
...Nightfall by VizcaVida...
...|41|...
...Happy reading...
...[•]...
Aku terlonjak, terperanjat dengan beberapa alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungku. Infus di salah satu urat tanganku menimbulkan nyeri diantara nyeri lain yang terasa begitu menyakitkan. Aku memegang kepalaku, menekannya pelan namun tidak membantu menghilangkan rasa nyeri itu agar menghilang.
Lalu, aku meneliti tempat yang kini didominasi oleh warna putih. Aku masih bingung mengapa aku bisa sampai di sini tanpa merasakan apapun.
Astaga, berapa lama aku pingsan?
Aku meraih jam tangan yang ada diatas nakas. Sekarang jam dua siang yang artinya, sudah hampir seharian aku tidur disini. Lalu Wendy? Dimana dia?
Menyadari itu, aku bergegas menarik diri. Bangkit dari ranjang bersprei putih bersih, lalu hendak turun dari ranjang. Akan tetapi, seorang perawat memergokiku, dan meminta kepadaku untuk kembali naik ke atas ranjang karena kondisiku yang belum stabil.
Seorang suster muncul dan menahan gerakanku. “Sebaiknya anda kembali berbaring kembali tuan. Kepala Anda terluka cukup serius. Harap membatasi gerakan terlebih dahulu sampai dokter memperbolehkan melakukan kegiatan lagi.”
Benar, sih. Aku baru saja bangun dari tidur yang cukup panjang. Dan sekarang, yang ingin kulakukan hanya melihat keadaan Wendy yang justru berbahaya dari kaca mata medis. Suster melarangku bergerak dan diminta untuk kembali berbaring.
Aku mengangguk paham, lalu tidak ingin menutupi rasa penasaranku. “Suster, apa disini ada pasien yang bernama Wendy?” tanyaku pada salah seorang suster yang sedang memeriksa keadaanku pasca pemulihan yang dilakukan pihak medis karena aku tau, aku tidak sedang sehat dan baik-baik saja. Kepalaku hampir remuk karena injakan manusia tidak beradab itu. Aku harap, mereka yang masih hidup membusuk di penjara.
Setelah suster melakukan pemeriksaan, dia meninggalkan aku sendiri. Namun tirai tempatku dirawat kembali terbuka. Papa muncul dari sana. Ia menatap sedih ke arahku. Dan ini pertama kalinya kami bertatapan setelah sekian tahun.
Dan satu hal yang membuatku tidak percaya, dan seperti di hantam meteor hingga tak bersisa adalah, papa menangis. Dia berjalan mendekat dan ... memelukku erat.
Aku tertegun dan tak memberikan balasan atas pelukan yang sebenarnya, jauh dalam lubuk hatiku, sangat aku rindukan. Ya, aku merindukannya. Pelukan dari orang yang sudah membuatku putus asa dan sakit hati. Orang yang sudah membuangku selama bertahun-tahun. Orang yang—
“Kenapa baru sekarang papa menemukanmu, nak?”
Nak? Mengapa baru sekarang? Apa papa sedang bercanda?
“Papa dan mama mencarimu selama bertahun-tahun lamanya. Dan mengapa baru sekarang kita dipertemukan?” lanjut papa yang masih membuatku diam bak beku. “Apa yang terjadi padamu?”
“Dimana mama?” tanyaku, disela sendu papa yang tak berhenti. Mungkin papa menyesal sekarang.
“Mama ... ” suara papa tersendat. Nafasnya seolah tertahan di tenggorokan. “Mama sudah pergi dari dunia untuk selamanya.”
Demi Tuhan, mengapa sekarang aku yang menyesal. Duniaku seakan runtuh saat mendengar berita jika mama telah tiada. Air mataku jatuh, tanpa ku minta. Perlahan tanganku mengapung ke udara. Aku memeluk papa. Aku merasa durhaka karena pergi karena egoku sendiri tanpa mau menengok mereka berdua yang papa bilang, menunggu ku pulang. Selama ini mereka mencariku, hanya aku saja yang menutup mata tak mau peduli.
“Papa dan mama minta maaf jika punya salah padamu selama ini.”
Aku tertegun. Papa meminta maaf adalah hal mustahil. Tapi hari ini?
“Papa minta maaf jika sudah membuatmu marah hingga pergi meninggalkan kami. Papa menyesal—”
Aku mengeratkan pelukan, meminta papa berhenti meminta maaf karena akulah yang bersalah. Akulah yang egois dengan cara meninggalkan mereka.
“Ken yang harusnya meminta maaf ke papa karena pergi tanpa pamit. Tolong maafkan Ken ya, pa?”
Papa menepuk punggungku pelan, menumpahkan air matanya dalam pelukan yang terjadi cukup lama. Hingga tirai kembali tersibak, dan presensi Joni muncul bersama dua orang berseragam coklat.
“Selamat siang, Ken.” sapanya padaku sambil memperlihatkan gestur hormat.
Melihat kedatangan Joni bersama dua polisi itu, papa melepas pelukan dan berdiri di sisi ranjang yang ku tempati.
“Mohon maaf mengganggu waktu anda berdua.”
Papa mengangguk paham, aku pun demikian.
“Pak Triono ingin menyampaikan sesuatu kepada saudara Kennedy Harris.”
Pria itu memberi hormat umum yang biasa di lakukan para abdi negara. Lantas ia berkata tegas dan lugas di hadapanku. “Selamat siang, saudara Kennedy Harris. Saya ingin menyampaikan jika saudara adalah tahanan kami atas kasus pembobolan uang yang anda lakukan bersama kelompok yang sudah kami tahan untuk saat ini.” kata si polisi berkumis tipis yang tadi disebut Joni bernama Triono. “Ini, surat penangkapannya.” lanjutnya menyodorkan selembar surat ber-kop lambang kepolisian negara.
Papa menatapku, dan aku membalas tatapannya dengan sebuah senyuman pasrah akan keadaan. Aku harus bertanggung jawab atas pilihanku setelah keluar dari rumah.
“Ken menjadi orang jahat setelah keluar dari rumah, Pa.” kataku mencoba memberikan penjelasan agar papa tau apa yang sebenarnya menghidupiku selama ini. “Maaf, sudah mengecewakan papa.”
Tidak marah atau menghajarku dimuka umum, papa justru merangkul tubuhku yang terasa nyeri dan ngilu itu sekali lagi. Dia menepuk satu lenganku dengan amat sangat lembut. Lantas berkata, “Jalani hukuman mu sebagai bentuk pertanggungjawaban. Papa bangga punya anak seperti dirimu, Kennedy Harris.”
Haru kembali menyapa telinga hatiku yang paling dalam. Aku tersenyum mendengar ketegaran papa membiarkan proses hukum memberatkan aku, agar aku tau, apa makna bertanggung jawab sesungguhnya.
Terlepas dari itu, aku ingin tau hal lain dari Joni. Aku menatapnya saat pelukan papa sudah terlepas. “Boleh aku bertanya sesuatu?”
Joni melangkah maju. “Silahkan.”
Aku menurunkan pandangan, merasa tidak berguna karena masih bernyawa dan tidak bisa melindungi Wendyta dari orang-orang jahat yang mencoba menyakitinya.
“Bagaimana keadaan Wendy?” tanyaku pada akhirnya. Wajahku kembali terangkat, pupil mataku dan Joni bertemu.
“Dia ... masih belum sadarkan diri. Dan sekarang, sedang dirawat intensif di luar negeri atas permintaan pak kepala polisi.”
Jantungku terasa berat untuk memompa darah. Kenyataan jika Wendy masih belum sadarkan diri begitu menyakitkan. Sedangkan aku sendiri, justru terbaring tidak berdaya juga disini.
“Apakah aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya setelah bebas nanti?”
***
Aku meninggalkan rumah sakit setelah hampir satu bulan menjalani perawatan medis akibat cidera kepala yang kualami.
Sekarang, aku berjalan melewati lobby rumah sakit dengan keadaan kedua pergelangan tangan dililit borgol, dan di kawal beberapa polisi untuk menuju mobil tahanan yang akan membawaku ke rutan.
Selama satu bulan juga, tidak ada kabar yang bisa ku dapatkan mengenai Wendy. Joni tidak memberi tahu karena ayah Wendy tidak memberinya izin.
Mau bagaimana lagi? Memaksa pun sulit hingga aku memilih untuk diam dan melanjutkan hidupku. Menganggap tidak pernah terjadi apapun, dan juga tidak pernah mengenal Wendy, adalah jalan terbaik agar hidupku kembali tertata.
Jika memang Tuhan mengizinkan kami bertemu lagi suatu hari nanti, aku ingin bertemu dengannya di kala senja, saat malam hendak merengkuh bumi, berpegangan tangan, saling tersenyum, dan pada akhirnya tau akan perasaan masing-masing
Hanya itu permintaan kecilku jika Tuhan memang memberiku kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan gadis baik yang telah membuatku kembali ke jalan yang sekarang ingin ku tempuh. Aku ingin menjadi orang baik, memperbaiki diri, dan mencintainya di kala senja datang saat kami bertemu kembali nanti.
This story not about happier ever, but ...
It's about how you hold my hand and left me alone in the dark heart.
And then,
With love, with your beautiful smile, in the beautiful Nightfall. []
...To be continue...
###
Akankah do'a Kennedy a. k. a. Ale terkabul?
Nightfall episode terakhir akan meluncur secepatnya. Jadi jangan lupa untuk mengikuti kelanjutan cerita Ale-Wendy sampai akhir ya teman-teman pembaca sekalian ☺️
Ah hampir lupa.
Sekedar mengingatkan, jika author Vi's akan merilis cerita baru setelah Nighfall tamat. Jika tidak keberatan, mampir juga di cerita baru Vi's nanti ya ❣️
Terima kasih,
See you.