
...Nightfall by VizcaVida...
...|16|...
...Happy reading...
...[•]...
Pernah dengar cerita tentang bagaimana seekor singa menerkam si tuan? Tuannya adalah orang yang sudah merawatnya hingga tumbuh besar dengan penuh kasih sayang, perhatian, dan mungkin juga seluruh jiwa dan raganya. Tapi mengapa si singa tega menerkam tuannya sendiri. Menurutku, mungkin si singa sedang kelaparan, atau ... bosan?
Berbanding terbalik dengan naluri liar seekor singa, sekarang aku juga tau mengapa tombak itu ujungnya runcing. Karena fungsinya memang untuk menikam musuh untuk membela diri. Ya, membela diri adalah konteks yang cocok.
Sistematis, perlahan namun pasti, adalah hal yang masih ku pegang sebagai pondasi dalam menyusun sebuah rencana. Tidak akan aku ubah jika tidak mendesak dan terpojok. Atau bahkan, dua hal itu sudah berhasil aku lakukan sekarang. Wendy sudah percaya padaku, dan hari ini kami membuat janji bertemu di salah satu tempat favorit para anak muda di daerah sini. Yakni tepi pantai, yang aku sendiri belum pernah datang melihat meskipun sudah tinggal hampir dua bulan.
Wendy yang menyarankan tempo hari, dan hari ini, aku ingin bicara banyak dengan dia. Bertukar informasi tentang kami.
Langit sore begitu indah, ditambah siluet orange dari senja mulai terbentuk yang semakin memperindah pemandangan langit. Beberapa pasang muda-mudi juga terlihat mulai datang dan duduk untuk turut menikmati cantiknya alam. Aku, memilih mencari tempat duduk yang tidak terlalu dekat dengan laut, sembari mengambil beberapa gambar untuk dijadikan moment, di dalam memori ponsel. Ah, ini cukup memalukan, tapi aku memang tidak memiliki foto apapun didalam persegi pintar yang canggihnya melebihi otak Einstein ini.
Tiba-tiba,
Hai,
Kata sapaan yang ditulis di atas kertas putih polos. Wendy datang. Aku tersenyum menyambutnya, kemudian ku tepuk pelan kursi besi bercat cream yang ku duduki untuk mempersilahkannya duduk di sisiku. Tapi sebelum dia merealisasikan itu, dia membuat gerakan memutar didepan dadanya dengan telapak mengepal tertutup.
Aku mengerut kening, tidak mengerti.
Melihat ekspresi yang aku tunjukkan, Wendy pun meraih kembali buku catatan dan menulis, Maaf. Maaf sudah membuatmu menunggu.
Aku lantas tersenyum lembut. Mataku yang semula fokus memperhatikan betapa cantiknya gadis didepan ku ini, terpaksa harus melihat ke arah lain untuk beberapa saat. Aku mengibaskan tangan, memberitahunya jika tidak perlu meminta maaf. “Duduklah.” kataku sambil menepuk sisi tempat duduk yang masih kosong, dan Wendy pun duduk.
Wendy itu tipikal gadis yang suka berpenampilan casual, simple, dan no ribet-ribet club. Dari beberapa kali pertemuan yang kami lakukan, dia selalu memakai T-shirt berukuran besar, celana jeans, sepatu sneakers, dan mengikat rambutnya menjadi satu bagian dibelakang. Dia juga tidak menggunakan make-up tebal seperti kebanyakan perempuan yang kulihat. Wajah Wendy itu putih bersih, dan bibirnya sewarna Cherry. Jadi, sama sekali dia tidak memoles make-up di wajahnya. Dia adalah perempuan yang cantik natural.
Aku menoleh lagi, menatapnya, intens. Lalu aku menunjuk diriku sendiri, dan membuat gerakan telapak terbuka dan tertutup seakan itu adalah bibir yang sedang bicara. Aku ingin bicara, kemudian aku menunjuknya, dengan kamu.
Dia mengangguk. Lalu aku meraih buku catatan dari tangannya. Hanya itu yang menjadi sarana komunikasi terbaik untuk kami, karena saat berbicara seperti biasa, Wendy seperti sedikit kesulitan membaca gerak bibir ku.
Aku menulis, bagaimana kabarmu hari ini? Menyenangkan?
Dia menerima buku catatan itu dan menulis jawaban. Ya, selalu menyenangkan. Ayah membuat nasi goreng yang lezat untuk ku sarapan tadi pagi. Lalu dia tersenyum bangga.
“Ah, aku iri. Pasti sangat menyenangkan.” gumamku pelan, dan Wendy memperhatikan lamat-lamat apa yang aku ucapkan.
Tulisku, mencoba memancing seberapa besar rasa ingin taunya tentang diriku.
Boleh.
Aku menatapnya dalam diam, dalam batin tersenyum dan bersyukur karena bisa mengenal sosok Wendy. Lalu tanganku kembali meraih buku catatan, lantas memulai cerita.
Dulu, aku pernah kenal dengan anak kecil berusia sepuluh tahun. Dia anak yang baik dan manis. Tapi nahas, hidupnya tidak semanis wajahnya. Ku tunjukkan pada Wendy, dan dia tersenyum hangat menatap tulisan tangan yang ku buat. Dia merespon dengan menggerakkan lengan dengan posisi telapak tangan terbuka.
Aku mencoba menebak arti dari gerakan tersebut. Sepertinya dia sedang bertanya, kenapa?
Ku tulis kelanjutan cerita ku.
Hidupnya, pahit. Dia lari dari rumah dan hidup terlunta di jalanan tanpa makan selama beberapa hari.
Wendy yang membaca ceritaku, langsung mengangkat wajah. Dia menatap lekat mataku dengan ekspresi sendu. Aku kembali menulis cerita tentang si anak manis yang ternyata hidupnya pahit itu.
Tapi beruntung ada orang baik yang menolongnya. Membawa anak berusia sepuluh tahun itu, pulang ke rumahnya. Diberi makan, diberi pendidikan, dan tentu saja hidup berkecukupan.
Hingga akhirnya anak kecil itu sudah menginjak usia dewasa dan sudah mempunyai pekerjaan yang
Aku mengalihkan tatapan mataku ke arah pasir pantai sambil memainkan ballpoint di antara sela-sela jari. Menimbang dan mencoba mengingat apa yang tercatat jelas dalam memori. Lalu aku melanjutkan tulisanku yang sudah menyerupai cerita drama di novel.
Pekerjaannya mempertaruhkan nyawanya, untuk membalas budi kebaikan orang yang sudah menolongnya.
Membaca tulisanku, Wendy refleks mengerutkan kening. Dengan gerakan serampangan dia merespon ceritaku.
Apa pekerjaannya? Kamu kenal dekat dengannya?
Aku menghela nafas.
Ya, aku mengenalnya dengan sangat baik. Dan pekerjaannya, menjadi seorang yang berbahaya untuk orang lain. Jawabku tidak terlalu spesifik.
Tatapan kami bertemu. Sepasang mata indahnya telah berubah sendu. Dan terpaan angin laut yang terasa sedikit berlebihan, menerbangkan anakan rambutnya ke bagian depan—wajah. Kuraih lagi buku catatan, lalu menulis sebuah nama disana.
Wendy yang membaca sekilas nama yang ku tulis tersebut seperti tersentak. Ia hendak meraih buku catatan dari tanganku, namun berhasil ku hindari.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” kataku dengan suara sedikit keras agar dia mendengar, dan dia pun mengangguk. “Seandainya dia mendekati kami, apa kamu masih mau berteman dengan dia, setelah kamu sendiri sudah tau siapa dia yang sebenarnya, Wen?” []
...To be continue...