Nightfall

Nightfall
Nightfall 28




...Nightfall by VizcaVida...


...|28|...


...Happy reading...


...[•]...


Aku mencoba mengecoh dua orang yang saat ini memperhatikan gerak-gerik ku dari dalam mobil putih yang ikut memasuki area parkir Mall yang ku jadikan tempat pelarian dari janji temu bersama Joni. Saat ini aku bisa melihat siapa yang ada didalam sana karena jarak tidak terlalu jauh. Walaupun tidak begitu jelas, tapi aku tau siapa mereka. Namanya Toni dan Heru. Mereka adalah sniper sekaligus eksekutor terbaik yang dimiliki bos Yoseph, selain Vino. Tembakan mereka tidak pernah meleset, dan selalu berhasil melumpuhkan target hanya dengan sekali tembak.


Ku selipkan ponsel di dalam saku jaket yang kugunakan, lalu aku menata ekspresi wajah agar tampak lebih natural. Ah, selain pandai membidikkan senjata api kepada lawan, mereka juga pandai membaca raut wajah seseorang yang sialnya, itu sangat merugikan untukku jika aku tertangkap basah mencoba mengalihkan mereka. Yang jadi pertanyaan dalam benakku, apa mereka akan menembak mati aku di tempat ini jika terendus berkhianat?


Semoga tidak. Semoga aku tetap bisa melanjutkan rencanaku bersama Joni untuk membongkar kasus besar yang melibatkan keselamatan para abdi negara.


Ku hembuskan nafas, lalu aku turun dari mobil. Kulewati mobil mereka, dan mempertahankan sikap seolah aku tidak sadar akan kehadiran mereka disini.


Sial! Aku jadi seperti buron saja.


Ku percepat langkah memasuki area mall dan menuju supermarket yang ada disana. Meski tidak membutuhkan apapun, aku menuju kesana untuk membeli beberapa barang sebagai pengalihan.


Saat ini sudah hampir setengah jam melakukan pengalihan perhatian yang ku lakukan. Aku harap Joni juga sudah berhasil menemukan cara untuk keluar dari sana, jika memang sedang di intai. Astaga, mengapa semuanya jadi seperti ini?


Aku menghela nafas disela kesibukanku mencari sesuatu yang sebenarnya tidak aku perlukan. Aku hanya meraih beberapa barang random dan memasukkannya ke dalam keranjang. Lalu berjalan memutar ke rak lain.


Perlu diketahui, aku sedang di buntuti oleh dua orang sekarang. Calm down, acuhkan. Anggap mereka tidak ada dan tidak kenal.


Akan tetapi, perhatianku teralihkan saat ponsel dalam saku jaketku bergetar singkat tanda pesan masuk. Tidak buru-buru, aku memilih tempat yang sedikit ramai dan memeriksa pesannya disana. Dari Joni.


Aku sudah keluar dari resto. Ada mobil merah sedang mengikutiku di belakang.


Aku nggak bisa pulang ke apartemen karena disana ada anak dan istriku. Mereka akan dalam bahaya jika aku nekad pulang kesana.


Ya. Aku paham situasi dan langkah yang harus ditempuh jika sudah dalam kondisi chaos seperti sekarang. Kamuflase, pengalihan, bahkan melawan terang-terangan bertaruh nyawa adalah pilihannya.


Aku pulang ke rumah lamaku.


Membaca pesan itu, aku semakin khawatir jika sampai Vino yang benar-benar membuntuti Joni. Temanku itu tidak pandang bulu. Dia selalu patuh pada perintah boss, karena pada dasarnya hanya dendam yang ia tampakkan ketika melakukan aksinya.


Vino adalah korban kekejian kedua orang tuanya, sebab itulah dia tidak lagi peduli pada perasaan orang lain karena perasaannya sendiri tidak dihargai. Dia dibuang dijalanan, lalu dipungut serta direkrut oleh bos Yoseph dengan penghidupan yang baik dan layak. Temanku itu tidak pernah menyesal jika nanti ia harus mati di tangan musuh, karena itulah jalannya untuk mati.


Buru-buru aku mengetik balasan,


Jangan pulang terlebih dahulu. Jika sampai dia menangkapmu, dia tidak akan segan mengakhiri hidupmu.


Vino sangat berbahaya


Aku bergegas mendorong keranjang belanja menuju kasir. Alamat lama rumah Joni, aku tau.


Sambil menunggu dua antrian didepanku, aku kembali mengetik pesan.


Jaga dirimu baik-baik


Aku tidak sedang berusaha menenangkan karena aku sendiri sedang diintai. Aku hanya ingin dia selamat sampai rencana kami membongkar kebusukan Yoseph berhasil.


Yang menjadi pertanyaan besar dalam benakku yang belum mendapatkan jawaban, untuk apa Yoseph melakukan semua ini? Siapa yang menjadi target sebenarnya antara Joni dan Wandi?


Ponsel ku kembali bergetar.


Tentu saja, aku sedang berusaha melakukannya


Aku tersenyum masam. Dunia ini kejam sekali. Lebih kejam dari yang kuduga selama ini. Mengapa orang-orang ini mempermainkan hidup orang lain?


Tentu saja untuk menunjukkan sebuah kekuasaan dan kekuatan. Ah, apa aku sekarang berubah bodoh? Mengapa pertanyaan bodoh seperti itu muncul saat aku sendiri tau jawaban apa yang ku seharusnya kudengar tanpa dijelaskan.


Tiba-tiba, beberapa pesan beruntun masuk kembali ke ponselku. Bukan Joni, melainkan nomor baru yang tidak ku kenal.


Aku mengerutkan kening saat ragu terhadap pesan tersebut.


Siapa?


Bagaimana bisa tau nomorku?


Haruskah ku buka dan ku lihat isinya?


Peduli setan.


Aku menyentuh nomor tersebut, kemudian muncul beberapa foto disana yang sontak membuat mataku terbelalak.


Dengan gerakan sangat cepat, aku menekan foto pertama. Gambar depan rumah Wendy. Foto kedua, gambar Wendy sedang berjalan keluar dari area rumahnya.


Gawat, Wendy mungkin dalam bahaya sekarang. Jadi, siapa orang yang mengambil foto ini?


Jika sampai terjadi sesuatu pada Wendy, aku tidak akan membiarkan lolos begitu saja. Akan ku kejar sampai ke ujung dunia, lantas ku buat dia pergi dari dunia. []


...To be continue...