
Warning!!
Bab ini berisi adegan baku tembak, kata kasar, ke-ke-r4-s4n, dan beberapa hal lain yang perlu disikapi dengan bijak. Bagi yang tidak nyaman terhadap adegan yang telah di sebutkan di atas, dimohon untuk men-skip bagian ini.
Terima kasih.
...Nightfall by VizcaVida...
...|36|...
...Happy reading...
...[•]...
Sesampainya di sebuah tanah lapang yang di tumbuhi ilalang, aku mencoba mempercepat langkah. Tidak ada pepohonan disini, jadi aku harus ekstra berhati-hati jika ingin tetap hidup.
Oke, apa aku tidak salah jalan? Mengapa sejak tadi tidak bertemu ujung. Sial!
Aku tiarap sambil memeta sekitar. Sumpah demi apapun, area ini sangat tidak mendukung. Aku tidak bisa menjamin seratus persen untuk bertemu dan lari dengan selamat dari sini. Aku hanya bersama Vino yang sekarang, entah berada dimana anak itu. Tapi—
“Lo mikirin gue ya?”
“Sh—iiit!!!” umpatku karena terkejut bukan main saat Vino muncul secara tiba-tiba ketika aku memikirkannya. “Sejak kapan Lo disini?”
“Lo tuh suka pikun kalau udah fokus.” celetuk Vino sambil menoyor kepalaku hingga terjungkal ke depan. “Udah pikun, oon lagi.”
Vino memang suka begitu. Tidak ada hujan tidak ada angin, dia tiba-tiba menjudge orang suka-suka. Belum lagi nanti, kata-kata kotor yang pasti menjadi sesuatu yang paling pertama diucapkan saat terdesak.
“Lu salah arah. Ngapain Lo kesini? Jalan utama itu ada disana.” katanya, menunjuk jalanan yang sudah ku lewati tadi.
“Gue nggak punya penunjuk jalan, Vin.”
“Ya udah. Nggak perlu banyak omong. Ikut gue.”
Tak buang-buang waktu, aku mengikuti Vino berjalan tiarap tanpa mengurangi sikap sigap. Kami bersembunyi di balik alang-alang , melewati medan yang cukup berbahaya karena tidak ada satu apapun yang bisa di gunakan untuk berlindung. Hingga akhirnya, aku dan Vino berhasil kembali menapaki jalur yang kata Vino, adalah jalan yang akan membawa kami menapaki lajur menuju jalan keluar.
“Lo sendirian?”
Aku menoleh lalu kembali membidik, siapa tau tiba-tiba ada musuh yang menyergap atau melesatkan tembakan ke arah kami.
“Kagak. Tadi sama Wendy.” jawabku sama berbisiknya dengan yang dilakukan Vino. Kami tidak bisa melakukan percakapan bebas sambil tertawa seperti sedang nongkrong di cafe, karena ya memang seharusnya tidak seperti itu. Kami dalam situasi genting. Berbicara terlalu keras sama saja memancing musuh untuk datang ke arah kami. Lantas mati konyol hanya karena sebuah tawa.
“Terus, Wendy kemana?”
Aku mengamati sekitar, menoleh ke kanan dan kiri. “Udah aku suruh duluan.”
“Kemana?”
Sebenarnya aku cukup terganggu dengan pertanyaan yang dilakukan Vino. Tapi meskipun kesal, aku memberikan jawaban jujur padanya. “Ada personil polisi di ujung jalan. Aku memintanya pergi terlebih dahulu sambil bawa ponselku buat penunjuk arah. Itu sebabnya aku tersesat,” kataku menjelaskan, dan Vino pun diam. Dia kembali mengarahkan pandangannya pada bidikan. “Kamu kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” lanjutku mencoba mencari tau apa alasannya kini berpihak padaku.
Vino hanya mengedikkan bahu, tidak memberikan jawaban spesifik dan itu ku anggap jawaban, karena tadi aku sempat membuat hatinya tergugah. Semoga dugaanku ini tidak salah.
“Kita ke kanan.”
Aku mengikutinya. Sepertinya dia sangat hafal dengan medan yang sedang kami lalui ini.
“Kamu nggak salah arah kan, Vin?” tanyaku ragu. Bukannya tidak percaya, tapi ini aneh menurutku. Kami seperti sangat aman disini, tidak seperti beberapa saat lalu saat aku hanya sendirian.
“Kagak, percaya sama gue.” katanya sambil berdiri dan berjalan santai tanpa rasa takut sedikitpun.
Dahiku mengerut, sadar akan kejanggalan yang semakin tidak masuk akal saat langkah kami memasuki kembali area perkebunan pinus.
“Vin, kenapa balik kesini lagi?”
“Lha kan udah gue bilang, ini jalan nya. Lo tinggal lurus aja, terus ada pertigaan, Lo belok kiri.”
Jalan? Apa maksudnya? Sumpah demi Tuhan, gelagat Vino semakin membuatku curiga. Apalagi saat aku melihat sebuah kotak hitam kecil di punggungnya,
Itu, walkie talkie!
Sialan!! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Ku hentikan langkah. Ku arahkan senjataku kepada Vino yang belum berhenti melangkah. Vino tidak menunjukkan jalan untuk keluar dari sini, melainkan membawaku kembali kepada orang yang sebenarnya memiliki hak atas diriku. Yoseph.
“Berhenti!” kataku, tidak terlalu keras dan tidak terlalu kecil. Dan Vino pun berhenti berjalan, memutar tubuh dan menatap lurus pada ku. “Kenapa kamu lakukan ini, hm?” tanyaku. Aku tau sekarang, semua pembicaraan kami sejak tadi, sedang dipantau. Dan itu artinya, Wendy juga ada dalam bahaya. Mereka tim yang tidak bodoh. Seseorang pasti sudah berhasil melacak keberadaan Wendy. Bodoh. Kenapa aku harus termakan perbuatan Vino yang memanipulasi agar aku percaya padanya?
SIALAN!!
“Apa maksudmu?”
Aku berjalan mendekat tanpa menurunkan senjata yang kini ku arahkan tepat di dadanya yang bisa menghilangkan nyawanya hanya dengan satu kali lesatan peluru. Dia mengangkat kedua tangannya di udara saat jarak kami semakin dekat.
“Berbalik!!” titahku tak ingin di bantah, dan dia menuruti itu. Dia berbalik, masih dengan tangan terangkat bebas di udara.
Tak membuang waktu, aku membuka kaos hitam yang ia kenakan, dan menarik benda hitam yang tertempel di celananya.
“Kamu menjebakku, Vin?”
Dia hanya diam, lalu melirikku dari bahu kanannya. “Bodoh. Kamu masih saja ceroboh seperti ini, Le. Kenapa kamu termakan omonganku?”
“Berengsek!!” umpatku tak peduli lagi pada pertemanan dekat yang sudah kami jalin selama ini.
Kuhancurkan Walkie talkie dengan menginjak berkali-kali hingga benda itu tak lagi berfungsi. “Pergi sekarang sebelum gue berubah pikiran.”
“Kamu—”
“Tugas gue belum selesai sampai disini. Kalau Lo mau selamat demi perempuan bisu itu, cepat lari.” bisiknya padaku.
“Aku bukan pecundang yang akan pergi begitu saja setelah di khianati—”
Satu letusan senjata api terdengar jelas. Tidak terlalu jauh. Dan tak lama kemudian, Vino jatuh diatas tanah bersama darah yang mengalir dari tubuhnya.
Frezz. Aku membeku melihat sahabatku meregang nyawa. Ku dengar jelas nafasnya yang menahan sakit saat mata kami bertemu. Lalu dia berkata dengan sisa hidupnya, “Lari! Selamatkan diri Lo. Dan ... ”
Vino terbatuk, “Maafin gue—”
Satu tembakan lagi terdengar dan kurasakan sengatan panas di sisi lengan kiri ku. Aku tertembak, dan memutuskan untuk meninggalkan Vino demi sebuah perlindungan.
“Sh-iiiit!!!” umpatku sembari memegang luka goresan peluru yang mulai berdarah. Sebuah tembakan kembali terdengar dan Vino ... telah pergi untuk selamanya.
“Ya tuhan.” de-sahku tak percaya melihat orang yang selalu bersama sejak lama, harus mati dengan cara seperti itu. Aku tertunduk bersama tetesan air mata yang tak bisa lagi ke bendung. “Terima kasih untuk kebersamaanmu selama ini, Vin. Selamat jalan, kawan.”[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
Vino go to the better place. Rest In Peace Vino. Makasih udah jadi bagian dari Nightfall. 🥺