
...Nightfall by VizcaVida...
...|05|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Hai!” aku memanggilnya dengan suara lantang, dan semoga saja dia mendengar.
Aku berlari mengejar, lalu berhenti tepat dibelakangnya, mengikuti langkahnya yang terlihat takut-takut. Parahnya, aku kembali memutar ke arah kompleks perumahan polisi yang tadi aku tinggalkan.
“Hai, kamu bisa mendengarku?” tanyaku memastikan, karena dari artikel yang aku baca beberapa saat yang lalu, sebuah laman memberitahuku jika besar kemungkinan, tuna wicara juga seorang tuna rungu. Aku mengambil satu langkah lebih cepat didepannya, kemudian mencoba membuat gerakan yang tentu saja tidak memiliki arti dalam dunia mereka.
Aku menunjuknya, lalu menunjuk telingaku sendiri sambil berbicara, berharap dia bisa membaca bahasa bibir. Tapi apa kalian tau apa yang aku dapat? Dia mengabaikan aku. Dia pergi, tidak peduli padaku yang mencoba mendekatinya.
Menarik. Sepertinya dia gadis berprinsip kuat.
Aku menatap punggung kecilnya yang berjalan cepat, namun masih bisa kukejar karena langkah kaki panjangku yang bisa dengan cepat menjangkaunya kembali.
Aku menunjuk diriku sendiri, aku, lalu mengibaskan telapak tanganku didepannya, bukan, lalu menggores leherku dengan tanganku sendiri bermaksud memberitahunya jika aku bukan orang jahat.
Ya memang tidak seharusnya seperti itu gerakan menurut ¹SIBI atau ²ASL, tapi aku terpaksa ngawur karena nggak tau dan nggak bisa. Maaf ya, jangan tersinggung. Aku akan coba belajar pelan-pelan.
Dia menatapku galak. Dia bahkan dengan terang-terangan menajamkan manik mata hazelnya memberitahu jika tidak suka dengan kehadiranku.
“Namaku Ale.” aku tetap memaksa, bahkan memperkenalkan diri tanpa diminta, sambil menulis huruf A, L, dan E di udara.
Meskipun di acuhkan, aku tak kenal menyerah, dan dia merasa semakin terganggu. Lalu dia menghentikan langkah, menatap semakin galak tanpa bicara apapun dalam beberapa detik. Kemudian, dia mengangkat lengannya diudara dengan tiga jari bagian tengah dilipat, lalu di goyangkan sedikit.
Aku bingung dia bicara apa. Tapi aku mengikuti gerakan itu dengan canggung.
Dia mengulangi sekali lagi gerakan itu, akan tetapi kali ini dengan bibir yang seolah sedang bicara.
Tiga jari bagian tengah dilipat, lalu digoyang sedikit. Kenapa?
Aku paham sekarang. Dia sedang bertanya tujuan ku mengikutinya.
“Aku,” aku menunjuk diriku sendiri. “Ingin, bertanya.” tanganku bergerak menggambar tanda tanya diudara. Dia mengernyit, apa dia tidak mengerti? Oh come on, ini sangat sulit.
Dia kembali membuat gerakan yakni, telapak tangan menyentuh bagian atas alis, lalu melepasnya kedepan. Apa itu artinya?
Saat aku masih menerka apa arti gerakan itu, dia kembali mengambil langkah untuk pergi. Aku pun kembali mengekor dibelakangnya.
“Siapa namamu?” tanyaku berpura-pura. Tapi tetap sama, dia tidak peduli. Dan kulepas dia. Mungkin memang aneh memaksa berkomunikasi bahkan meminta nama di hari pertama bertemu. Mungkin lain waktu dia mau aku ajak berinteraksi lebih lama.
Ya, semoga.
***
Mandi, beres. Sarapan, juga sudah. Sekarang aku mulai mulai menatap layar laptop untuk mengecek beberapa pekerjaan yang sempat diberikan boss Yoseph sebelum aku hiatus dari dunia per-kodean. Ya sebut saja begitu karena semua yang kami kerjakan berhubungan dengan kode-kode rahasia yang rumit dan kadang sulit dipecahkan.
Ternyata Vino sedang Online, dan aku pun iseng menghubunginya.
“Ada apa bang-sat. Gue lagi sibuk! Ganggu fokus saja.” katanya memaki. Teman baikku yang satu ini memang terkadang galak macam anjing herder nya pak polisi. Tapi aku tidak pernah mundur, dia yang akan tunduk.
“Bahasa Lo. Gua tabok baru tau rasa Lo ya? Mentang-mentang gua nggak disana.”
Vino mendecak sebal, dan aku terkikik geli.
“Ada apa?” sahutnya masih galak.
“Nggak kangen sama aku?”
Dia membuat gestur seperti orang yang sedang memuntahkan sesuatu. “Najeess!”
“Gimana kerjaan? Beres?” tanyaku menyudahi acara bercanda dan mulai mengganti topik serius tentang pekerjaan. “Boss Yoseph gimana?”
“Beres, cuman ada beberapa yang nggak valid dan harus ngulang dari awal. Bang-sat kan!!”
“Kamu kenapa sih? Dari tadi ngumpat mulu?”
“Hah, dahlah. Capek gue Le. Gue pingin pensiun aja, terus kawin dan berumah tangga dengan tenang. Tabungan gue udah banyak dan nggak bakalan habis sampe anak-anak gue kelak kawin.”
Aku menyemburkan tawa. Orang santai sekelas Vino saja mengeluh, apalagi orang panikan macam saya? Tapi selama ini aku selalu menyembunyikan itu untuk diriku sendiri. Aku terus berusaha mengatasi rasa panik dan takut yang hadir, dengan menenangkan diri sendiri.
“Ya udah, Lo pensiun dini aja. Biar boss bangkrut.”
“Ya enggak lah, kan ada elo.”
Aku menarik sudut bibirku ke bawah. “Kalau kamu pensiun, aku juga lah. Capek ternyata hidup seperti ini.”
Kali ini aku mendengar tawa Vino menggema memenuhi ruangan. Dia kembali menatap layar komputer yang masih sibuk bergerak membentuk banyak sekali kombinasi huruf yang membingungkan.
“Udah sejauh apa misi Lo jalan? Udah setengah jalan atau bagaimana?”
Aku menatap datar wajah Vino yang masih belum beralih dari layar komputer. Lalu aku menjawab, “Sulit, Vin. Putrinya pak polisi itu ternyata tunawicara, dan aku sama sekali nggak ngerti dan nggak bisa gerakan isyarat yang dia buat.”
“Oh, jadi Lo udah ketemu langsung sama do'i? Gimana? Cantik ngga aslinya?”
“Cantik.” jawabku singkat tidak mau mengingkari kenyataan jika Wendy memang sangat cantik. Bahkan lebih cantik jika dilihat secara langsung dari pada di foto.
“Terus—”
“Ya udah, dia memang cantik.”
“Sial!!”
Kami sama-sama tertawa. dua puluh sembilan tahun hidup, Vino adalah orang terbaik yang kukenal. Ini pendapat jujur dariku, untuk itulah aku tidak ingin sampai pertemanan kami terputus.
“Kalau misalnya misi ini gagal dan aku ketahuan, tolong donasikan semua aset milikku ditempat mu dulu.”
“Lo itu ngomong apa sih, Le.”
“Ya sekedar jaga-jaga kalau ada apa-apa sama aku, Vin. aku kan juga pingin masuk surga kali.” candaku, ku bumbui dengan sedikit tawa agar tidak ³saru.
“Dahlah, terserah Lo. Gue mau hidup lama, punya anak juga.”
Betapa mulia cita-cita temanku itu. Tapi entah mengapa aku tidak berfikir jauh kesana. Aku takut, jika istri dan anakku kelak, menyesal karena memiliki suami dan ayah seperti aku. Ya seperti itu isi otakku jika dikaitkan dengan wanita, dan ... berkeluarga.
“Oke, aku paham Vin. Tapi kamu juga bakalan sulit keluar dari sirkle boss Yoseph. Kita ini sudah terikat sama dia. Dibesarkan, dibiayai, diberi makan, ya setidaknya kita tau adab dan balas budi.”
Tidak ada sahutan dari Vino. Mungkin dia sedang memikirkan ucapanku meskipun, terdengar mencoba menahan dia untuk nggak pergi dari dunia gelap yang sudah kami susuri bertahun-tahun.
“Eumm, gue juga sering mikirin ini kalau mau minggat dari rumah boss Yoseph. Kita juga nggak bakalan bisa pergi gitu aja tanpa perjanjian hitam diatas putih.” jawabnya berubah ragu padahal tadi sudah menggebu-gebu. Maaf, Vin. Aku cuma nggak pingin kamu melibatkan hidup orang lain dalam bahaya saat tau hidup kita sendiri saja seperti ini.
Setiap keputusan yang kita sengaja atau tidak, pasti akan ada risiko yang harus kita tanggung. Itu prinsip hidup yang berlaku dari dulu sampai sekarang. Lalu bagaimana denganku? Bagaimana kalau suatu saat nanti, aku justru berlawanan dengan prinsip simbiosis mutualisme yang memang sudah ditawarkan oleh kehidupan? []
...To be continue...
###
¹SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)
²ASL (American Sign Language) Bahasa Isyarat Amerika atau American Sign Language adalah bahasa isyarat dominan dari komunitas tuli di Amerika Serikat dan sebagian besar anglofon Kanada
³Saru: tabu (menurut orang Jawa), tidak nyata kelihatan (kedengaran); tidak terbedakan rupanya (suaranya dan sebagainya) karena bercampur atau tidak terbedakan antara yang satu dan yang lainnya.
*Koreksi tulisan saya jika salah ya beb 🥰
Terima kasih.