Nightfall

Nightfall
Nightfall 03




...Nightfall 03...


...Selamat membaca...


...[•]...


Pagi ini, entah mengapa aku bangun lebih awal dari biasa ketika akhir pekan. Aku juga merasa tidur semalam sangat berkualitas karena hari ini aku merasakan tubuh dan pikiranku begitu segar.


Aku ingat, semalam aku membereskan dan juga menata kembali beberapa perabot yang menurutku salah tempat. Lalu menghubungi Vino untuk memastikan pekerjaan sudah beres, lanjut kembali berberes kamar dan lain-lainnya yang sungguh sangat melelahkan.


Selama tinggal di tempat boss Yoseph, semua dikerjakan oleh ART, kami hanya di suruh bekerja dan bicara saat membutuhkan sesuatu untuk keberlangsungan hidup. Kami tinggal nyaman, dan merasa betah. Makan pun di jamin oleh si boss, dan sekarang tiba-tiba sekali aku di paksa hidup sendirian. Ini sangat mengejutkan, dan melelahkan tentunya.


Aku berjalan menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang tengah. Kalau kalian bertanya apa tempat tinggal ini layak? Jawaban yang aku berikan, tentu saja sangat layak. Bahkan lebih dari itu karena apartemen ini bukan seperti apartemen lain yang ada di lantai-lantai bawah. Clusternya sudah sangat berbeda. Tempat ini lebih pantas disebut ... penthouse? Eum ya, penthouse.


Biaya pembelian tempat ini sangat mahal, untuk itulah boss Yoseph tidak mau misi ini gagal.


Ngomong-ngomong soal misi, aku jadi ingat lagi dengan perempuan yang aku temui semalam. Gadis cantik bermata indah, tapi seorang tuna wicara.


Aku menggelengkan kepala, lalu memutar pematik api kompor untuk menanak air. Aku harus meminum kopi di pagi hari. Kopi adalah minuman wajib yang harus aku teguk setiap pagi agar otakku bekerja maksimal.


Sembari menunggu air mendidih, aku menyandarkan sisi pan-tat ku pada meja kitchen set dan kembali mengingat-ingat apa yang harus aku lakukan pertama kali untuk menjalankan misi GILA ini. Perlu di tulis dengan huruf kapital dan dicetak tebal agar jelas, jika misi ini memang GILA.


Boss Yoseph membebaskanku dari tugas seorang pembobol saat menjalankan misi, tapi tetap saja aku tidak akan tinggal diam dan bersantai ria begitu saja tanpa memantau apapun. Vino terkadang sembrono dan kurang teliti meskipun ya ... dia sama saja denganku. Mana ada aku harus ngaku kalau aku juga seperti itu. Jangan tertawa, atau kalian akan aku sumpahi ketemu jodoh hari ini.


“Siapa si boss nggak nyuruh Vino aja, sih?”


Secara, Vino itu lebih mahir dalam hal wanita. Tenggat waktu berpacaran dalam kamus Vino itu, setahun, paling lama. Dasar buaya memang. Buaya ekor buntung. Kalau aku, nggak dulu deh. Skip aja kalau masalah begituan.


Aku menoleh ketika panci di atas perapian itu mendidih. Aku bergegas mematikan api dan menuangnya didalam gelas yang sudah aku beri kopi, mengaduknya, lalu membawanya menuju set meja makan kecil yang tidak jauh dari kitchen set. Aku duduk, lalu teringat sesuatu. Aku butuh iPad.


Aku kembali turun dari kursi tinggi menyerupai kursi bar itu, lantas berjalan menuju kamar dan mencari keberadaan iPad yang semalam belum kulihat.


Ah ya, masih ada didalam tas. Aku mengambilnya dan membawa iPad dan ponsel menuju meja makan. Aku membutuhkan informasi lebih detail dan lebih banyak tentang putri kepala kepolisian itu agar tidak terkejut seperti semalam. Boss Yoseph hanya bilang jika anak dari kepala polisi itu cantik dan lugu. Tapi tidak dengan tunawicara nya. Sepertinya boss juga tidak tau informasi tersebut.


Pertama-tama ku cari informasi dan datanya dari catatan sipil. Disana ada beberapa informasi yang memang seharusnya aku ketahui.


Namanya Wendyta Senja. Eumm ... nama yang cantik. Kemudian tertera alamat lengkap yang sudah kuketahui dari boss. Lanjut ke tanggal dan tempat lahir, oh wow, dia masih sangat muda. Usianya masih dua puluh dua tahun. Setelah tau usia dari tanggal lahir itu, aku berlanjut membaca status, melihat foto, dan terakhir menilik informasi yang aku butuhkan, yakni ... ciri-ciri fisik, dan lainnya.


Dari yang kulihat semalam, dia memiliki kulit putih bak porselen, bentuk wajahnya tidak terlalu bulat dan tidak oval yang justru terlihat begitu semourna. Rambut hitam legam sedikit panjang dibawah bahu, alis sedikit tebal, mata hazel yang indah, hidung kecil dan bangir, bibir pink tanpa polesan, dan satu hal yang tertulis sebagai ciri-ciri khusus di kolom data yang tertulis adalah, memiliki dua lesung pipi, dan dia memang tunawicara.


“Wendyta Senja.” kataku sambil menatap fotonya, cukup lama. Dilihat selama ini, kenapa semakin cantik ya? Di foto itu dia sedang tersenyum, dan dua lesung pipinya terlihat jelas. “Aku harus mulai mendekati dia sebelum boss protes.” gumam ku, lalu meraih telinga gelas dan menyesap kopi yang masih mengepulkan asap.


Ku perbesar foto dan wajah ayunya semakin nyata. Sama persis seperti yang kulihat di dunia nyata. Jarang banget lho ada foto identitas diri yang sama persis dengan kenyataannya. Tapi si Wendy ini kenapa reel sekali? Okelah, panggil saja dia Wendy.


“Sh—iiiit!!” aku mengumpat keras saat ponsel yang ada diatas meja itu bergetar kuat hingga bunyinya juga mengejutkan. Ku umpati lagi nama yang muncul di layar, lalu menjawab panggilan tersebut dengan suara lembut sebagai tipu daya.


“Ada apa? Ngagetin saja.” kataku sedikit lembut pada si penelepon. “Lagi minum kopi dan cari-cari informasi.”


“Informasi apa?”


“Ya informasi, yang berhubungan sama misi.”


“Papa memang gila. Ngapain kasih misi begitu ke kamu?!” sungutnya.


Gila. Berani sekali dia ngatain bapaknya sendiri gila? Kalau boss Yoseph denger, apa masih dibiarkan hidup anaknya ini?


Tebakan kalian benar, yang diseberang telepon itu Lili, anaknya boss, teman sekaligus musuh untukku.


“Kamu juga!”


Nah, aku juga jadi salah kan?


“Kenapa nggak nolak dikasih misi begituan?”


Aku tertawa. Lili ini sebenarnya khawatir, marah, atau cemburu sih?


“Ya mana berani aku nolak. Kalau titah papa kamu udah turun, ya udah. Kami bisa apa?”


“Aku bisa ngomong ke papa suruh batalin misi kamu.”


Aku mendelik lebar meskipun Lili tidak bisa melihatnya. Kalau Lili sampai memprotes papanya, mau ditaruh di mana lagi mukaku ini?


“Nggak usah. Biar aku coba dulu.” kataku tenang sambil kembali menyesap kopi yang sudah tidak terlalu panas seperti sebelumnya.


“Jangan coba-coba deh! Misi gila ini memiliki sebab-akibat yang nggak main-main, Al. Nyawa taruhannya!”


Aku tau, tapi sudahlah. Aku bisa kok.


“Iya, aku tau yang harus aku lakukan, Li.” sahutku setelah dia berhenti bicara, dan berharap dengan jawabanku ini, dia akan diam dan tidak bicara apapun pada Boss Yoseph. “Percaya deh kalau aku bisa berhasil dalam misi kali ini.”


Tidak ada sahutan. Apa Lili sudah percaya dan mau menerima misi yang diberikan padaku? Oke, mari kita akhiri perbincangan telepon ini, dan aku masih ingin melanjutkan rencana yang sudah ku susun semalam.


Aku ingin jogging pagi ini. Selain ingin survey langsung rumah si target, aku juga ingin berkenalan dengan lingkungan dan jalanan yang akan menjadi tempatku berlalu-lalang.


“Ada yang mau kamu omongin lagi, Li? Aku harus melakukan sesuatu.”


Aku mengetuk meja makan dengan jari telunjukku. Kebiasaan saat aku hendak melakukan kebohongan atau merasa tidak nyaman pada sesuatu, yang tidak pernah bisa aku hilangkan sampai sekarang.


“Mau ngapain?”


“Pingin jalan-jalan pagi aja sih, sambil menghirup udara segar di jalanan yang masih di tanami pohon-pohon rimbun, yang nggak ada di kota kita.”


“Nggak mungkin.”


Jelas saja dia tidak percaya. Lili itu tau banyak tentang aku.


“Beneran, Lho. Nanti aku foto deh buat kamu.”


Lili diam. Tapi tidak lama setelah itu kembali membuka suara.


“Terus ngapain lagi?”


Stalk tentang Wendy. Dan itu cuma aku katakan dalam hati. []


...To be continue...