
...Nightfall by VizcaVida...
...|20|...
...Happy reading...
...[•]...
Kennedy Harris,
Nama yang sudah lama berusaha ku kubur bersama kenangan malam itu. Malam dimana aku hampir mati karena dua orang yang aku sayangi. Yup, siapa lagi memangnya selain mama dan papa?
Malam itu mereka saling serang, melempar kesalahan satu sama lain hingga berakhir papa melakukan kekerasan terhadap mama.
Aku yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, hanya bisa berusaha untuk tidak ikut campur atau melerai dua orang dewasa yang sedang memperjuangkan ego mereka masing-masing. Aku mencoba menutup telinga, memejamkan mata agar semuanya menjadi tak terlihat dan tak terdengar untukku. Tapi nahas, teriakan kesakitan mama saat itu membuatku mau tidak mau menuruni anak tangga satu persatu untuk memastikan jika tidak terjadi apapun pada wanita yang telah mengandung dan melahirkan aku itu.
Awalnya, keluarga kami harmonis, bahagia, dan tidak pernah ada pertikaian apapun seperti saat itu. Papa dan mama menikah atas dasar cinta, tanpa unsur paksaan apalagi di jodohkan—katanya. Mereka saling mencintai sejak duduk di bangku kuliah. Tapi apa? Pasangan di mabuk asmara dimasa muda ini, pada akhirnya justru mengenaskan. Mama mendapat pukulan hingga babak belur dari papa malam itu. Aku yang melihatnya tentu saja tidak ingin terjadi sesuatu pada mama dan memilih melerai mereka, menjadi penengah agar papa tidak lagi melakukan kekerasan kepada mama. Akan tetapi, dari sanalah semuanya berawal.
Aku mendengar semuanya, dari mulut mama dan papa.
Ini semua gara-gara kamu! Mama tidak akan menikah dengan pria brengsek ini jika mama tidak hamil kamu di luar nikah karena pria gila itu!
Kata mama. Aku yang sudah hampir meraih pundak mama, terhenti begitu saja karena ucapannya. Sakit hati? Tentu. Siapa juga yang ingin dilahirkan atas kejadian dan kondisi demikian?
Apa kamu bilang? Pria gila? Kamu yang gila! Kalau aku miskin, kamu tentu tidak akan mau tidur dan menikah denganku bukan? Kamu tidak mencintai aku! Kamu hanya mencintai hartaku. Buktinya, sekarang kamu punya laki-laki lain selain aku-kamu?
Jadi, permasalahan mereka adalah memiliki tambatan hati lain. Sialan sekali, kan? Dua orang dewasa, bertengkar didepan seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, membahas tentang perselingkuhan. Luar biasa.
Otak anak-anak milikku saat itu, hanya mampu menyimpan kalimat-kalimat tersebut dalam otak, dan baru memahaminya saat usiaku menginjak remaja. Aku kira, orang yang saling mencintai akan bahagia selamanya karena cinta. Aku kira, dengan hadirnya diriku lah keluarga ini bahagia. Tapi apa? Semua itu tidak benar. Hal ini yang membuatku tidak percaya lagi apa itu kata cinta. Love is bullshi**t.
Aku ingat saat itu aku sempat membuat mereka bungkam untuk sesaat sebelum satu pukulan keras mendarat di tubuhku yang ringkih.
Jadi ... ini semua salahku, Ma? Pa?
Ya. Itu yang aku katakan dan aku menyesal mengatakannya sebab tidak ada jawaban dari mulut keduanya untuk mencoba membuatku kembali percaya pada mereka. Sayangnya, sebuah pukulan keras dari mama menyadarkan aku, jika jawaban yang aku butuhkan, sudah aku dapatkan. Mereka tidak mengharapkan aku. Mereka menikah, hanya karena kehadiranku yang tidak mereka sangka dan tidak mereka harapkan. Lalu mama rela menjual dirinya demi harta mentereng yang dimiliki papa. Miris bukan? Itulah alasan mengapa aku memutuskan lari dan mencari kenyamanan lain untuk pelampiasan.
Memori kelam bagaimana mataku tiba-tiba berkunang tapi aku berusaha bangkit, disusul darah segar yang mengalir dari hidung ku, mama semakin histeris dan memelukku lagi.
Sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah menyangka jika dua orang yang selama ini ku sayangi, ku percaya, dan mereka juga selalu mencurahkan semua kasih sayang padaku, ternyata palsu. Mereka tidak menginginkan diriku, sama sekali tidak. Dan untuk pelukan yang diberikan mama untukku, terasa tidak sehangat sebelumnya. Semua berubah hambar.
Ku tarik diriku menjauh dari mama, berusaha bangkit namun semuanya berubah gelap. Aku terbangun disebuah ruangan khusus dengan beberapa alat yang tertanam di tubuhku. Rasanya sakit, mengerikan, apalagi saat aku mendengar,
Ini sudah hari ke lima belas, tapi kami masih belum melihat perkembangan apapun yang ditunjukkan oleh putra anda, tuan dan nyonya Harris. Luka hantam di kepala bagian belakangnya sangat parah. Dia bisa bertahan sampai hari ini pun, adalah sebuah anugrah besar yang diberikan Tuhan untuk anak anda.
Dokter yang menangani ku berkata demikian. Setelah itu aku mendengar mama menangis, tapi hatiku rasanya sudah beku. Tangisan itu sama sekali tidak membuat ku tenang, tapi justru menimbulkan dendam diantara rasa kecewa yang sudah tertanam.
Kemungkinan terburuk, dia tidak akan bisa selamat jika keadaan vi-talnya semakin menurun. Atau opsi lainnya, kita hentikan seluruh prosedur pengobatan dan merelakan putra anda kembali ke pangkuan sang pencipta. Putra anda pasti sangat tersiksa saat ini, pak Harris.
Aku terkejut bukan main dengan telapak tangan mengepal sempurna. Semua sempat diam beberapa saat dan hanya terdengar bunyi defibrillator yang terhubung dengan tubuhku yang memenuhi ruangan. Kalian tau, apa jawaban yang ku dengar saat itu?
Lakukan opsi yang kedua, dok. Saya tidak ingin membuatnya tersiksa lebih jauh dari ini.
Papa yang mengatakan itu. Dan entah mengapa, maksud dan tujuan dari kalimatnya itu terdengar berbeda dengan apa yang dia katakan, di telingaku.
Apa kamu gila?
Hera! Kamu akan semakin menyiksa Ken jika terus membiarkan dia dengan keadaan seperti itu!
Aku mendengar dengan jelas perdebatan mereka. Aku memejamkan mata dengan airmata yang sudah tak dapat ku bendung lagi. Usiaku mungkin masih dikatakan belum paham apa itu prosedur yang dimaksud. Tapi satu arti yang dapat ku tangkap saat itu, mereka tidak mengharapkan aku lagi, karena setelah mendengar teriakan papa, mama hanya diam. Mereka tidak lagi menginginkan kehadiran Kennedy Harris diantara mereka. Untuk itu aku bersumpah, akan meninggalkan mereka tanpa harus menggunakan nama yang tersemat selama sepuluh tahun lamanya padaku itu.
Hingga akhirnya pada sebuah kesempatan, aku berusaha sekuat tenaga menahan sakit, untuk meninggalkan rumah sakit yang sedang merawatku. Aku melepas paksa semua alat yang masih berada di tubuh ku, kemudian pergi diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dari sana, karena dua orang yang sepertinya memang tidak pernah ada untukku itu, tidak ada di sisiku.
Aku pergi dengan kondisi yang mengenaskan. Kepala diperban, perut kelaparan, dan tubuh yang masih terasa sangat lemah. Aku berfikir, akan lebih baik jika mati dalam keadaan seperti ini daripada didepan mata mama dan papa. Ya, mereka lah yang ingin aku mati dengan menghentikan prosedur pengobatan, tapi aku tidak akan sudi mereka yang melakukannya. Aku akan mati, dengan caraku sendiri. Itu yang adalah janjiku pada diriku sendiri.
Lalu, seseorang dengan baik hati mengulurkan tangan ketika aku sudah sekarat. Dia membawaku dan memberikan pengobatan yang jauh lebih kayak dari kedua orang tuaku sendiri, membesarkan ku, dan membuat nama baru untuk ku, Admond Halley, atau yang lebih kalian kenal dengan Ale. Nama yang unik, dan aku menyukainya.
Sejak saat itu, hidupku terasa lebih tenang karena semua kebutuhanku terpenuhi oleh orang baru bernama Yoseph yang datang seperti malaikat penyelamat.
Tapi sekarang? Sudah cukupkah aku membalas semuanya? []
...To be continue...