
Jayden dan Briel tiba di mansion pribadi Jayden di pagi hari. Jayden langsung membawa Briel ke kamarnya yang ada dilantai bawah.
Jayden mengganti baju Briel dengan dress pendek yang sudah disiapkan oleh Fay dilemari Jayden.
Fay dan James mengikuti perintah Jayden untuk tak muncul dulu didepan Briel. Briel masih butuh waktu untuk bertemu dengan mereka termasuk Karen.
Karen bahkan belum tahu kondisi Briel. Jayden dan kedua orang tuanya belum memberitahu Karen.
"Kau tidak lelah J?", tanya Briel sambil mengangkat tangannya keatas ketika Jayden membuka bajunya.
"No baby", jawab Jayden tersenyum lalu mengecup bibir Briel.
"Thank you..", kata Briel.
"Aku lebih suka kau mengatakan kau mencintaiku", balas Jayden.
"I love you", kata Briel mencoba tersenyum.
"Tersenyumlah selalu B..aku merindukan itu", kata Jayden mengacak rambut merah Briel, hal yang selalu dilakukannya dulu.
"Rambutmu sudah panjang", lanjut Jayden.
"Aku ingin memotongnya..bantu aku", kata Briel.
"Baiklah..tunggu", Jayden mengambil gunting di laci nakas kamar mandi.
Jayden memotongnya lurus saja. Dia sangat berhati hati dan memasang wajah yang serius ketika memotong rambut Briel.
Tak lama, Jayden pun selesai memotong rambut Briel.
"Thanks..ah ya..i love you", kata Briel tersenyum.
"Aahh..kau menggemaskan B", Jayden mencium bibir Briel gemas.
"Ayo aku akan mencuci rambutmu", Jayden membawa Briel ke bathtub dan mengisinya dengan air sabun yang hangat.
Jayden melihat tubuh Briel yang polos tanpa apapun. Dan jelas itu membuatnya menahan keinginannya untuk bercinta dengan Briel.
Dia ingin Briel fokus dengan pengobatannya dulu.
"Sorry", lirih Briel seakan tahu apa yang dipikirkan Jayden.
"Aku bisa menahannya B..meskipun itu membuat kepalaku pusing melihatmu seperti ini", kata Jayden dan membuat Briel tertawa pelan.
Jayden senang melihat Briel setidaknya sudah bisa tertawa dan tersenyum kembali.
"Besok kita akan mulai pengobatan dan terapi..apa kau tak keberatan?", tanya Jayden.
Briel hanya menggeleng. Dia mulai memiliki semangat untuk sembuh karena Jayden.
"Thank you baby..i love you", Jayden kembali mengacak rambut basah Briel.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Briel mulai menjalani terapi dan pengobatan untuk kakinya. Briel tak pernah mengeluh meskipun rasanya berat dan sakit. Jayden tak pernah absen menemaninya terapi di rumah sakit.
Briel akan semakin semangat jika terapi dan pengobatannya sedikit mendapatkan hasil. Jayden tak pernah menekannya. Justru Jayden yang terkadang memaksa Briel untuk beristirahat karena terlalu memforsir tenaganya.
Dalam waktu sebulan ini, Briel sudah banyak peningkatan meskipun masih banyak tahap latihan yang harus dia lakukan.
Maria dan Jason senang mendengar kabar itu. Jayden selalu mengirim video Briel ketika terapi setiap hari pada Mereka.
Meskipun mood dan suasana hati Briel semakin baik, tetapi Briel masih belum mau berinteraksi diluar mansion dan rumah sakit. Briel belum siap untuk itu.
Jayden lebih banyak bekerja dari rumah. Dia tak ingin meninggalkan Briel sendirian di mansion meskipun ada perawat dan banyak pelayan disana.
"Apa kau lelah J?", kata Briel setiap Jayden selesai menemaninya terapi seharian di rumah sakit.
"Never B", jawab Jayden mencium kening Briel.
"Mungkin kau dikutuk untuk selalu melayaniku J", kata Briel tertawa pelan dan membelai rambut Jayden.
"Hmm..kutukan yang menyenangkan", Jayden merangkul bahu Briel dan bersantai di sofa sambil menonton film action bersama.
"I love you", Briel mengecup leher Jayden.
"Kau manis sekali hari ini..apa ada yang kau inginkan, baby?", tanya Jayden.
"Aku ingin bertemu Karen", jawab Briel.
Jayden melihat wajah cantik Briel dan mencium hidung mancungnya.
"Baiklah..apa kau tidak ingin bertemu Mommy dan daddy juga?mereka ingin bertemu denganmu", kata Jayden.
Briel mengangguk dan mengecup bibir Jayden.
"Thank you J", lirih Briel.
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN FAVORIT DAN HADIAH YAA ❤❤❤❤