Nightfall

Nightfall
Nightfall 25




...Nightfall by VizcaVida...


...|25|...


...Happy reading...


...[•]...


Ruangan kedap suara ini begitu sunyi. Tidak ada suara apapun termasuk suara kami yang sedang sibuk mencerna sesuatu. Kemudian, suara Joni kembali mengudara.


“Jadi, tujuanmu mendekati Wendy untuk mengorek informasi kepolisian dari pak Wandi?”


“Pada awalnya seperti itu. Tapi sekarang aku—”


Aku cukup terkejut saat dia menarik pelatuk revolver dan membidikku sebagai target. Ah, sudahlah. Toh ini risiko. Aku harus menghadapinya. Ini bagian dari konsekuensi besar yang harus ku terima.


Aku menurunkan kedua lenganku dan melipatnya santai diatas meja, menatap sorot elang pria muda yang berprofesi sebagai detektif itu secara intens.


“Aku tau, kalau aku adalah orang yang bersalah disini. Tapi aku tidak ingin melukai siapapun, apalagi ... Wendy. Dia gadis baik yang tidak pantas diperlakukan buruk oleh orang sepertiku.” sambungku mencoba melanjutkan penjelasan tentang tujuanku mengatakan hal ini kepadanya.


“Bos kami sedang memiliki satu rencana besar yang tidak aku ketahui juga. Dia tidak mau memberitahukan tujuannya secara detail mengapa aku harus mendekati kalian.” tuturku pelan.


“Yang pasti kamu dan mereka akan menyalah gunakan informasi kami untuk kepentingan jahat.”


“Ya, aku tidak memungkiri hal itu. Tapi untuk sekarang, bos kami benar-benar tidak mau membuka alasannya kepadaku. Aku hanya menjadi orang yang dia percaya untuk mengorek informasi tentang kalian berdua.” lanjutku menerangkan. Dan aku bisa melihat dia menurunkan senjata api yang sempat ia todongkan didepan wajahku, lantas menyimpannya kembali di balik saku jaket kulitnya. “Aku memberitahu kalian, karena aku sudah muak berada dalam lingkaran penghianat yang mereka buat. Tapi, semua ku pertaruhkan, termasuk hidupku sendiri untuk membongkar kebusukan mereka.”


“Jadi, kamu memilih memberi tahuku agar aku bisa membongkar kejahatan mereka.”


Aku menjentikkan jari dan menyetujui isi kepalanya yang sama sekali tidak meleset. “That's true. Itu poinnya! Anda benar tuan.”


“Lalu, apa motif mu memberitahuku, selain memintaku menjadi Shield mu. Melindungi Wendy?”


Tebakannya tidak salah lagi. Aku memajukan bibir dengan kepala mengangguk kecil. “Kurang lebih seperti itu.” jawabku mencoba mengalihkan diriku sendiri agar tidak malu. Aku masih ingin menyangkal perasaanku sendiri agar tidak membahayakan Wendy semakin jauh.


“Apa posisimu disana?”


“Aku?” tanyaku sembari menunjuk diriku sendiri. Nahasnya Joni tidak memberikan jawaban, dia hanya menatap lurus padaku. “Aku penyedia dana, tapi bukan uangku sendiri yang ku gunakan untuk memberi mereka dana.”


Joni sempat mengerutkan kening. Mungkin sedang mencerna maksud kalimatku yang ribetnya minta ampun. “Maksudku—” kalimatku terjeda, mataku menatapnya yang terlihat masih kebingungan. Hingga akhirnya kuhela nafas panjang dan berkata, “Aku salah satu hecker yang bertugas membobol uang nasabah—”


“Ah, jadi kamu orangnya? Masa tahananmu akan sangat lama.” celetuknya membuatku seketika membolakan mata. Bukan masalah masa tahanan, tapi entah mengapa kata-kata yang diucapkan Joni terdengar lucu di telingaku. Aku tertawa renyah hingga tanpa sadar bertepuk tangan. “Kenapa tertawa? Aku tidak sedang bercanda.”


Aku tidak peduli pada ancaman pidana yang ia tekankan. Aku hanya ingin tertawa. Sudah lama aku tidak tertawa sebebas ini, selain bersama Wendy. Ah, gadis itu lagi yang muncul dalam ingatanku. Astaga naga.


“Bahkan tuntutan terberatnya, kamu bisa dijatuhi hukuman ma—”


“Ya, aku tau.” sahutku cepat bak kikat. “Aku tidak akan meminta keringanan apapun dari pengadilan soal pidana yang akan di berikan padaku jika semuanya sudah tuntas, nanti. Hakim dan penuntut bebas memberikan dan menjatuhiku hukuman berat. Aku tau konsekuensinya, tuan Joni.” kelakarku yang disambut tawa kecil di bibirnya.


“Kamu orang jahat. Tidak pantas untuk gadis sebaik Wendy.”


Aku tertawa miris. “Anda benar lagi. Untuk itu, saya harap anda dan pihak kepolisian segera membongkar pusaran kejahatan mafia seperti mereka. Sebelum benar-benar ada korban jiwa akibat tindakan mereka.”


“Kamu memberitahuku agar kamu tidak ikut di tangkap karena berjasa membongkar aib mereka? Begitu?” katanya. “Kamu salah jika berfikiran seperti itu, brother. Kamu akan tetap di proses hukum untuk menebus kesalahanmu sebelumnya, meskipun sekarang sudah membantu pihak berwajib untuk membongkar masalah serius ini.”


Aku tau, dan aku siap menerima hukuman apapun yang akan di jatuhkan padaku.


“Tidak. Aku akan menghadapinya. Aku tidak meminta imbalan apapun atas tindakan dan keputusan yang ku ambil ini.”


Tebakanku, mungkin Vino melakukan sebuah kesalahan yang menimbulkan kecurigaan dari pihak bank, kemudian orang yang bersangkutan melaporkan kepada pihak polisi, menimbulkan kecurigaan , lalu berakhir semuanya terendus oleh pihak yang berwajib dan diselidiki karena kasus ini, termasuk kriminal yang merugikan dan berakibat fatal untuk orang lain. Ah, temanku itu tidak bisa bekerja rapi seperti yang kulakukan. Padahal aku sudah memberinya contoh dengan baik. Atau mungkin, mereka sedang apes? Ya, mungkin apes.


“Kalau begitu, beri kontak yang bisa aku hubungi.”


Terlalu berisiko. Aku orang yang tau banyak dan berkecimpung di dunia yang sudah bergerak mengukuti kemajuan teknologi. Vino bisa saja sudah menyadap nomor telepon milikku atas perintah bos, untuk kepentingan mereka. Tentu saja, tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi di luar kesadaranku.


“Aku tidak membawa ponsel.” jawabku jujur. Sengaja memang, aku tidak membawanya, karena Yoseph pasti memantau semua gerak-gerikku. “Nomor lamaku pasti sudah di sadap tanpa sepengetahuanku, aku tidak bisa memberi anda kontak ku sekarang, lain waktu jika bertemu di rumah saja. Aku harus memiliki provider baru agar Yoseph tidak tau apa yang kita bicarakan.” jawabku profesional. Jujur, aku agak sedikit ragu jika Yoseph tidak tau akan hal seperti ini. Tapi, apa salahnya mencoba? Demi kebaikan.


Pria itu setuju dan menganggukkan kepala.Ku coba sekali lagi menawarinya minum teh bersama. Ini pertama kalinya aku menjadi orang yang terbuka dan baik, semoga saja tidak menjadi yang terakhir.


“Minum tehnya dulu. Enak banget lho.”


“Masih sempat kamu menawariku minum teh di saat suasana runyam begini?”


“Hidup itu simple, pak. Jangan dibikin susah. Itu kuncinya.” celetukku mengundang tawa kami berdua.


Benar bukan? Tidak ada hal yang sulit sebenarnya, hanya menunggu bagaimana kita menyikapi dan menanggapi semua yang ada didepan mata. Jika nanti ada masalah, tinggal mencari solusinya, lalu hadapi. Ini yang disebut laki-laki, dan ini jugalah yang menjadi prinsip hidupku selama menjadi budak manusia lainnya. Ajaibnya, prinsip ini begitu mujarab. Semua yang ku hadapi, selalu berjalan baik tanpa kendala.


Ku raih telinga cangkir, mengangkat dan menyesap teh yang sudah agak dingin. Diseberang, Joni juga menuang teh kedalam cangkir dan mulai meminumnya juga. Kami nge-teh sambil bicara banyak. Tentang strategi selanjutnya, itu yang utama.


Aku harap, dengan begini semua akan baik-baik saja. Terutama, untuk Wendy.


***


Seperti akan meledak, itu yang kurasakan di kepalaku setelah aku sampai di rumah. Buru-buru aku membuka laci nakas di samping ranjang dan mengeluarkan sebutir obat yang ku beli tadi, saat perjalanan pulang dari cafe setelah berbincang lama dengan Joni.


Ku langkahkan kaki menuju meja makan dan menuang minuman, lalu menenggak obat yang kubawa.


Rasa nyeri yang menyiksa itu membuatku hampir jatuh terhuyung, namun Tuhan sepertinya masih sayang kepadaku. Aku berhasil meraih salah satu kursi dan jatuh terduduk disana, dengan kepala yang sudah jatuh diatas meja.


Keringat dingin mulai bercucuran di kening bahkan seluruh pori-pori tubuh. Kuraih tepian T-shirt yang ku pakai, ku remat kuat untuk menyalurkan rasa sakit itu agar aku bisa bertahan. Ku pejamkan mata dengan rahang mengerat kuat sembari mengatur nafas yang sudah mulai tidak terkontrol interval nya. Aku terengah, ingin pingsan. “Mama ...” []


...To be continue...


###


Orang yang pertama kali diingat seorang anak adalah, orang tua—terutama, ibu.


Sekian.