Nightfall

Nightfall
Nightfall 14




...Nightfall by VizcaVida...


...|14|...


...Happy reading...


...[•]...


Aku sampai dirumah bos hanya dalam waktu singkat, tidak sampai sejam. Benar saja, Lili sedang menungguku dengan wajah cemberut disana. Duduk di kursi yang tidak jauh dari singgasana bos, dengan wajah ditekuk kesal. Mau bagaimana lagi selain membalas tersenyum dan mendekat?


Tidak ada sapaan manja seperti yang selalu ia lakukan saat melihatku. Kali ini Lili terlihat marah. Dia seperti sedang ingin mengibarkan bendera perang padaku.


“Diluar hujan, Le?” tanya bos, mengalihkan tatapan mata ku dari Lili padanya. Kemudian, aku yang terperanjat, refleks melihat ke arah pintu utama yang sedikit terbuka, kemudian kembali menatap bos Yoseph. “Iya, pa.”


Bos tersenyum mendengar jawabanku, kemudian berkata. “Semalam, Lili ke tempatmu. Tapi pulang dengan wajah kesal bukan main. Dia marah-marah nggak jelas ke semua orang. Kenapa?”


Bagaimana aku menjawabnya ya?


Aku melirik Lili dan mencoba menyelami pupil matanya yang terlihat kesana-kemari. Dia terlihat begitu angkuh sekarang. Haruskah dia membawa masalah seperti itu ke hadapan papanya?


Astaga. Aku ingin sekali mengumpat sekarang. Mengumpat seisi kebun binatang boleh tidak?


“Eumm ... itu saya lagi di kamar mandi, pa. Saya buru-buru keluar, tapi Lili udah nggak ada.”


Fix, aku sekarang merangkap semua kekonyolan hidup. Menjadi bajing-an, kriminal, pembual, pembohong, lalu ... apalagi ya? Coba tambahkan yang lainnya agar terdengar lebih sempurna. Mungkin ibarat lain yang cocok di sematkan untukku adalah ... sampah.


“Banyak alasan.” sergahnya ketus, membuat senyuman kaku di bibirku sirna. Entahlah, astaga. Bertahun-tahun aku hidup diantara mereka, mengapa baru sekarang terasanya? Lelah sekali aku berada di lingkaran seperti ini. Aku ingin berhenti. “Bilang aja nggak mau ketemu, nggak mau aku ganggu.”


“Beneran, Li. Aku di kamar mandi, baru pulang dari sini—”


“Kamu berubah sejak dekat dengan perempuan bi-su itu!”


Hatiku seperti diremas. Sakit bukan main saat Lili menyebut kata bi-su di depanku. Secara refleks, tanganku mengepal, namun masih dalam tahap diam-diam. Demi apapun, Kata-kata yang keluar dari mulut Lili terasa menyakitkan hingga ingin sekali ku layangkan satu tamparan keras agar dia merasa jera dan tidak akan mengulangi lagi ucapannya itu.


“Berubah bagaimana maksud kamu, Li? Aku masih sama, nggak pernah berubah.” tukas ku tak mau kalah bicara. Mencoba membela diri agar tidak tersudut. “Aku hanya melakukan pekerjaan. Adapun hubunganku dengannya, cuma sebatas eksekutor dan perantara. Tidak lebih.”


Shiii-iiiiit!!!


“Oh ya? Lalu, kenapa—”


“Li. Kembali ke kamarmu. Papa ingin bicara dengan Ale.”


“Tapi pa—”


Tanpa suara, bos Yoseph memberi isyarat agar putri manjanya itu meninggalkan kami berdua. Ya Tuhan, aku muak sekali berada di situasi seperti ini.


Lili yang memang notabenenya penurut dan takut pada ayahnya, pergi meninggalkan kami. Ia bahkan dengan sengaja menabrak bahu kiri ku dengan cukup keras hingga aku menoleh menatap kepergiannya.


Setelah pintu terkatup, aku kembali merotasikan bola mataku pada si bos yang mungkin sudah menyiapkan beberapa pertanyaan untuk meng-ultimatum ku. Pasti pembicaraan yang akan kami lakukan sangat panjang, membuatku berbicara sebenarnya dan tidak lagi bisa mengelak, apalagi berbohong.


“Coba katakan, apa hasil mu sejauh ini?”


Kalimat itu, merujuk pada pekerjaanku sebagai seorang penjahat dan calon pem-bu-nuh. Ah, serius? Apa aku sekarang mendapat gelar itu?


Aku memilih menundukkan kepala selagi otakku bekerja keras mencari jawaban.


Semua sudah terlanjur terjadi, dan Wendy adalah senjata. Mau tidak mau aku harus mengikut sertakan gadis tak berdosa itu dalam rencanaku.


“Sudah dekat dengan putrinya. Nomor ponselnya sudah ku ketahui, pa.”


“Kalau begitu, apa saja yang sudah kalian lakukan? Bertukar pesan secara intens?”


Sial!!


“Tidak terlalu. Aku takut membuat dia curiga karena terlalu tiba-tiba hadir diantara kehidupannya yang tenang.”


Aku melihat pria itu tersenyum sinis. “Kamu masih memikirkan kehidupan orang yang akan menjadi targetmu?” sindirnya sarkas namun tepat mengenai sasaran. “Bodoh.”


Apa katanya? Bodoh?


Sinting!


“Jangan pernah meletakkan perasaan pada calon mangsamu, Le. Atau justru kamu sendiri yang akan terkena akibat dari rasa simpati yang kamu berikan sama dia.”


Aku menggeleng. Maaf, kali ini aku tidak setuju dengan pendapat yang coba dia yakinkan padaku. “Aku ... punya cara sendiri untuk mendekati mereka.”


Kutatap betul-betul bola matanya, mencoba meyakinkan bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku. Sumpah demi semesta, aku tidak ingin menyakiti siapapun kali ini, terutama Wendy.


Aku melihat bos Yoseph tersenyum disudut bibir.


“Jadi, apa cara yang akan kamu gunakan?” katanya mengintimidasi. Kemudian dia berjalan mendekat dan menepuk satu sisi bahuku. “Dengan cara mencintainya?” []


...To be continue...