
Sejak Dion menyuruh untuk makan bersama di ruangannya, Joe dan Diana terus mengajukan protes. Mereka berdua yang lebih banyak bicara dan berdebat satu sama lain. Saling meledek, sama-sama enggan untuk makan bersama. Ada saja kata-kata mereka yang mampu membuat Dion dan Keyla geleng-geleng kepala. Usia dan penampilan mereka yang dewasa, terlihat tidak sesuai dengan sikap keduanya yang terlihat kekanak-kanakan. Mereka berdua seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar.
"Kalian bisa diam tidak.?!" Seru Dion dengan sedikit menaikan suaranya. Sejak tadi dia memilih diam, menunggu keduanya sadar diri untuk mengakhiri perdebatan yang tidak penting, tapi semakin di biarkan malah membuat kepala terasa sakit dengan suara mereka.
Joe dan Diana seketika diam, menatap Dion bersamaan.
"Jojo benar-benar menyebabkan Di.! Dia duluan yang,,,
"Apa.?!! Kamu mau bilang aku duluan yang memulai.?!" Potong Joe tak terima. Matanya melotot menatap Diana.
"Ya ampun,,," Diana terperangah saat dibentak oleh Joe.
"Kamu lihat sendiri Di.? Dia selalu membuatku kesal. Bisa-bisanya membentakku" Adunya pada Dion.
Diana melirik malas pada Joe.
"Aku membentak pada orang yang pantas untuk di bentak." Timpal Joe cepat. Diana membulatkan matanya, begitu juga dengan Joe. Keduanya saling melotot, beradu tatapan tajam.
Keyla menarik nafas dalam. Sejujurnya dia juga pusing melihat keduanya berdebat, tapi memilih diam saja karna sadar bahwa dirinya hanya karyawan baru di sana. Tidak mungkin dia berani melerai Diana dan Joe agar mau mengakhiri perdebatan sengit mereka.
"Keluar.!!" Seru Dion. Matanya menatap Diana dan Joe dengan tajam. Seperti rasa kesal Dion sudah sampai di ubun-ubun akibat ulah keduanya.
Dia sampai tegas menyuruh mereka keluar dari ruangannya.
"Ide bagus Di, memang sebaiknya si Jojo ini keluar dari sini." Ujar Diana sembari menatap jengkel ke arah Joe.
"Bukan aku yang harus keluar, tapi kamu.!"
"Putri Diana harus kembali ke kerajaan.!" Cibir Joe ketus.
"Berisik.!! Cepat kalian keluar dari sini.!!" Dion berdiri dari duduknya, dia menarik tangan Diana dan Joe bersamaan agar mau beranjak dari sofa.
"Tapi Di, kenapa aku juga harus keluar.?" Protes Diana.
"Jojo biang keroknya, dia yang membuat gaduh,," Diana menunjuk wajah Joe.
"Kalian berdua sedang berdebat, sebaiknya lanjutkan saja di ruangan lain.!" Tegas Dion. Dia terus menarik Diana dan Joe untuk keluar.
Saat membuka pintu, seorang OB tengah berdiri di luar dengan membawa 2 paper bag dari restoran yang tadi di pesan oleh Dion.
"Maaf Pak, ini pesanannya."
Dion langsung mengambil 2 paper bag yang disodorkan padanya.
"Makasih," Ujarnya sembari memberikan uang pada OB itu.
"Akhirnya makanan kita datang, ayo makan." Joe dengan percaya diri ingin masuk kembali ke ruangan Dion, namun langkahnya terhenti saat kerah jasnya di tarik oleh Dion dari belakang.
"Apa kamu tidak ingat kalau aku sudah menyuruhmu keluar." Geram Dion. Dia menarik Joe hingga keluar ruangan.
"Ambil ini.!" Dion memberikan 1 paper bag pada Joe.
"Itu makanan kamu dan Diana."
"Kalian makan saja berdua dan lanjutkan berdebat.!" Ujar Dion sembari masuk kedalam ruangan dan langsung mengunci pintu.
Dion menghiraukan teriakan Diana dan gedoran pintu. Keduanya terdengar protes, setelah itu kembali berdebat lagi dan saling menyalahkan.
Saat berbalik badan dan akan berjalan ke sofa, Keyla sudah berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Mau kemana.?!" Tanya Dion dengan tatapan datar.
Ekspresi wajah Keyla seketika terlihat gugup.
"A,,aku,,," Keyla kebingungan untuk menjawab.
Sebenarnya dia ingin keluar saat Dion mengunci pintu, itu sebabnya dia buru-buru beranjak dari sofa dan berniat ijin untuk makan diluar saja.
"Kembali ke sofa dan makan.!" Titah Dion. Dia berjalan dengan langkah lebar, meletakkan paper bag di atas meja dan mengeluarkan isinya.
"Tapi Di, sebaiknya tidak usah di kunci pintunya." Usul Keyla dengan suara selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan Dion.
"Kamu mau tikus dan kucing itu masuk lagi kesini.?" Tanya Dion ketus. Keyla menggeleng cepat. Siapa juga yang mau mendengarkan perdebatan mereka yang hanya membuat kepala sakit.
"Kalau begitu tidak perlu perlu protes."
Keyla langsung menundukkan pandangan saat Dion menatapnya.
"Macam-macam seperti apa.?"
"Memangnya apa yang kita berbuat.?! Kita hanya akan makan siang. Mungkin pikiran kamu saja yang macam-macam."
Balasan Dion membuat Keyla merasa malu. Dia semakin tidak berani menatap Dion.
Dia tau Dion tidak akan melakukan apapun padanya mengingat kebencian Dion terhadapnya. Keyla hanya memikirkan tanggapan Diana dan Joe setelah ini. Keduanya tidak tau kalau hubungan dia dan Dion tidak baik, pasti mereka akan berfikir macam-macam setelah Dion mengunci pintu.
"Cepat duduk dan habiskan makanannya.!"
Keyla mengangguk cepat dan bergegas duduk didepan Dion.
Keduanya menghabiskan makanan tanpa banyak berbicara.
...****...
Sesuai dugaan Keyla, Diana dan Joe langsung menuduhnya telah berbuat mesum dengan Dion di dalam ruang kerja. Mereka berdua terkesan sedang mengintrogasi.
"Jadi apa saja yang kalian kalian lakukan didalam.?" Diana terlihat penasaran, dia sampai menatap intens wajah Keyla untuk mendengar jawaban darinya.
"Apa Dion sudah berbuat sesuatu padamu.?" Kini giliran Joe yang begitu penasaran. Dia bahkan sampai memeriksa tubuh Keyla, melihatnya dari ujung kepala sampai kaki kemudian memutarnya dan melakukan hal yang sama.
"Joe,, aku dan Pak Dion tidak melakukan apapun." Keyla menepis pelan tangan Joe yang tadi masih memegangi bahunya.
"Kami hanya makan. Pak Dion mengunci pintu karna tidak mau kalian masuk lagi ke dalam, bukan seperti apa yang kalian pikirkan."
Keyla menyangkal kecurigaan Diana dan Joe. Wajar kalau mereka berdua curiga, Keyla tidak menyalahkan mereka ataupun marah pada mereka.
"Syukurlah." Ucap Diana dan Joe bersamaan.
Keyla hanya menggelengkan kepalanya. Tingkah keduanya membuat Keyla tak habis pikir. Padahal jika dilihat - lihat, sifat mereka sangat mirip dan terlihat cocok. Tapi keduanya malah terlihat tidak mau akur.
"Aku permisi dulu." Keyla kembali melanjutkan langkahnya yang tadi di berhentikan secara paksa oleh Diana dan Joe.
Padahal dia sedang ada perintah dari Dion, perintah untuk membuatkan kopi.
Selesai membuatkan kopi, Keyla buru-buru kembali ke ruangan untuk memberikan kopi itu pada Dion.
Posisi laki-laki itu masih sama seperti semula, duduk tegap sembari fokus pada laptopnya.
"Ini kopinya Pak." Keyla meletakkan cangkir itu di meja Dion dengan cepat.
"Saya ijin keluar sebentar." Ujarnya kemudian berjalan buru-buru.
"Kenapa tangan kamu.?" Ucapan Dion menghentikan langkah Keyla.
Keyla menatap tangan kanannya yang sedikit melepuh karna terkena air panas. Padahal tadi sengaja meletakkan cangkir dengan gerakan cepat, tapi Dion masih bisa melihat tangannya yang memerah.
"Eumm,,, tidak papa, aku hanya ingin ke toilet." Jawabnya bohong. Entah kenapa dia tidak berani memberi tau Dion tentang kondisi tangannya yang barus saja tersiram air panas.
Keyla takut Dion akan khawatir jika melihat tangannya melepuh. Dulu Dion paling tidak bisa melihatnya terluka dan kesakitan.
Tidak percaya dengan jawaban Keyla. Dion langsung berjalan menghampiri sekretarisnya itu.
"Tidak papa kamu bilang.?" Ujar Dion ketus. Matanya menatap tangan Keyla yang melepuh.
"Duduk.!" Serunya. Dion melirik sofa, menyuruh Keyla untuk duduk di sana.
Tanpa bantahan, Keyla langsung menuruti ucapan Dion. Duduk di sofa dan memperhatikan Dion yang sibuk mencari sesuatu di laci yang terletak di sudut ruangan.
Laki-laki itu kembali dengan membawa kotak p3k ditangannya. Duduk di samping Keyla dan mengeluarkan salep luka bakar dari kotak itu.
Keyla hanya diam saja saat jari tangan Dion mengusapkan salep di punggung tangannya dengan gerakan lembut.
Keyla tersenyum tipis, setidaknya kebencian dan kekecewaan yang dirasakan oleh Dion tidak menghilangkan kepedulian Dion terhadapnya.
...****...
..."Terjebak Pernikahan Kontrak"...