Nightfall

Nightfall
Nightfall 32




...Nightfall by VizcaVida...


...|32|...


...Happy reading...


...[•]...


Aku sampai ditempat tujuan, lantas mengetik pesan kepada Joni agar memberitahu pak Wandi, kalau Wendy dalam bahaya. Aku juga mengirimkan lokasi dimana saat ini aku berada. Ku tambahkan keterangan jika polisi harus datang kesini untuk menyergap gudang persenjataan yang dimiliki oleh Yoseph.


Ya. Ini gudang senjata. Tempat yang di pergunakan oleh orang yang menculik Wendy, adalah gudang senjata yang dengan amat sangat mudah ku lacak. Aku hafal lokasi tempat ini, karena Vino beberapa kali mengajakku ke sini untuk mengambil pistol. Tentu saja atas perintah si bos.


Aku berjalan perlahan, dan mulai memasuki area utama yang disana, terpampang berbagai jenis senjata api berikut amunisi yang tersedia.


Lalu, mataku menangkap perlakuan kasar pria yang tidak ku kenal itu kepada Wendy. Aku tidak boleh gegabah atau kami berdua akan celaka. Hingga satu hal yang tidak lagi bisa ku tolerir adalah, pria itu menarik kuat rambut Wendy, lalu memaksa mencium.


Tidak ada ampun untuknya.


Ku bidik tepat di punggung, dimana letak sumber kehidupannya berada. Kulepaskan satu amunisi mengenai sasaran dan dia jatuh tersungkur dilantai. Aku tau bukan hanya pria itu yang berada disini. Dan benar saja, dia menyerang ku dengan sebuah tembakan yang beruntungnya, meleset. Ku balas tembakan dan dia pun melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya tembakan ku tepar sasaran mengenai dadanya. Dia pun jatuh tersungkur di lantai.


Aku bergegas melepas ikatan di tubuh Wendy dan membawanya pergi dari sini sebelum rombongan lain datang karena mengetahui keberadaan ku melalui sinyal ponsel yang ku bawa.


Jika kalian bertanya mengapa aku tidak membuangnya saja? Jawaban yang ku sediakan untuk pertanyaan tersebut adalah, aku masih membutuhkannya untuk menghubungi Joni dan memastikan jika mereka sudah bergerak.


Alasannya hanya satu. Aku tidak ingin Wendy terluka.


Kamipun berhasil meninggalkan tempat itu, tapi nahas, mobil kami sudah di pantau dan dikejar. Ku tambah kecepatan mobil yang ku kendarai ini, tapi tetap tidak bisa menghindari mereka ketika laju roda kami terhenti oleh sebuah ledakan amunisi yang mengenai karet roda yang berputar cepat.


Mobil keluar jalur dan oleh karena tidak seimbang. Hingga kap depan menabrak sebuah pohon besar, aku membantu Wendy melepas seatbelt dengan cepat, dan kami berlari.


Aku mulai mempertanyakan keadaan Wendy saat melihat gerakan Wendy semakin melambat. Pergelangan kakinya membiru, dan aku harus melakukan sesuatu agar kami tetap bisa lari menuju tempat yang sudah di janjikan oleh Joni. Tempat nyaman yang akan membuat Wendy aman dan selamat dari mereka yang mengejar kami.


Setelah membebat kaki Wendy, aku membantunya kembali bangkit. Kami harus bergegas pergi dari tempat ini sebelum tersusul. Suara letusan senjata api di kejauhan, terdengar semakin dekat. Itu artinya, aku harus bergegas karena tidak akan ada bantuan yang akan datang untuk menyelamatkan kami.


“Bertahanlah, sampai kita tiba disana, oke?”


Dia mengangguk. Dan telapak tangan kami bertemu. Rasa canggung setelah kecupan itu berakhir, masih begitu terasa. Jika situasinya tidak sedang genting begini, mungkin wajahku akan memerah karena malu.


Apa maksud ciuman singkat yang diberikan Wendy untukku? Apa ini artinya perasaan kami tidak bertepuk sebelah tangan?


Ya Tuhan. Jika memang nanti aku dan dia di takdirkan untuk bersama, aku akan mencintainya dengan segenap jiwa dan raga.


Kami terus berjalan cepat, tanpa ku lupa untuk menanyakan keadaan Wendy. Dia bilang baik-baik saja, kakinya tidak begitu nyeri setelah ku bebat.


Kami terus berjalan menyusuri perkebunan Pinus itu sebisa mungkin, semampu kami dengan catatan jangan sampai tertangkap. Kami mengendap, sembunyi, bahkan mencoba berlari dengan kondisi kaki terseok saat menghindari mereka yang sudah jelas mengejar kami.


Takut?


Ya. Ini pertama kalinya aku merasa takut. Tapi ketakutan tersebut bukan untuk diriku sendiri. Rasa takut itu lebih karena ada Wendy yang ikut terseret dalam misi ini dan mengancam keselamatannya. Dan aku, harus melindunginya semampuku.


“Kalian tidak akan bisa lolos.”


Kudengar teriakan itu di kejauhan. Wendy mungkin tidak bisa mendengarnya, dan aku menangkup kedua telapak tangannya dengan telapak tanganku. Kutatap matanya penuh perhatian.


“Dengarkan aku.” kataku. “Kita akan selamat sampai tujuan, oke.” lanjutku memberi semangat, karena Wendy terlihat putus asa. Tatapannya seperti lelah dan murung. “Percaya sama aku, kita akan tetap hidup sampai bertemu ayahmu. Jadi kita harus sedikit berusaha lagi agar sampai dengan selamat. Aku mohon, berjuanglah bersamaku sekali lagi, Wen.”


Dia mengangguk dengan manik mata berkaca-kaca. Ku usap satu sisi wajahnya dan memberinya senyuman hangat agar dia percaya jika kami akan baik-baik saja. “Aku, sayang, kamu. Jadi, aku mohon, tetaplah, hidup, untukku.”[]


...To be continue...


###


Kalau ada typo tolong di tandai ya tsay ☺️