Nightfall

Nightfall
Nightfall 12



Hai, bagaimana kabar kalian semua? Semoga sehat selalu ya ... ☺️


Maaf baru muncul, author harap untuk kedepannya tidak ada kendala lagi. Semoga bab ini menghibur.



...Nightfall by VizcaVida...


...|12|...


...Happy reading...


...[•]...


“Wen?” panggilku sekali lagi karena telepon masih tersambung.


Aku tersenyum. Dia pasti sedang mendengarkan aku, jadi aku memilih berbicara lagi. “Kalau menghubungiku, pakai teks saja.” kataku dengan nada super lembut yang pernah aku katakan kepada seorang wanita. Wendy mungkin memiliki hati yang rapuh karena mungkin saja diluar sana banyak yang membicarakan kekurangannya. Tapi bagiku, dia itu istimewa. Lho, aku kok jadi sok roman begini ya?


Ah, dahlah.


“Masih mau ngobrol denganku?” tanyaku sangat lembut. “Matikan teleponnya. Aku tunggu message dari kamu.”


Panggilan berakhir setelah aku berkata demikian. Lalu tidak lama setelah itu sebuah pesan masuk. Buru-buru aku membacanya. Kami sedang online dan menikmati kebersamaan ku dengannya. Ku abaikan bunyi bel rumah yang masih terus berbunyi.


Iya, ini aku


Gaya penulisan yang santun. Aku tersenyum dan membalasnya.


Oke, makasih udah hubungi aku ya


Entah mengapa, sekarang telapak tanganku sedikit gemetar dan berkeringat. Kalau Vino melihat ini, dia pasti akan menertawakan aku. Baiklah, mari cari topik pembicaraan yang santai.


Kamu sudah makan?


Gila ya, kenapa malah bertanya sok perhatian begitu? Sudah terlanjur terkirim dan sudah dibaca pula?!


Sudah. Kamu?


Astaga. Kenapa dia kalem sekali? Aku harus jawab jujur kan?


Aku, sudah.


Bohongku lolos begitu saja. Aku tidak ingin terperosok lebih jauh dengan buruanku sendiri. Atau, nanti menyesal di akhir karena harus memilih. Alasan inilah yang selalu aku angkat ke permukaan saat rasa kagum berlebihan mencuat meminta tempat.


Lalu, aku mengetik lagi. Suara bel didepan sudah berhenti dan rumah kembali senyap. Aku hanya perlu menilik dari balik tirai dan memastikan jika Lili memang sudah pergi dari sini, nanti.


Aku mengetuk sisi ponsel, berfikir kalimat apa yang hendak aku ketik untuk mengajak Wendy berinteraksi. Aku menyesal sebab tidak mahir dalam hal seperti ini. Aku memang nihil dalam ilmu percintaan. Otak ku tidak nyambung jika diminta untuk merangkai kata-kata manis nan romantis yang akan disampaikan kepada sang lawan bicara.


Terima kasih sudah mau menghubungi aku hari ini, Wen.


Aku bingung setengah mati mau bicara apa. Membayangkan wajah datar dan berubah penuh senyuman milik Wendy, membuatku sedikit merasakan debaran aneh di dada.


Oh, apa kamu mau pergi denganku?


Well, mungkin ini akan terasa aneh untuk orang pendiam sekelas Wendy. Tapi, kenapa tidak mencoba? Siapa tau dia mau. Kan bisa nambah celah untuk menyelesaikan misi pertama.


Sialan.


Kenapa aku jadi ingat misi ditengah suasana hati yang bahagia begini?


Mataku kembali fokus pada layar telepon genggam saat benda pipih itu bergetar. Sebuah pesan masuk.


Pergi? Kemana?


Astaga, dia lucu sekali.


Eummm ... Bagaimana kalau ke taman?


Aku semangat sekali. Mungkin aku akan tidur nyenyak malam ini.


Boleh.


Tidak ada selebrasi yang kulakukan. Aku hanya tersenyum, senang karena umpan yang aku pasang pada mata kalin, sudah disambar.


Akan aku beri kabar secepatnya jika waktuku luang.


Semoga mimpi indah, ada dalam tidurmu malam ini.


Aduh, seperti orang kasmaran saja. Tidak masalah kan? Tidak akan ada perasaan apapun yang timbul diantara kami. Aku melakukan ini hanya untuk menjalankan tugas besar dari si boss. Setidaknya kalimat-kalimat seperti itu yang terus ku bisikkan dalam sisa kenyataan yang kini, semakin bertolak belakang dengan bayangan.


Aku hendak mengganti bathrob dengan baju santai untuk tidur, bersiap berdiri namun ternyata harus kembali terjeda oleh pesona ponsel yang bergetar diatas nakas samping ranjang tidur.


Terima kasih


Selamat malam.


Ya ... meskipun tidak mendapat balasan ucapan selamat tidur dan mimpi indah, setidaknya ada kalimat ‘Selamat malam’ yang mewakili. Aku kembali menarik dua sudut bibirku untuk tersenyum. Dan sekarang aku baru sadar jika Wendy memiliki sebuah daya tarik tersendiri, sangat jauh dari wanita-wanita yang pernah ku kenal. Dia tidak pernah jual mahal apalagi mencoba menarik perhatianku. Dia gadis polos yang baik, yang melakukan semuanya dengan sangat natural. Aku juga paham jika gadis seperti itu, tidak selayaknya ke perlakuan seperti wanita lainnya. Wendy itu ... istimewa.


Dengan kata lain, dia membuat aku penasaran.


***


“Oh, Ale?!” sapa tetangga. Aku memalingkan muka ke arah sumber suara. Disana ada sepasang suami istri dan seorang anak kecil dalam gendongan si pria.


Sebagai tetangga yang baik hati, terlebih usia si suami yang terlihat jauh lebih tua dia atasku, aku berinisiatif mendekat untuk menjawab sapaan mereka berdua.


“Selamat pagi, mbak rosa.” sapaku membalas. Wanita itu tersenyum kepadaku hingga kedua matanya menyipit. “Waduh, mau jalan kemana nih?” basa-basi ku kepo.


“Sedang ada acara keluarga Le. Keluar kota.” jawabnya santai.


Meskipun tidak akrab, aku bisa tau jika wanita bernama Rosalin ini, tipikal wanita yang gampang membaur dan bergaul dengan orang lain.


Seharusnya, ini adalah kesempatanku untuk melenyapkan mereka. Berbekal sebuah mobil, aku bisa membuat alibi dengan dalih kecelakaan yang tidak disengaja. Tapi ...


Pria kecil dalam gendongan Joni itu tersenyum ke arahku. Matanya yang bulat seperti rusa itu membuatku mengubah haluan untuk mencari waktu, lain kali saja. Tau kenapa? Karena aku tidak ingin melenyapkan dia, ibu dan calon adiknya. Yang menjadi tujuanku, hanyalah Joni, si ayah.


“Om tidak punya adik?”


Eh? Kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa tiba-tiba adik? Maksudnya, adek ketemu gede?


“Demian, nggak boleh tanya begitu? Kan sudah tau kalau om Ale sendirian?” sergah Rosa mencoba memberikan pengertian pada anaknya sendiri. Sedangkan aku? Jangan ditanya seberapa kikuknya wajahku sekarang. “Oh iya. Le, ini mas Joni, suami saya.”


Aku menatapnya tepat dimata elangnya. Pantas saja dia selalu berhasil menemukan orang jahat ditempat tersembunyi sekalipun. Sorot matanya terlihat begitu mengintimidasi, dan juga sangat tajam. Aku saja sampai harus mencoba membuat ekspresi natural agar tidak membuatnya curiga. Kalian ingat bukan? Joni adalah salah satu misi yang diberikan oleh bos untukku juga.


“Oh hai, mas Joni. Saya Ale. Saya tinggal di unit nomor dua. Kita tetanggaan.” sapaku sembari mengulurkan tangan. Dia membalas, dan tatapan matanya berubah menelisik.


“Joni.” jawabnya singkat memperkenalkan diri. Karena memang sejak pindah, kami belum saling memperkenalkan diri.


Lalu, alis matanya menukik tiba-tiba saat mata kami bertemu untuk yang kedua kalinya. Lantas dia bertanya, “Apa kita pernah bertemu?”


Pernah.


Sekali. Saat anda melakukan investasi di salah satu Bank yang saat itu pernah hampir menjadi target pembobolan oleh gerombolan bandit. Ya, saat itu aku ada disana tanpa sengaja. Memperhatikan dia yang sedang sibuk meneliti jejak para penjahat yang berhasil kabur.


Aku tersenyum.


“Benarkah?” tanyaku kembali. Pura-pura dalam situasi seperti sekarang, berdosa kah?


“Tapi, sepertinya wajah anda juga tidak asing dimata saya.” lanjutku mencoba memprovokasi. Siapa tau dia akan ingat siapa aku dan dimana kami pernah bertemu sebelumnya. “Atau saya hanya sedang berhalusinasi?” disusul tawa jadi-jadian yang ku buat meledak dengan intonasi senatural mungkin.


“Ah—” Suaraku kembali menginterupsi pasangan suami istri yang sekarang juga sedang tertawa karena kelakar garing buatanku. “Saya sering melihat anda di berita kriminal televisi. Aduh, kenapa saya baru sadar jika punya tetangga seorang detektif?” kataku sembari menepuk jidat.


Pria bernama Joni itu tertawa hingga pundaknya bergerak naik turun. “Pekerjaan saya tidak patut di puji dan di lakukan karena berbahaya.”


Aku tau dia bercanda, tapi di balik itu dia serius.


“Oh benarkah? Tapi saya dengar, kalau gaji seorang detektif itu—”


“Banyak?” sahutnya sebelum aku selesai dengan kata-kata ku. “Tapi tidak sebanding dengan nyawa, brodie.”


Tepat sekali. Bahkan, dia sendiri tidak sadar, jika salah satu orang yang mengincar nyawanya, ada didepannya saat ini. []


...To be continue...


###


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman pembaca Nightfall sekalian yang menjalankan. Semoga kita dilimpahkan rezeki yang melimpah, dan selalu dalam lindungan-Nya. Amiiiin ...