
Warning!!
Bab ini berisi adegan baku tembak, kata kasar, ke-ke-r4-s4n, dan beberapa hal lain yang perlu disikapi dengan bijak. Bagi yang tidak nyaman terhadap adegan yang telah di sebutkan di atas, dimohon untuk men-skip bagian ini.
Terima kasih.
...Nightfall by VizcaVida...
...|35|...
...Happy reading...
...[•]...
“Satu disana, dan satu disana.”
Ada dua sniper yang berada di tempat tersembunyi. Aku harap, aku bisa lolos dari kepungan mereka dengan raga dan nyawa yang utuh.
Kutarik pelatuk, dan satu letusan senjata dariku, menumbangkan penembak jitu yang ternyata tidak dapat menemukan keberadaan ku.
Aku melihat Yoseph sedikit terkejut, tapi kemungkinan besar itu hanya sebagian dari rencananya saja. Tidak ada hal mustahil dalam dunia gelap yang sudah ku lalui ini. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga, yang akan terjadi jika aku lengah barang sedikit saja.
Aku mulai membidik satu persatu orang yang ada di sekitaran Yoseph.
“Ale, jangan bermain-main dengan papa, nak.”
Tak ku pedulikan suara permohonan palsunya itu. Dia hanya mencoba memanipulasi agar aku kembali dalam genggamannya.
Ku lesatkan satu lagi peluru tepat di kepala orang yang ada di samping Yoseph hingga pria itu jatuh tersungkur meregang nyawa. Mata pria yang ku panggil papa itu terbelalak, nyaris melompat keluar dari tempatnya karena aku berhasil membuat kacau keadaan tanpa ada yang tau keberadaan ku.
Mungkin sekarang Tuhan masih berpihak kepadaku, dan aku berharap sampai semua ini berakhir.
Ku perhatikan Vino yang memegang satu sisi telinganya, dia sedang berbicara dengan seseorang melalui earpiece. Mungkin mereka tidak menduga jika aku bisa melakukan hal seperti ini, terutama bos Yoseph yang selama ini menganggapku seperti pria lurus yang gampang diurus.
Aku kembali tersenyum sinis ketika melihat Vino membawa Yoseph untuk mencari perlindungan. Tak ku sangka jika temanku itu, begitu setia kepada tuannya. Aku harus memberinya tepuk tangan yang meriah jika masih diberi kesempatan untuk bertatap muka lain waktu.
Melihat mereka bergerak mundur, aku pun bergerak menjauh. Tetap, tidak boleh gegabah dan senyap. Jika tidak, alamat benar-benar pergi ke neraka detik ini juga.
Oh, hampir lupa. Aku harus membereskan satu sniper lagi yang masih mengintai. Atau usahaku akan sia-sia.
Ku arahkan sekali lagi bidikan senjataku ke arah jam dua. Alisku mengerut saat tak mendapati orang itu disana. “SIAL!!!” umpatku dengan rahang mengeras karena aku salah ambil langkah. Harusnya sudah ku habisi orang itu sejak awal. Jika begini, aku harus lebih waspada lagi agar tetap bertahan hidup.
Aku bergerak mundur membuat perlindungan untuk bertahan. Kujauhi perlahan tempat itu agar Wendy tersusul sedikit demi sedikit menuju tempat aman.
Ah, tidak. Sniper itu membahayakan, aku harus melenyapkannya terlebih dahulu agar pergerakanku lebih leluasa.
Ku cek lalu mengisi kembali revolver yang sudah berkurang amunisinya. Lantas kucari lagi target, hingga satu peluru meleset mengenai pohon Pinus di sisi ku.
“Sial!!” bisikku mengumpat. Dia sudah menemukanku, namun berbanding terbalik karena aku tidak melihatnya berada dimana. “Ck! Dimana dia?”
Ku telusuri setiap celah, lalu ... kutarik pelatuk dan bunyi letusan kembali mengudara. Meleset, tidak tepat sasaran dan jelas ini akan menyulitkan aku karena amunisi milikku sangat terbatas. Otakku berfikir keras bagaimana cara menghemat peluru yang kumiliki. Aku harus bertahan, setidaknya sampai ada bantuan yang datang kesini untuk menangkap Yoseph dan orang-orangnya.
Mataku memeta, mencari tempat untuk datang mendekat pada sniper tersebut sekaligus menghabisinya dengan tangan kosong. Tapi, aku juga harus berhati-hati jikalau tiba-tiba Yoseph membawa orangnya lebih banyak, atau menggunakan Vino sebagai Shield nya untuk melumpuhkan pergerakanku.
Langkahku bergerak perlahan. Sebisa mungkin aku membuat gerakanku tak tertangkap oleh bidikan si sniper sialan yang mungkin sedang mengintai ku tanpa mau melepaskan.
Aku cukup bagian sangat waspada, beruntungnya tidak ada Yoseph disekitar sini. Ternyata Vino membawanya pergi entah kemana.
Satu gerakan, aman. Gerakan kedua lolos. Hingga akhirnya aku sampai di balik punggungnya, aku bergerak mendekat tanpa suara. Lalu, dengan sekuat tenaga ku lingkarkan lenganku di lehernya. Kutekan kuat sampai pria itu berhenti bernafas.
“Ya Tuhan. Maafkan aku.” bisikku merasa bersalah, namun juga harus tega. Jika tidak membela diri, aku sendiri atau bahkan Wendy yang akan menjadi sasaran mereka.
Aku bangkit dari simpuhan yang kulakukan, Akan tetapi ...
“Masih ingin lanjut bermain?” katanya, sambil menodongkan senjata di balik kepalaku. []
...To be continue ...