
...Nightfall by VizcaVida...
...|29|...
...Happy reading...
...[•]...
Terakhir aku membaca berita di surat kabar, papa sedang mencari keberadaan ku yang sudah lama ia abaikan. Semua itu cukup membuatku was-was, karena keselamatan papa dan juga mama akan terancam dan dipertaruhkan jika memang Yoseph tau dan membaca berita tersebut.
Mengapa Yoseph ku sebut, karena aku terlibat dengannya. Dan kalau sampai polisi dalam jumlah besar ikut serta dalam pencarian, otomatis kebusukan yang dia lakukan juga akan terbongkar hingga bisnis gelapnya hancur. Ya, se-gelap dan serumit itu lingkaran hidup yang ku ikuti selama ini. Lingkaran hitam yang menjanjikan hidup enak dan terjamin itu, hanya sebuah iming-iming agar aku tidak pergi. Agar aku tunduk dan bersedia untuk selalu mengikuti alur yang tersedia.
Sekarang, tidak ada lagi jalan keluar. Aku harus tetap berada didalam lingkaran dan menghadapi apapun risiko yang akan menimpaku. Termasuk mempertaruhkan nyawaku sendiri.
Ku lajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Aku tidak peduli jika nanti akan ada banyak sekali surat pelanggaran lalu lintas yang aku lakukan dikirim ke alamat tempat tinggal ku, dan berakhir harus mendekam di sel karena dianggap terlalu membahayakan keselamatan orang lain. Ah, ngomong-ngomong soal sel, apa mendekam di sel karena pelanggaran lalu lintas itu termasuk kategori terhormat? Daripada menghabisi nyawa orang lain, kan?
Tidak. Pemikiran gila yang tentu saja tidak patut untuk di realisasikan. Lebih baik hidup damai, nyaman, apa adanya, dan tidak berurusan dengan hukum adalah kunci hidup tenang lain, selain beribadah kepada Tuhan.
Beberapa menit yang lalu aku mendapat pesan gambar dari seseorang yang tidak ku kenal, yang tiba-tiba muncul dalam kotak pesan milikku. Tidak ada orang selain Joni yang tau. Apa mungkin nomor ini juga telah di sadap oleh Yoseph? Jika iya, Bangsat!!!
Aku menambah laju kecepatan mobil ketika melihat jalanan lengang didepan mata. Tujuanku hanya satu, yakni melihat keadaan Wendy baik-baik saja. Aku sama sekali tidak ingin Wendy dalam masalah, apalagi sampai terluka.
Ku putar kemudi ke arah kanan, kemudian memasuki area pemeriksaan ketat oleh beberapa penjaga pintu masuk yang sudah sedikit akrab denganku, ketika hendak memasuki area steril tempat tinggal para polisi, termasuk tempat tinggal Wendy dan ayahnya di dalam sana.
Setelah melewati beberapa prosedur pemeriksaan, aku lolos dan bergegas menuju tempat tinggal Wendy. Sesampainya, aku memarkir mobil, turun lalu berjalan cepat serampangan menuju rumah yang terlihat masih sama sederhananya dengan yang lain itu.
Ku ketuk pintu sedikit keras, berharap Wendy yang mendengar dan muncul dari balik bilah kayu tebal itu. Dengan begitu, aku bisa bernafas lega saat melihatnya baik-baik saja.
“Wen,” panggilku dengan suara yang cukup keras. Ku ketuk kasar sekali lagi bilah pintu itu. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan sosok Wandi muncul dari dalam sana.
“Ah, om?! Maaf saya mengetuk pintu berlebihan. Wendy nya ada?” tanyaku sedikit malu dan merasa tidak enak pada ayah Wendy karena sudah mengetuk pintu rumah kepala polisi seperti mengetuk pintu rumah *******.
Wajah Wandi tidak begitu bersahabat. Mungkin karena ketenangannya ku ganggu. Ya begitulah kiranya, mungkin.
“Wendy pergi ke panti. Ada apa mencarinya?”
Ku acuhkan pertanyaan di akhir kalimat pak Wandi, lantas aku balik bertanya kepada beliau.
“Ya. Dia menolak diantar. Dia bilang mau main lama disana—”
“Kalau begitu, terima kasih. Saya pamit, om.”
Gawat. Ini tidak akan baik-baik saja. Wendy juga sedang diintai oleh seseorang yang mungkin, bagian dari bos Yoseph.
Mengesampingkan kesopanan dan adab bertamu, aku meninggalkan rumah dinas Pak Wandi dengan langkah buru-buru. Dapat kulihat wajah pria itu juga terkesan bingung dengan apa yang sedang ku lakukan sekarang. Tapi ... ini tidak dalam waktu yang tepat untuk berbasa-basi membahas jawaban yang tepat. Wendy adalah prioritas.
Setelah mengemudi mobil bak sipat angin, akhirnya aku sampai di sebuah panti yang pernah ku datangi satu kali ini. Bagian luar cukup tenang karena tidak ada kegiatan outdoor. Buru-buru aku berlari memasuki area untuk menanyakan keberadaan Wendy yang tadi, kata sang ayah sedang pergi ke tempat ini.
“Permisi, apa Wendy ada disini?” tanyaku yang berhasil menarik perhatian penuh seorang resepsionis yang berjaga dibalik meja untuk menyambut tamu.
“Kak Wendyta?”
Aku mengangguk.
“Tidak, kak. Hari ini dia tidak berkunjung, padahal biasanya, setiap akhir pekan begini, dia memang selalu datang.”
Jantungku rasanya seperti dihantam gada besar yang menyakitkan, lalu dibiarkan terjun bebas ke dasar lambung. Ketakutan ku semakin mengerikan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Wendy? Kemana dia?
“Terima kasih ya.” kataku tanpa berlama-lama. Lalu bergegas masuk kembali ke dalam mobil. Aku harus pulang. Aku butuh komputer untuk meretas ponsel Wendy agar tau dimana posisinya berada saat ini.
Sial. Siapa yang sudah berani bermain-main denganku apalagi sampai menyeret Wendy untuk ikut masuk ke permainan memuakkan ini? Yoseph kah? Jika iya, tidak ada jalan lain selain berkhianat.
“SIAL!!!” umpatku sembari memukul kemudi mobil. Tidak ada rapalan kata lain selain umpatan saat menyadari Wendy ikut terseret dalam bahaya. Mungkin dulu, aku selalu berusaha untuk bersikap baik dan mengukur waktu. Tapi sekarang tidak.
Lihat saja apa yang akan aku lakukan jika memang terbukti Wendy ada bersama—
Semua amarah dalam diriku terhenti sejenak ketika ponsel yang ku letakkan di dashboard, bergetar. Ku tepikan mobil ke area bebas parkir, lalu meraih ponsel itu dan kembali di kungkung rasa marah saat nomor tanpa nama itu kembali mengirim pesan singkat berupa foto.
Dan sekarang, waktu dan jantungku seolah dipaksa berhenti berdetak saat melihat siapa yang ada di dalam foto tersebut. Ya, itu adalah Wendy, dengan kondisi terikat diatas sebuah kursi, mulut di tutup lakban hitam, dan tidak sadarkan diri. Aku tau betul dimana ini.
Darahku mendidih. Ku remat persegi pintar itu cukup kuat karena emosi sampai di ubun-ubun. Rahangku mengeras sempurna hingga gigi-gigi ku bergemelutuk. Apa yang ku takutkan terjadi pada Wendy selama ini, benar dan nyata terjadi. Semua menjadi jelas, ini permainan Yoseph untuk melenyapkan aku. Aku di minta melakukan misi ini, memang untuk menjadikan diriku sendiri salah satu targetnya karena kemungkinan keberadaan ku menjadi sebuah ancaman untuknya.
Baiklah. Semua sudah terencana seperti ini. Jadi, tunggu aku datang untuk menghancurkan mu, bos. []
...To be continue...