
...Nightfall by VizcaVida...
...|17|...
...Happy reading...
...[•]...
“Seandainya dia mendekati kami, apa kamu masih mau berteman dengan dia, setelah kamu sendiri sudah tau siapa dia yang sebenarnya, Wen?”
Ku tatap lekat matanya tanpa mengalihkan sedikitpun, berharap menemukan jawaban yang menyenangkan. Namun bisa ki lihat senyuman dibibir Cherry nya itu perlahan pudar, hingga sirna. Lalu dia menulis jawaban di buku catatan.
Tentu dia bukan lagi anak manis, dia adalah orang yang berbeda. Katanya, dan aku cukup terkejut dibuatnya. Abjad yang menjadi objek penglihatan ku rasa-rasanya seperti mengabur, bahkan berubah acak agar aku dapat mengubah sendiri menjadi jawaban yang ku inginkan. Tapi apa? Nyatanya, hal itu memang mustahil sekali. Wendy juga manusia sama, sama seperti yang lain yang pasti memiliki rasa takut.
Akan tetapi, jawaban itu kurang spesifik menurut ku. “Maksudnya?” tanyaku lolos mencoba mencari maksud lain dari jawaban yang diutarakan Wendy.
Namun Wendy justru menatap bebas ke arah laut yang luas dan terlihat tidak berbatas. Aku mencoba menyelam ke dalam sana, siapa tau menemukan jawaban yang ku inginkan. Aku hanya ingin Wendy masih mau berteman, itu saja.
Kalau kamu menyelami lautan itu, apa yang akan kamu dapatkan? Tau dalamnya lautan itu? Tidak kan?
Ya, tentu saja tidak. Butuh ilmu dan keahlian khusus untuk itu. Tapi apa maksudnya? Ku cari-cari jawaban lain dalam pernyataan tersebut.
“Lalu?” tanyaku, lagi.
Tidak semua hal bisa di paksakan, Le. Dan semua manusia memiliki cara yang berbeda untuk cerita yang kamu beritahu padaku. Tentang anak kecil itu, jujur aku juga takut karena kehidupannya berbanding terbalik dan sekarang, menjadi orang yang berbahaya untuk orang lain. Tapi, aku pasti akan berusaha membawanya kembali.
Aku mengangguk paham, aku mendapatkan poinnya. Dia berusaha mencari alasan yang bisa ku pahami. Dan jawaban yang kutemukan dari panjangnya tulisan tersebut ada di barisan tulisan tangannya yang terakhir. Aku tersenyum, rasa percaya diriku sedikit kembali pada benak.
“Jadi, kamu masih mau berteman?”
Aku melihatnya mengangguk, lantas menyelipkan poninya yang tertiup angin ke balik telinga.
Suara deburan ombak terdengar tenang, dan angin yang bertiup pun tidak terlalu kencang. Aku memutuskan untuk berdiri dan mengulurkan tangan, mengajak Wendy untuk meninggalkan tempat menenangkan ini demi mengisi perut yang ternyata sudah mulai keroncongan.
Menatap telapak tangan ku, Wendy lantas mendongak dengan ekspresi bingung. Sedangkan aku, mengedikkan bahu dan menjingkatkan alis sebagai isyarat agar dia bersedia menyambut uluran tanganku itu.
Tapi ...
Dia memilih berdiri sendiri, lantas tersenyum manis menatap bentangan laut, kemudian menyimpan buku catatan ke dalam tas selempang kecil yang menggantung nyaman di bahunya. Oh baiklah mari akui kekalahan hari ini. Aku belum bisa menggenggam tangannya yang itu berarti, aku belum berhasil membuatnya seratus persen percaya padaku.
Wendy menatapku lagi dan lagi yang entah sudah ke berapa kali mata kami bertemu. Dia melambaikan tangan ke arah dirinya, kemudian membuat gerakan seperti orang makan. Ayo kita makan, begitulah kira-kira arti yang ku pahami. Dan kami pun akhirnya pergi ke sebuah rumah makan sederhana yang letaknya bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari lima belas menitan.
Aku suka makan di sini. Rasanya enak.
Ya, pada akhirnya kami benar-benar sampai di sebuah rumah makan yang cukup ramai, atas petunjuk Wendy. Dia bilang makanan disini enak dan murah, dan hal itu yang menjadi alasan dirinya dan sang ayah suka datang jikalau seandainya sedang tidak mood untuk memasak.
Kami memesan dua menu berbeda, dan dua minuman berbeda pula. Sembari menunggu pesanan kami tiba, kami menghabiskan waktu untuk bertukar pesan ponsel sebagai sarana komunikasi. Hingga akhirnya, makanan kami datang dan kami fokus untuk menghabiskan hidangan pengisi perut kami terlebih dahulu.
Lanjut mengobrol, aku juga sesekali meminta Wendy untuk mengajariku gerakan isyarat yang ia gunakan. Kalian pasti paham maksud dan tujuanku melakukan itu. Dia bersedia dan mulai memperagakan satu persatu gerakan tubuh yang mempunyai makna tersebut.
Dan yang begitu menarik perhatianku, ketika dia menunjuk dirinya sendiri, kemudian mengepalkan kedua telapak tangan dan menyimpangkannya didepan dada, lantas menunjukku.
Aku mengerutkan kening karena dia tidak menulis arti dari gerakan tersebut seperti sebelumnya. Begitu melihat wajah bingungku yang penuh tanya, Wendy tersenyum dan menulis di buku catatannya dengan wajah merona. Setelah kubaca sekilas, kertas bertulis kita berteman itu, aku berniat mencari maksud dari gerakan tersebut di laman internet.
Entah mengapa, jantung ku berdebar tiba-tiba. Arti yang ditulis Wendy, dengan arti yang kubaca di internet, berbeda. Wendy berkata ‘Kita berteman’, sedangkan di laman internet memberitahu jika arti gerakan tersebut adalah ‘Aku mencintaimu’.
Lalu siapa yang salah dan siapa yang benar disini?
Kita berteman, atau ... Aku mencintaimu?
Mana yang harus aku percaya? []
...To be continue...