
Keyla masuk ke dalam mobil dengan raut wajah sendu bercampur penyesalan.
Selama ini Dion menyembunyikan perceraiannya dari sang Papa selama bertahun-tahun. Sebisa mungkin tidak menambahkan beban untuk sang Papa yang sudah merasa bersalah karna telah membuat mereka kehilangan seluruh harta dan perusahaan mereka.
Tadi saat bertemu dengan Papa mertuanya, hati Keyla merasa tercabik-cabik karna beliau mengatakan terimakasih pada Keyla lantaran mau bertahan dan tetap mendampingi Dion dari saat kehilangan segalanya sampai mulai bisa bangkit lagi meski statusnya hanya orang kepercayaan Papa Adiguna.
Bagaimana Keyla merasa bersalah saat Papa mertuanya mengucapkan terimakasih padanya sedangkan dia telah meninggalkan putranya dalam keadaan terpuruk.
Andai saja beliau tau, tidak mungkin akan menyambutnya dengan baik dan senyum tulus yang dulu jarang beliau perlihatkan di depan Keyla.
"Kenapa harus menyembunyikan semua ini.? Apa Papa tidak curiga, sedangkan aku tidak pernah datang menjenguknya." Keyla mulai bersuara setelah Dion melajukan mobilnya.
Sejak tadi Dion hanya memasang wajah datar, bahkan saat menemui Papanya.
"Tidak ada untungnya bercerita." Sahut Dion acuh. Dia pikir akan semakin sulit jika sang Papa mengetahui semuanya. Beliau sudah pasti akan terpuruk karna merasa menjadi biang dalam kehancuran keluarga mereka.
"Bagaimana mau curiga, aku bahkan jarang menemuinya."
Selama hampir 5 tahun ini memang bisa dihitung hanya beberapa kali Dion menemui Papanya di tahanan. Bukan karna tidak peduli, namun Dion selalu merasa iba dan sakit melihat orang tuanya menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam penjara.
2 bulan lagi masa tahanan sang Papa akan berakhir. Dion hanya perlu menyiapkan diri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya bersama Keyla.
"Maaf Di, aku tidak tau akan serumit ini." Ucap Keyla tulus.
"Semoga Papa bisa bertemu dengan Leo. Setidaknya kehadiran Leo bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk Papa setelah apa yang menimpanya."
Dion tidak menjawab, dia hanya melirik sekilas dengan tatapan datar.
Suasana hening hingga keduanya sampai di rumah Celina.
Dion memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Makasih Di,," Ucap Keyla sembari membuka pintu mobil.
"Jam berapa kalian pergi ke bandara.?" Tanya Dion.
"Mungkin setelah makan malam."
"Aku akan mengantar kalian nanti." Ujar Dion.
Keyla tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepala dan keluar dari mobil.
...*****...
Keyla buru-buru mengajak Leo dan Naura keluar lantaran Dion sudah menunggu di depan.
Dion itu benar-benar menepati janjinya untuk mengantar mereka ke bandara.
Dion nampak sudah menunggu di samping mobil dengan menyenderkan tubuhnya.
Sudah beberapa menit sampai tapi tidak mau masuk ke dalam.
"Ayo Aunty,, mobil Uncle sudah sampai,," Naura menarik tangan Keyla dan setengah berlari menuju mobil Dion.
"Pelan-pelan sayang, nanti jatuh." Tegur Keyla lembut.
"Iya Aunty."
Sementara itu, Leo menatap malas pada Naura yang terlihat menguasai Mamanya. Dia berjalan malas dibelakang mereka.
Dion keluar dari mobil untuk membukakan pintu belakang. Dia mempersilahkan Naura dan Leo untuk masuk.
"Kalian duduk di belakang ya,," Pinta Dion.
Naura langsung menurut dan masuk kedalam. Berbeda dengan Leo yang memilih duduk disamping kemudi.
Dion menghampiri Leo, mengusap lembut pundaknya.
"Leo,, temani adik kamu di belakang,,"
Leo menggelengkan kepala, enggan menuruti perintah Papanya.
"Leo lupa sama nasehat Papa.? Naura itu adik Leo, jadi Leo harus baik dan sayang sama Naura."
"Ayo ke belakang, ini tempat duduk Mama."
Perkataan Dion berhasil membuat Leo turun dari mobil pindah ke belakang bersama Naura.
Bersamaan dengan itu, Dion terlihat kesal melihat Keyla yang juga ikut duduk bersama mereka.
"Kenapa duduk dibelakang.? Memangnya aku supir." Protes Dion. Ekspresi datarnya penuh dengan rasa kesal.
"Cepat pindah ke depan." Ujarnya tegas.
"Hah.?" Keyla malah bengong. Tidak biasanya Dion meminta dirinya duduk didepan seorang diri. Biasanya selalu memangku Leo yang ingin duduk di depan.
Tapi karna tadi ada Naura, jadi Keyla memutuskan untuk menemani Naura dan berfikir kalau Leo yang akan duduk di samping Dion.
Dia sempat kaget saat Dion menyuruh Leo pindah kebelakang.
"Kenapa bengong.?! Cepat pindah ke depan." Titahnya tak mau dibantah. Setelah itu masuk kedalam mobil.
Naura begitu antusias dan bahagia menyambut orang tuanya. Berlari cepat menghampiri keduanya.
Dion membiarkan keluarga kecil itu melepas rindu. Menatap kebahagiaan mereka dengan sedikit sesak di dadanya.
Andai, andai dan andai,,, selalu saja kata-kat itu yang muncul di benaknya setiap kali merasakan sesuatu yang menusuk dada.
Setelah puas bercengkrama, Vano mengajak mereka untuk segera pulang. Mereka langsung menuju ke mobil Dion.
Sepanjang perjalanan hanya terdengar obrolan antara Celina dan Keyla yang membahas tentang keseharian anak-anak.
Celina bahkan sempat membicarakan tentang perjodohan antara Leo dan Naura. Hal itu membuat Keyla kaget lantaran kedua anak mereka masih sangat kecil namun Celina sudah membahas perjodohan.
Sementara itu Dion dan Vano hanya terlibat obrolan sekilas. Menanyakan tentang kondisi perusahaan.
...****...
Begitu sampai di rumah, Celina dan Vano yang menggendong Naura bergegas asuk ke dalam setelah mengucapkan terimakasih kasih pada Dion. Vano sudah mengajak Dion untuk masuk, tapi menolak.
"Leo," Dion berjongkok di depan putranya.
"Papa pulang dulu,," Pamitnya lembut. Namun Leo tidak mengijinkan Dion untuk pulang. Leo memaksa Dion untuk masuk ke dalam karna ingin tidur bersama dengan Papa dan Mamanya.
Keyla sudah berusaha membujuk, begitu juga dengan Dion yang menjanjikan mainan, namun Leo tetap tidak mengijinkan Dion untuk pulang.
Tidak mau melihat Leo semakin merengek, akhirnya Dion menuruti permintaan Leo.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk dan sampai di ruang keluarga, Celina nampak bingung melihat Dion. Padahal tadi tidak mau masuk saat Vano menawarinya.
"Kak Dion tidak jadi pulang.?" Tanya Celina.
"Leo mau tidur sama Mama dan Papa." Sahut Leo cepat.
Kepanikan langsung menyelimuti wajah Keyla dan Dion, terlebih melihat tatapan Celina dan Vano yang seolah berfikir macam - macam.
"Jadi selama 1 minggu ini kalian,,,,
Ucapan Celina terputus karna Keyla langsung memotongnya.
"Tidak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Dion tidak tidur bersama." Sangkal Keyla sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
Melihat kepanikan diwajah Keyla dan Dion, Celina justru mengulas senyum jajahil.
"Tidur bersama juga tidak masalah. Asal jangan lupakan pengaman, nanti Leo kaget dapat adik mendadak." Celetuk Celina dengan menahan tawa.
"Sayang.!" Vano menegur istrinya dengan lirikan tajam. Mulut istrinya memang susah untuk dikendalikan.
Celina hanya menyengir kuda.
"Hehe,"
"Jadi ingin tidur bertiga, ayo Naura ke kamar Mommy." Celina beranjak dari duduknya sembari menggandeng tangan Naura.
"Daddy mau ikut tidur tidak.?" Tawar Celina dengan nada menggoda. Dia mengajak Vano, tapi tatapan matanya mengarah pada Keyla dan Dion yang sedang menahan malu.
"Ekhemm,," Vano berdehem untuk mencairakan suasana yang kau akibat ucapan istrinya.
"Kami ke atas dulu."
Vano beranjak dan bergegas mengikuti Celina.
...****...
Dan di kamar ini lah Dion bersama Keyla merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sama.
Leo sudah tidur 30 menit yang lalu setelah mengajak Dion bermain dan mengobrol di dalam kamar lebih dari 2 jam.
"Leo sudah tidur, tidak apa kalau kamu mau pulang Di." Setelah menahan diri tidak bicara, akhirnya Keyla menawari Dion untuk pulang.
Dion menoleh, meski ada Leo di tengah-tengah mereka, jarak keduanya tetap terasa dekat hingga Dion bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.
"Kamu pikir ini jam berapa.?" Tanya Dion datar.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Dion bahkan sudah lelah lantaran banyak menyetir hari ini.
"Aku hanya menawari saja barang kali kamu risih tidur bersama karna Celina dan Vano." Ujar Keyla.
"Mereka bahkan tidak protes."
"Kamu tidak dengar Celina sampai membahas pengaman. Jadi kenapa aku harus risih." Sahut Dion acuh.
Jawaban Dion langsung membungkam mulut Keyla sampai tidak bisa berkata-kata.
...****...
yang belum sempet baca bab ini di novel "Pesona sang duda" bisa baca di bab 96.