
...Nightfall by VizcaVida...
...|31|...
...Happy reading...
...[•]...
Warning!!
Bab berisi ade-gan ke-ke-r4-s4n dan juga hal yang berhubungan dengan da-r4h. Di mohon untuk bijaksana. Skip jika merasa kurang nyaman.
Be A Wise.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wendy's side
Aku pasrah ketika tubuhku kembali bangkit ke posisi semula, setelah mereka membangunkan aku dengan gerakan cukup kasar. Setelah itu, mereka hanya menatap tanpa berani melakukan hal buruk padaku untuk beberapa saat. Tapi, aku tidak menjamin akan bisa tetap seperti diriku yang seperti ini, saat orang yang mereka sebut bos, datang.
Tujuan awal pergi ke panti, berakhir mengenaskan oleh ulah orang jahat yang tidak tau adab.
Ah, tidak. Aku saja yang terlalu bodoh. Sebenarnya, Ale juga sudah memperingatkan aku untuk hati-hati saat terakhir kali kami bertemu dan bicara banyak malam sebelumnya. Tapi mengapa aku bisa lupa dan memutuskan untuk pergi keluar rumah seorang diri tanpa pengawasan? Jika aku tidak lalai, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Dan hidup Ale, juga tidak akan terancam.
Sekali lagi Tuhan. Tolong dengarkan do'a ku. Beri kebahagiaan untuk Ale. Selamatkan dia.
Ku alihkan tatapan mataku saat satu diantara dua orang itu sedang bicara di telepon. Ku baca gerakan bibirnya yang berkata, dia pasti akan datang kesini untuk menyelamatkan gadis bisu ini, bos. Anda akan mendapatkan banyak keuntungan. Wandi, Ale, gadis ini, atau bahkan ... Joni. Lalu dia tertawa.
Sedangkan satu orang lainnya bergerak mendekat. Dia melangkah dan berdiri tepat didepan wajahku, kemudian mencondongkan badannya hingga wajah dan mata kami bertemu.
“Apa salahnya mencuri satu ciuman darimu sebelum bos menikmati lebih dari sekedar itu?” bisiknya yang ku tangkap dari gerakan bibir. Benar-benar bia*dab. Tidakkah mereka takut atas hukum karma dan juga pembalasan Tuhan?
Dia mendekatkan wajah, dan aku mencoba melakukan perlindungan diri dengan cara menjauh, mendorong sebisa mungkin kursi yang ku duduki agar dia tidak berhasil melakukan perbuatan bejad nya padaku. Tapi, dia menarik kuat ikatan rambutku hingga kepalaku mendongak ke atas. Rasa nyeri menyapa hingga membuatku meringis.
Tanpa ampun, diapun menarik kuat lakban yang menempel di bibirku, dan kembali bergerak mendekati bibir yang sekarang ku katupkan erat.
Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku. Kebas mulai menyapa pipi, namun aku tidak akan pernah menangis meminta iba didepan mereka.
“Perempuan sialan! Sudah bisu, nyusahin pula! Mau laki-laki seperti apa dirimu hah?! Seperti Ale? Jangan mimpi.” teriaknya emosi karena aku menolak ciumannya mentah-mentah. “Kamu ingin pria sempurna? Jangan bermimpi, nona! Mereka akan mencampakkan gadis seperti kamu setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan!!”
Suara tawa pria ini begitu menyayat hatiku. Amat sangat menyakitkan. Dia merendahkan derajat manusia lain meskipun dia sendiri seorang manusia. Haruskah dia juga menghakimi keadaanku yang memang dilahirkan tidak sempurna ini?
Tak puas dengan mencaci dan menghinaku, pria ini kembali melakukan aksinya. Kali ini dia menahan kedua pipiku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya agar aku tidak bisa bergerak. Sontak, aku melu-dahi wajahnya yang membuatnya murka. Dia menamparku sangat keras sambil meneriakiku dengan kata sebutan tidak manusiawi.
Aku kembali jatuh tersungkur diatas lantai dengan benturan cukup keras di kepala. Beruntung tidak membuat darah mengalir keluar, hanya saja denyutan nyeri yang datang begitu menyakitkan. Mataku berkunang-kunang, hingga aku dapat menebak jika aku akan pingsan.
Tapi,
Sebuah letupan senjata api membuatku mau tidak mau kembali sadar. Mata ku paksa untuk tetap terbuka, dan kulihat pria yang baru saja menampar wajahku itu, jatuh tersungkur tepat di sebelahku dengan darah mengalir hingga membasahi satu sisi wajahnya yang terkapar di atas lantai.
Satu letupan lagi, disusul satu letupan yang berbunyi secara bersamaan, kemudian satu letupan membuat orang lain yang menyanderaku, tergeletak tak berdaya disana karena meregang nyawa.
Dengan sisa kesadaran yang masih ku pertahankan, ku lihat Ale berlari mendekat padaku. Dan seketika itu, airmataku jatuh, tak bisa lagi ku bendung. Semua ketakutan yang sejak tadi ku pendam dan redam, meluap didepan pria yang kini sedang mencoba melepas simpul di tubuhku.
Aku bebas. Dan aku memeluknya.
“Maaf terlambat.” katanya sembari mengusap pipiku yang terasa perih dan basah oleh airmata. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain kembali memeluknya. Sangat erat, menumpahkan semua ketakutan dalam diriku. Hingga akhirnya dia memaksaku untuk menjauh dan berkata, “Kita harus segera pergi dari sini.”
Dia menarik bangkit tubuhku yang sedikit lemah. Lalu kami berjalan beriringan menuju pintu utama. Aku pun menyempatkan diri untuk meraih buku catatan hadiah darinya yang tergeletak sembarangan dilantai karena ulah dua penyandera, serta sempat dibaca dua orang yang kini sudah terbujur tak bernyawa diatas lantai.
Ku tatap wajahnya saat kami sudah berhasil keluar dan duduk di dalam mobil. Ale bergerak cepat ketika memakaikan seatbelt di tubuhku. Lantas, dengan kecepatan lumayan tinggi, dia membawaku pergi dari sana. Dari sebuah tempat yang sampai mati nanti, tidak akan pernah ku lupakan.
“Aku sudah menghubungi Joni dan meminta ayahmu untuk membawa orang. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu akan aman.” katanya dengan suara keras yang sedikit bergetar. “Tapi, kita perlu menuju tempat itu terlebih dahulu.”
Aku meraih buku catatan dan menulis, Bagaimana denganmu? Kamu ikut bersamaku, kan?
Dia menggeleng. “Kamu akan selamat dalam lindungan ayahmu, Wen. Kamu harus selamat.”
Bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku ingin dia juga baik-baik saja. Aku ingin dia meyakinkan aku jika tidak akan terjadi apapun padanya. Tapi, mengapa justru jawaban pasrah nyaris menyerah yang ku dapatkan?
Tidak. Ale harus tetap hidup. Kami tidak akan berpisah.
“Kamu juga!!” Kataku dengan bahasa isyarat. Dia pasti tidak mengerti artinya, tapi aku tidak peduli. Aku kembali membuat gerakan lain untuk bicara. “Kamu juga harus tetap hidup dan bahagia. Kamu berhak mendapatkan itu, Le! Kamu tidak boleh menyerah. Aku akan berusaha membuatmu untuk tetap berada di sampingku. Karena aku ... mencintaimu.”
Ale sama sekali tidak memperhatikan diriku yang sibuk bergerak untuk berbicara. Dia menatap lurus ke arah jalan beraspal yang masih lengang. Hingga akhirnya dia pun menoleh padaku dan berkata,
“Kita akan sampai disebuah rumah yang akan membuatmu aman. Disana ada ayah dan juga Joni, serta beberapa polisi yang akan melindungimu.”
Aku mohon, jangan hanya aku, Le. Kamu juga harus ikut kesana. Kamu harus selamat dan hidup lama hingga Tuhan memberi jalan lain untukmu pergi dari dunia ini. Selain menjadi korban kebi*adaban orang yang gila akan kehidupan dunia.
Kutatap sendu manik mata Ale yang terlihat khawatir. Mungkin dia sedang mengkhawatirkan banyak hal sekarang. Aku bisa membaca mimik wajahnya yang terlihat begitu jelas.
Nahasnya, disela perdebatan batin yang sedang ku rasakan, mobil kami tiba-tiba terpental maju cukup keras hingga kepalaku terantuk dashboard mobil milik Ale. Aku mengaduh tanpa suara, kemudian meraba keningku yang terasa sakit.
“SIAL!!!” umpatnya keras yang bisa ku dengar dengan jelas. Lalu Ale menoleh kebelakang, dan aku mengikutinya. Disana, ada sebuah mobil jeep berukuran cukup besar mengejar kami. Ada beberapa orang yang keluar dari jendela mobil sembari menodongkan senjata api ke arah mobil kami.
Lalu,
Suara decit ban mobil yang di rem terdengar nyaring mendenging. Mobil yang ku tumpangi bersama Ale, oleng dan keluar dari jalur hingga menabrak sebuah pembatas jalan hingga berhenti karena menabrak sebuah pohon pinus besar, setelah satu letupan senjata api itu sepertinya mengenai ban mobil yang kami tumpangi.
Kepanikan tak sampai disitu, Ale yang terlihat berdarah di pelipisnya itu tidak peduli pada dirinya sendiri, melainkan membantuku melepas seatbelt dengan gerakan sangat cepat, lalu memaksaku untuk keluar.
Pada akhirnya, kami keluar dari mobil dan berlari memasuki sebuah kebun Pinus yang gelap dan rindang.
Astaga, mengapa orang-orang itu jahat sekali?
Kami berdua berlari dengan sedikit tertatih. Kaki Ale terkilir, dan tak jauh berbeda dengannya, mata kakiku juga terasa nyeri saat berjalan cepat.
“Kamu tidak apa-apa, Wen?” tanyanya.
Ingin ku jawab ya, tapi aku tidak bisa berbohong dengan menyembunyikan betapa menyakitkannya pergelangan kaki ku.
Aku menggigit bibirku dan menarik paksa Ale untuk berhenti di salah satu pohon Pinus yang memiliki diameter cukup besar untuk kami dapat bersembunyi.
“Astaga!” paniknya saat melihat kakiku yang mulai membiru. Dia menghela nafas cukup besar, kemudian menyobek pakaiannya sendiri untuk membebat mata kakiku yang juga sudah mulai membengkak. “Tahan sedikit rasa sakitnya sampai kita tiba di tempat ayahmu, oke?”
Ku teteskan airmata. Sebesar itu pengorbanan Ale untukku. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku padanya. Ku raih garis rahangnya yang tegas dengan dua telapak tangan kecilku, lantas ku tatap sejenak wajah tampannya. Ku daratkan satu kecupan singkat di bibirnya.
Aku mencintainya.[]
...To be continue...
###
Cuma mau kasih tau untuk teman pembaca sekalian, kalau cerita ini akan segera tamat dalam waktu dekat. Tentang ending, sesuai narasi di cover ya 🤭, jadi siapkan tisu. Wkwkwk becanda.
Boleh kasih komentarnya untuk bab ini dong akak ... ☺️