
...Nightfall by VizcaVida...
...|21|...
...Happy reading...
...[•]...
Aku mendapat sambutan baik dari ayah Wendy. Kedatanganku kali ini sudah tidak lagi mendapatkan tatapan tajam mengerikan seperti sebelumnya. Wendy juga bercerita padaku, jika dia sudah memberitahukan kepada sang ayah jika kami, berteman. Mungkin itulah alasannya sekarang aku diterima baik disini.
Berbekal nekad, aku meminta izin kepada pak Wandi untuk mengajak putri semata wayang dan kesayangannya itu pergi keluar. Tidak ada larangan ataupun penolakan dari beliau, dan kami pun pergi dengan mudahnya.
Tidak ada niatan buruk apapun yang aku susun di kepala, aku hanya mengajak Wendy untuk jalan-jalan di sekeliling pantai, kemudian makan malam, dan ... shiiiiiit!! Dompetku ketinggalan. Fu*ck!!
What should I do?
Tidak mungkin aku meminta Wendy untuk membayarnya. Tidak mungkin lagi jika aku harus meninggalkan dia disini sendirian menunggu, sebagai jaminan ketika aku pulang mengambil dompet di rumah. Ah, ini gila.
Tapi, otak cerdikku ku gunakan kali ini. Aku meminta izin pergi sebentar kepada Wendy, kemudian datang diam-diam mendekati kasir dan mengajaknya melakukan sebuah kesepakatan. Ku serahkan kartu tanda pengenal padanya, lalu ku yakinkan mbak-mbak kasir itu jika aku akan benar-benar kembali kesini dan tidak menipunya. Sumpah, aku malu sekali hari ini. Mau ditaruh dimana muka ku kalau sampai Wendy tau aku tidak membawa dom—
Tiba-tiba, sebuah buku catatan tersodor di depan mbak-mbak kasir. Aku seketika membeku karena aku mengenal dengan baik siapa pemilik buku catatan tersebut, dan tentu saja ... aroma lembut vanilla yang terhirup oleh hidungku. Aku menoleh ke arah samping, dan mendapati Wendy tersenyum manis ke arah mbak kasir, lalu menulis lagi di buku catatan miliknya. Aku? Aku tidak diam saja dong, aku berusaha menahannya.
“Nggak perlu. Biar aku yang bayar.” kataku sambil menunjuk diriku dan menunjuk bill yang sudah dicetak dan terbujur tak berdaya diatas meja. Astaga, malu sekali.
Wendy menggelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan dompet dan menarik sebuah kartu debit dari salah satu slot dompet berwarna cream miliknya, lantas menyodorkannya kepada mbak kasir.
“Wen ... ” panggilku putus asa bersama rasa yang sudah tercampur aduk antara malu dan lain-lain. Tapi dia justru menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri sebagai isyarat agar aku diam dan membiarkannya membayar seluruh tagihan yang seharusnya menjadi tanggunganku.
Ini adalah pengalaman memalukan pertama yang ku buat. Sangat-sangat memalukan.
Pada akhirnya aku mengangguk dan meraih buku catatannya kemudian menulis, Baiklah, aku ganti kalau kita ketemu lagi. Kirim nomor rekening kamu ke WhatsApp ku. Dia hanya mengembuskan nafas, lalu tersenyum manis kepadaku. Wendy, kenapa kamu bersikap seperti ini? Jantungku jadi berdebar lagi. Apa aku memerlukan pertolongan dokter? Atau melakukan terapi pemeriksaan, atau sejenisnya? Agar jantung ini tidak lagi berdegup kencang seperti ini saat bersama kamu?
Omong kosong jika aku berkata tidak suka, aku sangat suka saat berdua bersamanya seperti ini. Terasa nyaman. Tapi entah mengapa, aku juga merasa ada sebuah tembok kokoh yang terbangun diantara kami. Tembok tak kasat mata yang suatu saat dapat roboh dan menyakiti salah satu dari kami. Ya Tuhan mengapa sulit sekali percaya padahal aku sudah merasakannya?
Cinta?
Ya. Cinta. Aku merasakannya, namun semua masalalu seolah memaksaku untuk mundur teratur dan menganggap semua hanya perasaan palsu yang penuh dengan omong kosong.
Sekarang, kami sudah berada didalam mobil. Wendy memasang seatbelt nya dengan tenang, tapi aku tak sanggup menatapnya karena terlalu malu. Bisa-bisanya aku yang mengajak dia keluar, tapi dia yang membayar tagihan makan karena kecerobohanku? Oke, mari belajar dari pengalaman hari ini. Cek kembali barang-barang yang diperlukan sebelum keluar rumah. Contoh gampangnya, dompet. Aduh, aku ingin memaki dan menertawakan kebodohanku sendiri. Aku terasa seperti tidak lagi memiliki harga diri didepan Wendy.
Aku memberanikan diri menarik perhatian Wendy dengan menepuk kecil pundaknya, kemudian membuat gerakan meminta maaf dalam bahasa isyarat. Aku mengepal telapak tangan kananku di depan dada, kemudian memutarnya searah jarum jam. Cukup ragu, tapi semoga saja benar.
Melihat aku melakukan itu, Wendy lagi-lagi tertawa. Tawa yang seolah mengandung gula dan caffeine secara bersamaan, seakan menjadi candu di ingatan juga penglihatanku.
Wendy mengangguk, lalu menatap lututnya sembari menyelipkan anakan rambutnya ke belakang telinga. Gerakan klise yang jelas sekali terbaca artinya, dia sedang gugup sekarang.
Mencoba mencari cara agar suasana tidak semakin canggung, akupun mulai menarik tuas rem tangan dan mengatur posisi gear dari netral ke gigi satu. Mobil melaju pelan dengan kecepatan tidak mencapai 50km/jam. Aku sengaja, agar kami bisa bersama sedikit lama.
Tapi, tiba-tiba sesuatu terdengar cukup keras menghantam kaca jendela, amat sangat mengejutkan ku. Kulihat ada dua orang memakai helm tertutup, memukul kaca mobil tepat di sampingku. Untung saja tidak sampai pecah. Aku hampir mengumpat, namun waktu lebih ku gunakan untuk mengawasi siapa dua orang pengendara motor yang melakukan itu pada mobilku.
Setelah dua orang itu benar-benar pergi dan menghilang dari pandangan, aku menyempatkan diri melirik Wendy yang ternyata terlihat syok berat dengan manik mata membola dan ekspresi terkejut. Mungkin dia juga merasa ketakutan pada apa yang baru saja kami alami. Ku putuskan untuk menepi sebentar dan menenangkan dia.
Kuraih telapak tangan kanannya, ku genggam erat agar dia tidak perlu khawatir atau takut, karena ada aku. Mata kami bertemu hingga pada detik selanjutnya, Wendy menatap telapak tangan kami yang bersatu. Sadar sudah melakukan hal terlalu jauh, aku buru-buru melepas dan menjauhkan telapak tangan ku darinya. Ku raih ponsel di saku celana dan mencoba mengirim pesan padanya.
Maaf. Aku hanya tidak ingin kamu merasa ketakutan dan khawatir terjadi sesuatu pada kita. Aku akan berusaha melindungimu, Wen.
Dia membacanya, lalu menulis jawaban pada buku catatan. Ayo kita pulang.
Sesimpel itu hingga membuatku tak banyak bicara dan menuruti kemauannya begitu saja. Aku kembali menjalankan mobil dan berniat mengantarnya pulang.
Nahas, dua orang yang tadi memukul kaca mobilku, menghadang kami di jalanan yang memang cukup sepi. Menghadapi seperti ini, sudah hal biasa bagiku. Aku tidak takut sama sekali karena aku, pernah mengalami kejadian yang jauh lebih menakutkan dari pada yang sekarang.
“Tunggu disini!” titahku pada Wendy sambil menunjuk tempat duduknya, dan dia mengangguk dengan raut wajah khawatir.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Ku ayunkan langkah kaki sedikit lebar untuk segera berdiri didepan mereka, lalu bertanya,
“Apa yang kalian inginkan?” kataku tegas penuh intimidasi. Apa mereka tidak tau siapa aku? Ah, jangan terkejut jika aku terkenal di dunia gelap kami. Apalagi, jika sudah menyebut nama Yoseph.
Mereka hanya diam tidak menjawab, setelah itu saling tatap sejenak.
“Siapa yang menyuruh kalian, huh?!” tanyaku dengan nada meninggi, agar semua clear. Aku tidak ingin menerka apalagi sampai salah paham menuduh orang yang seharusnya tidak aku ikut sertakan dalam dugaan-dugaan yang muncul di dalam kepala.
Satu dari dua orang tersebut mendekat, lalu berdiri dengan keadaan kaca helm terbuka dan menampakkan sepasang mata yang sepertinya tidak asing.
Benar saja,
“Bos minta agar kamu tidak lupa tujuanmu. Apalagi sampai dekat dan menjalin hubungan khusus dengan anak si polisi itu.”
Aku tersenyum disudut bibir. “Sampaikan pada bos,” Aku sengaja menjeda untuk berfikir kalimat apa yang seharusnya menjadi kelanjutan. Aku tidak ingin membuat Wendy terluka, atau sampai celaka. “ ... sampaikan jika aku tidak akan melakukannya!”
“Dan satu hal lagi.”
Aku mendengarnya dengan seksama.
“Jangan membuat Lili terluka dan sakit hati jika tidak ingin perempuan itu dalam bahaya.”
Seketika itu, duniaku bak di sambar petir di siang bolong. Ini sebuah ancaman yang entah siapa yang berkata. Bos sendiri, atau Lili?! mengapa sampai sejauh ini?
Akan tetapi, ini adalah risiko.
“Aku tau apa yang aku lakukan! Jadi bilang pada siapapun yang menyuruh kalian mendatangi ku, untuk tidak perlu khawatir. Karena aku ... tau apa yang seharusnya aku lakukan.” []
...To be continue...
###
Yang manis-manis dulu lah sebelum ... duarrrrr—psyu—psyu 😉