My Secretary

My Secretary
Bab 20



Keyla langsung berbalik badan membelakangi Dion dan Leo. Pembahasan singkat yang dia lakukan bersama Dion telah membuatnya malu sekaligus tidak berani lagi untuk berbicara.


Bisa-bisanya Dion membahas tentang pengaman yang tadi di bicarakan oleh Celina.


Keduanya melewatkan tidur dengan saling membelakangi. Keberadaan Leo memberikan batas aman untuk mantan suami istri itu hingga pagi menjelang. Tidak ada hal aneh yang terjadi di antara mereka berdua meski berada dalam ruangan yang mendukung. Mendukung untuk mengulang masa-masa yang mungkin di rindukan oleh salah satu dari mereka.


Bangun lebih awal, Keyla beranjak turun dari ranjang dengan hati. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan diri. Meski sudah bekerja, Keyla jarang melewatkan untuk membantu membuat sarapan. Dia sadar diri dengan posisinya di rumah ini.


"Aunty,,,!! Aunty,,,!!" Suara teriakan dan gedoran pintu membuat Dion terbangun. Dia buru-buru membuka pintu agar Leo tidak terbangun dari tidur nyenyaknya.


Begitu membuka pintu, Naura langsung menyelonong masuk untuk mencari keberadaan Keyla. Beruntung saat itu Keyla langsung keluar dari kamar mandi dan bisa menghentikan teriakan Naura yang terus mencarinya.


"Sayang ada apa.?" Keyla langsung menghampiri Naura yang terlihat ketakutan.


"Tolong Aunty, ada hantu di kamar Mommy."


Tutur Naura. Wajahnya terlihat ketakutan.


"Hantu.?"


Ucap Dion dan Keyla bersamaan, keduanya tentu saja bingung dan sulit untuk percaya dengan ucapan Naura. Rasanya aneh bisa melihat hantu pagi-pagi seperti ini. Kalau malam hari mungkin mereka masih sedikit percaya.


Naura mengangguk cepat.


"Memang daddy dan Mommy dimana.?" Tanya Keyla.


"Daddy dan Mommy di makan hantu. Ayo Aunty, tolong mereka,," Naura menarik paksa tangan Keyla. Tenaganya lumayan besar sampai membuat Keyla terseret dan akhirnya mengikuti Naura.


"Uncle ayo tolongin Daddy." Naura juga menyuruh Dion untuk ikut.


Sebenarnya mereka semakin bingung dan tidak mengerti dengan penuturan Naura yang terdengar tidak masuk akal. Tapi karna merasa penasaran, akhirnya mereka berdua mengikuti Naura hingga ke dalam kamar Celina.


Ketiganya buru-buru masuk ke dalam kamar. Saat itu juga Dion dan Keyla dibuat syok.


"Aaargghhh,, uuughhh,,," Suara erang an yang berulang - ulang serta saling bersautan, membuat kedua mata Dion dan Keyla membulat sempurna.


Suara itu berasal dari dalam kamar mandi. Cukup keras hingga terdengar menggema di dalam kamar. Pantas saja Naura ketakutan dan memanggil bantuan.


Hanya bertahan beberapa detik di dalam kamar, Dion dan Keyla langsung membawa Naura untuk keluar kamar. Dion menutup pintu kamar begitu mereka keluar.


"A,,aku ke bawah dulu." Ucap Keyla gugup. Dia menggendong Naura dan segera membawanya pergi.


Wajah Keyla memerah menahan malu.


Bagaimana tidak, dia mendengar suara live Celina dan Vano di samping Dion yang dulu pernah merasakan hal serupa dengannya.


"****.!!!" Umpat Dion kesal.


Entah dosa apa yang telah dia perbuat sampai harus mendengar suara panas itu sepagi ini.


Pikirannya jadi melayang kemana-mana. Bahkan membuat tubuhnya panas dingin.


Dia bukannya membayangkan adegan panas antara Celina dan Vano, tapi membayangkan dirinya bisa melakukan hal seperti itu.


Dion dalam perjalanan pulang. Dia mengurungkan niatnya untuk sarapan bersama.


Apa lagi saat Vano meledeknya karna tau dia telah mendengar suara live mereka di kamar mandi. Hal itu semakin membuat Dion ingin segera pergi.


Dia pikir Vano akan malu saat di tegur melakukan olah raga tidak tau waktu dan tempat, tapi yang ada malah Vano meledek dan membuat Dion tambah tidak karuan.


...*****...


Keyla sedang membereskan meja kerjanya. Tadi Dion memberitahunya kalau harus pergi untuk meninjau proyek di luar kota. Sebenarnya Keyla sedikit keberatan untuk pergi karna khawatir akan pulang terlalu malam sedangkan ada Leo yang menunggunya di rumah. Sekalipun bisa menitipkannya pada Celina, tetap saja tidak tenang dan merasa tidak enak pada Celina. Apa lagi Celina tengah hamil besar.


"Sudah siap.?" Tanya Dion. Keyla menoleh dan hanya memberikan anggukan kecil. Mau tidak mau, dia akan tetap ikut dengan Dion karna memang sudah jadwalnya pergi hari ini. Hanya saja waktunya di buat mundur karna tadi pagi Dion ada pertemuan dengan klien asing yang tidak bisa di tunda.


Keduanya keluar dari ruangan. Suasana di dalam gedung cukup sepi karna sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Joe juga sibuk di ruang kerjanya setelah Dion memberikan tugas untuknya.


Kalau saja tidak ada pekerjaan mendesak, mungkin saat ini Joe sudah memaksakan diri untuk ikut dengan mereka.


Dion sudah 3 kali datang ke tempat ini. Letaknya yang berada di sekitar tempat wisata, memberikan peluang besar pada hotel yang sedang dibangun oleh perusahaan Papa Adiguna.


"Bangun, sudah sampai." Suara datar Dion membangunkan Keyla dari tidurnya. sudah lebih dari 1 jam dia tidur selama dalam perjalanan.


Sebenarnya tidak ada niat untuk tidur, namun suasananya terlalu mendukung karna sejak keluar dari kantor, tidak ada yang bersuara.


"Ehh,, maaf aku tiduran." Keyla tersenyum kikuk. Dia merapikan rambutnya, kemudian keluar dari mobil dengan membawa tas kerja miliknya.


Dion menyusul keluar dengan wajah datar.


Kedatangan mereka langsung di sambut devisi yang menangani proyek tersebut.


Dion dan Keyla di ajak masuk ke dalam gedung berlantai 10 yang sudah melalui proses pembangunan hampir 80 persen. 20 persen lagi untuk finishing, setelah itu tahap pengisian furnitur dan sebagainya.


Tidak terasa sudah lebih dari 1 jam berkeliling gedung dan hampir 2 jam meeting.


Keyla melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul 5 sore. Dia terlihat gelisah, takut akan terjebak macet dan pulang terlalu malam.


"Pak,," Panggil Keyla lirih. Dion menoleh setelah mengakhiri pembicaraan dengan mereka.


"Ada apa.?"


"Bisa pulang sekarang.? Saya takut pulang terlambat. Le,,, maksud saya, anak saya sudah menunggu di rumah." Jelas Keyla. Dia menundukan pandangan. Sebenarnya tidak salah kalau meminta pulang karna memang pekerjaan mereka sudah selesai.


"Hemm." Dion menjawab datar namun segera pamit pada mereka dan mengajak Keyla meninggalkan tempat itu.


Baru 15 menit melajukan mobilnya, hujan lebat disertai angin kencang mengguyur wilayah itu.


Dion memelankan laju mobilnya lantaran jalanannya yang curam dan licin akibat guyuran hujan.


Dion mendadak mengerem setelah merasakan ban belakangnya bocor.


"Kenapa Di.?" Tanya Keyla panik. Dia hampir membentur dashboard karna mobilnya berhenti mendadak.


"Sepertinya bannya bocor." Jelas Dion.


"Tunggu disini." Pintanya pada Keyla.


Dia mengambil payung kecil di jok belakang, lalu keluar dari mobil untuk memeriksanya.


Sementara itu Keyla terlihat cemas melihat ke arah luar. Langitnya sangat gelap karna tertutup awan hitam, ditambah hari yang sudah menjelang malam.


Hujan bahkan masih sangat deras. Keadaan di sekitar sangat sepi karna berada di sekitar hutan.


Siapa yang tidak cemas jika berada dalam situasi seperti ini.


"Bagaimana Di.?" Tanya Keyla penasaran.


"Kita cari penginapan disini. Bannya bocor." Jawabnya. Dion kembali duduk di kursi kemudi, menyalakan mobilnya dan membawanya ke tepi jalan yang cukup aman.


"Pakai ini." Dion melepaskan jasnya dan memberikannya pada Keyla.


Keyla menurut dan langsung memakainya.


Dion memasukkan ponsel kedalam tas kerjanya yang berisi laptop dan dokumen penting.


"Kamu bawa tas ini, tangan sampai basah." Pinta Dion.


"Kamu pakai payungnya." Dion juga menyodorkan payung kecil tadi pada Keyla.


"Tapi Di, kamu,,,


"Sudah pakai saja.! Payung ini tidak muat untuk dua orang." Seru Dion tegas. Dari pada di pakai bersama tapi pada akhirnya sama-sama basah, lebih baik dipakai 1 orang tapi barang-barang dan dokumen mereka aman.


"Ayo turun, di depan ada beberapa rumah." Dion membuka pintu dan bergegas keluar.


Keyla juga keluar setelah menggantungkan tas miliknya dan Dion di lehernya.


Dia mengikuti langkah Dion sembari menatap kasihan pada mantan suaminya itu yang harus basah kuyup sementara dirinya aman dari guyuran hujan karna memakai payung.