
...Tes!! Tes!!...
...Happy reading...
...Nightfall by VizcaVida...
...[•]...
Sapuan angin malam yang begitu dingin menerpa permukaan kulit, suasana yang riuh oleh debur ombak, langit yang cerah dengan sinar bulan dan gumpalan awan, serta bintang yang mempercantik nuansa malam, membawa kami larut dalam suasana.
Lalu, aku menatapnya diam-diam. Dan disaat seperti inilah aku sadar, jika dunia kami memang berbeda. Bagai langit dan bumi. Bagai air dan api, dan masih banyak lagi perumpamaan yang mungkin bisa dipergunakan untuk mengibaratkan aku dan dia.
“Kamu, sudah makan malam?” tanyaku, memastikan.
Dia mengangguk lalu tersenyum. Kedua lengannya masih memeluk lututnya yang ditekuk. Kami duduk diatas pasir beralaskan alas kaki kami masing-masing, menatap indah dan luasnya samudra saat malam hari memang sungguh menakjubkan.
Suasana kembali hening setelah aku selesai bicara. Tatapan kami lurus kedepan, seolah sedang menerka jalan pikiran masing-masing. Hanya kembali disapa oleh suara debur ombak yang cukup keras dan berisik.
Tapi tidak lama kemudian dia menoleh ke arahku yang tentu saja ku balas dengan senang hati. Kemudian, dia mulai membuat gestur dengan sebuah gerakan. Lengan kanannya bergerak seperti orang sedang makan, lalu kedua telapak tangannya bergerak bebas dengan posisi telungkup kedepan seperti berseluncur. Memberi isyarat pertanyaan sudah makan?
“Sudah.” jawabku singkat sembari meraih anakan rambutnya yang terbawa angin menutupi wajah, lalu menyelipkannya dibelakang telinga.
Lalu, dia bertanya lagi. Lesung pipinya terlihat karena tersenyum, satu lengannya kembali menirukan gerakan orang yang sedang makan, kemudian kedua telapak tangannya terbuka ke atas. Dia bertanya makan apa?
Cukup lama aku mempelajari setiap detail gerakan itu. Terkadang, aku juga kesulitan mengartikan dan memintanya menulis di kertas.
Aku menggosok dagu, mencoba mengingat makanan apa yang sudah masuk ke perutku sore tadi, sebelum bertemu dengan dia.
“Eummm, apa ya? Ah, nasi dan mie instan.” jawabku saat semua rekaman kepala ku kembali terputar.
Mata bulatnya melebar. Dia meraih buku catatan yang selalu dia bawa di saku sweater rajut yang dia kenakan. Menulis rentetan abjad rapi dengan sangat cepat, lantas menyodorkannya tepat didepan ku.
Itu tidak baik untuk kesehatan
Aku tersenyum. Aku tau, tapi mau bagaimana lagi? Hidup sebatang kara ditengah kerasnya dunia itu, tidak menyenangkan.
Aku mengangguk.
“Aku terpaksa. Tidak ada bahan makanan di rumah. Jadi, aku makan seadanya.”
Dia cemberut, bibirnya maju seperti bebek dan itu sangat menggemaskan di mataku.
“Kamu, makan dengan baik? Apa ayah mu ada dirumah hari ini?” tanyaku, ingin tau jika ayahnya yang menduduki jabatan sebagai kepala kesatuan reserse kriminal itu ada di kediamannya atau tidak karena malam ini, kami hendak beraksi.
Dia menggeleng. Kemudian dia membuat isyarat huruf A tegak menghadap kiri dengan ujung ibu jari di goreskan pada bagian atas mulut di bawah hidung, lalu gerakan tangan dari tengah ke kiri dan dari tengah ke kanan. Yang berarti, Ayah.
“Ayahmu tidak ada dirumah?”
Dia mengangguk. Lantas kembali menulis di buku catatan.
Dia sedang tugas malam hari.
Aku menggaruk puncak hidungku mulai gugup. Gadis di sampingku ini sangat cantik. Jika kalian melihatnya saat matahari masih menampakkan diri, kalian akan melihat surainya yang sewarna coklat madu, begitu indah. Wajahnya yang begitu ayu, hidungnya yang kecil nan bangir, matanya yang bulat dan indah, bibirnya sewarna Cherry, lesung pipinya ketika tertawa, dan kulitnya yang bersih, dia seperti jelmaan malaikat. Malaikat tanpa suara yang begitu indah.
Hari ini, kita membuat janji bertemu disini, di pesisir pantai yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Aku jadi ingat bagaimana dulu kami bertemu untuk pertama kalinya, lalu jari kelingking kami saling tertaut. Senyuman kami saling berbalas. Kami berjanji menjadi sepasang teman. Namun dalam hatiku, aku menginginkan lebih.
Tapi, aku tidak bisa mengatakan itu. Aku tidak ingin membuat pertemanan yang sudah aku dapatkan dengan susah payah hingga bertaruh nyawa itu, berakhir. Aku mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang belum pernah aku lihat sedekat ini, hanya dalam diam.
Lalu, dia melepas tautan kelingking kami, dan mulai membuat gerakan dengan telapak tangannya yang kurus.
Dia menunjuk dirinya sendiri, kemudian menyilangkan kedua lengannya didepan dada dengan telapak terkepal dan terakhir, dia menunjuk ke arahku.
Dia bilang, artinya kami berteman. Padahal, aku tau dia sedang membohongiku. Dia juga mencintaiku. Cinta kami saling berbalas, hanya tinggal menunggu waktu untuk mengungkapkan nya, nanti. Jika memang ada kesempatan dan juga, waktu untukku.[]
...To be continue...
###
Jika suka, tolong beri like dan subscribe cerita ini. Jangan lupa pula untuk meninggalkan komentar, vote dan hadiah jika berkenan.
Terima kasih
...***********...
...•Disclaimer•...
...-Cerita ini murni imajinasi penulis....
...-Jika ada kesamaan nama visual, gambar properti, ataupun latar yang ada didalam cerita, merupakan unsur ketidaksengajaan....
...-Semua karakter didalam cerita hanya fiksi, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan/watak tokoh yang menjadi Visual didalam dunia nyata....
...-Diharap bijak dalam menanggapi semua yang tertulis dalam cerita, baik itu tata bahasa, sesuatu yang bersifat mature ataupun tindak kekerasan....
...-(Point terpenting!!) Hargai karya penulis untuk tidak menjiplak/meniru tanpa izin dari penulis. Dan juga dimohon kebijakannya untuk tidak menyamakan dengan cerita lain....
...Regret,...
...Author....