My Secretary

My Secretary
Bab 53



Dion bangun dari tidur nyenyaknya, suara di depan kamar mandi terdengar jelas di telinganya hingga membuat Dion terbangun. Dia beranjak dari ranjang dan bergegas pergi ke sumber suara.


Raut wajahnya sudah panik lebih dulu karna tau betul situasinya saat ini. Suara itu jelas milik Keyla yang seperti sedang memuntahkan isi perutnya.


Langkah tegapnya berhenti di depan wastafel, persis berdiri di sisi kiri Keyla yang menundukan kepala di wastafel.


"Kamu kenapa.?" Tanya Dion panik. Mana mungkin dia tidak panik melihat kondisi Keyla dengan wajah pucat dan terus mual meski terlihat tak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Tapi sepertinya sudah mengeluarkan isi perutnya sebelum Dion datang karna ada sedikit sisa makanan di wastafel.


"Tidak tau, tiba-tiba mual,," Keyla menjawab lemah. Dia lalu membersihkan mulut dan mencuci wajahnya.


Mendengar jawaban Keyla, Dion seketika diam dan tampak berfikir.


Keyla bahkan sampai harus menegurnya lantaran Dion tak bergerak sedikitpun. Mematung di tempat dengan tatapan mata yang tak berkedip menatapnya.


"Di,, kamu kenapa.?" Tanya Keyla bingung.


"Kapan terakhir kamu haid.?" Dion langsung mencecar Keyla dengan pertanyaan begitu lamunannya buyar.


Keyla tampak mengerutkan dahi, tak biasa Dion menanyakan hal itu, bahkan tidak pernah. Dion lebih sering bertanya "kapan haid kamu selesai.?" Dengan wajah memelas karna ingin bergulat di atas ranjang.


"Jawab aku, sudah berapa lama kamu telat.?" Desak Dion tak sabaran. Karna Keyla tak kunjung mengatakan sesuatu.


"Telat.?" Keyla mengulangi pertanyaan Dion sembari berfikir keras. Dia baru sadar kalau beberapa bulan terkahir tidak kedatangan tamu bulanan. Bahkan Keyla baru ingat terakhir kali haid saat 2 minggu setelah pernikahannya dengan Dion. Itu artinya sudah lebih dari 2 bulan dia tidak haid.


"Ya ampun, seperti sudah 2 bulan lebih aku tidak haid." Seru Keyla kaget. Perasaannya sudah pasti bercampur aduk. Firasatnya sangat yakin jika di dalam rahimnya telah tumbuh benih milik Dion.


"Oh my God,,!" Ucap Dion, dia lalu menggandeng tangan Keyla.


"Sebaiknya kita ke dokter sekarang." Ajaknya. Dia menuntun Keyla dengan hati-hati untuk keluar dari kamar.


"Tapi Di, pagi ini kita ada rapat tahunan." Ujar Keyla sembari menahan langkahnya. Tidak mungkin dia dan Dion harus absen dari rapat tahunan. Apalagi Keyla sebagai karyawan baru yang sudah diberi kepercayaan untuk bersuara di rapat tahunan kali ini.


"Kita bisa meminta Papa Adiguna untuk menunda rapatnya."


"Yang terpenting saat ini adalah membawamu ke rumah sakit, aku ingin memastikan apa di dalam sini sudah ada adik Leo,," Ucapnya sembari mengusap lembut perut Keyla.


Wajar saja jika Dion terlihat antusias, karna sejak awal dia memang menginginkan Keyla untuk mengandung darah dagingnya lagi.


Keyla tak bisa mengajukan protes, dia menuruti kemauan Dion untuk pergi ke rumah sakit.


Dion bahkan tidak sempat mengganti baju, bahkan hanya mencuci wajahnya saja.


Dia buru-buru mengajak Keyla keluar dari apartemen setelah pamit pada Papa Surya dan Leo.


Sampainya di rumah sakit, Dion meminta agar Keyla langsung di periksa oleh dokter kandungan.


Laki-laki itu memang tidak sabaran. Ingin cepat-cepat mengetahui hasil pemeriksaan dokter tentang kondisi Keyla.


"Apa.?! Kembar Dok.?!" Seru Dion dan Keyla bersamaan. Keduanya melongo saat Dokter mengatakan ada 2 kantung yang bersisi janin.


Dion dan Keyla bahkan bisa melihat dengan jelas melalui layar besar di depan mereka.


Usia kehamilan yang sudah 9 minggu, membuat kedua janin itu mulai terbentuk dengan sempurna. Kedua tangan dan kakinya bisa terlihat jelas walaupun ukurannya masih sangat kecil.


"Betul, kalian bisa melihatnya sendiri." Sahut Dokter.


"Keduanya tumbuh dan berkembang dengan baik."


"Untuk saat ini, usahakan menghindari pekerjaan yang melelahkan. Harus banyak istirahat dan perhatian makanannya."


Dion mendengarkan dengan seksama nasehat dari dokter itu. Dia bahkan sangat antusias menanyakan banyak hal mengenai kehamilan kembar. Laki-laki itu sudah siap siaga mengurus kehamilan Keyla dan menyambut anak kedua sekaligus anak ketiga mereka dengan penuh kebahagiaan.


...****...


Namun Keyla masih melalui masa mengidam dan morning sickness yang terbilang parah.


Dia sampai harus berhenti bekerja 1 minggu setelah dinyatakan hamil. Dion tak membiarkan Keyla kembali ke kantor meski awalnya Keyla merengek agar bisa tetap bekerja. Wanita hamil itu ingin selalu berada di samping Dion, itu sebabnya dia tidak setuju saat Dion memintanya berhenti bekerja.


Dan sekarang Dion sendiri yang merasa kewalahan lantaran Keyla selalu menelponnya setiap 1 jam sekali.


Tak jarang merengek, meminta Dion untuk segera pulang ke rumah, padahal saat itu dia barus saja sampai di kantor kurang dari 1 jam.


Seperti halnya pagi ini, Keyla terus menahan Dion agar tidak berangkat ke kantor. Dion bahkan terlihat frustasi setelah 2 bulan menghadapi sikap posesif Keyla dan kecurigaan.


"Ayolah sayang,, jangan seperti ini. Aku sudah terlambat." Bujuk Dion. Dia sampai menyuruh Papa Surya yang mengantar Leo ke sekolah karna Keyla tak mengijinkannya pergi.


"Kali ini saja, tidak usah berangkat,," Pinta Keyla dengan rengekan. Dia terus bergelayut di lengan Dion dan memasang wajah menyedihkan.


"Tapi kamu sudah sering menahanku," Keluh Dion. Nyatanya memang sudah sering dia batal berangkat ke kantor karna Keyla. Tapi setiap kali Keyla merengek, selalu mengatakan seperti itu. Seakan dia tidak pernah membuat Dion batal ke kantor.


"Ayolah Keyla, aku hanya ke kantor, bukan ke luar negeri." Ucap Dion sembari menahan kesal.


"Ya sudah, berangkat saja." Keyla melepaskan tangan Dion dari dekapannya. Dia menunduk sedih dan berlalu dari hadapan Dion menuju ke kamarnya.


Dion menghela nafas berat. Sebenernya tak tega melihat Keyla sedih seperti itu, tapi dia juga tidak mungkin terus-terusan menuruti keinginan Keyla, sedangkan dia punya tanggungjawab pada perusahaan.


Dion menyusul Keyla, memeluk tubuh berisi itu dari belakang.


"Aku janji akan pulang lebih awal." Ucapnya.


"Papa Adiguna memberikan kepercayaan padaku untuk memimpin perusahaan, aku tidak mau membuat beliau kecewa karna mengabaikan tanggungjawab." Tutur Dion lembut.


"Aku tidak bisa seenaknya seperti ini, tolong mengerti." Pintanya memohon.


Keyla tak menanggapi apapun, dia hanya mengangguk paham.


Dion semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap perut Keyla penuh cinta.


"Papa janji akan pulang cepat,,"


"Sudah sana berangkat, nanti terlambat,," Keyla melepas pelukan Dion, kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Dion dan mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya itu.


Lalu beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamar.


Dion hanya bisa menggeleng melihat sikap Keyla. Wanita hamil itu terkadang sangat sulit di kendalikan dan dibujuk, tapi tak jarang mau mengerti.


Saat ini Dion merasa sangat bersyukur dengan kehidupan rumah tangga dan keluarga kecilnya. Terlepas dari kejadian buruk dan rasa sakit yang dulu dia terima, kebahagiaannya saat ini mampu menghapus luka dan rasa sakit di hatinya.


...TAMAT...


ekstra partnya nanti kalau ada waktu.🙏🏻


Info novel baru : Selingkuhan Om Tiri



Terimakasih kepada semua pembaca yang sudah sabar menanti novel ini (My Secretary) sejak awal.


Mohon maaf atas segala kendala dan keterlambatan update.


Othor hanya manusia biasa yang terkadang moodnya naik turun.


Sekali lagi othor minta maaf yang sebesar-besarnya karna novel ini banyak kendalanya. 🙏🏻