Nightfall

Nightfall
Nightfall 22




...Nightfall by VizcaVida...


...|22|...


...Happy reading...


...[•]...


Tidak ada pertumpahan darah atau perkelahian antara aku dan dua orang yang diutus bos Yoseph untuk bertemu denganku. Kami hanya bicara mata ke mata, lalu mereka membebaskan aku untuk kembali. Aku yakin, bos tidak akan pernah mau menyakitiku. Karena aku sedang berada dalam satu misi. Tapi entah setelahnya, aku hanya bisa pasrah atau mencoba berusaha untuk ... melepaskan diri.


Setelah berhasil duduk kembali di kursi kemudi, aku memakai seatbelt dengan kecamuk luar biasa menakutkan. Aku khawatir, tapi berusaha untuk terlihat tenang agar Wendy tetap merasa nyaman di sekitarku.


Lalu, sebuah tepukan lembut mengejutkan aku yang sedang bergelut dengan kenyataan. Wendy telah melihat semuanya, dan tidak mungkin aku berkilah. Meskipun mungkin, dia tidak mendengar percakapan kami bertiga diluar, tapi aku bisa membaca tatapan matanya yang menaruh simpati padaku. Apa aku sudah ketahuan sekarang? Atau aku terlihat menyedihkan dihadapannya?


Aku melirik telapak tangan Wendy yang bergetar ketika mencatat sesuatu di buku kecil yang selama ini menjadi media kami berkomunikasi.


Siapa mereka? Apa mereka menyakitimu?


Aku tertegun dengan nasibku sendiri. Menyedihkan, tapi setidaknya, masih ada orang yang peduli untuk saat ini. Ya, Wendy adalah orangnya.


Kuraih buku itu, dan menulis jawaban.


Mereka tidak akan berani menyakitiku, Wen. Ku tambahkan kata ‘mungkin’ dalam hati, kemudian kuberikan padanya, kutatap ekspresi wajahnya. Lalu, dia membalas tatapan mataku dengan raut sedikit menggambarkan sebuah keterkejutan.


Aku bersyukur mereka tidak menyakitimu. Tapi, apa alasan yang membuat mereka sampai tidak berani menyakitimu. Apa kamu pemimpin mereka? :)


Sumpah, emoji tersenyum di akhir tulisan itu membuat hatiku teriris. Jawaban dari pertanyaanmu itu, tidak benar, Wen. Hanya perlu sedikit di revisi pada kata ‘pemimpin’ dengan kata ‘bagian dari’. Tapi, aku tidak sampai hati menulis itu dan membuat Wendy takut padaku. Terlebih jika dia ... kecewa setelah tau siapa aku.


Tidak. Aku hanya menawarkan sesuatu kepada mereka, dan ... beres. ;)


Ku balas emoji tersenyum Wendy dengan emoji tersenyum sambil mengedipkan mata.


Menawarkan apa?


Kujawab,


Sesuatu yang ku miliki.


Aku tidak ingin membahas masalah ini terlalu jauh. Ku pilih melajukan mobil bermaksud mengantar Wendy pulang terlebih dahulu, baru aku pulang dan tidur cepat agar pikiranku turut berhenti sejenak untuk menopang keributan di dalam otak. Setelah itu, aku akan memikirkan bagaimana caranya untuk membongkar semua kejahatan ini, meskipun aku adalah salah satu dari mereka dan berpotensi untuk menjadi salah satu orang yang akan menjadi target aparat keamanan negara. Tapi setidaknya, aku ingin satu kali saja menjadi orang baik.


Apa langkahku ini benar? Atau justru akan menimbulkan banyak masalah yang akan mengancam nyawa banyak orang?


God, kenapa aku harus menjalani hidup seberat ini? Apa ini hukuman untukku karena aku membenci dan memilih meninggalkan orang tuaku? Apa ini karma?


Pertanyaan yang sebenarnya sudah mendapatkan jawaban itu, selalu ku tanyakan lagi dan lagi pada diriku sendiri. Ku gunakan sebagai pengingat agar aku tidak lepas kontrol dan berusaha menekan diriku sendiri supaya tetap ada dijalan yang lurus meskipun aku sebenarnya tidak ada dijalan tersebut, bahkan jauh dari kata lurus yang ku sebut-sebut. Semuanya kacau karena pilihanku sendiri. Semuanya berantakan atas kemauanku sendiri. Jika saja aku tutup mata dan telinga, kemudian membiarkan mama dan papa mengambil keputusan besar untuk melenyapkan ku hari itu, pasti aku sudah tidak merasakan kesulitan seperti sekarang. Pasti aku sudah tenang di surga sejak delapan belas tahun yang lalu.


Sebuah tepukan kembali menyadarkan aku. Ternyata, aku masih bersama Wendy dan hampir melupakannya. Ya Tuhan ... I'm so sorry, Wen.


Mau kemana kita?


Astaga. Bodoh. Mengapa aku justru membawanya pulang ke apartemen? Aku baru sadar saat mobil sudah terparkir rapi di basement apartemen.


Aku mengedip cepat karena terkejut. Aku melamun sepanjang perjalanan dan sekarang baru sadar jika ada seseorang yang harus ku antar pulang terlebih dahulu. Namun aku tidak ingin mempermalukan diriku sekali lagi. Kutulis jawaban, Aku ingin mengambil dompet dan mengganti uang yang sudah kamu pergunakan untuk membayar makan malam kita tadi.


Sontak Wendy mengibaskan telapak tangannya.


Aku melipat bibir kedalam, mengetuk bulatan kemudi dengan jari telunjuk, lantas berkata dengan suara sedikit keras. “Eummm ... Mau ikut masuk?” tanyaku. Tidak mungkinkan aku meninggalkan dia menunggu ku di basement parkiran sendirian? Jadi, ku tawarkan saja ikut masuk, siapa tau dia bersedia.


Dan kalian tau pemirsah?


Tak ku sangka, dia mengangguk saudara-saudara. Jantungku kembali berdetak tidak normal. Ini pertama kalinya perempuan akan masuk kedalam unit mewah yang sedang ku tempati itu. Wendy adalah perdana dalam hidupku.


Kami pun keluar dari mobil secara bersamaan, dan berjalan dari basement yang merupakan tempat parkir penghuni apartemen, menuju lift untuk ke unit milikku. Didalam lift, aku beberapa kali mencuri pandang bayangan Wendy yang terpampang dari aluminium lift yang mengkilat. Cantik. Sangat cantik. Begitu natural. Aku tidak pernah mengagumi seorang perempuan sampai sejauh ini.


Setelah sampai di lantai tujuan, lift berdenting dan pintu terbuka. Aku keluar terlebih dahulu, disusul Wendy yang berjalan dibelakangku. Dan tanpa kuduga kami berpapasan dengan keluarga Joni yang detik itu juga mengenali Wendy. Ah, aku tidak mempersulit otakku sendiri untuk memikirkan bagaimana bisa mereka kenal. Sudah pasti karena Joni adalah seorang detektif, dan tentu saja dia mengenal orang-orang ataupun petinggi kemanan negara seperti pak Wandi.


“Wendy?” sapa Joni. Aku menengok kebelakang dan mendapati Wendy tersenyum pada pria dua anak itu. Saat aku kembali melihat lurus kedepan, aku mendapati Joni sedang memicing menatapku. Apa pertemanan kami terlihat janggal di matanya?


“Kamu mau ke tempat saya?” kata Joni sambil menunjuk ubin yang kami injak, lalu menunjuk dirinya sendiri. Aku tau dia asal membuat gerakan, sama seperti diriku ketika tidak tau apa yang harus aku lakukan didepan Wendy.


Mungkin sudah naluri, Wendy mengerti apa maksud Joni dan menulis jawaban pada buku catatan, lantas menunjukkannya kepada Joni.


Tidak. Saya ada perlu dengan teman saya. Lalu dia menunjuk ku dengan gerakan canggung.


“Ayah kamu tau kamu pergi dengan dia?” tanya Joni memastikan, karena setauku, Wendy memang tidak diperbolehkan pergi dengan sembarang orang, termasuk orang yang baru dikenal, seperti aku. Tidak heran, karena keselamatan menjadi taruhannya.


Wendy mengangguk atas pertanyaan Joni hingga membuat raut wajah pria itu berubah drastis. Ia terkejut dan terlihat ingin kembali bertanya, namun ia urungkan dan memilih berpamitan karena masih ada urusan penting yang harus ia lakukan.


Seperginya Joni, aku pun membuka akses pintu dengan sebuah kartu. Setelah pintu berhasil terbuka, aku mempersilahkan Wendy untuk masuk terlebih dahulu. Beruntung karena aku ini tipikal pria yang suka kebersihan. Jadi, rumahku tidak seburuk yang digambarkan orang-orang tentang seorang pria lajang yang hidup suka-suka saat masih sendirian. Aku rajin membersihkan lantai setiap tiga atau empat hari sekali, menata dan mengembalikan perabot setelah ku bersihkan, mencuci piring, mencuci baju, memasak—meskipun kenyataannya hanya mie instan.


“Mau minum apa?” tanyaku dengan gerakan ngawur saat menanyakan itu kepadanya. Ku buat bentuk dan gestur seperti memegang gelas, kemudian menyodorkan dua telapak tangan yang terbuka bebas didepan tubuh.


Wendy menolaknya dengan gelengan kepala dan bilang jika perutnya sudah kenyang. Tapi aku tidak mengindahkan itu. Ku bawa sekotak besar minuman jus siap saji menuju ruangan dimana Wendy berada. Lalu aku kembali meninggalkan Wendy yang duduk rapi di sofa ruang tengah sembari melihat-lihat sudut-sudut ruangan, ke kamar untuk mengambil dompet bodoh yang tertinggal.


Tidak butuh waktu lama untuk aku kembali ke ruang tengah dan bertemu Wendy. Aku tersenyum melihat tingkah ingin tahunya yang terlalu menggemaskan. Wajah antusiasnya seperti anak kecil yang tak punya dosa, sangat menggemaskan.


Dan ketika aku duduk di sofa dengan arah berbeda dengannya, dengan gerakan cepat dia menyodorkan buku catatannya. Kubaca isi tulisan itu.


Rumah kamu bagus.


Aku mengangkat pandangan dan melihatnya tersenyum. Dia bergerak membuat bentuk atap rumah dengan kedua telapak tangannya didepan dada, lalu dia mengacungkan jempol. Ya Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu ini. Wendy terlihat begitu sempurna di mataku.


Aku menyentuh dagu dengan telapak tangan, dan menjatuhkan telapak tangan terbuka dengan sudut sembilan puluh derajat. Terima kasih, kataku. Aku sedang berusaha belajar gerakan-gerakan sederhana yang biasa di gunakan Wendy, dan semoga saja tidak salah.


Dengan senyuman manis miliknya, Wendy menjawab dengan gerakan isyarat tiga jari bagian tengah ditekuk, lalu menyentuhkan ibu jarinya ke dada sebanyak dua kali yang berarti, sama-sama.


Aku berkata, “Ini bukan rumahku,” sambil membuat gerakan menunjuk udara ke arah bawah dengan jari telunjukku, kemudian membentuk atap rumah dengan dua telapak tangan, mengibaskan tangan, dan menunjuk dadaku sendiri. Ingat, ini hanya gerakan ciptaanku sendiri, karena aku masih awam dalam gerakan bahasa isyarat. Aku berusaha keras supaya Wendy tau dan mengerti maksudku. Jadi, koreksi aku jika salah, oke?


Kemudian aku menambahkan dengan suara yang cukup keras dan berkata, “Aku hanya sementara disini.”


Wendy menghapus sebagian senyuman dibibirnya, lantas menatapku intens seperti tidak setuju dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku meraih kembali buku catatan dari atas meja dan menulis,


Jangan lupakan aku, jika nanti suatu saat aku sudah tidak ada disini. Tetaplah mengingatku sebagai seorang teman. []


...To be continue...


###


Hay tayo Hay tayo ... 😂