
Karen dan keluarga Jayden telah kembali ke Moscow beberapa hari yang lalu. Briel dan Jayden menghabiskan waktunya bersama beberapa hari ke belakang lebih sering karena Briel akan kembali ke New Zealand hari ini.
Jayden melepasnya dengan sangat berat. Dan rencananya Jayden akan menyusul ke New Zealand setelah urusannya sudah selesai sekitar 2 minggu lagi. Dia akan segera melamar Briel.
Briel masih terus berhubungan dengan Ava dan Karen melalui ponselnya.
"Come on J..satu jam lagi aku harus check in di bandara", kata Briel.
Pasalnya sudah setengah jam Jayden memeluk Briel tanpa mau melepasnya sama sekali.
"Aku akan sangat merindukanmu", lirih Jayden.
"Hmm..aku juga..tapi hanya sebentar bukan?sekarang lepaskan aku", kata Briel mengusap lembut punggung Jayden.
Jayden kemudian mencium bibir Briel sangat lama. Dia merasa kehilangan Briel karena dia akan menjalani hari hari kedepannya tanpa Briel untuk sementara waktu.
Lalu Jayden akhirnya mengantarkan Briel ke bandara.
"Bye...", Briel mengecupi bibir Jayden sekali lagi.
"Jangan lupa menghubungiku setiap hari B", kata Jayden membelai pipi halus Briel.
"Hmm..i love you", kata Briel.
"I love you too baby", Jayden mencium bibir Briel untuk yang terakhir kalinya.
Lalu Briel keluar dari mobil Jayden dan melambaikan tangannya dengan senyumannya yang lebar.
Jayden tidak turun karena dia masih berat melepas Briel.
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Briel menempuh perjalanan panjang selama hampir 13 jam penerbangan.
Setibanya di Auckland dia dijemput oleh kedua orang tuanya. Briel memberi kabar pada Jayden bahwa dia sudah sampai di New Zealand.
"Dad...aku ingin membeli kopi di cafe pojok itu..berhenti disana sebentar", kata Briel.
"Oke honey", jawab Jason, sang ayah.
"Disini saja dad..aku akan menyeberang", kata Briel.
Lalu mobil itu berhenti dan Briel keluar dari mobilnya.
"Hmm..", jawab Briel singkat.
Briel menyeberang ke arah cafe dan segera membeli kopinya karena dia memang sangat mengantuk.
Setelah itu, Briel segera keluar dari cafe dengan memegang kopinya lalu menyeberang kembali menuju mobilnya.
CCIIIIITTTT..BRAAAKKKKKKK....
Tubuh Briel tiba tiba tertabrak telak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpental ke atas mobil dan terjatuh kembali diatas jalanan aspal dengan keras.
Maria berteriak histeris. Jason keluar dari mobilnya begitu juga dengan Maria.
Briel sama sekali tak bergerak.Darah mulai keluar dari kepala dan beberapa bagian tubuhnya yang lain.
"Brieeellll....Brieeellll..oh noooooo", Maria berteriak histeris melihat keadaan Briel tanpa bisa menyentuhnya.
Jason berusaha menenangkan Maria meskipun dirinya juga sangat shock dengan apa yang terjadi pada Briel.
Tak lama kemudian petugas medis dan polisi datang. Briel diangkut menggunakan ambulance. Maria tak henti hentinya menangis melihat Briel yang tak sadarkan diri.
Polisi segera mengamankan pengemudi mobil yang ternyata seorang remaja. Dia juga terlihat shock dengan apa yag terjadi.
Setibanya di rumah sakit, Briel dibawa ke ruang IGD. Maria sudah lemas dan pingsan. Lalu perawat membawa Maria ke ruang perawatan.
Jason menunggu dengan cemas di depan pintu IGD.
"Dia harus di operasi..lukanya sangat parah", kata Dokter.
"Lakukan yang terbaik dokter",kata Jason.
"Tetaplah berdoa..kami tak bisa menentukan hidup seseorang..kami hanya bisa berusaha", kata dokter itu.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat membawa Briel ke ruang operasi. Benturan yang dialami Briel sangat keras dan membuat tulang belakangnya cedera parah.
Jason duduk tak berdaya di lorong rumah sakit. Putri tunggalnya kini sedang bertaruh nyawa di ruang operasi. Dia menutup wajahnya menahan tangis.
Jason sampai tak memberitahu keluarga besarnya tentang kecelakaan Briel. Jason tak ingin membuat mereka khawatir terutama keluarga sang kakak, Michael.
Lalu Jason menuju ruang perawatan Maria dan Maria tampak termenung disana. Jason menghampirinya dan memeluknya. Maria menangis kembali di pelukan Jason.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA.❤❤❤❤