My Secretary

My Secretary
Bab 36



Pagi ini mereka sudah bersiap untuk pergi ke rumah Celina. Papa Adiguna dan Mama Alisha sudah pulang 2 minggu yang lalu namun mereka belum sempat datang ke sana.


"Ayo berangkat,," Dion menggendong Leo. Tadi pagi dia pulang ke apartemen hanya untuk mandi saja, setelah itu kembali ke apartemen Keyla untuk sarapan bersama.


Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pisah apartemen dan satu apartemen.


Nyatanya semalam mereka tidur 1 ranjang. Dion juga ikut sarapan bersama.


Pisah apartemen seperti jadi status saja, pada akhirnya tetap banyak interaksi antara mereka dalam satu apartemen.


Keyla membuntuti Dion di belakang. Menatap punggung lebar dan tegap itu dengan segala pemikiran di kepalanya.


Sikap Dion membuat Keyla terkadang bingung dengan isi hati laki-laki itu. Terkadang saat Dion sedang menunjukkan perhatian padanya, Keyla merasa Dion masih memiliki perasaan cinta untuknya.


Namun saat Dion bersikap seenaknya dan dingin, Keyla melihat kebencian dan kekecewaan dari sorot matanya.


Jadi tidak tau apa yang sebenarnya ada dalam hati Dion saat ini. Rasanya aneh jika perasaan cinta dan benci bercampur jadi satu untuk orang yang sama. Keyla tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya.


Karna Keyla sendiri memiliki rasa benci dan cinta pada orang yang berbeda. Tidak bisa menggabungkan 2 rasa yang bertolak belakang dalam waktu yang bersamaan.


...*****...


Sampainya di rumah Papa Adiguna, mereka di sambut hangat oleh semua orang. Terlebih Papa Adiguna dan Mama Alisha yang langsung berebut ingin menggendong Leo. Sudah beberapa bula mereka tidak bertemu Leo secara langsung.


Kerinduan tergambar jelas di wajah keduanya.


Keyla hanya bisa tersenyum bahagia melihat Papa Adiguna dan Mama Alisha menyayangi Leo layaknya cucu kandungnya sendiri.


"Kenapa kalian baru datang.? Apa sesibuk itu pekerjaan kalian.?" Mama Alisha langsung protes.


"Oma dan Opa sudah rindu dengan cucu tampan ini,," Mama Alisha memeluk Leo, mendekapnya erat.


"Maaf Mah,, kami baru sempat datang." Ucap Keyla lirih.


"Aku senang karna Papa sudah sehat sekarang." Keyla tersenyum lega melihat kondisi Papa Adiguna yang sudah pulih paska operasi. Dia sudah di nyatakan sembuh dan sehat.


"Terimakasih, ini juga berkat doa dari anak-anak Papa." Ujar Papa Adiguna. Dia begitu bijak sana. Padahal anak kandungnya hanya Celina, tapi menganggap semua orang yang ada di sana sebagai anaknya. Termasuk pada dia dan Dion yang sebenarnya tidak ada hubungan keluarga.


"Naura juga mau di gendong,," Tiba-tiba Naura merengek, menghampiri Mama Alisha yang sedang menggendong Leo.


"Naura, sini sama Daddy dulu,," Vano memanggil putrinya yang tiba-tiba turun dari pangkuannya dan menghampiri Mama Alisha.


"No.! Naura mau gendong Oma saja." Naura menolak keras.


"Sudah sini, Naura sama Opa. Nanti gantian gendongnya sama Leo." Papa Adiguna beranjak dari duduknya, dia lalu menggendong Naura yang tidak memberikan penolakan.


Mereka mulai terlibat obrolan ringan dan hangat.


Kebaikan serta kasih sayang Papa Adiguna dan Mama Alisha pada mereka, membuat mereka bisa merasakan kehangatan dalam keluarga.


Tidak ada batasan, tidak ada yang di bedakan. Papa Adiguna dan Mama Alisha memperlakukan mereda dengan sangat adil.


"Sebentar lagi Naura akan punya adik, kalian tidak punya niatan membuatkan adik untuk Leo.?" Tanya Vano setelah tadi mereka membahas tentang persalinan Celina. Dengan santainya dia menatap Keyla dan Dion yang duduk sebelahan.


Pertanyaan konyol Vano membuat mereka tersedak. Keduanya kompak mengambil air minum dan meneguknya dengan cepat.


"Sayang.! Kau itu yang benar saja." Tegur Celina. Mulut Vano memang terkadang perlu di ikat.


"Mereka harus menikah dulu sebelum membuatkan adik untuk Leo.!" Serunya lagi.


"Jangan seperti kita." Kali ini Celina berbisik pada Vano.


"Kalian mau menikah.?" Papa Adiguna bersuara. Dia memang sudah menganggap mereka seperti anak kandung sendiri, namun tidak mau mencampuri urusan pribadi mereka, apa lagi dengan latar belakang mereka yang dulu pernah menyandang status suami istri.


"Tidak." Jawab Keyla cepat. Berbeda dengan Dion yang memilih diam.


"Tidak apa kalau memang ada rencana seperti itu, Kami pasti akan mendukung."


"Papa yang akan mengurus keperluan kalian kalau kalian ingin menikah." Terang Papa Adiguna. Dia sangat mendukung kalau Dion dan Keyla kembali bersatu.


"Jangan terlalu lama berfikir kak, Ada kak Arkan yang siap menikung." Celuk Celina. Dia terlihat sengaja memanasi Dion.


"Siapa cepat dia dapat." Sambung Vano dengan senyum mengejek. Dion langsung menatap tajam.


Pasangan suami istri itu memang selalu membuatnya naik darah kalau urusan mengejeknya.


"Sudah,, kalian berdua kenapa jadi kompor seperti ini." Mama Alisha menggeleng heran. Anak-anaknya jadi kompak menjahili Dion dan Keyla.


"Mereka memang harus dikomporin Mah, kalau tidak nanti jalan di tempat."


"Keliatannya pada nolak, sebenarnya saling cinta." Celina menahan tawa mengatakan hal itu.


"Apa Mama dan Papa tau kalau mereka tinggal bersama.? Bukankah itu bahaya kalau mereka tidak cepat di nikahkan.?"


Kini ucapan Celina berhasil membuat Dion dan Keyla syok. Jantungnya serasa akan lompat dari tempatnya. Mereka tidak pernah mengira kalau Celina akan mengadukan hal itu pada kedua orang tuanya.


"Tidak.!" Seru Dion dan Keyla bersamaan.


"Tidak, kami tidak tinggal bersama." Ujar Keyla memperjelas.


"Aku dan Leo tinggal apartemen yang berbeda." Ucapnya lagi. Keyla berusaha membuat Papa Adiguna dan Mama Alisha tidak berfikir macam-macam padanya.


"Oh ya.? Aku pikir Kak Dion dan Kak Keyla tinggal bersama." Celina menatap tak percaya dengan pembelaan Keyla.


Bagaimana dia bisa percaya, sedangkan dia tau kalau saat itu Dion mengajak Keyla untuk tinggal bersama di apartemennya.


"Kalau begitu biar aku tanyakan pada Leo, anak kecil tidak mungkin berbohong kan.?" Celina mengulas senyum kepuasan. Dia senang melihat wajah Dion dan Keyla yang berubah pucat.


"Leo sayang, Aunty mau tanya." Celina sengaja mengeraskan suaranya. Leo langsung menoleh, menatap serius ke arah Celina.


Sementara itu, Keyla dan Dion terlihat salah tingkah dan ketakutan.


"Apa Leo tinggal dengan Papa dan Mama.?" Tanya Celina lembut, namun suaranya tetap kencang.


Leo mengangguk cepat tanpa pikir panjang.


"Tadi malam Leo tidur sama Papa,," Jawab Leo polos. Namun jawaban itu membuat membuat Celina lemas, itu artinya Keyla tidur sendiri.


"Lalu, Mama tidur dimana.?" Tanya Celina lagi.


Dia masih belum puas dengan jawaban Leo.


"Sudah Celina, jangan menanyakan yang tidak-tidak pada anak kecil." Tegur Papa Adiguna.


Saat itu juga Dion dan Keyla bernafas lega, mereka merasa terselamatkan dari situasi yang mencekam.


"Tadi malam Leo ingin tidur dengan saya, jadi saya menginap disana." Jelas Dion datar.


"Tidak apa, Papa percaya kamu tidak akan melakukan hal yang merugikan."


"Kamu selalu berfikir matang sebelum bertindak."


Papa Adiguna sudah sangat paham dengan karakter Dion.


"Tapi kalau kalian memang ingin kembali, Mama sangat mendukung."


"Leo pasti bahagia kalau kedua orang tuanya bersatu." Mama Alisha ikut menimpali. Dia juga memiliki harapan untuk Keyla dan Dion yang sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Untuk saat ini kami belum memikirkannya." Sahut Dion sopan.


"Kalian terlalu banyak berfikir, kalau salah satu di ambil orang, nanti baru deh menyesal." Celetuk Celina.


"Nak,,!" Papa Adiguna melirik tajam. Anak perempuannya itu memang sulit menjaga apa yang ada dalam pikirannya.


"Hehehe,, bercanda Pah." Celina tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Dion dan Keyla saling pandang, sekilas memiliki pemikiran yang sama.