
...Nightfall by VizcaVida...
...|33|...
...Happy reading...
...[•]...
Kami berlari, sebisa kami, sekuat kami. Sembunyi, semampu kami, agar kami sampai di tempat tujuan dengan selamat. Terutama Wendy.
Kami semakin terbawa jauh masuk kedalam perkebunan Pinus yang sepertinya akan memasuki kawasan hutan. Jika benar begitu, akan sangat berbahaya karena handphone pasti tidak akan mendapat signal disana.
Aku mengajak Wendy untuk berhenti sebentar. Aku harus mengirim lokasi kepada Joni. Ini adalah cara terbaik untuk kemungkinan terburuk yang tidak akan pernah kami sangka. Mereka harus tau posisi terakhir kami, jika kami tidak sampai ditempat tujuan. Harapanku, mereka bisa membawa beberapa orang untuk menyelamatkan gadis ini. Gadis yang membuatku jatuh hati, sejatuh-jatuhnya.
Setelah berhasil mencari lokasi dan mengirimkannya ke nomor milik Joni, aku kembali membuka kotak pesan dan mengirim satu pesan kepada pria itu. Memohon satu permintaan agar dikabulkan, setelah itu aku pasti akan tenang, dimana pun aku berada.
Aku kembali meraih pergelangan tangan Wendy dan kembali mengajaknya berjalan cepat setengah berlari. Kondisi kami tidak jauh berbeda. Kami tidak bisa berlari cepat dengan kondisi kaki tidak baik-baik saja. Dan ku akui, aku sedikit pesimis dengan harapan yang kami berdua miliki.
Ada dua jalan yang bisa aku ambil untuk kegentingan suasana ini, sebenarnya. Pilihan yang akan menentukan keselamatan kami. Pertama, aku meminta Wendi berlari menyelamatkan diri membawa ponselku dengan map yang menunjuk arah ke tempat aman dimana perlindungan pasti akan kuat disana. Dan kedua, aku akan mengalihkan semua dari pihak Yoseph yang sedang mengejar kami.
Mungkin itu jalan konyol untuk keselamatanku sendiri karena kemungkinan selamat sangatlah kecil. Tapi aku tidak lagi peduli. Mungkin inilah saatnya aku menebus semua perbuatan buruk yang sudah aku lakukan selama ini, dengan berbuat satu kebaikan. Yakni menyelamatkan satu nyawa yang seharusnya memang harus tetap selamat.
Ah, baiklah. Coba saja. Siapa tau berhasil.
Dengan nafas tersengal-sengal karena lelah mengejar harapan, aku bicara kepada Wendy. “Wen, tolong dengarkan aku sekali lagi.”
Dia memperhatikan wajahku yang memang sedang panik karena khawatir akan keadaannya. Apa rencana ini akan berhasil? Jawabannya adalah harus. Aku menekankan itu pada diriku sendiri. Wendy harus tetap hidup dan bahagia.
Aku meraih telapak tangannya dan ku meletakkan ponsel ditangannya agar di genggam. Ia membolakan mata menatapku. “Kamu bisa membaca map?” tanyaku serius. Tidak ada waktu lagi untuk sekedar berdebat. Aku harap Wendy menjawab ‘Ya’.
Dan sesuai ekspektasi, dia mengangguk, membuat senyuman terbit di bibirku yang mulai mengering. Kepalaku mulai terasa berat berat.
“Oke. Pergi dan ikuti map ini. Kamu hanya perlu mengikutinya sampai dititik ini, karena ada ayahmu disana.” kataku sambil menunjuk titik berwarna biru di ponselku. “Kita akan bertemu disana.” lanjutku meyakinkan agar dia bersedia pergi dengan cepat tanpa memikirkan hal lain. Termasuk aku, yang tidak ingin dia terluka. “Jika kamu melihat orang asing yang tidak kamu kenal atau mencurigakan, menghindar dan bersembunyi sebisamu.”
Satu pesan masuk, dan aku sempat meminta ponselku sebentar dari Wendy.
Aku mengirim beberapa personil ke titik kalian berada.
Syukurlah. Jadi, aku hanya perlu bertahan dengan mengalihkan perhatian mereka sampai bala bantuan itu datang.
Sumpah demi Tuhan, aku tidak sampai hati melihatnya menangis seperti sekarang. Hatiku hancur melihat lelehan airmatanya mengalir membasahi pipinya yang seputih salju itu.
Sedetik kemudian, dia menggeleng.
“Please ... ” de-sahku frustasi. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan dia, selain cara ini. “Tolong dengarkan aku untuk sekali ini, Wen. Aku tidak akan memintamu melakukan hal seperti ini lagi jika kita bertemu disana, nanti.”
Dia menggeleng semakin kuat, dan satu letusan senjata api di udara membuatku semakin gelisah. Mereka semakin dekat, dan aku masih harus membujuk Wendy agar dia mau melakukan rencana ini dalam waktu singkat yang terjepit
Kuraih tangannya, ku genggam sangat erat dan berkata, “Aku janji, aku akan datang menemuimu disana, Wen.”
Dia tersedu, dan itu membuatku pilu dan putus asa. Haruskah kami tetap bersama? Tapi, bagaimana jika dari kami tidak ada yang selamat? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Salah satu dari kami harus selamat, dan orang itu adalah Wendy.
Aku tersenyum, menggenggam erat telapak tangannya yang dingin, kemudian ku jatuhkan tatapan mataku pada telapak tangan kami yang bersatu, sembari berkata, “It's about you hold my hand, and don't left me alone in the dark heart. In the dark hurt. Please, don't!”
Aku meneteskan satu butir air mata dan jatuh tepat diatas genggaman tangan kami yang menyatu. Lalu aku kembali mengangkat wajah, tersenyum, dan melepas satu telapak tanganku dari genggamannya untuk mengusap airmata nya yang tidak mau berhenti mengalir.
Ku rekam dengan baik setiap detail wajah cantiknya agar aku bisa menyimpannya sebagai kenangan jika aku harus pergi ke neraka hari ini. Dengan begitu, setidaknya aku memiliki satu kenangan indah dan manis yang bisa ku bayangkan di sela siksa yang ku terima disana. Setidaknya, aku pernah hidup dengan bunga cantik yang paling indah di bumi, dengan senja yang paling cantik tiada tara seisi jagat raya. Wendyta Senja. Dialah keindahan yang terukir dan terpatri sampai mati, dalam benakku.
Lalu, kutarik telapak tangan lain milikku, ku berikan sebuah ungkapan dengan bahasa isyarat yang biasa dia berikan kepadaku. Mungkin dia menganggap aku tidak tau tentang arti Isyarat tersebut karena dia selalu membuat gerakan cepat agar tidak terbaca olehku. Namun aku sering melihatnya memperagakan itu, hingga membuat semuanya terekam jelas dalam otakku, dan berakhir mencari tau apa makna yang sebenarnya.
Kemudian,
Ku tunjuk diriku, lalu ku rapatkan kedua lengan menyilang didepan dada, setelah itu ku tunjuk Wendy dengan senyuman mengembang sempurna di bibirku, untuknya.
“I. Love. You.” []
...To be continue...
###
Selow tapi Melow 😭
Apa harapan kalian untuk ending cerita ini?
Silahkan tulis komentar kalian sebagai pertimbangan akhir apakah cerita ini harus berakhir sad, atau happy.
Terima kasih