
Keesokan paginya, Briel bersiap untuk pulang bersama Jayden.
Tok tok tok...
Briel kemudian menuju arah pintu dan membukanya.
CUP... Jayden mengecup bibir Briel.
"Morning kiss", Jayden tersenyum.
CUP CUP CUP... Briel membalasnya dengan ciuman yang bertubi tubi di bibir Jayden dan tersenyum nakal.
Lalu Jayden menarik pinggang Briel dan menciumnya gemas.
"Mmmuuuaaahhh..", suara Jayden terdengar keras karena dia menyedot gemas bibir Briel.
Briel membelalakkan matanya dan mencubit perut Jayden.
"Aawwww...", teriak Jayden sambil tertawa.
"Mana tasmu?", tanya Jayden.
"Apa kita pulang sekarang?", tanya Briel.
"Hmm..", jawab Jayden.
Briel mengambil tasnya dan Jayden mengambil tas itu dari tangan Briel.
"Kita akan naik sepeda motorku..dan tas ini akan dibawa oleh supirku bersama dengan koperku", kata Jayden.
"Jadi kau naik sepeda motor kesini?", tanya Briel.
Jayden mengangguk dan tersenyum.
"Wooow...itu akan menyenangkan J", kata Briel antusias kemudian Jayden merangkul bahu Briel sembari mengacak acak rambut Briel seperti biasa.
"Ayo naik", kata Jayden setelah memakaikan helm pada Briel.
Jayden juga memasangkan jaket kulitnya pada Briel.
Briel naik ke atas sepeda Jayden lalu memeluk perutnya. Kemudian Jayden menstater motor ducatinya dan mereka akhirnya pergi.
Briel menikmati perjalanan ini dengan hati senang. Briel memang lebih suka menaiki sepeda motor daripada mobil.
Hanya saja orang tuanya tak mengizinkan Briel untuk mengendarai sepeda motor sendiri karena mereka takut Briel akan ugal ugalan dijalan mengingat sifat Briel yang tomboy.
Jayden mengajak Briel berkeliling kota selama 2 jam. Dan Briel benar benar menikmati itu.
Lalu Jayden langsung menuju restoran untuk makan bersama Briel karena sejak pagi mereka belum makan.
Briel menarik tangan Jayden agar cepat masuk ke restoran.
Briel memesan banyak makanan karena selain makannya memang banyak, tapi Briel juga sangat kelaparan.
"Kau tidak makan?", tanya Briel dengan mulut penuh makanan.
"Aku suka melihatmu makan..seperti orang tidak makan berhari hari", Jayden tertawa.
"Selera makanku memang besar", jawab Briel dengan masih fokus pada makanannya.
Sewaktu berpacaran dengan Anna, Jayden tak terlalu sering ke restoran karena Anna sangat menjaga berat badannya dengan diet.
Dan itu sepertinya itu tak berlaku untuk Briel yang meskipun makannya banyak tapi tubuhnya tetap langsing.
Jayden pun akhirnya ikut makan dan menghabiskan makanannya. Setelah itu mereka sedikit mengobrol dan Briel seperti biasa selalu menceritakan cerita cerita yang lucu dengan heboh.
"Kau tidak bekerja hari ini?", tanya Briel.
"Aku bisa bekerja dimanapun dan kapanpun yang kumau", jawab Jayden.
"Apa pekerjaanmu?", tanya Jayden.
"Aku designer interior di perusahaan uncle Michael, Daddy Ava", jawab Briel.
"Sebenarnya aku ingin jadi pelukis..hanya saja menurut orang tuaku itu bukan pekerjaan yang menguntungkan", lanjut Briel.
"Kau bisa melukis kapanpun yang kau mau jika menjadi istriku nanti", kata Jayden tersenyum.
"Akan aku simpan kata katamu ini", Briel memegang bibir Jayden dan menggerakkan tangannya ke dalam kantong celananya seolah olah menyimpan kata kata Jayden di kantongnya.
Jayden tertawa dan mengacak rambut Briel.
"Kau dan Ava sama saja..suka sekali mengacak rambutku", ucap Briel dengan wajah cemberut.
"Kau menggemaskan B", kata Jayden menarik hidung Briel.
"J....", kesal Briel.
Jayden kembali tertawa dan beranjak dari kursinya lalu menarik tangan Briel menuju pintu keluar Restoran.
"Apa kegiatanmu hari ini?", tanya Jayden.
"Tidak ada..ajak aku jalan jalan lagi..aku suka naik sepeda motor", jawab Briel.
"Baiklah..tapi cium aku dulu", Jayden duduk di di sepedanya.
"Ini tempat umum J", kata Briel.
"Jadi kau ingin kita berciuman di rumah?", goda Jayden lalu menarik pinggang Briel dan mengecup bibirnya.
"Kau harus terbiasa dengan hal ini", lirih Jayden kemudian mengecup bibir Briel lagi dengan pelan sembari merapikan rambut Briel ke belakang telinganya.
JANGAN LUPA LIKE VOTE FAVORIT KOMEN DAN HADIAH YAA ❤❤❤
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YA ❤❤❤❤