
Sudah empat hari sejak kejadian di Amerika. Kini semua kembali normal, seperti sedia kala. Jennie bekerja sebagai sekretaris dan Taehyung adalah bosnya.
Sifat Taehyung yang tadinya tampak baik, kini kembali dingin dan datar. Menyuruh - nyuruh Jennie tanpa sebab dan marah-marah tak beralur.
“Jennie buatkan teh,” Perintahnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Nee,” Ucap Jennie dengan pelan. Sedari tadi, Tuannya itu membuatnya kelelahan.
“Ini, Tn. Kim.” Ucapnya memberikan segelas kopi.
“Aku tak mau kopi. Buatkan susu,” Ucap Taehyung lagi-lagi tanpa melihat Jennie. Sepertinya dari bau minuman itu dia tahu bahwa itu adalah kopi.
Jennie kesal setengah mati, “Arraseoyo Tn. Kim. Silahkan ditunggu,” Ucap Jennie menahan kekesalannya.
Setelah Jennie pergi lagi ke dapur kantor, Taehyung tersenyum smirk.
“Apakah enak?” Tanyanya sendiri sembari tersenyum.
Tak lama Jennie datang, ia kembali seperti semula, datar dan dingin.
“Susunya Tn. Kim.” Ujar Jennie sopan.
“Kau tak menaruh racun karena kesal padaku, 'kan?” Tanya Taehyung was-was.
Jennie mendecih kesal sambil memutar kedua bola matanya. “Bahkan membeli racun, pun aku tak sempat!” Balasnya kasar.
Taehyung tersenyum kecil, hanya sekecil butiran debu sampai Jennie tak melihatnya.
‘Ada apasih dengannya? Kok kayak kesal banget! Padahal waktu di AS kayak suamiku aja!’ Batin Jennie kesal.
“Jangan mengumpat,” ujar Taehyung pelan.
“A-aku tak mengumpat kok,” kilah Jennie gugup.
Jennie Pov
Shit! Selalu saja! Dia tahu apa yang kupikirkan, seandainya saja dia bukan bosku, maka dia sudah kucincang saat ini juga.
“Apakah aku ada jadwal hari ini keluar?” tanya Taehyung.
“Tidak! Kau hanya perlu berada di kantor ini dan menyelesaikan berkas-berkasnya dengan cepat!” ujarku menyeru. Aduh! Ada apa denganku ini? Kok malah teriak?
Aku bisa melihat Taehyung agak melongo memperhatikanku. Agaknya dia bingung mendengar ku berteriak.
“Ad-ada apa?” tanyaku hati-hati dan diselimuti dengan kegugupan yang haqiqi.
“Bukan apa-apa. Hanya saja, aku mau bilang bahwa aku belum tuli, jangan teriak karena aku masih bisa dengar,” ujarnya santai. Lembut. Dan penuh kesabaran.
Ada apa dengannya?
***
Jennie kini sedang makan di kantin perusahaannya. Bersama Jisoo, tentunya.
Jennie tak habis-habis mengumpat dan menyumpah-serapahi Taehyung.
“Aku kesal pada Taehyung. Masa, aku dijadikan bahan pelampiasan? Ckckck!”
“Emang apa yang dia lakukan padamu?”
“Entahlah. Dia menyuruhku ini-itu. Mengambil itu, eh pas sudah kuambil, dia malah bilang tidak jadi. Kayak mak-mak lagi hamil,” kesal Jennie. Seketika Jisoo tertawa.
“Dia itu sedang mengetesmu,” Jisoo mengambil tissue untuk mengelap bibir merahnya.
“Mengetes?” tanya Jennie menaikkan alis matanya.
“Ya, mengetes. Apakah kau akan tahan dengannya?” Jawab Jisoo.
“Ck! Bahkan jika dia memecatku juga tidak apa-apa. Karena aku bukan gadis miskin. Gak kerja juga boleh, kok. Tapi karena aku berutang budi dengannya setelah membantuku membalas perbuatan Sehun dan Yeji. Aku bertahan walau kesal!”
“Lucunya,” ujar Jisoo lalu kembali memakan makanannya.
***
Jennie merebahkan tubuhnya di atas ranjang putihnya setelah pulang kerja. Dia kembali teringat akan Oh Sehun yang telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun lamanya.
“Aneh. Kenapa saat aku sedang cinta-cintanya dia malah melakukan itu?”
“Huh! Tak ada gunanya mengingat-ingat itu. Ada baiknya aku mandi,” Jennie segera pergi menuju kamar mandi untuk memulai ritualnya.
***
Sementara itu, Taehyung kini tengah berdiri di Danau tempat ia terakhir bertemu dengan gadis itu. Gadis yang pertama kalinya ia cintai, Im Nayeon. Ia mengingat senyuman Nayeon yang terlihat palsu saat ia mengatakan bahwa ia akan menikah.
“Apakah mencintai akan sesakit ini?”
Jawaban dari pertanyaan Taehyung itu adalah...
"Ya. Mencintai selalu sesakit itu. Seperti kau mencintai saudaramu sendiri." jawab seseorang, itu adalah Jungkook.
Taehyung menaikkan alisnya, "maksudmu?"
Jungkook duduk di samping Taehyung.
"Kau ingat ketika aku mengatakan aku mencintai seseorang yang sudah dimiliki?" tanya Jungkook.
"Ya, kuingat."
"Itu adalah Jennie, saudara sepupuku. Yang jelas tak akan bisa bersatu denganku. Betapa bodohnya aku menyimpan perasaan padanya. Dan betapa bodohnya aku malah mendukung hubungannya dengan si brengsek Sehun. Serta dengan bodohnya aku malah melukai Lisa."
Taehyung termenung, ia pikir kisah cintanya sudah sangat rumit. Ternyata kisah Jungkook tak kalah rumitnya dengannya.
"Tetapi aku berhasil. Aku mencintai Lisa sekarang. Walau aku masih posesif pada Jennie, itu arti sayangku. Dan Tae, aku juga menyayangimu. Kuharap kau tak sakit hati lagi."
"Bukannya kau tak membolehkanku bersama Jennie?" tanya Taehyung.
Jungkook tersenyum, "Jennie belum menjadi milik orang."