My Secretary

My Secretary
Bab 45



Dion menatap Keyla dari ujung kepala sampai kaki. Riasan wajah dan dress yang dikenakan Keyla menarik perhatian Dion hingga menatapnya tanpa kedip. Rambut panjangnya yang dibuat curly di bagian bawah, membuat penampilan Keyla semakin terlihat anggun dan cantik.


Sudah lama Dion tidak melihat Keyla berpenampilan seperti itu. Sejak Keyla memutuskan untuk pergi meninggalkan.


"Ekhem,," Deheman Keyla membuyarkan lamunan Dion, laki-laki itu langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kenapa menatapku seperti itu.? Apa ada yang salah.?" Keyla jadi melihat dirinya sendiri atas sampai bawah.


"Cepat, nanti terlambat.!" Seru Dion ketus. Bukannya menjawab pertanyaan Keyla, dia malah berlalu begitu saja keluar dari kamar.


"Ada apa dengannya.?" Keyla menggeleng heran. Dia sudah khatam dengan watak Dion yang sering berubah - ubah seperti bunglon. Tapi saat Dion bersikap aneh seperti itu, Keyla tetap saja masih merasa heran.


Tak mau ambil pusing, Keyla bergegas keluar kamar untuk menyusul Dion. Hari mereka akan menghadiri undangan pesta dari salah satu pemilik perusahaan. Semua pemilik perusahaan dan jajarannya akan ada di pesta itu.


Pesta yang di adakan di sebuah ballroom hotel bintang 5.


Keluarga Papa Adiguna, termasuk Celina dan Vano juga turut hadir di sana.


Setelah pamit pada Papa Surya dan Leo, keduanya meninggalkan apartemen. Dion berjalan cepat mendahului Keyla setelah keluar dari apartemennya. Sementara itu Keyla terlihat susah payah mengejar langkah Dion, lantaran memakai high heels dan dress yang menguncup di bagian bawah hingga membuat langkahnya tidak bisa selebar biasanya.


"Pelan-pelan Di, aku tidak bisa jalan cepat." Pinta Keyla. Wajahnya tentu saja sedikit menahan kesal pada laki-laki itu, yang terlampau cuek sampai tidak menyadari kesulitan orang lain.


Dio menghentikan langkah dan berbalik badan, memperhatikan Keyla yang susah payah berjalan cepat untuk menyusulnya.


"Siapa suruh pakai sepatu dan dress seperti itu." Cibir Dion acuh.


"Lalu aku harus memakai sendal jepit dan celana jeans.?" Tanya Keyla sewot.


Mana mungkin dia tidak menyesuaikan diri dalam berpakaian untuk menghadiri acara besar dan penting seperti itu.


Keyla rasa, penampilannya saat ini juga akan jauh dibawah tamu undangan yang lain.


"Ide bagus, kenapa tidak seperti itu saja agar tidak menyusahkan." Dion menjawab enteng. Jawaban yang langsung membuat Keyla melotot kesal.


Memang susan menghadapi Dion. Jika tidak dilawan akan semakin menjadi, tapi saat dilawan pun tak mau kalah.


"Kalau begitu aku tidak usah ikut sekalian."


"Lagipula aku juga tidak minta di undang.".Ujarnya sewot. Keyla menghentikan langkah, berniat kembali ke apartemen, tapi Dion berjalan cepat menghampirinya dan mengangkat tubuhnya begitu saja.


"Ya ampun, apa yang kamu lakukan Di.!" Pekik Keyla. Kedua tangannya reflek dikalungkan di leher Dion lantaran takut terjatuh dari gendongannya.


"Kau ini benar-benar merepotkan.!" Keluh Dion. Dia berjalan cepat menuju lift.


"Kamu sendiri yang membuat dirimu repot, padahal aku hanya memintamu untuk berjalan lebih pelan, memang apa repotnya.?!" Seru Keyla tak mau kalah.


"Diam atau kamu mau aku jatuhkan di lantai.?!" Ancam Dion.


"Lempar saja sekalian.!" Tantang Keyla. Lama-lama dia geram sendiri menghadapi Dion.


"Oh jadi kamu di lempar.?" Dion mengulas senyum smirk yang membuat bulu kuduk Keyla meremang. Apalagi lagi melihat tatapan matanya yang terlihat membayangkan sesuatu. Keyla jadi berfikir kalau Dion memikirkan hal yang tidak-tidak padanya.


"Baiklah, setelah pulang dari pesta, aku akan melemparmu di atas ranjang." Ucapnya dengan senyum yang terlihat puas.


"Aku rasa kamu tidak waras Di." Cibir Keyla. Dia klau meminta Dion untuk menurunkannya, namun Dion tidak menggubris ucapannya dan terus menggendongnya sampai di depan mobil Dion.


suasana hening sepanjang perjalanan menuju tempat acara. Mereka saling diam dan Keyla lebih memilih membuang pandangan ke luar jendela.


...****...


"Ya ampun Kak Dion.! Kenapa membiarkan tangan wanita cantik menganggur.?" Celina tiba-tiba datang menghampiri Dion, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya.


"Kenapa apanya.? Kak Dion datang sama Kak Keyla kan.? Kenapa jalan sendiri dan membuat Kak Keyla berjalan di belakang." Celina mengarahkan pandangannya pada Keyla yang tertinggal jauh di belakang Dion.


"Harusnya Kak Dion seperti ini." Celina memamerkan tangannya yang sedang di genggam oleh Vano.


"Jangan terlalu kaku, coba belajar romantis sedikit saja, biar Kak Keyla mau kembali." Ucap Celina sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Dion.


"Kenapa harus bicara sedekat itu.!" Tegur Vano. Dia cemburu melihat istrinya hampir bersentuhan dengan Dion.


"Ckk,,! Cemburuan seperti ini kamu bilang romantis.?" Cibir Dion setelah melihat Vano protes.


"Cemburu itu tanda cinta, tentu saja termasuk dalam kategori romantis." Celina memberikan pembelaan untuk suaminya.


"Aku tidak mau tau." Ucap Dion acuh.


"Sudah, ayo masuk. Apa pentingnya bicara dengan tembok." Vano balik mencibir Dion. Dia merangkul pinggang Celina dan mengajaknya masuk ke ballroom.


"Kak Keyla kalau tidak kuat lebih baik cari di dalam saja. Banyak yang lebih tampan dan romantis,," Seru Celina. Dia sengaja bicara seperti itu untuk membuat Dion kesal, tapi entah bagaimana reaksi Dion setelah mendengarnya. Laki-laki itu hanya menatap datar ke arah Keyla yang sudah dekat ke arahnya.


"Jangan sengaja jalan lamban." Protes Dion. Tiba-tiba saja tatapan matanya berubah kesal.


"Sengaja kamu bilang.?" Keyla terlihat tak terima. Padahal sejak awal sudah bilang kalau dia tidak bisa jalan cepat mengimbangi langkah Dion yang tidak normal layaknya orang lain. Berjalan seperti mengajak seseorang untuk berlari.


"Kalau tidak mau menungguku, jalan saja sendiri." Keyla melengos, berlalu meninggalkan Dion untuk pergi ke ballroom.


"Jadi sudah makin berani padaku.?" Gumam Dion pelan, menatap kesal kepergian Keyla karna selalu menjawab dan menyangkal ucapannya.


Keyla terlihat risih masuk ke dalam ballroom. Beberapa pasang mata laki-laki paruh baya terlihat tertuju padanya. Tatapan yang menurut Keyla sangat menjijikkan, seperti laki-laki hidung belang.


Untuk kesekian kalinya Keyla mengoreksi penampilannya, dress yang dia pakai lebih tertutup dibanding dengan tamu undangan wanita yang ada di sini. Dress yang melekat ditubuhnya masih memiliki lengan, dan panjang sebatas lutut.


"Kamu salah berhenti," Tiba-tiba seseorang yang dia kenali suaranya, merangkul pundaknya dan membawanya pergi dari tempat Keyla berdiri tadi.


"Salah berhenti bagaimana.?" Kening Keyla berkerut menatap Arkan. Saking penasarannya dengan ucapan Arkan, Keyla sampai tidak sadar pundaknya masih di rangkul oleh Arkan meski mereka sudah menghentikan langkah.


"Mereka hobi menghabiskan waktu dengan wanita." Jawab Arkan. Hal seperti itu sudah menjadi rahasia umum. Pengusaha yang kebanyakan uang sering menyewa para wanita untuk memuaskan, walaupun hanya segelintir orang saja.


Keyla mengangguk paham.


"Kamu mau minum.? Biar aku ambilkan." Tawar Arkan.


"Makasih, aku akan ambil sendiri kalau haus." Tolak Keyla.


"Ya ampun, kalian serasi sekali." Puji Celina yang datang menghampiri keduanya sembari menggandeng tangan Vano.


"Benar kan Kak Dion.? Mereka sangat cocok.?" Celina menatap ke arah belakang Arkan dan Keyla, membuat keduanya kompak menoleh bersamaan.


Rupanya di sana ada Dion yang sedang berbicara dengan Papa Adiguna, dengan jarak yang cukup dekat.


Ucapan Celina hanya di tanggapi tatapan datar oleh Dion, lalu beralih menatap Keyla dan Arkan dengan tajam tanpa bicara apapun.


"Dasar gengsian." Geram Celina lirih. Keyla yang mendengar Celina menggerutu, langsung bertanya padanya.


"Siapa.?"


"Siapa lagi kalau bukan Kak Dion." Jawabnya sedikit kesal.


Rupanya bukan Keyla saja yang dibuat kesal oleh Dion, sepertinya Celina juga sudah dibuat naik darah oleh laki-laki itu.


...*** Jangan lupa Vote ***...