Nightfall

Nightfall
Nightfall 01




...Nightfall 01...


...Selamat membaca...


...[•]...


Tempat ini, sudah menjadi tempat tinggal ku sejak usia sepuluh tahun. Tuan Yoseph memungut ku dari jalanan, mengasuhku, dan memberikan pendidikan tinggi padaku, kemudian memberiku pekerjaan yang sampai sekarang masih kulakukan. Penasaran dengan pekerjaan ku?


Aku seorang ... perampok. Mengambil uang orang, itu namanya perampok bukan? Ya, katakan saja dengan sebutan itu biar simple. Biar nggak kebanyakan ngeles kayak orang berkedudukan, memiliki jabatan yang tertangkap dan menghuni hotel frodeo.


Kalau kalian bertanya apa aku dibuang orang tuaku? Tidak. Aku yang lari dari mereka. Jangan tanya alasannya sekarang, aku belum mau menceritakannya pada kalian.


Tuan Yoseph itu pria yang sangat baik, cuma minus kelakuan saja. Dia suka memerintah seenak jidat, dan kalau sudah marah, siapapun jadi korbannya. Namanya selalu bebas dari hukum karena ada kami, tamengnya. Tapi kalau memang harus aku yang ditembak mati polisi, aku ikhlas, karena pria itu sudah berjasa besar menyelamatkan dan menghidupiku hingga sekarang.


Dia memiliki seorang putri yang sangat cantik. Namanya Liviya, dan kami semua memanggilnya Lili.


Kata teman-teman, Lili menyukaiku, karena itulah tuan Yoseph sangat baik padaku. Tapi aku tidak berfikir begitu, karena memang ada timbal balik atau simbiosis mutualisme dalam kehidupan. Aku rasa, Tuan Yoseph baik padaku karena kerjaku bagus, bersih, tidak pernah mencurigakan tapi selalu merugikan pihak yang menjadi sasaran.


Satu motto hidupku ketika bekerja. Senyap atau lenyap. Benar bukan? Jika aku tidak memperhitungkan setiap detail gerak-gerik ku, aku tidak menjamin masih bisa bernafas hingga sekarang.


Ku tatap layar komputer pribadi yang sedari tadi bergerak-gerak menyusun kombinasi huruf dan angka yang tersusun sangat cepat. Permen lollipop di mulutku juga hampir habis, tapi aku belum juga menemukan kombinasi keamanan yang bisa ku tembus untuk mengeruk uang mereka.


Kali ini, sasaran kami adalah tabungan salah satu konglomerat yang terkenal dermawan dan baik hati, tapi bu-llshiiit.


Pria itu adalah mantan walikota, sekaligus pemimpin sebuah partai besar yang sekarang sedang menjadi pujaan seluruh rakyat yang mengagumi kebaikannya. Karena tuan Yoseph tidak suka melihat itu, dia memintaku untuk mengeruk habis uangnya agar tidak bisa berkampanye dan gagal menjadi wakil presiden.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku cukup keras sampai aku nyaris melompat turun dari kursi.


“Sialan! Gue jotos juga pingsan Lo. Untung gue nggak punya penyakit jantung.” sengak ku karena kesal sekali jika di kejutkan seperti ini.


“Boss Yoseph nyariin Lo tuh. Udah sini biar gue gantiin. Lagian dari tadi juga kenapa nggak kelar-kelar sih?!”


Pria ini, namanya Vino. Usianya satu tahun lebih tua dibandingkan denganku. Kami kenal saat aku berusia tujuh belas tahun. Saat itu tuan Yoseph membawanya dari sebuah panti asuhan, dan menyekolahkan di tempat yang sama denganku. Itulah alasan mengapa kami sangat dekat sampai sekarang.


“Ada urusan apa nyariin gue?” meskipun bertanya yang tentu tidak akan menemukan jawaban, aku tetap bicara dengan pria berusia hampir tiga puluh tahun itu. Lalu, memakai jaket kulit yang ku beli beberapa waktu lalu dengan harga mahal karena berhasil membobol sebuah tempat penyimpanan uang bernama Bank.


“Mana gue tau?!” ketusnya sambil mengedikkan bahunya yang kini sudah tidak lagi ditutupi jaket, dan hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam. “Mau dikawinin sama Lili kali?!”


Sialan sih mulutnya itu. Tapi ya sudahlah, memang seperti itu cara kami bergurau.


“Tunggu lima menit lagi, kalau masih nggak kebuka, cari kombinasi lain.” titah ku pada Vino, agar dia tidak mengacaukan sistem yang sudah aku kerjakan susah payah.


“Iya, ndoro.” jawabnya sambil membungkuk layaknya pelayan kerajaan kepada rajanya.


Aku memakai sepatu boots kulit berwarna hitam, lalu keluar dari ruangan khusus yang ada di salah satu bagian rumah mewah tuan Yoseph.


Udara dingin menerpa wajahku ketika pintu ruangan terbuka. Cahaya matahari yang tadi begitu cerah saat aku memasuki ruangan ini, kini sudah berganti jingga dan bahkan hampir gelap.


Ku langkahkan kaki melewati jalan setapak yang disisi kiri dan kanannya ditanami rumput hijau yang tumbuh subur dan begitu lebat. Tidak luput juga dari tanaman hias, kolam ikan, dan pohon oak rindang yang sudah ada disana sejak pertama kali aku menginjakkan kaki dirumah ini.


Setelah melewati taman, aku sampai di teras belakang gedung bertingkat satu ini, lalu menggeser pintu kaca tebal kearah samping kanan. Lalu, ku tutup kembali agar bi Gina tidak mengomeli ku.


“Sore cantik,” sapa ku riang pada wanita berusia kisaran lima puluh tahun itu. Wanita ini sudah mengambilkan diri pada Tuan Yoseph sejak Liviya masih kecil.


“Sudah malem ini, Ale.”


Edmond Halley, nama yang tuan Yoseph berikan untukku sejak aku ikut dengannya. Kalian tidak asing dengan nama itu kan? Yang suka sama ilmu astronomi, pasti tau.


Meskipun namaku secakep dan sekece itu, mereka memanggilku cukup dengan tiga huruf. A, L, dan E, dibaca Ale. Ya, panggil aku seperti itu juga jika tidak ingin kesulitan seperti mereka semua.


Aku kini melewati sebuah ruangan yang luasnya melebihi lapangan basket. Ada beberapa koleksi mahal lukisan, replika orang-orangan yang tidak kuketahui namanya, lemari berisi buku, dan juga sofa mahal membentuk setengah lingkaran dan televisi berlayar hampir dua meter ikut memperindah susunan ruangan ini. Aku ingat sering bersama Lili disini saat masih kecil dulu. Ah, perlu kalian tau juga, Lili itu sejak kecil selalu menempel padaku. Dia tidak mau jauh dariku dan meminta terus ada bersamanya.


Setelah berhasil melewati ruangan yang membuat kaki mulai kelelahan itu, aku masih harus menaiki tangga menuju lantai dua, dimana tempat tuan Yoseph berada.


Hingga akhirnya aku sampai didepan sebuah kamar berpintu kayu dengan ornamen naga, ku ketuk sebanyak tiga kali lalu menarik turun handlenya. Aku tersenyum, menyapa tuan ku itu, lalu berjalan mendekat.


“Ada apa papa memanggilku.”


Ah, oke. Katakan saja Lili berlebihan karena memintaku memanggil tuan Yoseph dengan sebutan yang sama dengannya saat memanggil pria itu.


“Ah, kemarilah.” perintahnya yang langsung ku sanggupi. “Apa kamu sudah berhasil mengorek uang si brengsek Sakti?”


Ah, Sakti itu, nama orang yang sejak tadi membuatku pusing karena tidak berhasil menemukan keyword untuk membobol tabungannya. Kemanan sistem dari bank yang dia pergunakan untuk menyimpan uang itu, begitu ketat.


“Beluk papa. Keyword nya sulit di tembus.” jelasku terus terang. Dia masih sibuk menunduk guna menatap layar iPad yang menyala, menampilkan berita tentang penyelidikan kasus pembobolan Bank yang semalam aku dan Vino lakukan.


“Mereka pasti kesulitan menemukan siapa yang melenyapkan uang mereka.” kata tuan Yoseph bangga. Aku ingat saat meretas CCTV bank yang mungkin besok akan gulung tikar itu. Aku sedikit menyesal sekarang, mengapa tidak ku sisakan sedikit uang untuk mereka agar bisa membayar uang nasabah?


“Jelas dong. Siapa dulu,” sombong ku didepannya, yang langsung ditimpali pria berkumis tebal itu dengan sebuah senyuman lebar.


“Good job. Nggak sia-sia aku membesarkanmu.”


Rasanya sedikit menyakitkan, tapi tidak apa-apa. Setimpal dengan apa yang aku nikmati saat ini. Uang yang bisa digunakan untuk bersenang-senang, yang aku terima sebagai bayaran pekerjaanku.


“Kepala polisi itu pasti dalam masalah sekarang.” kataku sambil membenarkan posisi yang tadinya sedikit membungkuk untuk melihat wajah pria paruh baya berbadan tinggi tegap dan berwajah tampan yang mengenakan seragam polisi itu terlihat begitu serius.


“Ah, dengar-dengar dia punya anak perempuan dari pernikahannya yang gagal.” kata Tuan Yoseph. Lalu apa dia pikir aku tertarik dengan itu? Tuan Yoseph salah jika menganggap aku senang mendengar celetukan yang tidak bermutu itu. Memangnya untuk apa aku memikirkan wanita? Bisanya menyusahkan saja.


Aku mengangguk, hanya sebagai formalitas agar dia tidak tersinggung.


“Ah, apa kamu mau aku beri sebuah misi?”


Aku suka dengan misi.


“Apa itu, papa?” tanyaku antusias. Menarik punggung ku lebih tegak.


“Dekati putrinya.”


Aku berubah diam. Wajahku semakin datar, dan senyuman bangga yang sedari tadi menghiasi wajahku, sirna.


“Untuk apa?”


Yoseph menatapku, lalu tersenyum menyeringai. “Biar kita punya senjata kalau-kalau terjebak dan menemukan jalan buntu.” []


...To be continue...


###


Happy reading ...


Semoga suka dengan cerita ini.


Jika suka, tolong dukung penulis dengan memberikan Like, komentar, subscribe. Serta berikan vote dan hadiah jika berkenan.


Thank you,


Salam manis dari Ale.