata si mbak-mbak kasir, Wendy memang selalu belanja disana, tapi tidak setiap hari, hanya sebulan sekali atau paling banter sebulan dua kali. Tapi, ayo kita coba saja datang setiap hari, siapa tau rezeki kan? Jadi aku tidak perlu susah payah membuat alasan bertemu tidak sengaja di depan rumahnya.


“Let's go.”


Aku mulai berlari. Mungkin agak kesiangan, tapi nggak masalah buatku. Seperti rute yang sudah ku gambarkan tadi, aku berlari keluar area apartemen dan memutar ke arah sisi belakang apartemen yang memang letaknya tidak jauh dari pesisir pantai. Ternyata hari Minggu disini cukup ramai. Banyak yang menggunakan waktu Minggu mereka untuk olahraga disini, seperti aku.


Ku lajukan kedua kaki-ku melewati udara pantai yang cukup terasa asing di kulitku. Ini cukup memalukan, tapi jujur aku kurang suka suhu rendah dan lembab seperti disini. Tempat ini masih terbilang perkotaan, tapi letaknya cukup disudut dan dekat dengan pedesaan. Jauh berbeda dengan kota yang ku tempati sebelumnya yang benar-benar berada ditengah-tengah kehidupan metropolitan. Disini suasananya lebih tenang, dan banyak sekali pepohonan rindang serta bercampur dengan aroma laut dan udara yang bertiup, cukup memukau.


Disana, gapura perbatasan sudah terlihat dan ternyata, tempat tinggal kepala polisi bernama Wandi itu sudah memasuki area yang bisa dibilang pedesaan. Aku berhenti, lalu menoleh ke belakang dimana gedung tinggi tempatku tinggal di bangun. Apa gedung itu adalah pembatas antara kota dan desa? Oh wow sekali.


Tak lama kemudian, aku melanjutkan berlari. Melewati sebuah pilar besar yang diatasnya tertulis Selamat datang.


Masih diikuti pemandangan laut, aku terus berlari semakin masuk kedalam desa dan mulai melihat beberapa pemukiman warga yang ternyata kompleks khusus untuk anggota kepolisian. Tempatnya dipagar cukup tinggi, seseorang hanya boleh masuk jika ada izin.


Wah, ini sulit. Kenapa boss Yoseph menyiksaku seperti ini? Boleh tidak aku melambaikan tangan dan mengangkat bendera putih sekarang? Ini sih namanya cari mati. Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang singa.


Aku masih berlari, menyusuri dan mencari celah atau cara bagaimana caranya aku bisa masuk kesana. Sial, kenapa otak geniusku tidak bekerja disaat seperti ini?


Tiba-tiba satu ide terbesit. Aku mendekati pos penjagaan dan mulai mengajak bicara dua polisi yang sedang berjaga disana. Dua-duanya masih muda dan tampan. Mungkin pangkatnya juga masih rendah, jadi anggap saja masih bisa diajak berteman.


“Mas, mau tanya.” kataku, mencoba akrab dengan sapaan yang biasa digunakan banyak orang untuk memulai pembicaraan.


“Iya, silahkan.” jawab salah seorang yang sekarang berdiri dan mendekatiku.


“Saya punya teman, namanya Wendy. Kalau tidak salah dia putri dari kepala polisi bernama Wandi.”


Polisi muda itu memperhatikan dengan seksama. “Apa dia tinggal disini?”


“Benar.” kata polisi itu membenarkan. Aku merasa lega karena tidak di curigai. Semoga wajahku ini tidak terlihat jelas jika seorang Criminal.


“Ah, syukurlah kalau begitu.” kataku sambil mengurut dada, sebagai gambaran orang yang merasa lega.


“Anda ada janji bertemu, atau keperluan?”


“Ah, iya. Sebenarnya saya ada janji dengan putri pak Wandi.”


“Kalau anda ingin berkunjung ke dalam, silahkan mengisi buku tamu dan menunjukkan kartu identitas anda. Setelah itu kami akan melakukan pemeriksaan kecil pada anda.”


Kampret. Kenapa aku lupa membawa dompet? Aku kembali menyusuri celana olahraga yang ku kenakan, dan benar tidak ada. Hanya ponsel yang tadi ku sambar dari atas nakas kamar, sedangkan dompetnya? Pikun kamu ini, Le.


“Aduh, mas. Saya lupa bawa dompet.”


“Kalau begitu, maaf. Kami tidak bisa mengizinkan anda masuk kedalam.” kata si polisi bertubuh sama tinggi denganku dan berkulit coklat tua itu.


“Kalau begitu biar saya hubungi teman saya saja mas. Saya datang lain waktu.” kataku, tak ingin berlama-lama dan membuat dua orang ini curiga padaku. Tentu aku tidak ingin gagal sekarang, meskipun tadi juga sempat mengeluh.


“Ya, silahkan datang lain waktu.” kata pak polisi sembari mengangkat tangan memberikan salam hormat kepadaku.


Aku pamit, dan kembali memutar arah. Aku kembali saja ke apartemen. Bukan sekarang waktunya, mungkin lain besok, atau lusa. Atau entahlah. Kuncinya, jangan sampai membuat curiga, itu yang ku pegang.


“Oke, cari jalan aman dulu.”


***


Aku batal balik ke apartemen dan memilih mencari rute lain untuk olahraga lari. Ternyata enak juga kalau kalori di dalam tubuh itu terbakar. Rasanya semangat lebih besar dari pada harus duduk menatap layar komputer dan meminum kopi seharian. Ya meskipun nggak bisa dihindari karena itu pekerjaan. Tapi setidaknya harus imbang. Kalau begini kan badan sehat, kantong juga ikutan sehat.


Aku terus mengikuti arah jalan yang akhirnya menembus ke jalan utama, yang dekat dengan minimarket semalam. Kupacu langkah kesana karena aku butuh minuman. Berlari ternyata cukup membuat haus karena cairan tubuh berubah menjadi keringat.


Sesampainya di minimarket, aku menyapa mbak kasir yang ternyata orang yang sama dengan yang aku temui semalam. Apa dia kerja 24 jam non stop? Konyol, tidak mungkin. Mungkin sekarang dia kebagian shift pagi. Aku segera menuju rak minuman dan mengambil sebotol air mineral, dan membawanya ke kasir.


Minimarket sedang sepi, jadi aku tidak butuh mengantre hanya untuk membayar sebotol air.


“Belum pulang mbak?” tanyaku sok akrab. Biarlah, anggap saja ini langkah awal menjalankan misi. Mendatangi minimarket ini setiap hari merupakan bagian dari rencana yang kubuat, semalam.


“Oh, saya shift pagi mas.”


Nah, bener kan?


“Mau nambah apa lagi?”


“Itu saja.”


Astaga, kenapa aku lupa kalau aku tidak membawa dompet? Bagaimana ini?


“Aduh, mbak. Boleh saya tinggal barangnya sebentar? Dompet saya ketinggalan dirumah.” kataku menahan malu. Bisa-bisanya aku lupa kalau tidak membawa uang sama sekali. Bodoh.


“Ah, ini bawa saja, mas. Kemarin uang kembalian mas kan ada di saya.”


“Lho, engga mbak. Saya pulang dulu ambil uang, baru balik sini lagi nanti.”


“Mas bawa saja. Nggak apa-apa kok.”


Ale, kamu berhasil mempermalukan diri kamu sendiri. Selamat!


“Ini ... beneran nggak apa-apa?” tanyaku ragu bercampur malu. Mbak kasir mengangguk dengan senyuman manisnya. “Terima kasih dan, maaf ya sudah merepotkan.”


Rasanya seperti menjilat ludah sendiri. Me-ma-lu-kan.


Aku berlalu, lantas memutuskan untuk duduk sebentar di rest area yang disediakan didepan minimarket dan meneguk air minum. Tak lama kemudian, mataku terbelalak. Bibirku yang sedang menyerap air dari botol terhenti, lalu aku batuk tersedak karena apa yang ada didepan mataku sekarang, adalah apa yang aku harapkan.


Ya, dia datang lagi. Dengan pakaian santai dan wajahnya yang ternyata ... sangat cantik. []


...To be continue...


###


Jangan lupa tinggalkan Like, komentar, subscribe. Dan juga beri vote dan hadiah jika berkenan ya ☺️


Terima kasih