My Secretary

My Secretary
Bab 46



Tak mau memperdulikan dan memikirkan bagaimana sikap Dion padanya, Keyla justru terlihat santai dan nyaman mengobrol dengan Arkan. Sesekali tawa kecil lolos dari bibirnya saat Arkan membahas sesuatu yang lucu. Malam ini Keyla memang terlihat rileks saat berbicara dengan Arkan, tak lagi kaku seperti biasanya.


Mungkin karna ingin menghibur diri sendiri yang sejak tadi sudah dibuat kesal oleh Dion saat masih di rumah.


Saat sedang asik berbicara, Keyla tidak sengaja menatap ke arah lain dan pandangan matanya beradu dengan William. Sikap santai yang sejak tadi di tunjukan oleh Keyla, kini berubah tegang. Seketika keyla menundukkan pandangan, menghindari tatapan mata William yang tajam dan menyeramkan. Keyla tak berfikir akan ada William disini. Dia tidak ingat kalau sekarang William sudah menetap di Indonesia dan sudah pasti akan menghadiri acara penting ini.


Entah kenapa rasa takut saat melihat William tak pernah hilang. Hanya beberapa detik beradu pandangan dengannya saja sudah membuatnya berkeringat. Seketika kenangan buruknya bersama William muncul di ingatan.


"Key.? Are you oke.?" Tanya Arkan sembari menyentuh pundak Keyla. Bagaimana Arkan tidak menanyakan hal itu, sedangkan ekspresi dan gelagat Keyla berubah 180 derajat.


"A,aku baik-baik saja,," Jawab Keyla terbata.


"Wajah kamu pucat." Arkan reflek menyentuh pipi Keyla. Terasa dingin namun pelipisnya berkeringat.


"Aku mau ke toilet sebentar," Pamit Keyla, namun Arkan menahan tangannya.


"Tunggu, sebaiknya kamu minum dulu." Arkan mengambil oren jus dari nampan yang sedang dibawa oleh pelayanan, yang tengah berhenti di depannya. Arkan lalu memberikan minuman itu pada Keyla.


Keyla menerima minuman itu dan langsung meneguknya hingga habis. Rasa takut membuat tenggorokannya seketika mengering, dia sampai menghabiskan oren jus itu dalam sekali teguk.


"Aku tinggal sebentar Ar." Pamitnya lagi. Keyla meletakkan gelas kosong itu di atas meja, lalu bergegas pergi ke toilet.


Dion yang sejak tadi mengawasi gerak - gerik Keyla dan Arkan dari jauh, hanya menatap kepergian Keyla sampai wanita itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Selama Arkan masih berada di tempatnya, maka tak perlu beranjak untuk mengikuti Keyla.


"Bisa-bisanya ada laki-laki menyebalkan seperti itu selain kamu sayang." Gumam Celina sambil menatap kesal ke arah Dion. Di depan Keyla saja Dion pura-pura tidak peduli dan cuek, tapi diam-diam mengawasinya saat Keyla sedang bersama Arkan.


"Apa maksud kamu.? Kenapa menyamakanku dengan si breng -s*k itu.?" Sahut Vano tak terima.


Jelas Vano merasa dirinya jauh lebih baik dari siapapun. Karna merasa sudah menjadi suami dan ayah yang baik dengan memberikan seluruh cintanya pada Celina dan anak-anak.


"Karna dulu kelakuan kamu sama dengan Kak Dion."


"Memperlakukan wanita seenaknya.!" Keluh Celina.


"Ya ampun Baby,, itu sudah lama berlalu, kenapa masih membahasnya." Vano mendesah kesal.


"Aku mau ke toilet, ikut tidak.?" Tanya Vano sembari berkedip menggoda.


"Kamu bahkan bisa membangun hotel, kenapa mau mengajakku mesum di toilet."


"Apa uangmu sudah habis.?" Sahut Celina.


Vano langsung terkekeh, istrinya itu memang paling bisa membaca pikirannya.


*****


Keyla mencuci muka begitu sampai di toilet. Dia mengatur nafasnya yang memburu akibat rasa takut yang berlebihan.


Keyla berfikir akan pulang setelah ini, dia enggan melihat William lagi.


"Kenapa semakin panas,," Keyla mengibaskan kedua tangan di depan wajahnya. Dia baru saja menghilangkan keringat di wajahnya, tapi justru membuatnya semakin gerah.


"Ya ampun,, kenapa ini." Keyla merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Merasa ada sesuatu yang ingin dia lampiaskan.


Semakin lama menyadari bahwa dirinya menginginkan sebuah sentuhan.


Benda kenyal dan area intinya bahkan sudah bereaksi.


"Kenapa jadi begini,," Keyla mengambil tas di atas wastafel, dia buru-buru pergi dari toilet. Dalam keadaan seperti ini, rasanya tidak memungkinkan untuk tetap berada di tempat umum.


"Brruukkk.!"


"Maaf,," Ucap Keyla. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang begitu keluar dari toilet wanita.


"Van,,," Keyla menatap wajah Vano. Rupanya badan tinggi yang dia tabrak adalah Vano.


"Kenapa kamu.?" Tanya Vano datar. Dia menatap lekat wajah Keyla yang terlihat aneh, Vano paham betul apa yang sedang di rasakan oleh Keyla hanya dengan menatap wajah dan sorot matanya.


"A,,aku,,," Keyla tak meneruskan ucapannya, dia justru memandangi wajah Vano, kemudian menelusuri tubuhnya dari atas hingga bawah.


"Van,, panas,,," Ucap Keyla.


"Siapa yang memberimu minum.?!" Tanya Vano.


Kayla menggelengkan kepala, dia bukannya tidak ingat siapa yang memberikannya minum, tapi dalam keadaan seperti ini, akal sehatnya tak lagi berfungsi. Yang ada di pikiran Keyla hanya ingin menuntaskan hasrat yang terasa begitu menggebu hingga tidak bisa menahannya.


"Tunggu disini.!"


Vano bergeser menjauh, dia merogoh ponsel dan menghubungi Celina. Dia menyuruh Celina untuk menyeret Dion ke toilet.


Cukup lama menunggu mereka berdua datang. Vano sudah kewalahan melihat tingkah Keyla yang mirip dengan wanita penggoda. Terus mengigit bibir bawahnya, bahkan menggerayangi tubuhnya sendiri.


"Apa yang terjadi pada Keyla.?" Tanya Dion sembari mengikuti langkah Celina.


"Mana aku tau, suamiku hanya menyuruh Kak Dion untuk melihat Kak Keyla." Celina menjawab ketus. Dia jadi kesal sendiri akibat sikap Dion pada Keyla.


Mereka berjalan cepat menuju toilet.


"Ya ampun Evano.! Kak Keyla.!" Pekik Celina dengan kedua mata yang melotot tajam. Keyla tempak berdiri di depan Vano dengan jarak yang sangat dekat, keduanya terlihat akan berciuman.


Lebih tepatnya Keyla yang ingin mencium Vano.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat."


Vano mendorong pundak Keyla agar menjauh. Sejak tadi dia sudah melakukannya berulang kali, tapi Keyla tetap saja mendekat padanya lagi.


"Kamu pikir aku tidak bisa lihat.?!" Geram Celina. Dia mendekati Vano, langsung mendaratkan pukulan di da -da suaminya.


"Tidak bisa mengajakku mesum di toilet, kamu malah melakukannya dengan Kak Keyla. Seteleh itu menyuruh aku dan Kak Dion untuk datang agar menjadi penonton.?!" Seru Celina. Amarahnya sudah di ujung kepala. Panas melihat Vano dan Keyla sedekat itu.


"Sayang kamu salah paham." Vano memegangi kedua tangan Celina.


"Di, cepat lu bawa Keyla ke kamar hotel.!" Teriak Vano yang melihat Dion hanya berdiri di tempat dan menatap tajam pada Keyla.


"Lu yang mesum, kenapa gue yang harus bawa dia ke hotel." Sahut Dion geram.


"Si-alan emang lu.!" Sahut Vano sembari menggandeng tangan Celina dan mendekati Dion.


"Coba Lu lihat.?! Keyla dalam pengaruh obat perangsang.!"


"Kalau bukan Lu yang bawa dia ke kamar hotel, terus siapa lagi.? Lu mau nyuruh Gue manggil Arkan.?!" Omelnya panjang lebar.


"Udah Lu jangan banyak mikir.! Cepat bawa dia ke kamar kalau tidak mau sesuatu terjadi pada Keyla."


"Dosisnya tidak main-main, itu bahaya." Ujar Vano lagi. Dia sampai mendorong Dion agar menghampiri Keyla.


Tanpa pikir panjang, Dion langsung merangkul Keyla dan mengajaknya pergi dari sana.


"Tolong cari tau siapa yang memberinya obat itu." Pinta Dion sebelum pergi.


"Beres.!"


"Yang penting Lu siapin tenaga buat mengimbangi Keyla. Hati-hati kewalahan.!" Ledek Vano sembari menepuk pundak Dion.


"Lu pikir Gue lemah.!" Sahut Dion jengkel. Dia lalu beranjak dari hadapan Celina dan Vano.


"Sayang, bagaimana kamu bisa tau kalau Kak Keyla minum obat perangsang.?" Celina menatap heran.


"Kamu tidak memperhatikan sikap Keyla yang agresif seperti itu.? Dia bahkan tidak bisa mengendalikan diri."


"Aku sudah biasa berhadapan dengan wanita yang suka,,


Vano tidak jadi meneruskan ucapannya karna melihat tatapan tajam Celina.


"Apa.?!" Seru Celina sembari melotot.


"Itu dulu sayang, dulu sebelum kita menikah." Jawab Vano mencari aman.