Nightfall

Nightfall
Nightfall 27




...Nightfall by VizcaVida...


...|27|...


...Happy reading...


...[•]...


Kami sedang duduk menghadap bentangan laut indah yang berdebur. Langit malam yang mulai menggelap menjadi teman diantara suara gemerisik angin dan air yang menggulung di kejauhan.


Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku harus meninggalkan dia demi keselamatannya. Aku ingin melindunginya, tapi waktu memaksaku untuk menyerah, melepaskan dan membiarkan Wendy pergi agar tidak terluka. Ya, mungkin seharusnya seperti ini.


Tapi,


Wendy terlihat murung hari ini. Sepasang mata indah yang biasa berbinar itu terlihat redup, lelah dan sayu tidak memancarkan keceriaan.


Kamu kenapa? Ada masalah? tanyaku dalam bentuk tulisan. Dia menatapku sejenak, kemudian menggeleng dengan senyuman indah yang masih tetap terbentuk di bibirnya. Lalu, kenapa murung? Ada masalah dengan ayahmu?


Tatapannya sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin dia sedang ada masalah dirumah, atau hanya tebakan tak berdasar yang menjadi asumsi semata olehku? Sumpah demi Tuhan, aku tidak bisa melihat Wendy sedih begini.


Cerita sama aku. Pasti akan kudengar. Lanjutku penuh keyakinan, meskipun dalam hati kecil, aku meragukan kalimatku sendiri. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencoba membuka tangan dan hati agar Wendy mau terbuka padaku.


Tapi Wendy kembali menggeleng dan membuang wajahnya ke arah laut yang semakin tak terlihat ujungnya karena di telan gelap. Aku tertunduk, menatap pasir diantara celah kedua kakiku yang ku tekuk. Lalu aku memberanikan diri untuk mulai membuka apa yang sedang mengganggu pikiranku saat ini.


“Aku, juga sedang dalam masalah dan dilema besar, Wen ” kataku dengan suara lantang agar dia bisa mendengarku. Dia merespon dengan menolehkan kepalanya padaku. “Dan hal itu juga berpengaruh pada keselamatan orang lain.”


Kulihat Wendy menulis sesuatu pada buku catatannya. Dia menulis, Sebenarnya, apa maksudmu? Mengapa sampai berimbas pada keselamatan orang lain?


Aku tersenyum membaca pertanyaan yang disodorkan Wendy. Cukup lumrah, tapi aku bingung cara menjawabnya. Ku raih buku catatan milik Wendy, dan ku tulis jawabannya disana.


Aku seorang kriminal


Wendy terbelalak melihat tulisanku, lantas tertawa hingga kedua bahunya bergetar, mungkin menganggap tulisanku itu hanya sebuah candaan belaka. Dan benar saja,


Kamu bercanda?


Dia menulis demikian, sontak membuat aku tersenyum miris. “Aku tidak bercanda.” kataku pelan, berharap dia bisa membaca gerak bibirku. “Aku benar-benar seorang kriminal—”


Aku cukup terkejut ketika Wendy tiba-tiba meraih telapak tanganku untuk ia genggam. Tatapan mata kami bertemu, dan aku menemukan sarat iba disana.


Kita akan tetap berteman. Tulisnya, mungkin berusaha meyakinkan aku agar tetap kuat. Akan tetapi, apa dia masih akan mengatakan itu jika dia tau, ayahnya lah yang menjadi target? Aku tidak ingin memberitahu itu, tapi tidak ada jalan lain selain mengakui semua. Bicara jujur entah nanti bagaimana akhirnya.


Kuraih buku itu dari tangan Wendy. Aku bukan orang baik, Wen. Bahkan kamu pasti akan membenciku setelah tau semua kebenaran yang coba aku sembunyikan.


Katakan padaku


Aku menatapnya lamat-lamat. Ku selami mata indahnya dengan sisa keberanian yang ku miliki.


Ayahmu, adalah salah satu targetnya


***


Meskipun aku memberitahu Wendy, dia tidak begitu terkejut. Mungkin ini bukan pertama kali dia mendengar hal sama dengan apa yang aku katakan, karena memang itu risiko pekerjaan ayahnya. Bukan hanya aku yang mengincar keselamatan ayahnya, banyak orang-orang sepertiku diluar sana yang juga mengincar dan mencari celah untuk mereka bisa mengeksekusi segala sisi.


Aku masih bisa mengingat bagaimana wajah tenang Wendy menatapku tadi. Bagaimana genggaman tangannya begitu hangat merengkuh milikku, membuatku semakin terbelenggu akan rasa bersalah yang mendominasi. Aku seperti ingin melarikan diri saja. Terlalu malu, tidak punya muka didepan Wendy.


Sekarang, aku berada didalam mobil bersamanya. Mengantarnya pulang kerumah.


Jaga dirimu, baik-baik


Aku menulis itu agar Wendy lebih waspada. Aku memang seorang penja-hat, tapi aku tidak ingin Wendy mendapat perlakuan jahat dari orang yang berprofesi sama sepertiku.


Sebuah anggukan darinya membuatku lega. Senyuman yang terbit dibibirnya membuatku bahagia. Akhirnya aku melepas kepergian Wendy, memperhatikannya sampai dia masuk ke dalam rumah. Setelah itu aku beranjak pergi untuk kembali ke tempat persinggahan yang sialnya, kini terasa seperti neraka.


***


Keesokan harinya, aku punya janji bertemu Joni untuk membahas rencana yang akan kami susun untuk melumpuhkan kawanan Yoseph. Namun gerakan ku tidak lah sebebas sebelumnya karena kini, misi untuk menjegal Joni telah beralih ke tangan Vino. Aku tidak bisa melangkah dan bergerak sembarangan, atau semua berantakan.


Kuraih ponsel baru yang ku beli khusus untuk menghubungi Joni. Ku kirim pesan jika aku hendak berangkat menuju lokasi yang sudah kami sepakati, laku Joni membalas cepat dengan berkata jika dia sudah hampir sampai.


Mencoba acuh, aku bergegas meraih kunci mobil dan segera turun ke basement.


Selama perjalanan menuju tempat pertemuan, tiba-tiba terasa ada yang aneh dengan mobil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mobil yang kukendarai. Mobil itu seperti sedang mengikutiku. Namun sialnya, kaca gelap tak tembus pandang berhasil mengecoh dan membuatku gagal melihat siapa yang berada didalam sana.


“Ck!!” aku memutar arah, lantas ku telepon Joni.


Nada hubung berbunyi beberapa kali, lalu suara Joni menyapa pendengaran.


“Aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini. Seseorang sepertinya sedang mengikuti ku.”


“Kamu yakin?”


“Ya. Tapi aku masih mencoba mencari tau.” sahutku cepat, lantas membawa mobil menuju kawasan mall untuk mengecoh, meyakinkan diri, dan tau siapa orang yang memang mengintai itu.


“Oke. Stay safe. Kita bertemu di apartemen saja.” kata Joni. Namun kini aku justru khawatir akan keselamatannya.


“Jangan pergi kemanapun untuk beberapa waktu. Amati sekitar, siapa tau kamu juga sedang di intai. Sepertinya, Yoseph mulai bergerak dan curiga kepadaku, dan tentu saja kamu, yang memang sejak awal targetnya.”


“Bukankah kamu eksekutornya?”


Mendengar pertanyaan itu membuatku sempat menahan nafas. Lalu, dengan berat hati ku jawab. “Misi itu di alihkan kepada rekanku, namanya Vino.”


“Sejak kapan?”


“Semalam.”


Panggilan kami sunyi untuk beberapa saat. Mungkin Joni juga sedang memikirkan sesuatu, atau memikirkan caranya keluar dari sana dengan selamat.


“Kirimi aku foto Vino.”


“Oke.”


Mobilku memasuki area parkir mall. Tidak buru-buru keluar, aku mengotak ponsel yang ternyata kosong dalam galeri. Aku baru ingat, jika ponsel lamaku sedang berada dirumah.


Ku pukul kemudi mobil karena putus asa. Tapi aku ingat tentang media sosial yang pernah ku buat sekitar sepuluh tahun lalu bersama Vino. Ku ambil foto kami yang saat itu masih duduk di bangku kuliah, kemudian ku kirim ke nomor Joni dengan catatan,


Ini foto lama karena ponselku ada dirumah. Wajah Vino tidak berubah banyak dari yang di foto ini. Jika kami melihat orang yang berwajah mirip dengan ini di sekitar kamu, fix itu Vino.


Jadi, berhati-hatilah. Waspada.


Karena keselamatan Joni mungkin memang sedang terancam. Aku tidak ingin Joni tertangkap dan mati ditangan Vino, sebelum rencana kami berhasil terlaksana. []


...To be continue...


###


Akankah mereka berhasil?


Terus ikuti kelanjutan cerita Nightfall ya ...


Jangan lupa juga untuk memberikan dukungan dengan cara Like, komentar, vote, dan beri hadiah jika berkenan ☺️


Oh ya, sekalian promo novel baru author 🤭


cek profil, covernya seperti 👇



Rate ²¹+ dan ceritanya juga cukup menguras emosi, nanti. Hehehe...


Silahkan mampir jika penasaran. Jangan lupa untuk di simpan di list favorit agar tidak ketinggalan update.


Terima kasih


Salam cinta dari Othor


❤️❤️❤️