Nightfall

Nightfall
Nightfall 13




...Nightfall by VizcaVida...


...|13|...


...Happy reading...


...[•]...


Seperti hari yang sudah lewat, aku harus memberikan laporan kepada bos Yoseph tentang misi ku. Kecuali keberadaan Joni yang sekarang menjadi tetanggaku. Oke, biarkan saja keselamatan ku sendiri sebagai jaminannya karena sudah menyembunyikan informasi penting tersebut dari orang yang seharusnya tau banyak tentang itu.


Tidak ada rasa was-was, yang ada hanya rasa ingin menyembunyikan apa yang banyak ku ketahui saat ini. Atas dasar apa? Kemanusiaan tentu saja. Aku juga manusia, masih punya rasa simpati. Atau lebih tepatnya, aku bukan seorang pembu-nuh, jadi tidak gampang bagiku untuk membuat orang lain terluka apalagi sampai berdarah-darah.


Ku putar kemudi mobil untuk keluar area basement. Hujan lumayan deras, dan angin juga bertiup cukup kencang, sepertinya.


Aku sudah menyusun beberapa laporan yang hendak aku setor ke boss. Diantaranya kedekatan ku dengan Wendy. Tapi, setelah dipikir lagi, kemana rasa kemanusiaan yang tadi ku sebut-sebut? Apa rasa simpati itu bisa pilih kasih? Padahal jelas aku juga tidak ingin memberi laporan apapun tentang kedekatan ku dengan Wendy.


Bagaimana kalau membual?


Tidak, tidak. Bos Yoseph adalah orang yang sudah menolong dan memberiku hidup selama ini. Jadi tidak mungkin aku mengingkari dan tidak membalas budi pada semua yang sudah ku terima selama ini.


“Wah, hujannya deras sekali.” gumamku saat mulai melewati bagian belakang apartemen. Ku sempatkan lewat disana, tempat dimana Wendy tinggal bersama ayahnya.


Dan ... seperti mendapat undian berhadiah, aku melihat sebuah mobil keluar dari area rumah dinas sekaligus markas senjata kepolisian itu. Mobil berplat khusus itu hanya berjarak beberapa meter dari mobil yang sedang ku kemudikan. Aku yakin seratus persen jika yang ada didalam sana adalah mobil ayahnya Wendy.


“Apa perlu aku membuntutinya?”


Random sih sebenarnya, karena sudah bisa dipastikan jika pria itu akan berangkat bekerja. Tapi, apa salahnya?


“Oke.” kataku, menganggukkan kepala sembari tetap mengemudi mobil dengan jarak aman dibelakang mobil dinas tersebut, agar tidak dicurigai.


Setelah membaur di jalan utama dengan pengendara lain, aku masih bisa memantau pergerakan mobil tersebut, hingga berhenti disebuah rumah yang mirip dengan sebuah panti asuhan.


Dari tempatku berhenti, ditemani hujan yang masih cukup lebat, aku bisa melihat seorang gadis keluar dari sana. Ya, dia adalah Wendy. Dia berlari cepat hingga menghilang dari pandanganku, dan mobil pun berlalu.


Aku bergerak maju, mencoba menelisik apa yang ada di dalam sana. Ternyata benar, bangunan itu adalah sebuah panti asuhan anak-anak ... penyandang disabilitas. Namanya, Rumah ceria.


Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Membayangkan anak-anak yang berada didalam sana adalah anak-anak yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan, mendadak hatiku perih. Bayangan Wendy tersenyum padaku, terbesit di dalam ingatan.


Dengan gerakan cukup serampangan, aku meraih saku celana demi mencari keberadaan ponsel. Dan hanya dalam hitungan detik, ponsel sudah ada dalam genggaman. Aku mengetuk sesuatu.


Pagi, hujan nih. Lagi dimana?


Simple. Semoga aja dibales.


Aku memilih menepikan mobil, mengarahkan kembali mundur dan kemudian membiarkan mesin menyala. Menatap keluar ditemani hujan yang masih setia dengan rintiknya yang tak terhitung.


Ting!


^^^Iya, deres. Lagi sama teman-teman. Seru. ^_^^^^


Astaga, kenapa bibirku tiba-tiba tidak bisa menahan senyuman saat melihat pesan balasan yang diakhiri emoji tersenyum dengan mata menyipit seperti itu.


Teman-teman, seru, aku juga ingin merasakannya.


Apa aku ganggu kamu?


^^^Engga^^^


Eh? Formal sekali? Apa typingnya memang begini?


Aku ...


Aku sedang melakukan pekerjaanku


Aku mengetik balasan dengan sangat hati-hati. Aku pernah mendengar dari Vino jika perempuan itu seperti kaca.


^^^Oh, selamat bekerja ya :)^^^


Oke, tarik nafas, hembuskan.


Sumpah demi apapun, bertukar pesan dengan Wendy, sedikit berpengaruh terhadap kinerja jantung. Rasanya bagian tubuhku itu memompa darah lebih banyak hingga kepala pening dan mata berkunang. Efek senang apakah memang seperti ini? Maklumlah, aku memang belum pernah merasakan yang begini.


Dari pada melanjutkan perjalanan menuju rumah bos, aku lebih tertarik untuk tetap disini sembari menunggu seseorang keluar dari tembok gerbang setinggi pinggang orang dewasa itu.


Tapi, jangan anggap aku bisa santai begitu saja. Karena setelah lima menit menunggu, ponselku berbunyi. Lili telepon.


Ku hembuskan nafas cukup kasar, kemudian ku jawab panggilan tersebut.


“Ada apa?”


“Jemput aku di rumah.” sahutnya tanpa ba-bi-bu.


“Aku nggak bisa, Li. Aku sedang ada kerjaan.”


“Kerjaan? Bukankah kerjaan kamu itu dari papa?”


Menyebalkan juga lama-lama sikap Lili yang seperti ini. Nafas jengah kali ini berembus. “Iya. Sekarang aku lagi kerja.”


“Kamu kok sekarang hindari aku, sih? Kemarin, aku kerumah kamu nggak kamu buka?”


Oke, pakai jurus ngeles plus membual saja.


“Lho, kamu kerumah?”


Telepon berakhir, dan sekali lagi aku mengembuskan nafas. “Ya Tuhan, ada-ada saja.”


Mau tidak mau, aku pun meluncur kesana—kerumah bos—dan merelakan Wendy.


Aku, ada ide.


Buru-buru aku meraih lagi telepon genggamku, lalu mengetik pesan.


Kalau sudah pulang, tolong kabari aku ya, Wen.


[]


...To be continue...


###


Maaf, pendek dulu ya 🙏


Jangan lupa untuk selalu mendukung Nightfall dengan cara Like, komentar, subscribe, serta vote dan beri hadiah jika berkenan ☺️


terima kasih